
"What!! " kaget Brian.
" Loe pikir ini bandara apa, hah! " serunya emosi.
" Loh, kok kamu sewot sih, kan aku tanya," imbuh Syifa bernada pelan.
Ibu Jessica sudah menunggu kedatangan Brian dan Syifa.
Lalu mereka berdua masuk kedalam ruang keluarga, disitu ada Ibu dan Ayahnya Brian.
Sehingga Syifa gugup dan merasa malu.
" Ayo, mari masuk menantu Ibu" Jessica mempersilakan mantunya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Syifa pun nurut, dan masuk ke dalam dan duduk di samping Brian.
" Fa, kamu mau tidak tinggal di rumah Ibu mertua kamu, supaya Brian tidak macam macam, " ucap Justin, sang Ayah.
Syifa masih terdiam dan belum merespon.
Brian masih tidak perduli dengan ucapan Ayahnya.
Brian fokus bermain game di ponselnya. Jadi tidak mau mendengar pembicaraan mereka yang dianggap tidak penting.
" Brian, tolong sudahi dulu bermain game nya sayang, kasihan istri kamu dicuekin" Pinta Ibunya lembut.
Beda dengan Ayahnya yang selalu bicara dengan nada keras dan kencang, jadi setiap Ayahnya bicara seperti membentak. Padahal tidak.
" Iya, Ibu " Brian langsung menurut jika Ibunya yang minta.
Syifa tersenyum sinis dengan tingkah Brian yang seperti kekanak-kanakan.
Syifa harus banyakin sabar untuk menghadapi sikap Brian itu.
" Brian, kamu mau makan apa? " tawar Syifa.
" Loe, gak usah sok perhatian sama gue, kita gak kenal! " ketus Brian.
Tanpa pamit Brian meninggalkan Syifa, dan yang lainnya.
Jessica dan Justin hanya menatap Syifa penuh rasa bersalah, karena sifat Brian yang begitu dingin.
Tiba di kamar Brian membanting ponselnya diatas kasur.
Dan merebahkan tubuhnya, serta menatap langit langit kamar.
Ada bayangan sang mantan yang sudah tiada, alias meninggal dunia.
" Cahaya, semoga kamu tenang disana" Brian tersenyum menatap langit kamar yang penuh dengan bayangan Cahaya yang sudah tiada.
Cahaya adalah mantan pacar yang begitu ia idamkan, tak menyangka umurnya tidak panjang dan harus berakhir seperti ini.
Cahaya adalah mantan sejak SMP hingga SMA.
Dan meninggal karena sakit.
Brian kemudian bangkit dan langsung mandi.
__ADS_1
" Duh, lupa gue gak bawa handuk" Brian membuka pintu kamar mandi.
"Aaaaaaaaaa" teriak Syifa kencang.
Brian langsung balik lagi ke kamar mandi, dan langsung menutup pintunya.
"Sial, ngapain si cengeng masuk ke dalam kamar gue, mana tadi dia liat akses gue lagi, kan tadi gue telanjang banget, " gerutunya.
Brian mengenakan pakaian kotornya lagi, hendak akan mengambil handuk yang tertinggal.
Ceklekk... Suara pintu kamar mandi.
"Loe ngapain berada di dalam kamar gue, hah" bentak Brian.
Syifa tak menyauti, hanya duduk di pinggiran kasur.
Itupun tidak diperbolehkan, maka Syifa disuruh berdiri, tidak boleh menyentuh kasurnya.
" Jangan sentuh kasur gue, duduk noh disana" Brian menunjukan kursi yang berada di luar jendela.
" Pelit banget sih jadi laki" sungut Syifa.
Setelah mengambil handuk, Brian pun langsung ke kamar mandi lagi, karena belum sempat mandi.
" ngimpi apa sih gue, bisa nikah sama cewek model begituan " Brian ngomel-ngomel sendiri.
Syifa masih berada di samping kasur sambil berdiri, ingin tahu apa yang ia katakan.
Tapi jika masih berdiri itu artinya dia bodoh.
Jadi Syifa keluar dari dalam kamar Brian.
" Maaf Bu, sebaiknya kita pisah kamar saja ya, aku masih takut dengan Brian Bu, " ucapnya lembut.
Jessica pun berfikir, ada benarnya tapi tak pantas suami istri pisah kamar.
Brian pun selesai ritualnya, dan keluar dari kamarnya.
Lalu mengambil kunci motor, akan ada balapan di Arena balapan. Brian tidak menoleh sama sekali dengan keberadaan Syifa dan Ibunya.
Ibunya merasa belum bisa mendidik anaknya.
" Mau kemana Nak,? " Tanya Ibunya.
" Biasa Bu, tolong jangan tungguin Brian Bu, Brian pulang larut. " pinta Brian. Tanpa melihat ke arah Syifa. Syifa menatap sendu melihat sikap Brian yang suka keluyuran malam.
" Dan loe, jangan tidur di kamar gue, paham loe!! " seru Brian emosi. Padahal ada Ibunya tapi Brian tak menghiraukan, karena mereka pun tahu, pernikahan mereka itu terpaksa.
Brian langsung saja menjalankan motor sport nya. Dan melaju dengan kencang.
Syifa juga ingin pamit untuk pulang terlebih dahulu, dengan alasan mengemasi barang barang bawaannya.
" Bu, Syifa boleh pulang dulu tidak? Syifa mau mengambil beberapa pakaian " pamitnya.
" Mau diantar sopir tidak sayang? " tanyanya.
" Tidak usah Bu, Syifa mau pulang sendiri saja naik angkot, " tolak Syifa halus.
__ADS_1
Sebab Syifa tidak mau mereka tahu, siapa sebenarnya Syifa.
" Tapi kamu tidak akan kabur kan Nak?" tanya Ibu Brian, khawatir Syifa tidak akan kembali lagi. Dan memilih untuk tidak kembali.
" InsyaAllah Bu, Syifa akan kembali besok pagi." Syifa menjanjikan pada Jessica Ibunya Brian.
Syifa pun langsung keluar dari rumah Brian dan menaiki angkot yang berada di ujung jalan. Karena di depan rumah Brian tidak ada angkot yang lewat, jadi Syifa harus jalan kaki sampai ke ujung.
Ditawarin untuk diantar Syifa tidak mau, lebih memilih berjalan kaki.
Syifa menghubungi seseorang di telepon, dan beberapa menit kemudian, orang suruhan Syifa langsung datang.
" Ini Non, kunci motor helm dan jaketnya, " orang itu merupakan suruhan Syifa atau bodyguardnya.
Yang akan selalu menjaga Syifa dan memberikan pertolongan pada Syifa jika Syifa membutuhkan bantuan atau pertolongan.
Dua orang bodyguardnya membawa motor sport dua, jadi satu untuk Syifa dan satunya lagi untuk dua bodyguardnya yang akan mengawasi Syifa dari jauh.
Karena mereka paham bahwa Syifa akan mengikuti balap motor di Arena balap.
" Kalian mengawasi saya dari jauh ya, biar semua orang tidak ada yang curiga, kalau saya memiliki kalian" perintah Syifa pada dua bodyguardnya.
Mereka mengangguk paham.
Syifa melajukan motornya dengan sangat cepat, dengan kecepatan melebihi batas.
Sehingga para bodyguardnya saja kalah cepat dengan Syifa.
" Ya ampun, Non Syifa cepat banget mengendarai motornya "ucap salah satu bodyguardnya.
Seeeeettt... Motor Syifa mnegerem dadakan tepat di depan mata Brian.
" Aaaaaa" kaget Brian melihat ada motor di depan secara tiba-tiba.
Dari balik helm Syifa tertawa lepas.
" Hahaha " tawa Syifa, terdengar oleh Brian.
Suara Syifa tak dikenali, sebab Syifa memakai masker dan hanya membuka separuh kacanya.
" Sialan, loe ketawain gue hah, " emosi Brian.
Wajah Brian merah padam, ketika Brian mendekati Syifa. Syifa pura-pura tidak takut bahkan menatap Brian tajam.
Syifa pun meninggalkan Brian yang tengah marah atas perbuatannya.
Syifa pun merasa puas sudah mengerjainya.
" Bri, cowok tadi siapa, berani banget dia mengganggu loe" tanya Jon yang penasaran.
Begitu juga dengan Bimbim dan Vino.
Mereka semua belum mengenal motor itu, sepertinya itu orang baru.
" Kita harus menyelidikinya Bri" timpal Vino.
Dan saat akan mulai pertandingan, motor Syifa sudah berada di samping Brian.
__ADS_1
Dan menatap tajam Brian yang masih menoleh ke arah Syifa.
Sudah putaran terakhir, dan pemenangnya adalah...