
Hari sudah malam ketika Mey dan Renan sampai di apartemen. Sejak di perjalanan tadi Mey terus diam. Bahkan sampai di apartemen pun Mey tidak ingin bicara kepada Renan.
"Kita harus bicara!" Suara Renan tegas. Dia menarik tangan Mey agar dia tidak kemana-mana. Mey menghentikan langkahnya meski masih memalingkan wajahnya dari Renan.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu hamil?"
Barulah Mey menoleh dan menatap Renan. Sorot matanya menunjukkan betapa dia sangat membenci pria di depannya ini.
"Apa pedulimu?" jawab Mey dingin.
"Tentu saja aku peduli. Itu anakku."
Mey tertawa mendengar jawaban Renan.
"Kenapa kamu yakin ini anakmu? Bukankah aku ini perempuan murahan? Aku bisa tidur dengan siapa saja dan mungkin saja ini bukan anakmu!" sindir Mey.
Renan tertegun mendengar jawaban Mey. Dia terlihat salah tingkah karena tahu Mey sedang menyindirnya.
"Mey ... Aku ... " Renan tidak bisa berkata-kata.
Tetapi Mey justru kembali tertawa. "Kamu bahkan memanggil namaku sekarang. Biasanya kamu memanggilku dengan sebutan "perempuan murahan"!
Renan semakin salah tingkah. Dia ingat selama ini dia tidak pernah memanggil Mey dengan benar. Renan terdiam. Dia menyesal atas apa yang sudah dia lakukan kepada Mey.
"Kamu tidak mengenalku, bagaimana bisa kamu selalu menyebutku perempuan murahan?! Bagaimana kamu bisa merendahkan aku di depan orang-orang padahal aku tidak berbuat salah kepadamu?!"
Renan terus diam.
"Kamu ... kamu bahkan benar-benar memperlakukan aku seperti perempuan murahan malam itu." Suara Mey mulai bergetar. "Apa aku layak kamu perlakukan seperti itu?!"
"Kalau disuruh memilih, aku tidak sudi mempunyai suami sepertimu! Tetapi demi baktiku kepada papa dan mama aku bersedia. Dan lihat yang aku dapatkan?!!" Meylan mengusap air matanya.
Renan tidak berkutik. Dia sadar semua yang dikatakan Meylan benar. Dia memperlakukan Mey seenaknya tanpa memikirkan perasaannya.
"Aku benci padamu Renan! Aku sangat membencimu!!!" Mey berlari ke kamarnya setelah mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Renan hanya bisa menatap kepergian Mey. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi karena frustasi tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun Mey terus menyangkal tetapi Renan yakin itu anaknya.
Renan melangkah lunglai menuju sofa. Dia memikirkan semuanya. Bagaimana rasa trauma yang dulu dia alami bisa merubah jati dirinya. Membuatnya buta hingga Mey yang tidak berdosa menjadi pelampiasannya.
Renan memejamkan matanya hingga tidak terasa akhirnya dia tertidur.
__ADS_1
Pagi harinya Renan terbangun karena mendengar suara Mey muntah. Renan segera berlari ke sumber suara Mey.
Rupanya Mey sedang berada di dapur. Dia ingin memasak sarapan tetapi aroma masakan membuat perutnya mual dan ingin muntah.
Renan menghampiri Mey yang berjongkok di depan wastafel. Dia memijit leher Mey tetapi dengan segera dia menepis tangan Renan.
"Biarkan aku membantumu! Yang ada di dalam perutmu itu anakku," ucap Renan lembut. Dia berusaha memperbaiki sikapnya kepada Mey.
Mey berdiri. "Ini bukan anakmu! Bukankah kamu sering bertanya berapa laki-laki yang sudah tidur denganku? Mungkin ini anak salah satu dari mereka!"
"Mey ... Sudahlah. Jangan berkata seperti itu lagi."
"Aku perempuan murahan, kau ingat?!"
"Oke, Aku minta maaf. Aku sadar aku salah."
"Sudah aku bilang ini bukan anakmu!!! Aku benci kamu Ren, aku tidak sudi mengandung anakmu!!! Aku tidak ingin melahirkan monster seperti kamu!!! Ini bukan anakmu!!!" Mey berteriak histeris hingga dia pingsan.
Renan membopong tubuh Mey dan membawanya ke kamar lalu menelepon dokter.
Tidak berselang lama dokter pun datang.
"Kondisinya tidak mengkhawatirkan. Ini hanya pengaruh stress. Kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran dan juga dijaga agar moodnya selalu bagus."
"Kalau soal pusing, lemas dan keluar banyak keringat itu juga tidak apa-apa Dok?"
"Itu normal. Nanti akan hilang seiring bertambahnya usia kehamilan." Renan kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Intinya, jangan kecapean, jangan banyak pikiran, jangan stress dan nutrisi yang cukup."
"Baik Dok, terima kasih." Renan lega setelah mendengar penjelasan dokter.
Setelah dokter pergi Renan melihat Mey di kamarnya. Gadis itu masih tertidur dengan wajah yang pucat. Renan berjalan mendekati Mey duduk di samping Mey terbaring. Renan terus memandangi wajah Mey dan tiba-tiba merasa kasihan. Dia tidak menyangka yang dilakukannya membawa efek yang sebesar ini pada kondisi psikis Mey.
"Maafkan aku ... " bisik Renan.
Tiba-tiba Mey membuka matanya dan melihat Renan.
"Keluar! Aku tidak ingin melihatmu!" ucap Mey dingin.
"Kita akan pulang ke rumah. Kamu akan kembali tinggal di rumah."
__ADS_1
"Aku tidak mau!"
"Jangan melawan, kalau kamu tinggal sendirian siapa yang akan menjagamu? Kalau kamu pingsan seperti tadi siapa yang akan menolong?"
Mey tidak membalas. Jujur dia ingin ada yang memanjakan saat dia menginginkan sesuatu, atau ada orang yang selalu memperhatikan dia dan menanyakan keinginannya.
"Mulai besok tidak usah bekerja. Kamu di rumah saja."
"Siapa kamu mengatur hidupku?!" jawab Mey ketus.
"Aku suamimu."
"Oh ya ...? Sejak kapan? Seingatku kamu tidak sudi menganggap aku istrimu!" Mey mengembalikan semua kata-kata Renan yang dulu dia lontarkan untuknya.
Renan menghirup nafas dalam-dalam. Sikap Mey benar-benar menguji kesabarannya.
*
Renan dan Mey sudah kembali ke rumah. Dia menyuruh orang untuk membereskan apartemen dan mengemasi barang-barang Mey yang masih ada di sana.
Mey langsung menuju kamarnya sementara Renan menemui bi Susi. Dia meminta untuk dibuatkan sarapan karena baik Mey maupun dirinya belum makan. Kemarin mereka berdua sama-sama melewatkan makan malam.
Renan langsung menuju ke kamarnya setelah menemui bi Susi. Dia akan membersihkan badannya dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Renan kembali turun ke ruang makan dengan keadaan rapi. Dia akan berangkat bekerja meski ini sudah siang. Tidak masalah karena dia adalah pemilik perusahaan.
"Panggil dia untuk sarapan."
Bi Susi melongo. Dia tidak tahu maksud tuannya karena dia pikir Mey masih di apartemen.
"Panggil Mey untuk sarapan." Renan mengulang kata-katanya.
"Memangnya Non Mey di rumah Tuan?" Bi Susi tadi sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak melihat Renan dan Mey datang.
Bi Susi langsung ke kamar tengah tanpa menunggu jawaban dari Renan.
Tak berlama Mey muncul di ruang makan. Dia sudah terlihat lebih fresh setelah mandi. Renan dan Mey makan dalam kebisuan hingga Mey kembali mual dan langsung berlari ke toilet.
Renan mengikutinya dan ingin menolongnya. Tetapi belum sempat mendekat tangan Mey sudah memberikan tanda agar dia menjauh.
Mey terlihat pucat dan lemas. Dari kemarin dia belum makan dan sekarang baru mau makan dia sudah muntah. Renan hanya bisa melihatnya. Mey tidak melanjutkan makan dan langsung ke kamarnya.
__ADS_1
"Bi, tolong buatkan susu hangat lalu antar ke kamarnya." perintah Renan kepada Bi Susi.