
Dan pemenangnya adalah Syifa.
Akan tetapi Syifa menggunakan nama bukan nama dirinya melainkan nama laki laki yaitu Seno.
Semua mata tidak percaya bahwa orang baru itu yang memenangkannya.
Brian langsung turun, dan mengetuk kaca helm, dan akan menonjok helm nya.
Akan tetapi Syifa gesit langsung menangkap tangan Brian.
" Loe, lelaki pengecut yang jika kalah akan memukul si pemenangnya, jadilah jantan yang tangguh, bukan jantan yang jiwanya betina!! " seru Syifa penuh penekanan.
Syifa langsung menepiskan tangan Brian yang begitu arogan dan tak mau mengalah.
"Awas loe, kalau ketemu lagi, " Ancam Brian pada Syifa.
"Hahahaha" Syifa tertawa mode lelaki.
Brian akan memukul Syifa, berhasil Jon langsung memegang tangan Brian yang penuh emosi, karena kalah dalam pertandingan balap kali ini, biasanya selalu menang, tapi kenapa bisa ada orang baru yang mengalahkannya.
Vino memperhatikan Syifa yang masih menggunakan pakaian laki-laki yang serba hitam itu. Akan tetapi Vino menangkap sesuatu di tangannya, yaitu gelang.
Vino seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Vino pun lupa.
Syifa pun menoleh ke arah Vino, dan melotot ke arahnya. Vino pun memicingkan matanya.
" Itu kan Syifa, istrinya sendiri, hihihi, " tawa Vino dalam hati, Vino langsung paham dengan tatapan matanya, karena kalau jalan bareng sama Tania dan Syifa menatapnya seperti itu.
Vino diam tak ingin bicara, takut nanti kena semprot Syifa dan Tania.
" Ini pasti rencana Tania, " batin Vino, menebak bahwa Tania yang memberitahu Syifa.
" Tapi kok, Syifa bisa balap motor ya, aneh, sebenarnya dia siapa sih, dikit-dikit nangis dan sekarang menjadi wanita pembalap, " Vino hanya menggeleng geleng kan kepalanya.
Syifa pun pamit dan tak berkata apa apa.
" Bri, istri loe tahu gak kalau loe malam ini balapan? " tanya Vino memancing Syifa yang akan pergi.
Syifa pun berhenti, dan mendekati Brian.
" Oh, jadi loe udah punya istri, kasihan sekali istri loe dirumah sendirian, pantas udah gak punya nyali menang, " sindir Syifa.
__ADS_1
" Loe gak perlu ikut campur urusan orang, " Brian marah pada Syifa.
" Oh, iya kita belum sempat berkenalan, gue Seno, atau bisa di panggil Eno, gue anak motor SS, loe semuanya juga nanti bakal tahu sendiri, bye" tanpa berjabat tangan, Syifa meninggalkan Brian dan semua orang yang berada disana.
" Gue harus minta penjelasan dari Tania, " batin Vino meronta ingin tahu.
Semua terkesima melihat kepergian Seno atau Syifa, yang melaju dengan kecepatan tinggi tanpa ragu ragu.
" Gila tuh orang, kereeen pake banget Bim, " Jon terkesima dengan orang itu, akan tetapi Jon mendapatkan tatapan tajam dari Brian.
Seketika Jon bungkam mendadak dan menutup mulut dengan tangannya.
"Guys, kita harus cari tahu siapa orang baru itu, berani sekali dia berada di kawasan kita. " Ucap Brian nampaknya masih marah sama yang orang itu, yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Vino hanya diam tak mau berkomentar, sebab ia mengenal siapa orang tadi.
Syifa sudah berada di rumah pribadinya, dan meminta tolong pada Bibi untuk mengemasi beberapa pakaian.
" Loh, Non habis darimana memakai pakaian kayak begitu? " tanya Bibi khawatir melihat Syifa yang tengah tergesa-gesa.
" Biasa Bi, habis balapan, anak Pesantren juga bisa dong Bi, " jawabnya enteng.
"Oh, iya Bi, tolong kemas baju baju yang dianggap penting ya Bi, sebab aku akan tinggal di rumah suami Sah aku besok pagi, " lanjutnya.
"Tadi Non bilang apa? Suami? Nikah sama siapa Non?" Bibinya beruntun bertanya.
" Sama orang lah Bi, masa sama boneka " ujarnya.
" Iya Non, Bibi juga tahu sama orang, masa iya sama boneka, emang Non mau gitu ajep ajepan sama boneka, kayak orang luar gitu, kan gak mungkin Non, " bawel Bibi.
" Bibi, tadi bilang apa, ajep ajepan sih apaan Bi? " tanya Syifa tak paham bahkan tidak mengerti bahasa kiasan yang Bibi ucapkan.
" Tidak apa apa Non, " Bibi tak mau melanjutkannya.
Bibinya membantu Syifa untuk memasuki baju baju yang sopan, dan baju apa saja yang harus dibawa. Sementara Bibi membereskannya baju, Syifa mandi terlebih dahulu.
"Non, sudah malam tak baik mandi, tidak bagus untuk kesehatan" saran Bibinya.
" Gerah banget Bi, " Syifa tak menghiraukan saran Bibinya, Syifa langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Bibi hanya bisa geleng-geleng, melihat Syifa yang begitu ceria meskipun kedua orang tuanya begitu sibuk.
__ADS_1
Bibi keluar dari kamar Syifa karena merasa tugas mengemasi barang sudah selesai.
Tak banyak tanya tentang siapa suami Syifa, yang terpenting Syifa bahagia dengan pilihannya.
" Tapi, siapa yang menjadi wali Non Syifa ya? " batin Bibi bicara sendiri.
Syifa baru saja selesai mandi dan akan memakai pakaian di dalam kamar, tidak biasa memakai pakaian di dalam kamar mandi.
Sehingga ketika keluar dari kamar mandi, Syifa akan mengunci pintu kamarnya.
Dilihat di kamarnya sudah tidak ada Bibi, itu artinya baju yang akan di bawa ke rumah Brian sudah dimasukan kedalam koper.
Syifa menghubungi Tania.
" Assalamu'alaikum Tan, kamu lagi apa? " sapa Syifa dan bertanya.
" Walaikumsalam, gue lagi tiduran, sambil baca novel nih, ada apa Fa,? " tanya Tania heran, tumbenan Syifa malam begini menelponnya.
" Aku mau minta tolong, boleh gak? " pinta Syifa memohon.
" Boleh, selagi gue mampu dan bisa, gue pasti akan bantuin loe, butuh pertolongan apa? " tanya Tania lagi.
" Besok, anterin aku ke rumah Brian, suami tengil yang arogan rupa rupanya, hihihi" Syifa membayangkan kejadian tadi, ketika balap motor, ekspresi Brian yang marah, tapi bagi Syifa itu lucu.
" Loe kok ketawa sih, emang ada yang lucu di rumah Brian? " Tania heran.
Syifa memang pembalap sebelum masuk Pesantren, dan Tania juga tahu, namun untuk kali ini Tania tidak boleh mengetahuinya.
Sebab mulut Tania rada ember bocor.
" Tidak ada apa apa Tan, aku cuma bingung aja, kok aku sampe harus bermimpi memiliki seorang suami tengil kayak Brian, kenapa tidak kayak ustadz gitu, kan biar hidupku adem. " Ujar Syifa, berharap ingin menikah dengan orang alim.
" Ustadz belum tentu mau juga kali sama loe, " sindir Tania.
" Ih, ada ya Tan, kamu tahu kan ustadz Fatih, dia dulu itu mau Ta'aruf sama aku, cuma aku masih sekolah kan!! " seru Syifa penuh penekanan, tak mau kalah dibilang ustadz tak ada yang mau sama dirinya.
"Iya deh, iya Syifa anak konglomerat mah tak ada lawan. " Cibir Tania.
Keduanya pun udah mulai mengantuk.
" Eh, sudah dulu ya, aku sudah mulai mengantuk nih, besok jangan lupa dateng pagi pagi ke rumah aku, " Syifa meningkatkan Tania.
__ADS_1
" Iya" ucap Tania pelan, sebab ia sudah mengantuk berat.
Klik.