
"Laras, kamu kenapa menyuruh aku pulang, aku masih mau menemani kamu disini, " pintanya.
"Bim, plis pergilah, aku mohon" pinta Laras juga, dan tak sanggup melihat Bimbim.
Bimbim pun terpaksa harus pergi dan berpamitan, ia sengaja meninggalkan cincin berliannya agar Laras mau memakainya.
"Tante, Bimbim pamit pulang dulu, assalamu'alaikum, " pamitnya saat sudah diluar kamal inap Laras.
Setelah Bimbim pergi dan sudah nampak tidak kelihatan, Mamanya Laras langsung masuk kedalam kamar Laras lagi.
Mamanya kaget saat melihat ada kotak berbentuk love itu ada di atas meja.
"Laras, ini punya siapa? " tanyanya.
"Itu punya Bimbim Mah, " jawab Laras.
"Apakah dia lupa membawanya, atau ini buat kamu? " Mamanya terlalu kepo.
Dan membuka kotak itu, dan Mamanya kaget bukan main, ternyata kotak itu adalah cincin berlian.
"Laras, ini cin-cincin berlian sungguhan loh Ras, " gugup Mamanya.
"Iya, Laras tahu Mah, itu sebenarnya buat Laras, tapi Laras menolaknya, karena Laras tidak mau terlalu dalam mencintai Bimbim" ucap Laras.
Saat Laras mengatakan itu, ternyata Bimbim mendengarkan obrolan mereka. Bimbim sengaja tidak pulang terlebih dahulu, karena ia sengaja meletakkan cincin berliannya dan mau mengambilnya lagi agar bisa lebih lama lagi menemani Laras.
Namun Bimbim urung untuk masuk, sebab ada getaran yang tidak ia percaya bahwa Laras mencintai dirinya.
"Mah, aku mau mengembalikannya setelah Laras sembuh Mah, Laras tidak ingin mengecewakan Bimbim, Bimbim kan sudah memiliki pacar Mah, jadi Laras rasa, Laras tidak pantas. Biarlah Laras simpan rasa sayang dan cinta ini sendiri Mah. " Sedih Laras.
Bimbim pun yang mendengarnya langsung sangat terharu, dan merasa sangat bersalah.
Memang dulu Bimbim menyukai Laras, sejak Laras masih mengejar Brian. Dan disaat itulah Bimbim merasa bersalah karena tidak bisa menyatukan Laras dengan Brian, maka Bimbim sedikit menjauhi dan cuekin Laras.
Tapi tidak sedikit kemungkinan, malah kebalikannya, justru Laras lah yang begitu berharap agar Bimbim yang bisa mencintai Laras. Laras takut kejadian seperti ini akan terulang lagi.
Akan tetapi rasa sukanya terhadap Bimbim sangatlah berbeda saat menyukai Brian.
Lebih dalam rasa suka ke Bimbim daripada ke Brian.
Bimbim pun menutup kembali pintu kamar inap Laras dengan hati-hati.
Dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Brian, merencanakan sesuatu seperti dulu Syifa lakukan terhadapnya. Brian ingin mengetes seberapa besar cintanya pada diri Brian.
__ADS_1
"Aku ingin membuktikan apakah Syifa beneran cinta dan sayang sama gue atau tidak, karena Syifa kekeh tetap tak ingin tinggal berdua denganku, " Brian tersenyum licik, merencanakan strategi kecelakaan, seperti dulu yang Syifa lakukan.
Malam harinya, Brian mengabarkan Syifa bahwa is akan mengikuti pertandingan balapan motor.
Dan pesan itu terkirim ke Syifa.
"Aduh, Brian kok kamu nekat gitu sih, " batin Syifa.
Kemudian Syifa langsung menuju ke tempat dimana suaminya bertanding.
Tiba di tempat pertandingan, sudah ada Brian, Bimbim, Vino dan Jon.
"Sayang, kamu kok main tandingan segala sih" khawatir Syifa, ada urat sedih dari wajah Syifa.
"Kamu tenang saja ya, suamimu ini jago kok" Brian memegang erat pundak Syifa, tanpa rasa sedih sedikitpun.
"Lebahhhh" ledek Jon.
"Ish loe kebiasaan Jon, ledekin kita mulu, awas saja kalau loe punya pasangan, gue nih orang pertama yang akan ledekin loe, " kesal Syifa, menatap ke arah Jon.
"Satu, dua, tiga, GO!!!! " Teriak wasit pertandingan.
Syifa masih menatap sendu ke arah suaminya itu.
Dan Brian ambruk.
"Briiiiaaaaaannnn!!!!!" Teriak Syifa sambil berlari, meskipun kakinya pincang. Tapi Syifa tak perduli, dan ia langsung memeluk Brian yang penuh darah.
"Briaann, huhuhuhuhu, " tangis Syifa pecah.
"Jangan tinggalkan aku, huhuhuhuhu. "
Bimbim, Jon, dan Vino langsung berlari menghampiri Syifa, yang sedang memeluk Brian.
"Apa benar Syifa begitu mencintai aku, aku tidak akan memberitahu semua rencana ini kepada kalian, maaf Vino, Bimbim dan Jon, gue harus bersandiwara, " batin Brian, yang masih dalam pelukan Syifa.
Brian langsung dilarikan ke rumah sakit, dan dirawat di UGD.
"Fa, yang sabar ya, Brian pasti cepat sadar kok, " Vino menenangkan Syifa, yang masih tersedu-sedu, menangisi Brian.
Kemudian Vino menghubungi orang tua Brian dan Syifa, tak lupa juga dengan Tania.
"Gue kan udah bilang jangan main tanding, gini kan jadinya, huhu" merasa menyesal karena mengijinkan suaminya bertanding.
"Sudah Fa, Brian pasti baik-baik saja, berdoa lah." Saran Vino.
__ADS_1
Didalam ruangan UGD, Brian langsung bangun saat hanya ada dua orang yang menanganinya, yaitu satu suster dan satu dokter.
"Stop dok, maaf saya tidak gawat darurat, saya hanya bersandiwara, saya ingin.... "
Brian mengatakan rencananya dan disetujui oleh pihak dokter.
"Tapi saya tidak mau tanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi" ucap dokter.
"Ya dok, " Brian menyanggupinya.
Dokter pun keluar dari ruangan UGD, dan mengabarkan bahwa Brian meninggal dunia.
Seketika Syifa jatuh pingsan, dan tepat dibahu Tania.
"Astaghfirullah, Fa, loe kenapa, Fa, bangun dong" Tania khawatir, tiba-tiba Syifa ambruk disampingnya.
Kemungkinan Syifa pun ikut dirawat.
Setelah selesai pemakaman, Syifa masih berada di tempat peristirahatan terakhir suaminya.
"Brian, kok kamu gitu sih, padahal aku mau kasih jawaban kalau aku mau ikut sama kamu, tinggal berdua dengan kamu, hiks hiks hiks" Syifa terisak-isak, menyesal karena sempat menolak untuk tinggal bersama.
Brian memantau dari jauh, sambil memakai masker dan kacamata hitam.
"Fa, sudah yuk, kasihan Brian loh nanti di akheratnya, Brian gak suka lihat kamu menangis," tutur Tania.
Kemudian Tania mengajak Syifa untuk pulang, dan tetap sabar.
"Tan, gue masih gak rela ninggalin Brian, huhuhu" Syifa memeluk Tania.
Brian tak tega melihat istrinya menangis, namun ia ingin mengetahui seberapa besar cinta Syifa pada dirinya.
"Mama kamu pasti akan mencarikan jodoh untukmu Fa, dan gue mau tahu apakah kamu mau dijodohkan oleh Mama kamu atau tidak, jika kamu mau itu artinya kamu tidak bersungguh-sungguh mencintaiku, dan sebaliknya. Dan dulu aku pun tak pernah berhubungan dengan wanita manapun, lebih baik sendiri daripada dengan wanita lain, " gumam Brian.
Tania dan Syifa pun pulang, dan segeran melajukan mobilnya, agar Syifa tak lagi ingin kembali ke Pemakaman.
"Sudah dong, jangan nangis terus, gue jadi sedih banget nih lihat loe murung terus, " ucap Tania, merasa ikut bersedih juga, melihat sahabat sedang berduka.
"Fa, tolong dong bicara" Tania menggoyangkan pundak Syifa, namun Syifa masih belum ingin bicara.
Sampai dirumah Syifa, Mama dan Papa Syifa sudah menunggunya dari tadi.
"Ya ampun Sayang, kamu lama sekali, ngapain saja sih di kuburan, " Rani khawatir.
Syifa tak menoleh ke arah Rani, Syifa langsung masuk ke kamarnya, dan langsung memeluk foto Brian.
__ADS_1