
Brian melotot saat Syifa memeluk dokter Daniel.
Syifa pun langsung melepaskan pelukannya, malu sendiri atas apa yang telah ia lakukan.
"Memalukan sekali, " cibir Brian.
"Maaf dok, saking semangatnya hari ini pulang, saya kira tadi Brian, eh ternyata dokter, hehehe, " Syifa merasa bersalah.
Brian pun mencebik tak percaya.
"Cih, kesenangan kan loe, dokter nya juga kesempatan banget, dipeluk sama dia" Brian terlihat tidak menyukai dokter Daniel.
Dokter Daniel pun merasa tak enak hati, apalagi Brian suaminya.
Syifa langsung menarik tangan dokter, dan mengucapkan terimakasih.
" Terima kasih ya dokter" ucap Syifa.
" Iya sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu" dokter Daniel pun langsung pergi.
Brian benar-benar tak habis pikir, bisa bisanya Syifa memeluk pria lain selain suaminya sendiri, bukan muhrim lagi.
"Senang sekali ya, bisa meluk dokter" cibir Brian.
Syifa jadi tak enak hati pada Brian, seharusnya ia tak seperti itu. Syifa menjadi bingung dan merasakan sangat bersalah pada Brian.
"Maaf" lirihnya.
Brian paham, Syifa masih belum bisa menerima pernikahan ini, tapi tak juga menolak pernikahan ini. Sebab memang pernikahan paksa itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri.
Tak banyak argumen Syifa pura-pura sibuk membereskan baju kotornya. Sesekali melihat ke Brian yang dari tadi berdiri memperhatikan dirinya.
"Bantuin kek, daripada lihatin aku mulu" ucap Syifa, memelankan suaranya.
Brian masih diam tak mau bergerak, tapi ada rasa kasihan karena kakinya sedikit pincang.
Bruan Brian mendekati Syifa dan membantu membereskannya, Syifa pun tersenyum melihat aksi Brian. Syifa sedikit senang meskipun hanya membantu sedikit, setidaknya Brian ada rasa untuk ingin membantu dirinya.
" Sudah semua belum Fa? " tanya Brian, sambil melihat tas dan yang lainnya. Jangan sampai ada yang ketinggalan satupun.
Syifa pun melihat dan meneliti kembali satu persatu, dan sepertinya tidak ada yang ketinggalan.
"" Ada yang ketinggalan tidak? " tanya Brian, memastikan.
" Ada! " seru Syifa.
__ADS_1
"Apa tuh, coba loe cek lagi betul-betul deh, jangan sampai gue nanti bolak-balik kesini, ogah gue" Brian menolak jika ia harus bolak-balik ke rumah sakit lagi.
Syifa justru tersenyum mendengar ocehan suaminya itu, Brian mengerutkan keningnya.
"Fa, loe jawab dong, senyum gitu gak karuan, baru sehari udah gak waras nih" ejek Brian.
Syifa kini yang mendekati Brian, dan Brian pun tak menghindarinya.
Justru Brian tertantang oleh pesona Syifa dari dekat.
"" Kamu mau tahu kan apa yang tertinggal? Yaitu hatimu, hatimu masih tertinggal disini bukan di sini " tunjuk Syifa di dada Brian, Brian beruntung jantungnya masih normal, belum berdetak kencang.
"Kamu mau hatiku? " tanya Brian, sedikit tersenyum mengejek.
"Emang boleh? " tanya Syifa, memastikannya.
"Tak akan ada yang bisa menggantikan hatiku untuk Cahaya" skak Brian, lalu segera meninggalkan Syifa yang masih tercengang oleh ucapn Brian, yang menyebut nama Cahaya.
Syifa tidak mengetahui siapa Cahaya, namun sepertinya Syifa pernah melihat tulisan Cahaya dipunggung Brian.
"Siapa Cahaya, " gumamnya.
Setelah Brian keluar dari kamar inap Syifa.
Jam sudah menunjukan pukul satu siang, akhirnya Syifa pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
"Hem" jawab Syifa Hem.
Brian pun sudah meminta ijin pada pihak rumah sakit, bahwa hari ini Syifa akan pulang.
Diparkiran, tak sengaja Syifa bertemu dengan dokter Daniel yang masih belum memakai seragam dokter. Daniel terlihat sangat tampan sekali meskipun belum memakai seragam kedokteran.
Jantung Syifa berdenyut kencang, melihat ketampanan dokter Daniel.
" Hai, Fa, sudah mau pulang? " tanya Daniel, ketika baru membuka pintu mobilnya.
Karena mobil Brian berada di sampingnya.
Syifa masih tak percaya itu adalah Daniel yang dulu pernah jadi idola dan kini ia menjadi dokter, oh malu sekali Syifa. Dulu ia terlihat kecil sekali.
"Ah iya, dok, saya mau pulang" jawab Syifa gugup.
Daniel pun tersenyum, dan berjabatan tangan pada Brian dan juga Syifa.
"Hati-hati ya, kalau begitu saya juga harus praktek dulu" pamit Daniel.
__ADS_1
Syifa masih melihat dokter Daniel, sampai ia tak terlihat. Brian hanya memandang sinis pada Syifa dengan tingkahnya.
"Hai, ayo cepat pulang, mau sampai kapan loe mandang dokter itu mulu, gue tinggal nih,! " seru Brian, sedikit kesal pada Syifa.
Di Kampus, Tania dan Vino sedang makan siang di kantin, tak sengaja melihat Fatih dan Alisa duduk berdua juga di kantin kampus.
" Tan, lihat deh, Dosen baru itu sangat akrab sekali, cantik dan tampan, cocok lah kalau mereka jadi pasangan " celetuk Vino, melihat ke arah Fatih dan Alisa.
" Cocok sih, tapi dulu Fatih tuh lamar Syifa loh" Tania keceplosan deh.
"Ups, keceplosan kan jadinya, ah elo sih mancing-mancing gue mulu, " Tania, menepak lengan Vino.
"Auh, sakit tahu Tan, pake nepak segala lagi" protes Vino.
Vino pun jadi pengen banget tanya banyak hal tentang Syifa, tapi untuk apa coba. Toh Vino tidak tertarik sama dia, Vino kan sukanya sama Tania, cewek yang ada disamping dirinya saat ini.
Namun perasaan Vino belum diucapkan secara langsung.
Dari kejauhan Fatih menangkap pandangan Tania, namun Fatih pura-pura tidak melihat dan melanjutkan makan bersama Alisa.
"Oh iya, kamu sudah menikah belum Tih? " tanya Alisa.
"Belum" jawab Fatih, cepat.
Alisa mengerutkan keningnya, yang Alisa tahu dulu Fatih sempat melamar seorang gadis.
"Eh, kok belum Tih, perasaan dulu kamu tuh udah melamar seorang santri di Pesantren kan? " ucap Alisa, memastikan bahwa ucapannya benar.
Fatih diam sesaat dan bernafas panjang.
"Iya, tapi saat itu dia masih sekolah jadi dia menolak ku Al, dan sekarang sudah tidak ada harapan untukku bisa bersama dia lagi" ujat Fatih, terlihat sangat terpukul.
Alisa memicingkan matanya, sebab yang ia tahu bahwa Fatih adalah Ustadz yang terkenal tampan dan baik hati. Meskipun Alisa sendiri tidak menyukai dirinya.
"Eh tunggu dulu, maksudnya apa Tuh, kamu tidak ada harapan lagi bersama gadis itu? " Alisa penasaran.
"Dia sudah menikah" terangnya.
" Hah? " bingung Alisa.
"Ah sudah lah, gak usah bahas yang sudah bukan jadi milik kita, kita bahas yang lain saja," Fatih tidak mau membahas hal itu lagi.
Fatih dan Alisa pun berdiri dan berjalan bersama menuju ke kantor lagi.
Dari tadi Tania terlalu memperhatikan Fatih dan Alisa, sepertinya tidak ada tanda akrab ataupun mesra.
__ADS_1
Tania jadi teringat Syifa, yang dulu sangat mengidolakan Fatih dan bahkan menginginkan dirinya menjadi kekasih Fatih.
Tapi takdir berkata lain, Syifa harus menikah paksa dengan orang yang baru saja dia kenal, bahkan lelaki itu terbilang masih sangat muda, dan belum cukup pengertian.