
"Aku heran bagaimana mama dan papa yang sebaik itu bisa melahirkan monster tidak berperasaan seperti kamu!!!"
Tanpa berkata-kata lagi Renan menarik Mey ke tempat tidurnya. Wajahnya merah padam menunjukkan amarah yang luar biasa.
"Kamu harus diberi pelajaran!!! Perempuan murahan seperti kamu pantas menyebutku monster tidak berperasaan?!!" Renan menatap Mey dengan tatapan membunuh. Gadis yang dia anggap sebagai perempuan rendahan ini sudah berani kepadanya.
"Tetapi karena kamu sudah menyebut aku seperti itu, maka malam ini aku benar-benar akan menjadi monster untukmu!!!" ucap Renan sambil mendorong tubuh Mey ke atas kasur.
Lalu Renan menindih tubuh Mey dan mulai menciumnya dengan kasar. Mey yang kalah tenaga tidak bisa melawan. Renan mengangkat tangan Mey ke atas dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mulai menggerayangi tubuhnya.
Gadis itu tidak bisa berbicara lagi karena bibirnya sudah dikunci oleh bibir Renan.
"Kak ... Tolong hentikan... " ucap Mey setelah Renan mengalihkan bibirnya ke leher Mey.
"Kenapa??? Apa aku sudah seperti monster bagimu??? Ini belum apa-apa!!!" Renan melanjutkan aksinya. Mey berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Dia mendorong tubuh Renan bahkan menendangnya, semua itu tidak ada gunanya karena tubuh Renan yang jauh lebih besar dibandingkan tubuhnya.
"Diam dan nikmati saja perempuan murahan!!! Jangan berlagak seperti kamu belum pernah merasakannya!!!" Semakin Mey melawan, semakin kasar perlakuan Renan kepadanya.
"Tidak usah melawan, bukankah aku suamimu?!! Selama ini kamu ingin menjadi istri yang baik bukan?!!" sindir Renan. Tangannya masih terus bergerilya di tubuh Mey.
Meylan hanya bisa pasrah membiarkan Renan mempreteli pakaiannya satu persatu. Bahkan dia merobek ce**na da*am Mey karena gadis itu berusaha mempertahankannya.
Akhirnya malam ini Renan bisa menikmati tubuh Mey yang dari kemarin mengganggu pikirannya.
*
Air mata Mey terus mengalir. Dia tidak menyangka malam pertamanya dengan sang suami akan semengerikan ini. Memang dia berharap Renan mau menyentuhnya, karena dia sudah menjadi istrinya. Tetapi bukan begini caranya. Renan melakukannya dengan sangat kasar. Dia benar-benar bertingkah seperti monster dan Mey adalah mangsanya.
__ADS_1
Mey menghapus air matanya. Perlahan dia turun dari tempat tidur. Dengan tertatih dia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya satu persatu. Sudah beberapa kali dia menghapus air matanya tetapi air mata itu terus saja menetes.
Mey menatap Renan yang terlelap setelah melampiaskan seluruh na*sunya. Mey terus menatap Renan. Ini bukan malam pertama layaknya suami istri. Mey seperti baru saja dipe**osa, meski Renan adalah suaminya. Mey sangat marah dan sakit hati. Meskipun Renan tidak menyukainya dan tidak menginginkan pernikahan ini, bukan berarti dia berhak memperlakukan Mey seperti ini.
Mey masih berdiri mematung memandang Renan. Sorot matanya sekarang memancarkan kebencian sama seperti yang terlihat ketika Renan menatapnya.
Mey berjalan perlahan keluar dari kamar Renan. Sesekali dia berpegangan pada dinding karena dia menahan sakit di tubuh bagian bawahnya. Ini pertama kalinya bagi Mey, dan ini sangat menyakitkan karena Renan melakukannya dengan sangat kasar.
Sampai di kamarnya Mey langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi buruk dan ketika dia membuka lagi dia sudah lupa semuanya.
Setelah beberapa saat Mey kembali membuka matanya. Tetapi rasanya tetap sama. Rasa perih dan rasa sakitnya masih ada. Mey menitikkan air mata untuk yang kesekian kalinya.
Apakah balas budi harus sesakit ini? pikir Mey.
Akhirnya Mey memutuskan untuk ke kamar mandi dan berendam dengan air hangat. Mungkin itu bisa meredam rasa sakit di tubuh dan hatinya.
Renan terbangun mendapati tempat tidurnya tidak ada orang di sampingnya. Dia ingat betul semalam dia memberikan pelajaran untuk Mey. Tetapi Renan tidak peduli. Dia menyingkap selimutnya dan akan turun dari tempat tidur. Tetapi tidak sengaja dia melihat noda merah di tempat tidurnya.
Renan kembali mengingat kejadian semalam. Dia terlalu dikuasai oleh amarah sehingga tidak bisa berfikir jernih. Dia ingat merasakan ada sesuatu yang terasa berbeda saat tubuhnya memasuki tubuh Mey. Tetapi dia tidak mempedulikannya. Dia terus mendorong tubuhnya memasuki tubuh Mey meskipun dia melihat Mey meringis kesakitan, dia tidak peduli.
Barulah sekarang dia sadar setelah melihat noda-noda itu.
"Jadi dia belum pernah melakukannya? Aku yang pertama?" Renan terdiam memandangi noda-noda itu. "Jadi dia bukan perempuan murahan?" gumam Renan. Lalu muncullah rasa menyesal di dalam hatinya.
Renan mengacak-ngacak rambutnya bingung. Perempuan yang selama ini dia hina dan caci ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan. Bahkan dia mulai sadar jika sikapnya sudah salah dan kadang keterlaluan.
Renan segera membersihkan badannya lalu turun. Dia berharap bisa melihat Mey walaupun mungkin tidak akan meminta maaf atas apa yang sudah dia perbuat.
__ADS_1
Sampai di bawah Renan langsung mencari Bi Susi di ruang makan.
"Dia sudah bangun Bi?" tanya Renan.
"Sepertinya belum Tuan. Dari tadi belum keluar dari kamar. Apa mungkin sakit ya?" jawab Bi Susi. "Apa perlu saya panggilkan?"
"Kamu lihat saja, kalau masih tidur jangan di ganggu."
"Baik Tuan."
Renan pun langsung pergi. Bi Susi heran melihat perubahan sikap Renan yang tiba-tiba jadi peduli dengan Mey. Jarang-jarang majikannya itu mempedulikan orang lain apalagi ini Mey, orang yang akhir-akhir ini sangat dia benci.
Sementara itu Mey masih meringkuk di tempat tidurnya. Matanya bengkak karena semalaman menangis, ditambah lagi rasa sakit di sekujur tubuhnya karena perbuatan Renan semalam membuatnya tidak ingin meninggalkan kamarnya.
Mey masih saja menangis jika ingat kejadian semalam. Rasanya dia tidak mau bertahan lebih lama lagi bersama Renan. Dulu dia sempat memiliki harapan, mungkin seiring berjalannya waktunya Renan akan bisa menerimanya dan dia juga akan bisa mencintai Renan sepenuhnya.
Tetapi setelah kejadian malam tadi, Mey sama sekali tidak berharap akan mendapatkan cinta Renan. Dia juga sudah tidak ingin menjadi istri Renan lebih lama lagi. Mana mungkin dia bertahan dengan lelaki yang memperlakukan perempuan dengan kasar dan tidak sepantasnya.
Terdengar suara pintu di ketuk.
"Non ... Sarapan dulu ... " Suara Bi Susi memanggil Mey untuk sarapan. Tetapi Mey sangat malas, dia tidak ingin makan sama sekali.
"Apa mau diantar ke kamar Non sarapannya?" Mey tidak memberikan jawaban. Dia hanya ingin sendirian di kamarnya, menangis dan menyesali yang sudah terjadi kepadanya.
"Non, apa Non Mey sakit? Bibi masuk ya?" Bi Susi masih terus berusaha mencari tahu keadaan Mey.
"Aku nggak apa-apa Bi, cuma sedikit nggak enak badan. Nanti kalau butuh apa-apa aku akan panggil bibi," balas Mey.
__ADS_1