Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
35


__ADS_3

"oke" ucap Brian, mengacungkan jempolnya.


"Apalagi Sayang, sudah ini aja? " Brian menawarkan lagi apa yang kurang.


Syifa pun langsung pulang dengan membawakan banyak makanan.


Tiba di rumah, ternyata Mama Rani dan Papa Nurul belum ada yang tidur, mereka sebagai orang tua sangat mengkhawatirkan keselamatan anak dan mantunya.


"Jam segini baru pulang, ngapain aja sih kalian, Mama dan Papa nungguin lama nih, " tegur Rani pada Syifa dab Brian.


Syifa langsung menyodorkan makanan pada mamanya, tanpa menjawab teguran dari sang mama.


Syifa dan Brian tak mau berdebat, mereka langsung masuk ke dalam kamar, karena merasa sangat lelah dan mengantuk.


"Kita langsung tidur atau mau makan bakso dulu nih" tanya Syifa yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Terserah" ketus Brian, langsung berbaring di kasur.


Ada rasa sedih saat Syifa mendengar jawaban yang sangat singkat tapi nyelekit.


"Kamu marah sama aku, Brian? " tanya Syifa lagi.


Brian pura-pura merem, sebab tidak mau berdebat dan takut emosinya tidak terkontrol.


Syifa pun akhirnya menangis dalam diam, ia tidak jadi memakan bakso yang sudah ia buka dan menaruhnya ke dalam mangkok. Jadi Syifa taruh di atas meja, dan ikut berbaring disamping Brian.


Tapi sayang Brian hanya diam, dan memunggunginya.


Keesokan harinya, Brian langsung mandi dan langsung berangkat ke kampus, tanpa membangunkan Syifa.


"Mah, tolong katakan sama Syifa hari ini jangan dulu masuk kampus, belum sembuh total kakinya, Brian buru-buru Mah, assalamu'alaikum," pamit Brian dan tidak lupa untuk mencium tangan kedua mertuanya.


"Iya" jawab Rani, singkat.


Brian langsung mengeluarkan motornya, dan secepatnya keluar takut Syifa ikut masuk ke kampus.


Syifa pun bangun, dan tangannya menyentuh guling yang ternyata sudah tidak ada suaminya.


Syifa mengerjapkan matanya, tak percaya bahwa Brian akan seperti ini.


"Ya ampun, dia masih marah sama aku, bakso nya juga tidak dimakan sama sekali, " ucapnya pelan. Dan Syifa pun melihat ke arah jam dinding dan ternyata, ya ampun pukul tujuh pagi.


Syifa langsung segera mandi dengan terburu-buru.

__ADS_1


Setelah mandi Syifa terpaksa memakan bakso tadi malam yang sudah dingin, untuk mengganjal perutnya.


Syifa langsung menuruni anak tangga dan langsung mencari kedua orang tuanya.


Rani dan Nurul masih di halaman belakang, heran melihat anaknya yang sudah rapi.


"Loh, mau kemana Sayang? " tanya Rani.


"Mau berangkat ke kampus lah Mah, emang kenapa sih? " tanya Syifa heran.


" Tadi tuh, suami kamu menyuruh Mama dan Papa untuk tidak memperbolehkan kamu berangkat ke kampus terlebih dahulu, " ucap Rani, menyampaikan pesan dari Brian untuk Syifa.


"Tapi Mah, Syifa sudah banyak banget bolongnya nih, plis Mah, ijinin Syifa berangkat ya, Syifa dianter sopir deh" pintanya, memelas.


"Ya sudahlah, hati-hati ya Sayang" Rani mencium pipinya.


Syifa pun diantar oleh sopir pribadinya, dan mengirimkan pesan pada suaminya bahwa hari ini ia mulai masuk kampus.


Tiba di kampus, Syifa mencari keberadaan Brian, sebab di kantin biasanya nongkrong dan sarapan di sana, tapi tadi terlihat tudak tidak nampak sama sekali.


"Tania, loe tahu Brian gak? Dari tadi kok dia gak kelihatan ya, kemana dia? " tanya Syifa pada Tania yang baru saja datang ke dalam kelas.


"Aduh, mana gue tahu Fa, gue kan baru dateng, coba loe tanya ke yang lainnya, kali aja mereka mengetahui keberadaan suami loe itu" saran Tania.


"Telpon dong Fa, gitu aja harus diajarin gimana sih loe" omel Tania.


Syifa pun keluar lagi, dan mulai mencari Brian lagi ke kantin. Tapi tetap saja nihil, tidak ada suara mereka sama sekali.


Brian termenung di dalam perpustakaan, dan ia dihampiri oleh seorang mahasiswi cantik, berhijab dan juga terlihat sangat anggun.


"Kamu saya perhatikan dari tadi melamun terus, kamu lagi ada banyak masalah ya, " tebak mahasiswi itu.


"Eh, maaf kamu siapa? " tanya Brian, karena merasa tidak mengenalnya.


"Oh iya, saya Kiki, saya bisa di bilang penghuni perpustakaan kampus, jadi saya jarang keluar, " terangnya.


"Salam kenal, tapi nama kamu siapa? " lanjut Kiki.


"Oh iya, saya Brian" Brian memperkenalkan dirinya tanpa bersentuhan.


Kiki membalasnya dengan senyuman, batin Brian seakan goyah, namun ia teringat istri tercintanya.


Namun jika teringat tadi malam, rasanya Brian ingin marah dan melemparkan barang yang ada di depan matanya.

__ADS_1


Kiki duduk berhadapan dengan Brian, dan memperhatikan Brian secara intens.


"Astaghfirullah, zina mata ini namanya, huft" batin Kiki bicara sendiri. Kemudian Kiki membaca buku sambil menundukkan kepalanya takut khilaf.


"Oh iya, perasaan saya pernah lihat kamu kalau malam hari, tapi dimana ya? " ucap Kiki, sambil memikirkan sesuatu.


"Saya tuh ada dimana-mana Ki, " ucap Brian.


Brian pun berdiri dan ingin masuk ke dalam kelas, namun tepat di depan pintu perpustakaan, Brian menabrak Jon dan Syifa.


"Jon, lihat-lihat dong kalau jalan, sakit tahu, " omel Brian, Brian masih belum menyadari bahwa disamping Jon adalah istrinya.


Brian melotot ke arah Syifa, dan menarik tangannya.


"Sayang, kamu kok berangkat ngampus sih, seharusnya kamu tuh istirahat yang cukup, ya ampun ada yang sakit tidak" Brian memutar tubuh istrinya, sambil memegang seluruh tubuhnya. Jon menyadari itu dan Jon menengok ke dalam perpustakaan, dan disana masih ada Kiki dan dua orang lainnya.


"Brian, loe kenal cewek itu tidak? " tunjuk Jon ke arah Kiki, yang sedang duduk dan sambil membaca buku bersama dua orang yang ada disamping dirinya.


"Oh, dia Kiki penghuni perpustakaan, kalau kamu mau kenalan yang sering saja ke dalam di jam istirahat, dan pulang. Dia mengatakan itu kepada gue barusan, " ucap Brian, tak sadar bahwa Brian mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Oh, jadi gitu, aku cariin kamu ternyata" tuduh Syifa, lalu meninggalkan Brian, yang sedang dalam mematung.


"Salah bicara kan loe, wkwkwk" ejek Jon.


"Sialan loe, ketawain gue" kesal Brian.


Brian langsung berlari mengejar Syifa, yang tengah dilanda cemburu.


Syifa langsung masuk ke dalam kelas, dan duduk sambil terengah-engah.


Tania yang berada disampingnya merasa heran, dengan apa yang terjadi pada diri Syifa.


"Loe kenapa, seperti habis maraton, dikejar anjing galak loe! " seru Tania.


"Gue mau dimakan orang! " jawab Syifa ketus.


"Nah loe kesambet apaan sih" bingung Tania, melihat Syifa yang seperti itu.


Brian langsung masuk ke dalam kelas, dan langsung menghampiri Syifa, yang masih memalingkan mukanya.


Tania bingung harus ngapain, dan mengkode Bimbim dan Vino. Sepertinya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Maka, Bimbim, Vino dan Tania mundur, dan pindah ke tempat duduk yang lainnya.

__ADS_1


"Pagi"


__ADS_2