
"Brian" panggil Syifa.
"Iya" jawab Brian.
" Aku mau makan, boleh aku minta kamu menyuapi ku makan? " pintanya.
Brian kira minta apa gitu yang sedikit romantis, eh minta disuapin makan, tapi tak apa. Toh yang penting Syifa masih ingat dirinya.
Brian pun dengan telaten menyuapi istrinya dengan telaten, menatap wajah pucat sang istrinya.
"Dihabiskan ya makanannya, kalau tidak habis nanti aku nangis dan minta di cium sama kamu sampai pagi, mau? " gurau Brian, Syifa pun memukul lengan Brian, pelan.
Syifa masih diam tak mau bicara, sebab mulutnya selalu di isi makanan. Tak ada kesempatan untuk bicara, setiap mau bicara, Brian langsung menyodorkan sendok ke dalam mulut Syifa.
Brian pun terkekeh melihat mulut Syifa yang dipenuhi makanan.
"Sudah dong, udah kenyang nih, rasanya mau meledak, mau aku kentut disini? " ucap Syifa, memelas.
"Kalau bisa, kentut lah disini, itu artinya kamu sudah sehat, karena apa? Karena kentut itu buang gas kotor dari dalam perut, jadi buanglah kalau bisa" entah itu ejekan, atau solusi atau saran yang Brian katakan.
Syifa sudah kekenyangan, dan menghentikan aksi suap menyuapnya.
"Sekarang kamu mau butuh apa lagi? " tawar Brian semangat.
"Brian, kamu masih sayang sama aku gak sih? " tanya Syifa, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
Brian menyadari matanya yang mulai teduh.
"Kamu kenapa menangis, Sayang? " tanya Brian, tak tega melihat air matanya jatuh.
"Aku bahagia bisa bertemu kamu lagi, Bru, " jawab Syifa.
"Kini jangan pernah teringat lagi yang namanya Cahaya, karena nama itu sudah tiada, kini berganti Syifa, Syifa yang dikatain cengeng oleh suaminya sendiri" senyum getir bahagia, Syifa tak bisa membendungnya.
Sedikit tertawa pelan dan menghapus air matanya, dan selalu teringat Cahaya dan Brian tak pernah ada restu dari pihak dirinya, maka jangan pernah lagi menyebut nama itu.
"Baiklah, sekarang kamu adalah Syifa, cewek tengil, nyebelin, suka nangis alias cengeng, adalah istrinya Brian, suami tengil yang tampan dan rupawan, hihi" kekeh Brian, bergurau sedikit supaya tidak melow terus.
Syifa memicingkan matanya, lalu memukul lengan kekar Brian.
"Sakit Fa, tega bener kamu mukul kek gitu, sakitnya tuh di sini ni" manja Brian. Menunjukkan dadanya depan mata Syifa.
Di luar, Rani tak sabar ingin masuk lagi.
Rani bangun duduk berdiri lagi, duduk lagi menunggu Brian segera keluar dari kamar rawat Syifa.
__ADS_1
Tok tok tok...
Suara pintu diketuk Rani, berulang-ulang.
"Suara Mama kamu tuh, kasihan Mama kamu sangat mengkhawatirkan kamu, " ucap Brian.
"Ya sudah kamu bukain pintunya, " pinta Syifa. Meminta Brian untuk membukakan pintunya.
Sebelum membukakan pintu, Brian dan Syifa kiss dulu.
Ceklek....
Suara pintu terbuka, dan Rani pun melihat adegan dewasa, Syifa dan Brian belum menyadari kehadiran Rani.
Rani pun berdehem.
"Ehem, ehem" Rani berdehem, melihat aksi kedua sejoli anak dan menantunya.
Sontak saja Syifa dan Brian langsung berhenti, dan kaget secara tiba-tiba Rani masuk sebelum Brian membukakan pintu untuknya, Brian dan Syifa pun merasa malu.
Rani memicingkan matanya, dan menarik tangan Brian untuk segera menghindar dari ranjang Syifa.
"Mah, jangan gitu dong," pinta Syifa, sambil memegang tangan Brian, agar Brian tidak pergi.
"Gantian dong sayang, Mamah kan kangen sama kamu, " ucap Rani.
"Maaf sayang, sekarang Mamah janji akan disini bersama kamu, Nak Syifa, Mamah sudah bilang ke Papah, dan Papah sudah mengijinkannya. Kamu mau kan memaafkan Mama? " Rani merasa bersalah.
"Syifa akan memaafkan Mamah jika Mamah merestui pernikahan kami, karena Syifa tahu Mamah tidak menyukai Brian sejak dulu" Syifa melirik ke wajah Brian yang tertunduk.
Rani melirik ke arah Brian, yang masih diam membisu, dan Syifa menggenggam erat tangan suaminya.
Rani pun pasrah dan mengalah demi kebahagiaan putri tercintanya, asal jangan sampai Syifa membenci dirinya.
"Baiklah, Mamah dan Papah akan merestui pernikahan kalian, bila perlu adakan resepsi ulang pernikahan kalian, karena kami pun ingin menyaksikan kalian memakai gaun pengantin yang indah dan cantik" Rani pasrah dan merestui hubungan pernikahan mereka, bahkan menawarkan diri untuk memberikan resepsi pernikahan mereka.
Seketika Brian tersenyum dan lebih erat lagi menggenggam tangan istrinya.
"Bri, kamu dengar kan tadi, Mamah bilang apa barusan? " Syifa bersemangat.
Brian hanya mengangguk tersenyum, dan memeluk Syifa.
"Ehem, bisa gak sih kalian berdua jangan bermesraan ditempat umum? " omel Rani.
"Iya Mah, maaf reflek, saking semangatnya Mah, terimakasih Mah, tapi Mamah janji jangan pergi lagi, temani Syifa disini" rajuk Syifa, manja pada Rani.
__ADS_1
Kini Syifa melepaskan genggaman tangannya dari Brian, dan beralih pada Mamahnya.
Brian pun memahami situasi ini. Ingin marah tapi ya sudah lah kan sama Mamahnya sendiri bukan orang lain, atau pria lain.
Penjengukan sudah boleh lebih dari satu, maka Papah Syifa masuk dan langsung memeluk Syifa.
"Pah, terimakasih sudah mau kesini, repot-repot jengukin Syifa" ucap Syifa, seakan menyindir orang tuanya.
"Loh, kamu kan anak Papah dan Mamah, masa repot sih sayang, justru kami minta maaf, karena kami tidak pernah ada untukmu, Nak, " Nurul pun merasa bersalah, karena selama ini ia sibuk mencari dunia dan memperkaya diri.
Brian masih di dalam ruangan, karena Syifa tidak memperbolehkannya keluar dari ruangannya.
Syifa masih ingin bermanja dengan suaminya itu.
Meskipun suka bikin dia menangis tapi sayang.
Nurul dan Rani masih berada di dalam bersama dengan Brian, dan Brian memilih untuk pamit keluar, karena mungkin ada hal pribadi yang mungkin orang tua Syifa sampaikan padanya.
"Fa, aku keluar dulu sebentar ya, kasihan Ibu dan yang lainnya, mereka masih diluar" Brian pamit pada Syifa, kini Syifa pun memperbolehkan dirinya untuk keluar, karena bagaimanapun Syifa mengerti keadaan.
Ketika Brian keluar dari ruangan Syifa, JOn dan Tania yang lebih antusias, menarik tangannya.
"Sabar dong Tan, JOn, jangan pake tarik tangan deh, copot nih nantinya" geramnya, melihat dia sahabatnya yang tak sabaran.
"Hei, kita nungguin loe berjam-jam tahu gak, ngapain aja sih loe! " seru Tania, sedikit memberontak.
"Biasalah, kangen-kangenan" Brian cengengesan tanpa dosa.
"Ck, lupain kita dia Tan, gini caranya tadi kita balik aja ya gak, bisa berbaring leha-leha, " cebik Jon, merasa kesal.
"Ya ampun guys, sorry alias maaf, gue gak dibolehin sama Syifa untuk keluar, malah dia minta disuapin makan, manja banget kan dia" ceritanya, sambil membayangkan.
"Nyesel gue bertanya, " sungut Tania.
"Iya Tan, loe bener banget, kita kan jones" ucap Jon, sedih.
"Apaan tuh" tanya Tania.
"Jomblo ngenes Tan, masa loe gak tahu bahasa geol eh gaul" gurau Jon.
"Kalau jones, loe aja ih gue mah ogah" sambil menarikan punggungnya ke atas.
Fatih dan Alisa pun pulang bersama, namun ditengah perjalanan Fatih bertemu seseorang yang ia kenal.
Saat dirinya dan Alisa berhenti ditempat pedagang mie ayam bakso.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ustadz Fatih? " tanya seseorang itu, yang sudah berada di samping Fatih dan Alisa.