
Sebelumnya Mey terbangun karena tidak menemukan Renan di sampingnya. Mey segera mengenakan baju tidurnya dan turun untuk mencari Renan, sekalian mengambil minum karena dia juga merasa tenggorokannya kering. Tetapi saat hampir sampai dapur Mey mendengar suara Kana sedang berbicara.
Mey mendengar suara Kana agak sedih jadi Mey memilih berhenti agar tidak menggangu. Tadinya dia ingin berbalik dan kembali ke kamarnya tetapi dia mendengar nama mamanya disebut-sebut oleh Kana. Mey mengurungkan niatnya. Dia tetap berdiri di sana dan mendengarkan cerita Kana.
Tubuh Mey gemetar setelah mendengar semuanya. Dia tidak punya tenaga untuk melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya. Mey hanya bisa meneteskan air mata.
"Mey, sayang ... Kamu cuma salah paham."
Renan hendak memeluk Mey tapi Mey menghempas tangan Renan lalu mendorong tubuh Renan.
"Mey ... Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Renan lagi.
"Ada apa Ren?" Kana keluar dari dapur karena mendengar Renan berbicara dengan seseorang.
"Mey? Kamu di sini nak?" Kana terkejut dan panik.
"Jadi pernikahanku dan kak Renan hanyalah penebus dosa mama dan papa? Kalian mengangkat aku sebagai anak asuh juga untuk menebus rasa bersalah kalian?!" tanya Mey lirih sambil berlinangan air mata.
Kana tidak menyangkal kata-kata Mey karena memang begitu kenyataannya.
"Aku ini kalian anggap apa?! Apa wajah ibuku selalu menghantui kalian?! Apa dengan kalian berbuat baik kepadaku lantas itu bisa menghapus dosa kalian?!"
"Maafkan mama Mey ... " Hanya itu yang bisa terucap dari mulut Kana.
"Semoga kalian semua hidup dalam rasa bersalah dan tidak akan merasakan kebahagiaan!!!" Mey berlari ke kamarnya lalu mengunci pintunya.
Mey merasa sakit hati. Kusuma dan Kana hanya menganggapnya sebagai boneka. Mereka tidak pernah tulus menyayanginya. Dan pernikahannya, pernikahan yang tidak pernah dia inginkan ini ternyata juga tidak ada artinya. Ini juga cuma sekedar penebus dosa Kana dan Kusuma.
Kana dan Kusuma yang selama ini dia anggap sebagai malaikat penolongnya ternyata adalah setan yang menghancurkan hidup ibunya. Mey merasa telah dibohongi habis-habisan oleh keluarga Kusuma.
__ADS_1
"Mey ... Sayang ... kamu tidak apa-apa?" Suara Renan dari balik pintu. Mey tidak ingin menjawab. Setelah itu Renan mengetuk pintu beberapa kali tetapi Mey tetap tidak ingin membukanya. Renan lalu pergi karena dia tahu Mey hanya ingin sendiri saat ini.
Pagi harinya...
"Mey, makanlah dulu." Renan membawakan sarapan untuk Mey ke kamarnya. Dia tahu Mey pasti masih tidak ingin bertemu mamanya jika harus makan di ruang makan.
"Mey ... " panggil Renan lagi tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar dan membuat Renan jadi khawatir.
"Mey ... Katakan sesuatu agar aku tahu kamu baik-baik saja Sayang." Sebenarnya Renan bisa menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu itu tetapi dia ingin memberi Mey privasi kali ini.
"Aku tidak ingin sarapan," balas Mey pelan. Renan lega setelah mendengar suara Mey.
"Dengar Mey, aku harus pergi ke perusahaan. Jika kamu ingin sesuatu kamu bisa menghubungi aku atau memberitahu bi Susi." Kembali tidak ada jawaban dari Mey. "Aku pergi dulu."
Sebenarnya Mey tahu ini bukan salah Renan. Mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang dulu terjadi.
Mey menunggu rumah sepi baru dia akan pergi. Biasanya setelah pekerjaannya beres, bi Susi pergi belanja sayuran. Sedangkan Kana, mungkin dia akan diam di kamarnya atau mungkin juga pergi menemui teman-temannya.
*
Mey di dalam sebuah taksi dalam pelariannya. Mey bingung dan merasa sendirian. Dia tidak tahu harus kemana. Dia tidak tahu ayahnya atau keluarganya yang lain. Ibunya tidak pernah menceritakan kehidupannya. Jangankan bercerita, ngobrol dengannya saja jarang ibunya lakukan.
Mey meneteskan air mata mengingat ibunya. Dia memiliki masa kecil yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Di saat anak-anak lain mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya Mey kecil justru harus merawat ibunya. Meskipun begitu Mey sangat menyayangi ibunya.
Mey belum bisa membaca ketika dia dulu sering menemani ibunya berobat. Dia tidak tahu apa itu rumah sakit jiwa, yang Mey ingat dia sering menemani ibunya ke rumah sakit untuk menebus obat. Waktu itu ada seorang tetangganya yang selalu menemani mereka tetapi Mey tidak bisa mengingat orangnya.
"Neng kita mau muter-muter terus atau neng sudah menemukan tujuan?" tanya sopir taksi. Sejak tadi Mey belum memberitahu tujuannya dan hanya menuruti permintaan Mey untuk berputar-putar dulu sampai dia menemukan tujuan.
"Ke terminal pak," jawab Mey sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat akhirnya Mey sampai di terminal.
"Neng, jangan kelihatan sedih. Nanti ada orang jahat yang memanfaatkan kesempatan kalau melihat neng sedih. Apalagi neng ini cantik, pasti banyak yang punya niat jahat. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap sopir taksi sebelum Mey turun dari taksi.
"Terimakasih kasih pak." Mey tersenyum.
Mey masuk ke terminal tetapi setelah itu dia bingung harus kemana karena dia memang tidak punya tujuan. Lama Mey berpikir hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke perkebunan. Mey ingin menemui nenek yang waktu itu dia temui. Mey ingin bertanya kepada wanita itu tentang ibunya.
Mey menemukan semangatnya. Segera dia membeli tiket bis yang menuju ke perkebunan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya bis yang ditumpangi Mey sampai. Mey segera turun dan mencari sosok yang ingin dia temui. Lama Mey berjalan dan bertanya kepada orang-orang yang dia temui mengenai wanita tua itu. Mey hanya ingat wajahnya, tidak mengetahui nama juga alamatnya sehingga dia kesulitan untuk menemukan wanita itu.
Tiba-tiba Mey merasakan nyeri di perutnya. Sejak tadi dia terus berjalan tanpa memikirkan keadaannya yang sedang hamil. Tetapi mey belum menyerah. Dia terus berjalan untuk mencari wanita tua itu. Mey pasti bisa menemukannya karena tidak banyak wanita seusianya yang masih kuat memetik teh.
Mey bertanya kepada satu orang lagi untuk yang terakhir kalinya. Jika masih belum menemukan petunjuk maka Mey akan menghentikan pencariannya.
Mey tersenyum gembira setelah mendengar jawaban dari orang terakhir yang dia tanya. Bukan hanya mendapatkan jawaban, Mey juga mendapatkan tumpangan dan akan di antar ke rumah nenek itu.
Tak berapa lama Mey sudah sampai di depan rumah nenek yang dia cari-cari. Kebetulan nenek itu sedang berdiri di halaman rumahnya.
"Permisi nek," sapa Mey.
Nenek itu menoleh. "Bukankah kamu putrinya nyonya Sarah? Ada perlu apa mencari nenek kemari?"
Mey mengangguk. "Iya nek, namaku Meylan." Mey memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Aku ingin bicara dengan nenek, apa aku mengganggu nenek?"
"Tidak nak, ayo masuk ke gubug nenek." Wanita tua itu mengajak Mey masuk ke dalam rumahnya. "Beberapa waktu yang lalu, anak muda yang aku pikir kakakmu itu juga datang kesini dan mengobrol sama nenek."
"Kakak?!"
__ADS_1