Suami Tengil Yang Tampan

Suami Tengil Yang Tampan
31


__ADS_3

"Vin, maksudnya Brian apa sih" Tania masih penasaran.


"Nanti gue kasih tahu loe, udah sekarang fokus bimbingan dulu" skip Vino.


Tania melirik ke Brian yang masih senyum sendiri seperti orang tak waras, Tania pun bergidik sendiri melihat sikap suami sahabatnya itu.


Sementara itu Bimbim fokus memperhatikan bimbingan yang diberikan oleh Fatih, namun Bimbim tidak sadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh Laras.


"Ternyata Bimbim tampan ya, kenapa gue tidak sadar ya, bodoh sekali gue baru sekarang nyadar, bahwa cuma dia yang begitu perhatian sama gue, gue harus minta maaf" batin Laras, dan tersenyum melihat Bimbim yang masih fokus.


Dan saat Bimbim menengok ke kanan, matanya bertemu dengan Laras, lalu Laras langsung memalingkan mukanya ke sembarang arah.


Laras menelan salivanya karena salah tingkah, saat ia dilihat oleh Bimbim, biasanya tidak seperti ini dan biasanya juga selalu biasa aja.


"Kok gue dag dig dug ya" Laras memegang dadanya sendiri, degup jantung pun terasa sangat cepat.


Laras menjadi tidak fokus, malahan fokus memandang Bimbim. Sedangkan Brian menangkap mata Laras yang sedang melihat ke arah Bimbim.


"Bim, sohib cewek loe lihat loe mulu tuh" tunjuk Brian ke Laras.


"Lihat loe palingan juga" elak Bimbim. Dan tanpa menoleh ke arah Larasati.


Brian menatap Laras, tapi Laras tidak balas menatapnya, malahan Brian disuruh menunduk dan menyingkir sebentar.


"Tuh kan benar, dia lihatin loe dari tadi, loe berantem sama Laras? " pikir Brian.


"Tidak! " seru Bimbim.


"Ketus amat jawabnya" ucap Brian.


Bimbim menerima pesan dari Laras, namun tak dibaca oleh Bimbim.


Laras menunggu balasan dari Bimbim, namun sayang sampai jam selesai bimbingan pun tak kunjung dapat balasan dari Bimbim.


Laras menunggu kepergian Bimbim, dan kini tinggal Brian dan Bimbim yang masih belum dibereskan buku-bukunya.


"Mau gue bantu" tawar Laras pada Bimbim.


"Tidak usah" ucap Brian.


"Gue gak ngomong sama loe Brian, tapi sama Bimbim, " sahut Laras, dan langsung menyerobot buku Bimbim. Brian langsung pergi dan meninggalkan mereka berdua.


Bimbim sudah biasa setiap pulang pasti paling akhir, jadi tidak heran jika Jon, Vino dan Tania tidak mengajak Bimbim.


"Bim, stop! " seru Laras, menghentikan aksi merapikan buku.

__ADS_1


"Brian udah pulang Ras, kenapa masih disini, gue kan udah biasa disini sendirian" ucapnya.


Laras diam seketika, dan tiba-tiba wajahnya memerah ingin menangis tapi tak bisa.


Laras kemudian pergi, dan menunggu Bimbim diparkiran.


"Kenapa tuh anak, aneh sekali" gumam Bimbim, saat melihat kepergian Laras.


Tiba diluar pintu, Laras menjatuhkan air matanya secara tiba-tiba, entah kenapa saat Bimbim mengatakan Brian, hatinya sangat sakit. Sepertinya Bimbim sudah tidak perduli lagi dengan dirinya.


Tiba di parkiran motor, Laras menunggu Bimbim di dekat motornya. Tania mendekati Laras yang tidak sengaja akan mengambil motor matic milik Tania.


"Loe ngapain Ras, nunggu seseorang? " tanya Tania, penasaran.


"Iya, " jawab Laras singkat.


"Ya sudah gue duluan ya, hati-hati ya" pamit Tania pada Laras, uang masih berada diparkiran motor.


Melihat kepergian Tania, Laras melihat Jon, Vino dan Brian, Laras langsung mengumpat.


"Bri, kita kumpul yuk, boring nih" ajak Jon.


"Kumpul dirumah Syifa aja ya" pinta Brian.


Lalu mereka semua mengendarai motor mereka masing-masing dan meninggalkan area kampus.


Bimbim sudah berada di parkiran motor, hendak akan menaiki motornya, Laras sudah ada dibelakang Bimbim.


" Bim, minta tolong boleh gak? Anterin gue pulang ya" pinta Laras memelas, dengan wajah dan mata yang sendu.


"Laras, sejak kapan loe ada di sini? " tanya Bimbim.


"Sejak dari tadi, gue nungguin loe, lama banget tahu gak, kemana saja sih" omel Laras, seperti biasanya.


"Loe dari tadi nungguin gue, buat minta antar loe, Laras, kan ada gojek, gocar, dan taksi lainnya.


kenapa harus gue, dan maaf tadi gue laper, jadi gue makan dulu di kantin, lagian gue tidak minta loe nungguin gue kok, dan maaf juga gue gak bisa nganterin kamu pulang, " jawab Bimbim panjang lebar, membuat hati Laras mendung.


Laras tidak mau banyak bicara, dan Laras pasrah sepertinya Bimbim sudah tidak mau lagi berteo dengan dirinya. Laras menahan tangisan dan menahan kesedihan, secara tidak langsung Laras terluka, entah kenapa Bimbim jadi seperti orang lain, tidak biasanya.


"Ya sudah, kalau begitu terimakasih, gue jalan duluan Bimbim" lesu Laras, dibalik punggung air matanya terjatuh juga.


Laras menangis sejadi-jadinya tapi tanpa suara.


Laras masih menunggu di halte, tanpa ada seseorang pun yang menemani, hingga ia bisa leluasa menangis seorang diri.

__ADS_1


"Gue kok nangisin Bimbim ya, " lesu Laras dan masih menunduk menangis, tanpa menghiraukan ada seseorang yang memanggilnya.


Sebenarnya Bimbim mengikutinya dari belakang, berjalan dibelakang Laras, dan entah kenapa Bimbim merasa sangat jahat dan merasa bersalah sekali.


"Laras, yuk pulang" Bimbim mengulurkan tangannya. Laras meras tangan itu terlihat tidak asing, hingga Laras menghapus air matanya.


Bimbim kaget, kenapa Laras menangis sampai tersedu-sedu seperti itu.


"Bimbim" ucap Laras, sambil mengusap air matanya dengan telapak tangannya sendiri, namun dicegah oleh Bimbim. Dan Bimbim pun membantu mengusap air matanya. Laras menunduk saat Bimbim mengusap air matanya.


"Kamu kenapa menangis, hem" tanya Bimbim, menundukkan kepalanya, sebab Laras masih dalam keadaan menunduk.


Laras tidak menjawabnya, malah semakin menangis lagi.


Bimbim langsung memeluk Laras, dan meminta maaf padanya.


"Maafin aku ya, jika aku pernah punya salah sama kamu" Bimbim jadi mengubah loe gue menjadi aku kamu, tumbenan ya.


"Ka-kamu kenapa jauhin aku Bim? " tanya Laras tersedu-sedu. Laras pun membalas pelukan Bimbim sangat erat, Bimbim jadi tremor nih.


Belum pernah loh Bimbim berpelukan sama Laras, cewek yang ia suka dalam diam.


"Maaf" lirih Bimbim.


"Kenapa minta maaf, justru aku yang minta maaf sama kamu Bim, " ucap Laras.


"Aku minta maaf tidak bisa menyatukan kamu dan Brian" imbuhnya.


Laras tertawa karena itu toh, Bimbim ngejauh.


"Astaga, Bimbim kamu! Ya ampun, aku kira apa" Laras bingung harus berkata apa lagi.


Kini Laras duduk dan mengajak Bimbim untuk bicara serius, karena mumpung lagi berduaan, tidak ada the gank mereka.


"Bim, aku dari tadi di kampus nyariin kamu, tapi kamu tidak ada nongolnya, dari mana saja sih" sedikit manja dan memegang tangan Bimbim.


Bimbim jadi salah tingkah, dan sedikit agak gagap.


" Tadi aku mengurus sesuatu Ras, yaitu kepindahan aku kuliah, sebab aku mau pindah ke luar Negeri, " jujurnya.


Mata sendu Laras berubah menjadi sedikit lebar, sebab ia tak percaya bahwa Bimbim akan pergi.


"Bim, kamu beneran? " sedihnya.


"Aku.... "

__ADS_1


__ADS_2