
Mey masih berada di dalam ruangannya meski jam kerja sudah selesai. Dia masih merasa pusing dan lemas. Mey memaksakan diri berjalan, tetapi belum sampai di mobilnya Mey kembali merasa lemas dan keringatnya bercucuran. Mey beristirahat sebentar dan menyandarkan tubuhnya di salah satu mobil yang terparkir.
"Non, Tuan meminta saya mengantar Non Meylan pulang," sambut pak sopir begitu melihat Mey.
Mey tidak menolak. Dia sadar saat ini memang kondisinya tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil sendiri. Mey langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
Selama perjalanan pulang Mey terus menutup matanya.
"Pak, nanti mampir ke apotek ya," ucap Mey tanpa membuka matanya.
"Baik Non."
Sampai di rumah Mey langsung ke tempat tidur. Rasanya dia hanya ingin memejamkan matanya.
Mey terbangun malam harinya. Dia sudah merasa lebih baik setelah tidur. Dia membersihkan badannya lalu menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Sebelum makan Mey mengambil kantong plastik kecil yang berisi obat dan barang yang tadi dia beli di apotek. Mey mengeluarkan isinya lalu menaruhnya di samping piringnya. Dia membeli testpack dan obat anti mual.
Mey duduk di meja makan sendirian dan hanya memandangi makanan yang sudah dia masak bergantian dengan testpack dan obat mual. Dia lapar tetapi takut untuk makan. Dia takut akan mual dan muntah lagi dan itu akan semakin membuktikan kalau dia memang sedang hamil.
Lama Mey memandangi makanannya hingga akhirnya dia mengambil sesuap karena dorongan rasa laparnya. Mey mengunyah makanannya pelan lalu menelannya. Lalu dia menunggu reaksi perutnya apakah dia mual atau tidak. Setelah beberapa saat dia tidak ada reaksi apa-apa barulah Mey melanjutkan makannya dengan lahap.
Mey merasa lega. Dia sudah tidak mual dan pusing lagi, berarti dia tidak sedang hamil. Mey mengambil testpack dan obat mualnya. Dia akan menyimpannya karena dia tidak membutuhkan itu. Mey tersenyum setelah itu.
Pagi harinya ...
Mey kembali merasakan malas seperti hari sebelumnya. Kepalanya juga terasa pusing seperti kemarin. Tanpa berpikir panjang Mey mengambil testpack yang semalam dia simpan. Dia tidak ingin menduga-duga lagi.
Seperti yang sudah Mey duga, hasil tesnya menunjukkan dua garis. Mey merasa semakin lemas. Dia melemparkan testpack itu sembarang lalu menangis. Sulit sekali mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita dia bahagia mengetahui dirinya sedang hamil, tetapi dia juga sedih kenapa harus Renan yang menjadi ayah dari calon bayinya? Apakah nanti Renan akan menerima anak itu mengingat Renan sangat membencinya.
Mey kembali ke kamarnya. Dia kembali meringkuk di bawah selimutnya dan tidak ingin melakukan apa-apa. Pikirannya kosong tidak tahu harus bagaimana.
Menjelang siang suara perut memaksa Mey untuk bangun. Dia membuka kulkasnya untuk memasak tetapi dia urungkan niatnya karena tiba-tiba dia ingin makan bakso. Mey mengambil jaketnya lalu keluar dari apartemen untuk membeli bakso.
Setelah itu dia mampir ke swalayan terdekat untuk membeli stok makanan.
Sampai lah Mey di rak yang menyediakan susu. Mey memang rutin mengkonsumsi susu, tetapi kali ini ada dorongan lain yang membawanya kesana. Mey melihat susu khusus ibu hamil lalu mengambil dua boks dan memasukkannya ke keranjang belanjaannya.
*
Renan sudah selesai dengan pekerjaannya. Beberapa hari ini dia memang sedang sangat sibuk. Kemarin sewaktu Dito memberitahu jika Meylan sedang sakit, bukannya dia tidak peduli. Dia hanya sedang fokus dengan pekerjaannya agar segera selesai.
Tiba-tiba dia teringat Mey. Dia tahu hari ini Mey tidak berangkat kerja dari sekretarisnya. Renang bergegas keluar dari ruang kerjanya dan langsung berjalan menuju mobilnya. Di sana sopirnya sudah setia menunggu.
"Kita ke apartemen!" ucap Renan begitu duduk di dalam mobil.
"Apa dia benar sakit?" Akhirnya Renan membuka mulutnya.
"Kemarin Non Meylan kelihatan pucat Tuan."
Renan kembali diam. Hingga sampai di apartemen Mey, Renan sama sekali tidak membuka mulutnya.
Renan mengetuk pintu apartemen dan dia menunggu cukup lama barulah Mey membukakan pintu. Mey sangat terkejut melihat Renan berdiri di depannya. Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat karena melihat kehadiran Renan. Mey ingin menutup lagi pintu itu tetapi Renan menahannya hingga terjadilah adegan dorong mendorong pintu.
Mey menyerah karena mengeluarkan tenaga sedikit saja langsung membuat keringatnya bercucuran. Mey meninggalkan Renan di depan pintu tanpa berbicara.
Mey langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tamu karena kepalanya terasa berat. Renan mengikuti dibelakangnya dalam diam lalu duduk di depan Mey.
__ADS_1
Mey terus memejamkan matanya tanpa mempedulikan Renan. Tetapi ini justru kesempatan Renan untuk memandangi wajah Mey. Renan menyadari Mey terlihat sangat pucat.
Mey mengalami pusing yang luar biasa di jam yang sama seperti kemarin. Biasanya orang mengalami morning sickness di pagi hari, tetapi Mey merasakan itu di pagi dan sore hari.
"Kamu tidak apa-apa?" Akhirnya Renan membuka suara.
Mey diam tidak menjawab. Dia terus memejamkan matanya. Kemudian untuk waktu yang lama mereka berdua sama-sama diam.
Tiba-tiba Mey membuka matanya dan langsung berlari ke toilet. Sampai di toilet dia langsung muntah. Mey terkulai lemas setelah mengeluarkan isi perutnya.
Renan menyusul Mey dan menemukan Mey tergolek di lantai. Dia ingin menyentuh Mey tetapi dengan cepat Mey menangkis tangannya. Mey berdiri lalu berjalan sempoyongan menuju tempat tidurnya.
Renan merasa kasihan melihat Mey. Dia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuk Mey, mungkin itu bisa membuat dia lebih enakan. Sampai di dapur Renan terlihat kebingungan. Dia tidak tahu dimana Mey meletakkan teh, gula atau yang lainnya.
Renan melihat kantong belanjaan yang di taruh dia atas meja dapur. Renan membuka kantong itu berharap ada teh di sana. Tetapi Renan justru terkejut karena menemukan susu hamil di dalam kantong belanjaan Mey.
Bukankah ini susu khusus ibu hamil? Apa mungkin ...?! Renan langsung berlari ke kamar Mey membawa serta susu hamil itu.
"Apa ini?! Kamu hamil?!" tanya Renan menggebu.
Mey yang sejak tadi memejamkan matanya terpaksa membuka mata lalu tersenyum sinis. Setelah itu dia kembali memejamkan matanya tanpa menjawab pertanyaan Renan.
"Mey, jawab aku! Apa kamu hamil?!"
"Pergi dari sini aku ingin istirahat!" jawab Mey acuh.
Kondisi Mey memang terlihat kurang baik jadi Renan tidak ingin memaksa. Dia mengalah dan keluar dari kamar Mey. Dia membawa kotak susu itu kembali ke dapur lalu membuatkan susu hangat untuk Mey.
Renan kembali ke kamar Mey untuk mengantarkan susu hangat yang telah dia buat dan meletakkannya di nakas. Setelah itu dia keluar lagi tanpa berbicara sama sekali.
__ADS_1
Renan tidak ingin pulang sebelum menemukan jawabannya. Dia harus memastikan apakah Mey benar-benar hamil atau tidak.