Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Ngidam


__ADS_3

"Non Mey tidak apa-apa? Mau Bibi pijit?" tanya bi Susi.


Mey terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat.


"Aku ingin makan sup ayam. Bisakah bibi masakkan untukku?"


"Iya habis ini bibi masakan sup ayam. Tapi ini susu hangatnya di minum dulu. Tuan Renan yang nyuruh bibi bawain susu buat non Mey."


Mey menerima susu yang diberikan oleh Bi Susi. Siapa tahu setelah minum susu itu dia merasa lebih baik. Setelah itu mey kembali memejamkan matanya.


"Dia mau minum susunya?" tanya Renan begitu bi Susi kembali.


"Mau Tuan. Sekarang minta dimasakkan sup ayam."


Renan mengangguk. "Kalau begitu buatkan dia sup ayam. Aku akan pergi ke kantor. Tolong jaga dia Bi, kalau dia minta sesuatu bibi turuti saja, asal tidak keluar rumah."


"Baik Tuan."


Renan bisa pergi bekerja sekarang. Dia merasa tenang karena sudah ada yang menjaga Mey.


Tetapi sampai di kantor Renan tidak bisa fokus bekerja. Pikirannya hanya memikirkan Mey. Dia mengkhawatirkan keadaan Mey juga janin dalam kandungannya.


Sore harinya Renan pulang ke rumah membawa beberapa kotak susu hamil. Susu yang kemarin Mey beli tertinggal di apartemen dan tadi pulang kerja Renan membelikan yang baru.


"Dia mau makan?" tanya Renan sambil menyerahkan susu yang tadi dia beli. Bi Susi heran melihat susu yang Renan beli tetapi dia menyimpan rasa herannya dalam hati.


Susu hamil? Apakah Non Mey hamil?


"Tadi siang mau makan Tuan. Setelah itu tidur terus di kamar."


"Muntah lagi?"


"Iya Tuan. Habis itu cuma minum jus."


Renan mengangguk lalu pergi ke kamar Mey. Seperti biasa dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Renan melihat Mey sedang menonton televisi di dalam kamarnya. Dia masih terlihat pucat.


"Kamu merasa lebih baik?" tanya Renan.


Mey tidak menjawab. Dia fokus dengan televisi depannya.


"Kamu ingin makan sesuatu?"


Mey tetap diam mengacuhkan Renan yang sedang bicara kepadanya.


Sebenarnya Renan kesal. Kalau sudah begini dia bicara apapun Mey tidak akan mau menjawabnya. Renan keluar dari kamar Mey dengan rasa kecewa. Tetapi dia sadar mungkin seperti ini juga perasaan Mey ketika dulu dia mengacuhkannya.

__ADS_1


Makan malam ...


Renan dan Mey sudah berada di meja makan. Sebenarnya Mey lapar, tetapi dia tidak berselera melihat makan yang tersaji di meja makan. Mey hanya menatap makanan itu dan Renan memperhatikannya.


"Kamu tidak suka makanannya?" tanya Renan halus. Mey tidak menjawab. Dia masih enggan bicara dengan Renan.


"Kamu ingin makanan lain?" Renan masih berusaha berbicara dengan Mey tetapi Mey justru memanggil Bi Susi.


"Bi ... Maaf ya Bi, bukannya tidak menghargai masakan Bibi, tetapi aku sedang ingin makan bakso. Apa bibi bisa membelikannya untukku?" tanya Mey dengan wajah memelas.


"Baik Non, tunggu ya ... Bibi segera berangkat." Bi Susi tidak heran dengan tingkah Nona mudanya yang jadi manja dan pilih-pilih makanan. Meski tidak ada yang memberitahu, bi Susi percaya jika nona mudanya ini sedang ngidam.


Renan meletakkan sendoknya dan berhenti makan.


"Tidak usah Bi!" cegah Renan.


Bi Susi dan Mey langsung menoleh ke arah Renan bersamaan. Mereka tidak mengerti kenapa Renan tidak mengijinkan bi Susi pergi.


"Ambilkan kunci mobilku!" ucap Renan lagi.


"Baik tuan." Bi Susi bergegas mengambil barang yang Renan minta.


"Kalau kamu ingin sesuatu kamu bisa minta kepadaku. Aku suamimu." Mey tidak bereaksi mendengar kata-kata Renan.


Tak lama Bi Susi kembali membawa kunci mobil yang Renan maksud dan menyerahkannya kepada Renan.


"Kamu bilang ingin makan bakso. Aku akan mengantarkan kamu membeli bakso."


Mey segera berdiri. Dia semangat sekali hingga tidak sadar menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.


Di dalam mobil Mey terus diam.


"Mau makan bakso dimana?" Renan mencoba mencairkan suasana.


"Terserah!"


"Yang biasanya kamu makan? Aku tidak pernah makan di warung bakso jadi jangan bilang terserah padaku. Aku benar-benar tidak tahu."


"Di jalan Pramuka," jawab Mey.


"Oke, kita kesana."


Akhirnya mereka sampai di warung bakso. Awalnya Mey ragu ketika akan memakan bakso yang sudah tersaji di hadapannya. Seperti biasanya dia menatap dulu makanan yang akan dia makan. Dia takut nanti akan muntah ketika tengah makan dan itu akan membuat kepalanya kembali pusing dan tubuhnya lemas.


"Makanlah, tidak apa-apa." Renan mengetahui pikiran Mey.


Perlahan Mey memakan bakso. Seperti biasa, Mey menunggu beberapa saat untuk mengetahui reaksi perutnya. Setelah Mey merasa tidak apa-apa barulah dia melanjutkan makan dengan lahap.

__ADS_1


Renan tersenyum tipis. Dia senang melihat Mey makan dengan lahap. Kalau Mey sehat anaknya juga sehat, setidaknya begitulah menurut Renan.


Pagi harinya ...


Ada yang aneh pada diri Renan. Hari ini dia bangun pagi sekali lalu ke dapur.


"Apa makanan kesukaan Mey Bi?" Renan menghampiri bi Susi yang tengah memasak.


"Non Mey biasanya suka pasta Tuan." Renan ingat waktu itu di apartemen Mey dia juga memasak pasta.


"Baiklah, bantu aku masak pasta Bi," ucap Renan.


"Baik Tuan." Bi Susi segera menyiapkan bahan-bahannya. "Tapi Tuan ... orang ngidam itu biasanya keinginannya berubah-ubah. Dari kemarin Non Meylan sukanya makanan berkuah, belum tentu nanti mau makan pasta."


Renan mengernyit, mendengar kata-kata Bi Susi. Lalu matanya menatap tajam Bi Susi. "Dari mana bibi tahu Mey sedang ngidam?" hardik Renan.


Bi Susi menutup mulutnya, dia tidak sadar sudah keceplosan bicara.


"Maaf Tuan, saya hanya mengira-ngira. Habisnya Tuan beli susu hamil banyak sekali," jawab Bi Susi ketakutan.


"Jangan bilang apa-apa sama mama dan papa!"


"Baik Tuan." Lalu Bi Susi melanjutkan masak dalam keheningan sementara Renan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap bekerja.


Renan turun ke ruang makan lebih dulu.


"Panggil Mey untuk sarapan Bi," ucap Renan.


"Baik Tuan." Belum sempat Bi Susi melangkah, Mey sudah muncul di ruang makan. Dia sudah rapi dan nampaknya akan berangkat bekerja.


"Sudah ku bilang kamu tidak usah bekerja," ucap Renan begitu melihat Mey.


"Kamu tidak bisa melarangku!" balas Mey ketus.


Saat ini Renan tidak ingin membuat Mey semakin membencinya, jadi dia mengikuti keinginannya.


"Tapi kamu harus berangkat dan pulang bersamaku!"


Mey tidak menjawab. Dia langsung duduk di meja makan. Mey melihat hidangan di atas meja dan langsung merasa mual.


"Buang semua makanan ini Bi, aku tidak ingin makan!" ucap Mey langsung.


"Tapi Non ... "


"Buang saja Bi, atau singkirkan dari hadapanku. Aku ingin muntah mencium aromanya!" Bi Susi melihat ke arah Renan. Dia merasa tidak enak karena tadi tuannya yang memasak pasta itu.


Renan mengangguk, mengijinkan Bi Susi membawa makanan itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2