Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
27


__ADS_3

" Aaaaa" Syifa berteriak melihat penampilan Brian.


" Kamu kenapa, berteriak seperti itu, seperti melihat hantu saja" Brian pun nampak heran melihat Syifa yang spontan berteriak.


"Kamu kok rambutnya kayak gitu sih, kenapa belum di bilas sih seperti hantu berambut putih tahu gak, gimana gak takut coba, " Syifa melihat ke arah rambut Brian yang masih penuh dengan busa sampo.


" Krannya mati Fa, bagaimana ini, perih tahu" Brian menggerutu. Sambil memejamkan matanya, mencari-cari sesuatu.


"Nyari apaan sih" tanya Syifa. Padahal Syifa cekikikan pelan, karena Syifa sengaja mematikan krannya, sebab kesal mandi kok lama sekali.


"Handuk kecil, Fa, cepetan dong ambilin handuk kecilnya, " Brian meminta tolong untuk diambilkan handuk kecil, untuk mengusap rambutnya yang penuh bisa sampo.


"Fa! Mana handuknya, perih banget ini mata, haduhhhh" Brian gelisah.


"Aduh, sabar dong aku kan pincang nih, jadi agak lambat jalannya" alibinya padahal sudah ada ditangannya sendiri, Syifa sengaja.


"Ini handuk kecilnya, " Syifa menyerahkan handuk kecilnya ditangan Brian.


Brian pun secepatnya mengusap-usap kepalanya, setelah selesai mengusap-usap kepalanya dengan handuk kecil, Brian mengembalikannya lagi. Tapi hal yang tak ia percaya adalah, tiba-tiba Syifa masuk ke dalam kamar mandi dan secepatnya menutup pintu dan menguncinya.


Kalau tadi kan Brian mandi tidak mengunci pintu utama kamar mandi hanya menutupnya, yang di kunci kamar mandi bilasnya saja.


Karena kamar mandi dirumah Syifa, ada dua pintu, pertama pintu masuk kedua pintu untuk mandi. Jadi Syifa sudah hapal dong ya.


Brian heran kok Syifa tertawa di dalam kamar mandi.


" Fa, kamu kok ketawa gitu, kamu ngerjain aku ya" teriak Brian didepan pintu kamar mandi, dan akan mendobrak pintu eh ternyata dikunci di dalam.


Dan terdengar suara kran airnya menyala.


"Sial, gue dikerjain istri solehah gue, astaghfirullah istri solehah gue pinter banget, " gumamnya tersenyum mengetahui kekonyolan tingkah istrinya yang curang, dan urung niat untuk menggedor pintunya.


Brian pun menunggu Syifa keluar dari kamar mandi, sebab rambutnya belum bersih, masih licin masih ada sisa sabunnya.


Ceklek.... Suara pintu kamar mandi terbuka, dan ternyata Syifa sudah mengenakan pakaiannya didalam kamar mandi. Brian heran kok Syifa sudah mengenakan pakaiannya, perasaan tadi tuh Syifa masuk ke kamar mandi tidak membawa apa-apa. Brian melihat tubuh Syifa dari atas sampai bawah dan memutarkan tubuhnya, yang sudah rapi itu.

__ADS_1


"Kenapa lihatin aku kayak begitu? " tanya Syifa, menepuk pelan lengan kekar suaminya itu.


"Kamu kok sudah memakai baju, sejak kapan kamu membawa bajunya, aku kok tidak tahu ya.


Kamu tuh misterius sekali jadi istri" ucap Brian, melihat Syifa masih tak percaya.


"Kenapa juga memakai baju dikamar mandi, hem" goda Brian, memegang dagu Syifa.


Syifa pun hampir terhipnotis oleh keharuman sampo yang masih melekat di rambut Brian.


"Astaghfirullah, ish kamu tuh godain aku mulu, ih cepetan sana masuk, bilas lagi tuh rambutnya" dorong Syifa, menyuruh suaminya segera membilasi rambutnya yang masih licin terkena sampo. Brian mengedipkan mata nakalnya pada Syifa, yang saat ini muka Syifa sedikit merah karena malu.


"Ya ampun, punya mantan pacar gini amat" Syifa bergidik ngeri.


Syifa masih terus belajar berjalan tanpa tongkat, padahal bisa saja tidak memakai alat bantu, namun orang-orang disekitarnya tidak memperbolehkan Syifa untuk berjalan tanpa tongkat.


Syifa keluar dari kamar untuk menemui sang Mama di bawah, masa harus didalam kamar terus bisa-bisa nanti mamanya meledek dirinya lagi. Syifa mencoba menuruni anak tangga dengan hati-hati dan pelan-pelan, sebab lukanya masih sedikit sakit untuk berjalan.


Tiba di tengah-tengah anak tangga, Rani melihat anaknya sedang berjalan menuruni anak tangga, lalu Rani secepatnya memapah Syifa.


"Ya ampun Sayang, kamu kok sendirian sih, mana suami kamu yang jagoan itu" Rani khawatirkan anaknya dan menggerutui menantunya.


"Iya deh iya suami hebat, " sungut Rani pada anaknya sendiri.


Syifa pun tersenyum melihat Mamanya cemberut, karena cemburu tidak dibela sama dirinya.


Syifa dan Rani kini berasa di ruang makan, ruang makan pun sangat luas dan indah.


Rani membantu Syifa untuk duduk di kursi meja makan. Sudah ada banyak hidangan makan malam, berbagai macam menu yang Rani dan Bibi buat untuk Syifa.


"Mah, banyak sekali menunya, siapa yang menghabiskan semuanya" tanya Syifa, sambil melihat-lihat menu makanan yang sudah dihidangkan diatas meja, dan divariasikan dengan bentuk yang sangat cantik.


"Variasi nya seperti makanan di restoran mewah ya, Mamah sama Bibi the best lah pokoknya, " Syifa mengancungkan jempol dua kepada Mamanya dan Bibi.


"Itu ide Nyonya, Non, katanya biar tidak bosan melihat makanan, yang itu-itu ajah bentuknya, jadi Bibi diajarin sama Nyonya deh, bagus tidak Non variasinya? " sahut Bibi, yang berada di dekat lemari es.

__ADS_1


"Variasi bagus Bi, tapi kalau soal rasa Syifa tidak tahu deh, hehehe" gurau Syifa, tertawa kecil melihat raut wajah Bibinya yang sedikit sendu matanya.


"Kok begitu Non, patah semangat nih nantinya" Bibi pura-pura cemberut atas gurauan Syifa.


"Bibi tuh lucu sekali sih, kalau lagi cemberut seperti itu, jadi pengen nyubit deh" Syifa bangkit dan mendekati Bibinya, serta memeluknya bukan mencubitnya.


"Mamah tidak dipeluk juga? " tanya Rani, cemburu melihat anaknya hanya memeluk Bibi, bukan dirinya.


Syifa pun balik badan kemudian memeluk sang Mama.


Ceklek... Brian membuka pintu utama kamar mandi. Dan keluar dengan tatapan yang bingung.


"Loh, istri solehah gue mana ya, kok tidak ada di sini, apa dia keluar, astaghfirullah dia kan masih sakit, ya ampun dia kan masih pincang aduh gawat pasti mama mertua, astaghfirullah gak bisa bayangin ihhh ngeri akh, cepet gue harus kebawah" Brian buru-buru ke bawah untuk menyusul istrinya, beruntung Brian sudah mengenakan pakaiannya lengkap.


Brian langsung menutup pintu kamarnya dengan cepat, dan langsung menuruni anak tangga.


Tepat dibawah tangga paling bawah, Brian bertabrakan dengan Papa mertuanya.


"Aduh, maaf Pah, Brian buru-buru mau menyusul Syifa, tapi eh Syifa dimana ya" Brian meminta maaf duluan, sebelum ia kena omelan Papa mertuanya, dan seperti orang linglung mencari Syifa dimana.


"Iya tidak apa Brian, emang Syifa kemana, dia tidak bilang sama kamu Syifa mau pergi kemana?" tanya Nurul.


"Tidak Pah, soalnya tadi Brian sedang mandi, pas keluar dari kamar mandi Syifa sudah tidak ada di dalam kamarnya, dan sekarang Brian mau nyari Syifa" Brian bercerita. Sambil menunduk malu, karena pandangan Papa mertuanya yang begitu aneh.


"Ya sudah, yuk kita cari bersama-sama, mending kita lihat ke dapur atau ke ruang makan" ajak Nurul, memberi arahan pada Brian.


Brian pun mengangguk setuju ajakan dari Papa mertuanya.


Dan ternyata benar Syifa, Rani sudah ada di ruang makan. Sedangkan Bibi masih sibuk di dapur, mempersiapkan hidangan penutupnya.


Syifa masih setia duduk di kursi meja makan, masih memandang semua menu yang sudah tertata rapi diatas meja makan.


"Eh, Papa, yuk kita makan malam dulu, " sapa Rani, dan mengajak suaminya makan malam.


Rani pun melirik ke arah menantunya, menantunya hanya diam berdiri disamping Papa mertuanya.

__ADS_1


"Brian, kamu kok nempel terus sih sama Papah, " tegur Syifa, mengagetkan Brian yang masih terpaku melihat hidangan makan malam, yang sudah disajikan diatas meja makan.


"Eh"


__ADS_2