Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
28


__ADS_3

"Eh" Brian kaget dari lamunannya.


Syifa pun menarik tangannya, dan menyuruhnya untuk duduk disamping dirinya.


"Kamu kayak patung deh, dari tadi diam ajah, kenapa, hem? " tanya Syifa, menatap ke wajahnya. Brian hanya bisa tersenyum canggung melihat keluarga Syifa.


Teringat akan kesalahannya dulu.


"Kamu kenapa? " bisik Syifa, seakan-akan Syifa menggoda dirinya.


"Aku malu sama keluarga kamu, ingat masa lalu" ucap Brian ditelinga Syifa.


"Kalian kenapa bisik-bisik tetangga sih" tegur Rani, yang dari tadi memperhatikan gerak gerik anak mantunya.


"Yah, Mama tuh kepoan, " skak Syifa.


"Mah, itu urusan mereka, Mama kok kepo sekali jadi orang, sekalian Mah jadi CCTV-nya" timpal Nurul, menengahnya biar tak berlanjut.


"Kalau Papah udah angkat bicara, mending saya diam aja deh, pasti kalah debat, alamat gak naik gaji dan gak naik... Ish saya mikirin apa sih, udah malem jadi pikiran ngeres hihi" ucap Rani dalam hati, dan pikirannya melayang saat melihat suaminya.


Setelah selesai makan malam, Syifa dan Brian duduk di luar diteras, sambil minum kopi dan teh manis anget dan juga ada beberapa camilan yang sudah disediakan oleh Bibi.


Syifa dan Brian saling menatap satu sama lain, hampir saja adegan terulang lagi, tapi lagi dan lagi, Mamanya yang memergoki mereka.


"Ehemmmmm!! " deheman sengaja Rani kencengin, supaya Syifa dan Brian mendengarnya.


"Upss" Syifa membungkam mulutnya, tersenyum dan terasa lucu, karena setiap mau ehem, pasti sang Mama lah yang pertama memergokinya.


Brian nyengir kuda, dan mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


"Eh ada Mama mertua yang cantik, sedang apa Mah, yuk gabung sama kita disini" Brian merayu mertuanya karena sudah kepergok ehem.


Rani balik badan lagi, dan tidak menjawab ucapan Brian, tidak ingin melihat menantunya yang sok imut itu.

__ADS_1


"Ish, punya mantu gak ada kalemnya sama sekali" gerutunya, sepanjang jalan menuju kamarnya.


Didalam kamar, Rani mendapati suaminya sudah tertidur lelap dan hanya suara alunan musik dari alam yang berbeda.


"Ini lagi suami gak ada peka nya sama sekali, mumpung masih disini kita happy gitu" geramnya.


Rani pun kini ikut berbaring disamping suaminya.


"Fa, selama kamu menjadi Syifa, apa yang kamu rasakan saat kamu menjadi santri? Dan bertemu dengan yang namanya Ustadz Fatih? " tanya Brian, sambil menatap langit yang penuh dengan bintang berkelap kelip.


Sekilas Syifa memandang Brian yang sedang memandangi langit malam, kemudian Syifa tersenyum.


"Kamu beneran mau tau Brian? " tanya Syifa, memastikan.


"Iya dong Fa, aku ini kan suami mu sekarang, masa kamu mau nutupin terus sih dari aku, " jawab Brian, menoleh ke arah Syifa.


"Jadi gini ya Brian, saat aku di pesantren aku tuh sangat mengidolakan sekali yang namanya Ustadz Fatih, selain dia ganteng, dia sangat baik ramah dan menjaga pandangan. " Ucap Syifa tanpa dosa, mengatakan Fatih ganteng, sehingga Brian menoleh ke Syifa dengan tatapan mata sengit. Syifa tahu itu kode marah hihihi.


"Bilang apa tadi, dia ganteng? Jadi aku jelek dong, " Brian cemberut. Syifa terkekeh melihat Brian dengan ekspresi muka yang menggemaskan.


Syifa pun menceritakan sangat detail, tentang ia dilarikan ke luar Negeri dan cerita lainnya.


"Sudah lah, itu masa lampau, kalau kamu bagaimana, setelah aku dikabarkan tiada, sudah berapa banyak mantan pacar kamu Brian? " tanya Syifa asal.


Brian langsung menangkup pipinya dengan kedua tangannya, dan menatap Syifa dengan mata sendu.


"Fa, kalau aku boleh jujur rasanya aku ingin menyusul kamu tiada, sebab bagiku kamu itu satu-satunya wanita yang aku cintai setelah ibuku, dan kamu tahu selama kamu tiada, aku tidak pernah pacaran sama sekali dengan wanita manapun, tapi setelah perjumpaan kita sepertinya jodoh memang tidak kemana, " ucap Brian, masih dalam posisi tangannya menangkup pipi mulus Syifa. Syifa sangat terharu atas sikapnya yang tak pernah lagi pacaran setelah dengan dirinya.


"Tapi Brian, maaf aku tidak merasakan hal itu, sebab aku dalam keadaan amnesia, " Syifa merasa bersalah, dan kini jatuhlah air matanya mengenai tangan Brian. Brian langsung memeluk Syifa dari depan dalam posisi duduk di teras dekat kolam renang.


Bibi yang menyaksikan dari jauh, ikut merasa terharu dengan kisah cinta mereka.


"Semoga kalian bahagia" gumam Bibi dari kejauhan.

__ADS_1


Brian melepaskan pelukan dan mengajak Syifa untuk istirahat, karena besok Brian harus kuliah.


Syifa masih belum boleh ikut kuliah dulu selama beberapa hari kedepan, karena lukanya belum kering.


"Kita istirahat saja yuk, angin malam sangat dingin sekali, tidak baik berlama-lama diluar, " ajak Brian. Brian tidak menuntun Syifa jalan, melainkan menggendong Syifa. Karena tidak tega dengan keadaan Syifa saat ini.


"Kamu terlalu istimewa, jadi selama kamu tidak ada, aku tidak pernah dengan wanita lain, selain kamu, istrinya suami tengil yang tampan ini" sambil menggendong Syifa ke atas tangga, Brian masih mengoceh.


Syifa memeluk erat dalam gendongan suaminya itu, dan menyandarkan di dadanya. Keduanya tersenyum hangat seolah-olah terhipnotis bersama, setelah sekian lama berpisah kini bisa bersama lagi, bahkan dalam keadaan ikatan yang halal, meskipun tanpa sengaja dan paksaan sejak awal. Tapi endingnya mereka bertemu kembali, walaupun terkadang masih ada cobaan yang akan datang entah itu kapan dan dimana.


Tiba di kamar, Brian membaringkan tubuh Syifa diatas ranjang pelan, mata Syifa sudah tertidur entah tidur beneran atau pura-pura.


"Ternyata kamu berat juga ya, berapa kilo sih ya ampun tangannya sampai kram" saat membaringkan tubuh Syifa yang sudah tertidur.


"Enak saja tubuh ku berat, kamu nya aja kurang bertenaga" cibir Syifa, yang matanya dalam keadaan tertidur.


"Eh, kamu nakal ya gak beneran tidur, tadi kamu bilang apa tidak bertenaga, mau bukti, hem" goda Brian mendekati wajah Syifa, yang hampir mau ditutupi bantal, namun Brian berhasil menyingkirkan bantal itu.


"Kok dilempar sih" malu Syifa.


"Kenapa hem, mau tahu seberapa Brian bertenaga, yuk kita bertenaga bareng" ajak Brian, yang masih terus menggoda Syifa, yang masih kikuk.


Syifa menutup tubuhnya dengan selimut, karena menahan malu.


Brian terkekeh melihat Syifa seperti itu, tapi ini kesempatan Brian untuk terus menggodanya.


"Didalam selimut tak boleh sendiri, harus ada temannya, nanti bahaya loh, kalau pas buka selimut nanti yang dilihat bukan aku bagaimana hayo" Brian menyerobot masuk kedalam selimut istrinya.


"Malam ini yuk, aku yang akan keluarin tenaga aku, kamu tinggal anteng aja gak usah keluarin tenaga, cukup keluarin alunan musik askutik saja, gimana? " goda Brian.


"Ish kamu tuh" Syifa malu sendiri, akibat Brian dikatain tidak bertenaga jadi ditantang kan sama Brian.


Cukup sudah Brian merasakannya, kini mereka tengah asyik tidur didalam satu selimut, dan terlelap bersama.

__ADS_1


Tok tok tok...


__ADS_2