
Renan tiba di villa saat hari mulai malam. Dia segera mencari Kana karena rasa penasarannya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Mama dimana?" tanya Renan kepada salah seorang pembantu yang dia jumpai di halaman.
"Nyonya pergi Tuan."
"Kemana?"
"Katanya mau menyusul Tuan Kusuma selama beberapa hari." Renan kecewa. Ternyata Kana sedang pergi ke luar kota.
"Apa Tuan akan menginap? Biar saya siapkan kamar Tuan."
Renan mengangguk dan menyuruh pembantu itu pergi dengan mengibaskan tangannya.
Renan segera masuk ke dalam villa. Merasa lelah, Renan pergi ke kamar untuk mandi. Selesai mandi Renan merebahkan badannya di tempat tidur sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya. Perjalanannya kesini sia-sia jika dia tidak bisa bertemu mamanya.
*
*
*
Mey meminta sopir untuk mengantarkan dia ke taman sepulang kerja. Dia merasa belum ingin pulang karena tidak ada Renan di rumah. Mey sudah mulai merindukan kehadiran Renan.
Mey berjalan menyusuri jalan setapak mencari tempat duduk yang kosong. Mey menyadari pak sopir terus mengikuti di belakangnya.
"Bapak bisa tunggu di mobil. Atau bapak bisa jalan-jalan juga. Nanti aku cari bapak kalau ingin pulang," ucap Mey kepada pak sopir yang sejak tadi mengikutinya.
"Maaf Non, saya diminta Tuan agar tidak meninggalkan Non Meylan sendirian." Renan meninggalkan mode posesifnya kepada sopirnya.
"Oh ... ya sudah. Terserah bapak."
Mey menemukan kursi kosong dan langsung duduk di sana. Sementara sopirnya berdiri agak jauh sambil mengawasi Mey layaknya bodyguard.
Taman ini adalah tempat dimana dulu dia dan Ivan biasa bertemu, jadi wajar jika Mey sangat menyukai tempat ini. Tetapi Mey tidak berniat untuk menemui Ivan sekarang. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya sendiri.
Tetapi tidak sengaja dia sudah melihat Ivan berjalan di kejauhan menuju ke arahnya.
Hati Mey berdegup kencang, bagaimanapun juga laki-laki itu masih memiliki tempat di hatinya.
"Mey, aku tidak sengaja melihat mu tadi." Renan langsung duduk di samping Mey. Matanya masih menatap Mey penuh kasih meski sekarang Mey sudah menjadi istri orang.
"Apa kabar?" tanya Mey canggung.
__ADS_1
"Aku baik. Kamu terlihat pucat, apa kamu baik-baik saja?"
"Ya ... Aku baik." Mey tidak berani menatap Ivan.
"Kamu tidak bahagia Mey."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Kalau kamu bahagia kamu tidak akan melamun sendirian di sini. Kembalilah padaku, kita bisa seperti dulu."
Mey terdiam. Ada anak di dalam perutnya yang membuatnya tidak bisa membalas perkataan Ivan.
"Aku hamil."
"Kamu akan mempunyai anak dari laki-laki itu?" Ivan menghembuskan nafas panjang. Kesempatannya untuk kembali bersama Mey semakin kecil.
"Non ... Maaf kita harus pulang. Nanti kalau Tuan Renan melihat Non Meylan bersama laki-laki asing Tuan bisa marah." Tiba-tiba pak sopir yang sejak tadi berdiri menjaga jarak datang mendekati Mey.
Mey mengangguk. Bukan kemarahan Renan yang Mey takutkan tetapi sisa perasaannya kepada Ivan yang mungkin tidak akan bisa dia tahan.
"Aku harus pulang." Mey pamit kepada Ivan. "Sampai jumpa." Ivan hanya bisa menatap kepergian Mey dengan wajah sendu.
Mey melangkahkan kakinya dengan pikiran bercabang antara dua lelaki, Ivan yang mengisi hatinya dan Renan yang memiliki tubuhnya.
"Bi, temani aku makan malam ya ... Renan sedang tidak ada," pinta Mey. Sekarang dia merasa aneh jika harus makan sendirian di rumah. Tadinya dia ingin menelepon Renan untuk menemaninya makan lewat panggilan telepon tetapi dia urungkan.
"Tapi Non ... "
"Tidak apa-apa Bi."
Akhirnya Bi Susi menemani Mey duduk di meja makan tetapi dia tidak ikut makan.
"Bi ... Bibi dulu ngidamnya gimana waktu hamil? Ada yang aneh-aneh nggak?" Mey mulai mengajak bicara.
"Bibi dulu sih Non ngidamnya nggak suka mencium aroma tubuh suami bibi. Apalagi mencium bau keringatnya. Dulu sering Bibi usir kalau dekat-dekat bibi."
"Masa sih Bi?"
"Iya Non, kalau bibi sih begitu. Tapi orang ngidam han beda-beda."
Mey tertawa mendengar cerita Bi Susi. "Kalau aku kok sebaliknya ya Bi, bawaannya pingin menghirup ... "
"Menghirup apa Non?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa Bi, ngga jadi." Mey tidak melanjutkan kalimatnya. Dia seperti tidak sadar apa yang diucapkannya.
"Menurut Bibi, apa Renan masih membenciku?"
"Non Meylan kok bertanya seperti itu? Jelas Non Mey sedang mengandung anaknya tuan muda." Bi Susi tidak tahu bagaimana ceritanya Mey bisa sampai hamil.
"Apa dia benar-benar sudah berubah?"
"Eng ... Kalau di depan Non Meylan sih Tuan Muda berbeda banget. Dia jadi hangat dan benyak bicara. Kalau sikapnya di belakang Non Meylan sih bibi tidak tahu."
Selesai makan Mey mengobrol sebentar dengan Bi Susi, masih membicarakan soal Renan. Sepertinya Mey mulai ingin mengetahui banyak tentang Renan. Setelah itu dia langsung ke kamarnya.
Mey berusaha memejamkan matanya tetapi seperti biasa pikirannya melayang kemana-mana dan membuatnya gelisah. Mey teringat Renan. Jika ada dia di sampingnya pasti saat ini dia sudah terlelap.
Tiba-tiba Mey merindukan aroma tubuh Renan. Entah kenapa dia sangat menginginkan untuk menghirup aroma tubuh suaminya itu. Berkali-kali Mey memutar tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan tetapi itu justru membuatnya semakin gelisah.
Akhirnya Mey bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya. Dia pergi ke ruang laundry dan langsung berjalan menghampiri keranjang berisi baju kotor.
"Non Mey sedang apa di sini?" Suara bi Susi mengagetkan Meylan.
"Bibi membuatku kaget! Bibi belum tidur?"
"Pekerjaan bibi belum selesai Non, mungkin setelah ini baru bibi tidur." Mey merasa bersalah karena tadi dia meminta Bi Susi menemaninya ngobrol sehingga bi Susi tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Non Meylan mencari apa?"
"Eh ... Aku sedang mencari baju yang sudah di pakai Renan yang belum di cuci Bi."
"Buat apa Non?" Bi Susi heran.
"Tolong carikan saja Bi ..."
Bi Susi lalu mengambil salah satu pakaian Renan di tumpukan baju kotor.
"Ini kemeja tuan yang dipakai kemarin. Bibi belum sempat cuci."
Mey menerima kemeja itu dan langsung mencium baunya.
"Benar bi, ini kemeja Renan." Mey tersenyum setelah membaui pakaian itu dan aromanya seperti yang dia harapkan, aroma tubuh Renan.
"Ya memang kemeja tuan Renan, memangnya kemeja siapa lagi Non?" Bi Susi semakin terheran-heran melihat tingkah majikannya itu.
"Makasih ya Bi ... " Mey bergegas pergi dari ruang laundry sambil menciumi kemeja Renan di tangannya.
__ADS_1
Mey kembali ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di kasur sambil memeluk kemeja Renan. Mey seperti sudah menemukan obat biusnya yaitu aroma tubuh Renan yang menempel di baju itu. Dalam waktu beberapa menit Mey sudah terlelap.