
Mey bosan menunggu Renan yang tak kunjung selesai dengan meetingnya. Padahal ini sudah lewat satu jam dari waktunya pulang.
Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, Mey keluar dari ruangannya dan langsung menuju tempat parkir.
"Pak, nanti kalau Renan mencari, tolong beritahu saya pergi ke taman kota." Mey berpesan kepada pak sopir.
"Non Meylan mau saya antar?"
"Tidak usah pak, saya naik taksi saja."
"Tapi Non, nanti saya bisa kena marah."
"Nggak Pak, bilang saja saya yang memaksa."
"Baik Non ..." Pak sopir tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Meylan mencegat taksi lalu pergi menuju taman, tempat biasa dia bertemu Ivan. Hari ini dia ingin menghirup udara segar mengingat apa yang sudah dia lalui akhir-akhir ini sangatlah berat.
Sampai di taman, Mey duduk di tempat biasanya yang kebetulan kosong. Tidak banyak orang di taman ini karena ini bukan hari libur.
Mey duduk tenang sambil memandangi kendaraan yang berlalu-lalang. Dari kejauhan Mey melihat sosok perempuan paruh baya berjalan pelan menghampirinya.
"Tante Dewi?!" gumam Mey tidak percaya. Dia adalah ibunya Ivan.
Perempuan itu berjalan semakin dekat. Mey berdiri dan menghampiri perempuan itu.
"Mey?"
"Tante Dewi?" ucap mereka secara bersamaan lalu mereka berdua berpelukan.
"Tante sama siapa?" tanya Mey.
"Tante sendirian Mey, habis dari kontrol rutin terus tante ke sini, mau mencari udara segar eh ... malah nggak sengaja bertemu kamu di sini." Wanita itu terlihat akrab dengan Mey.
"Kamu terlihat sedikit lebih kurus, apa kamu baik-baik saja nak?" Sejak dulu wanita ini memperlakukannya dia sangat baik, apalagi setelah mengetahui dia adalah kekasih Ivan.
"Aku baik tante, memang akhir-akhir ini agak kurang enak badan."
__ADS_1
Mey memandangi wanita itu. Dia melihat tutup kepala yang dikenakannya. Wanita itu kehilangan rambutnya karena kemoterapi yang sedang dia jalani.
Mey menggandeng tangan Dewi dan mengajaknya duduk bersama di kursi yang tadi dia tempati.
"Ivan tidak mengantarkan Tante kontrol?"
"Dia sedang sibuk. Lagian Tante sudah bisa apa-apa sendiri."
"Sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi Tante. Ivan bilang kalian telah berpisah. Maafkan Tante ya nak, semuanya gara-gara tante. Kalau saja Ivan tidak memiliki ibu yang penyakitan seperti Tante, tentu kalian sudah menikah."
"Kenapa Tante bicara seperti itu?"
"Ivan bilang dia mengakhiri hubungan kalian karena ingin fokus merawat Tante. Tante jadi merasa bersalah sama kamu nak ... Kamu yang jadi korban. Ivan jadi tidak ada biaya untuk menikahimu karena Tante." Mata cekung wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Tante ingin dia kembali padamu. Tante akan berhenti melakukan pengobatan agar Ivan bisa menabung dan kalian bisa segera menikah. Tante tidak apa-apa, kamu bisa lihat sendiri kan Tante sudah sehat?" Dewi menatap Mey penuh harap.
"Tante mohon ya nak ... Kamu mau menerima Ivan lagi kan? Dia sangat mencintaimu Mey. Dia melakukan itu demi Tante. Dia menjadi murung setelah perpisahan kalian. Yang dia lakukan hanya kerja dan kerja terus sampai lupa waktu."
Mey terdiam. Dalam hatinya dia menangis. Dia tidak tahu jika Ivan mengarang cerita sedemikian itu kepada ibunya. Ivan membuat seolah-olah dialah yang mengakhiri hubungan mereka agar Mey tetap terlihat baik di mata ibunya.
Andai Tante tahu bukan seperti itu ceritanya ... batin Mey.
"Kamu harus banyak istirahat," ucap Renan lagi sambil berjalan mendekat.
"Siapa dia Mey?" tanya Dewi.
"Dia ... dia ... " Tiba-tiba lidah Mey terasa kaku.
"Saya suaminya," jawab Renan datar.
Dewi ternganga tidak percaya. "Mey ...?! Kamu sudah menikah?!"
"Siapa dia Mey?" Renan balik bertanya dengan nada angkuhnya.
Mey bingung menjawab pertanyaan dua orang di hadapannya ini.
"Bukankah kamu dan Ivan belum lama berpisah? Bagaimana bisa kamu sudah menikah dengan orang lain? Bukankah ini terlalu cepat?"
__ADS_1
Mey terus diam. Air mata yang tadi dia seka secara sembunyi-sembunyi kini sudah kembali memenuhi pelupuk matanya.
"Apa Ivan berbohong pada Tante? Bukan dia yang mengakhiri hubungan kalian tetapi kamu?! Kamu mendua dengan pria ini?!" cecar Dewi.
"Bukan seperti itu, Tante salah paham ... " Kali ini Mey tidak bisa menyembunyikan tangisnya.
"Tante telah salah menilaimu Mey. Tante pikir kamu wanita baik-baik karena mau menerima Ivan apa adanya. Ternyata kamu tega meninggalkan Ivan demi pria yang lebih kaya!"
"Tante ... jangan bicara seperti itu." Air mata Mey mengalir deras meski tidak terdengar suara isak tangisnya. "Maafkan aku telah mengecewakan Tante ... aku benar-benar minta maaf." Mey meraih tangan Dewi dan memohon padanya.
Renan hanya melihat karena dia bingung, tidak tahu apa yang sedang terjadi di hadapannya. Dewi mengibaskan tangan Mey dengan kasar.
"Dulu Tante merasa sangat bahagia mengetahui kamu yang akan menjadi menantu Tante. Bahkan Tante sangat sedih ketika mendengar kalian berpisah. Tetapi sekarang Tante menyesal. Beruntung Ivan tidak jadi menikah denganmu! Kamu hanya perempuan murahan yang rela menjual cintanya demi uang!"
"Hei ...!!! Jangan bicara sembarangan tentang istri saya!!!" hardik Renan. Dia sudah mengerti situasinya. Dia merasa tidak terima wanita itu menyebut Mey sebagai perempuan murahan.
"Anda tidak terima Tuan?"
"Tarik kata-kata anda!"
"Aku harap kelak anda mengetahui wanita seperti apa yang telah anda nikahi!"
"Saya tahu persis wanita seperti apa yang telah saya nikahi! Dia wanita baik-baik!!!" Renan mati-matian membela Mey.
"Semoga kelak hidup kalian bahagia!" ucap Dewi sambil menunjukkan sorot mata penuh kebencian kepada Mey. Dia berlalu dari hadapan Mey dan Renan.
Mey mengusap air matanya lalu berjalan menuju mobil mendahului Renan.
Selama di dalam mobil Mey terus memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin Renan melihat air matanya yang tidak berhenti menetes.
Sementara Renan hanya membisu. Hatinya diselimuti rasa bersalah yang luar biasa. Dia merasa sangat bersalah kepada Mey.
Dulu dia membenci pernikahannya dengan Mey hanya karena pikiran piciknya yang menganggap Mey perempuan murahan.
Sementara Mey telah rela mengorbankan kebahagiaannya untuk menikah dengannya. Pikirannya yang menuduh Mey sengaja menikah dengannya agar bisa mengambil seluruh harta keluarga Kusuma adalah salah besar.
Sampai di rumah Mey langsung masuk ke dalam kamar. Dia menangis mengeluarkan isi hatinya. Kata-kata Dewi begitu membekas di hatinya.
__ADS_1
"Mey ... Kamu tidak apa-apa?" Renan menyusul Mey ke kamarnya. Tidak ada jawaban dari Mey. Gadis Itu sedang tenggelam dalam kesedihan.
Renan kembali ke kamarnya. Dia langsung mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah pancuran dingin. Dia tidak menyangka gadis yang tadinya sangat dia benci bisa membuat perasannya hidup lagi.