
Mey terus memegangi handuk yang melilit tubuhnya. Semakin lama Renan menatapnya semakin dalam. Renan ingin marah tetapi aroma sabun di tubuh Mey membuat konsentrasinya hilang. Emosi naik turun tidak karuan.
Renan terus berjalan mendekati Mey. Lalu dia mendorong tubuh Mey hingga gadis itu terjatuh di tempat tidur. Dengan paksa Renan menarik handuk yang menutupi tubuh Mey. Handuk itupun terlepas dan memperlihatkan tubuh polos Mey yang tanpa cela.
Meylan sangat malu. Ini pertama kalinya tubuhnya dilihat oleh orang lain, apalagi seorang laki-laki. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan keduanya tangannya tetapi sepertinya sia-sia.
"Kak ... Kakak mau apa?" tanya Meylan dengan wajah yang memerah karena malu. Mey sangat gugup. Meskipun Renan suaminya, dia merasa tidak seperti ini seharusnya. Mey pasrah, jika memang Renan ingin melakukannya dia akan melayaninya.
Renan seperti kehilangan kesadarannya. Dia terus memandangi tubuh Mey yang tanpa busana.
Sial!!! Tubuhnya lumayan juga!!! umpat Renan di dalam hatinya.
Ingin sekali Renan menyentuh tubuh itu, tetapi dia menahan dirinya. Dia berusaha memberitahu dirinya jika melakukan ini hanya untuk mempermalukan Mey. Perang batinnya antara na*su untuk menyentuh Mey atau segera pergi sebelum dia tergoda membuatnya hanya mematung sambil terus memandangi tubuh Mey.
Tanpa sadar Renan terus mendekat hingga dia mencondongkan tubuhnya tepat di atas tubuh Meylan. Renan sudah hampir mencium bibir Mey, tetapi kemudian kesadarannya kembali. Mey terus memejamkan matanya.
"Kamu pikir aku akan menyentuh tubuh kotormu ini? Kamu pikir aku tertarik?" bisik Renan di telinga Mey. Sakit hati Mey mendengar kata-kata Renan.
Renan berbohong karena saat ini jantungnya sedang berdetak sangat cepat melihat keindahan tubuh Mey. Beruntung Mey menutup matanya sehingga Renan bisa leluasa memandanginya.
Meylan terus menutup matanya meskipun itu tidak menghalangi air matanya untuk berlinang.
"Kenapa kamu tidak mau melihatku? Kamu tidak mau aku melakukannya kepadamu? Bukankah aku suamimu?"
Perlahan Mey membuka matanya setelah mendengar Renan menyebut dirinya sebagai suaminya. Dua pasang mata itu bertemu, Mey dengan mata merah karena menangis sementara Renan dengan mata merah karena amarah atau mungkin na*su.
"Kamu sangat ingin aku melakukannya padamu?"
__ADS_1
Mey tidak menjawab. Dia terus menatap mata Renan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Renan kembali ke posisi berdiri lalu melonggarkan dasinya. Mey berpikir mungkin Renan akan membuka bajunya dan mengajaknya melakukan hubungan suami istri. Tetapi Mey salah.
"Lebih baik aku tidur dengan pela*ur daripada tidur denganmu!" ucap Renan sambil berjalan hendak meninggalkan Mey yang masih terbaring di tempat tidur. Mey seolah tidak ada harganya di mata Renan.
"Kenapa?" Mey memberanikan diri bersuara. "Kenapa Kakak sangat membenciku? Kenapa Kakak pikir aku yang menginginkan pernikahan ini? Kenapa Kakak selalu menyudutkan aku? Kenapa Kakak selalu menyebutku perempuan murahan? Kenapa Kakak tidak melihat semuanya dari posisiku?"
Renan menghentikan langkahnya tanpa berbalik untuk menatap Mey. Sementara Mey terus bertanya dengan suara yang parau karena menahan tangis.
"Apa karena aku miskin lalu Kakak pikir aku hanya menginginkan uang? Atau karena sakit hati yang Kakak rasakan lalu Kakak melampiaskan kepadaku? Aku juga punyaku perasaan dan harga diri! Katakan apa salahku padamu?!!" Meylan hampir berteriak.
Renan diam membisu. Dia tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan Meylan. Kenapa dia begitu benci dan amarah padanya padahal dia tidak melakukan apa-apa. Yang memaksa dia menikahi Meylan adalah orang tuanya. Bukan Mey yang mengemis ingin dinikahkan kepadanya.
Kalau ingin menyalahkan maka orang tuanya lah yang paling bersalah. Orang tuanya yang memaksa dua orang tidak saling mencintai ini untuk menikah. Mey sendiri tidak tahu ancaman yang diberikan kepada Renan jika dia tidak mau menikahinya.
Renan sendiri sudah menutup mata dan telinganya, tidak mau tahu alasan kenapa Mey mah menikah dengannya. Rasa sakit hatinya yang membuat dia berpikiran negatif tentang Mey, menyangka gadis itu sama seperti mantan kekasihnya.
Hati Meylan hancur. Dia merasa sangat malu dan terhina. Renan sudah berkali-kali merendahkannya tetapi kali ini sangat keterlaluan. Harga diri Mey sebagai seorang wanita telah diinjak-injak oleh Renan.
Perlahan Meylan bangun lalu mengambil handuknya yang tergeletak di lantai kamar. Mey kembali ke kamar mandi meski Renan tidak melakukan apapun padanya. Mey hanya ingin mengguyur tubuhnya di bawah shower untuk agar kejadian menyakitkan ini tidak teringat di kepalanya.
Sementara itu Renan kembali ke kamarnya. Bayangan Mey terbaring tanpa pakaian terus berkelebat di pikirannya. Sebenarnya dia ingin sekali menyentuh tubuh Mey. Sebagai pria dewasa tentu gairahnya terpancing saat melihat tubuh molek Mey tersaji di hadapannya. Apalagi Mey adalah istrinya, dia berhak melakukan apa saja padanya.
Tetapi Renan menahan dirinya. Dia sudah terlanjur benci dengan Mey tanpa alasan yang jelas dan berkali-kali mengatakan tidak ingin menyentuh tubuh gadis itu.
Renan berjalan menuju kamar mandinya. Dia melepaskan semua pakaiannya lalu merendam tubuhnya di bathtub untuk meredam na*su nya yang mulai bergejolak karena melihat tubuh Mey. Tetapi bukannya redam, na*su nya justru semakin bergejolak. Akhirnya dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Kenapa aku harus menarik handuknya?" Renan membentur-benturkan kepalanya di dinding kamar mandi. Dia menyesali perbuatannya karena itu justru membuatnya tersiksa sendiri.
__ADS_1
Malam harinya Renan sudah siap di meja makan untuk makan malam. Ini adalah pertama kalinya Renan makan malam di rumah setelah menikah dengan Mey.
"Dimana dia? tanya Renan dingin.
"Di kamar Tuan," jawab Bi Susi. Dia tahu yang tuannya maksud bahkan tanpa menyebutkan namanya.
"Suruh dia turun dan makan malam di sini!"
"Non Meylan tadi meminta makan malamnya diantarkan ke kamar Tuan."
"Lakukan yang aku perintahkan!"
"Baik Tuan."
Bi Susi langsung ke atas untuk memanggil Mey. Tak berapa lama Bi Susi sudah kembali turun bersama Mey yang berjalan di belakangnya.
Meylan tampak tidak bersemangat. Renan bisa melihat mata Mey merah dan sembab. Tanpa berkata apa-apa Mey langsung duduk. Dia tidak menatap Renan atau menyapanya seperti biasa membuat Renan heran.
Biasanya Mey menawarkan Renan makan, Kakak mau sesuatu? Kakak ingin ini? Kakak mau bla ... bla ...? Itu selalu Mey tanyakan saat Renan tidak sengaja lewat di depan Mey yang sedang makan.
Tetapi kali ini Mey diam. Dia sama sekali tidak berbicara begitu juga Renan. Makan malam terasa aneh karena semua diam. Renan ingin mulai bicara tetapi dia tidak tahu mau bicara apa. Selama ini dia tidak pernah berbicara secara halus dengan Mey.
Selesai makan, Mey ingin langsung kembali ke kamarnya. Mey sudah berdiri dan ingin segera pergi.
"Jangan pergi sebelum aku selesai!"
Mey tidak menjawab. Dia kembali duduk tanpa berkata apa-apa kepada Renan.
__ADS_1