Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Bertemu


__ADS_3

Renan melarang Mey meninggalkan meja makan, tetapi dia juga mengacuhkan keberadaan Mey di sana. Mey jari bingung apa sebenarnya yang diinginkan Renan.


Rasa malu dan marah atas perbuatan Renan masih membekas di hatinya. Mey yang biasa mengajak bicara Renan terlebih dahulu pun memilih diam.


Sementara Renan tidak mengerti kenapa dia tidak mengijinkan Mey untuk pergi. Tubuh polos Mey terus terbayang di pikirannya. Ini bukan pertama kalinya dia melihat tubuh wanita tanpa busana, bahkan dia sering menikmatinya. Tetapi ketika melihat Mey rasanya berbeda.


Renan langsung pergi setelah menghabiskan makanannya. Dia tidak berbicara sepatah kata pun kepada Mey yang sejak tadi duduk di depannya. Mey semakin kesal dengan sikap Renan yang seenaknya.


Ingin sekali Mey menangis. Kalau bukan karena jasa kedua orang tua Renan, pasti dia tidak akan mau menikah dengan pria itu. Kalau hanya kata-kata kasar mungkin Mey masih bisa mengacuhkannya. Mey merasa sudah dilecehkan, tetapi kalau mau dikatakan pelecehan se**ual, Renan adalah suaminya.


"Tahan Mey ... Kamu pasti bisa!"


Mey bergegas ke kamarnya untuk tidur dan berharap besok pagi dia sudah melupakan yang terjadi hari ini.


*


Pagi harinya...


Mey sudah bangun tetapi dia masih bermalas-malasan di dalam kamarnya. Kebetulan ini hari libur dan dia tidak punya rencana apa-apa. Mey jadi teringat Ivan karena biasanya dia bertemu dengan Ivan di hari liburnya. Dia teringat tempat dia dan Ivan biasa menghabiskan waktu bersama.


"Nanti malam aku akan kesana. Sekedar mengunjungi tempat itu pasti tidak masalah," gumam Mey. Hanya memikirkan tempat itu saja sudah membuat semangatnya kembali.


May bergegas turun untuk sarapan tanpa mandi terlebih dahulu. Sampai di bawah dia melihat Bi Susi sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Pagi Bi," sapa Mey ramah.


"Pagi Non ... " Bi Susi menganggukkan kepalanya.


"Kakak sudah turun?"


"Sudah Non, tetapi langsung pergi sepertinya mau lari pagi."


"Oh ... Aku bisa bantu apa Bi?" Mey menawarkan bantuan melihat Bi Susi yang tengah sibuk.


"Nggak usah Non."


"Beneran Bi?"


"Iya Non, ini kan tugas Bibi."


"Ya udah, kalau gitu aku mandi dulu, sekalian nunggu kakak pulang."

__ADS_1


Mey kembali ke kamarnya. Tak berselang lama dia kembali ke ruang makan dengan tubuh yang lebih fresh karena sudah mandi.


Di waktu yang bersamaan Renan pulang dari lari pagi dan langsung menuju meja makan karena ingin mengambil air minum.


Mey yang melihat kedatangan Renan langsung menyapanya dengan ramah.


"Kaka sudah pulang? Ayo kita sarapan," ajak Mey dengan senyum lebar. Sepertinya dia benar-benar melupakan kejadian semalam dan kembali ke sifat aslinya yang ceria dan ramah.


Bukannya menjawab, Renan langsung pergi begitu saja setelah selesai minum. Bahkan menatap Mey saja tidak.


Mey tidak mengambil pusing sikap Renan. Dia sudah sering diperlakukan seperti ini. Mey langsung duduk dan makan sendirian tanpa menunggu Renan.


Saat tengah menikmati makanannya tak disangka Renan kembali ke ruang makan. Rupanya dia tadi pergi hanya untuk mandi.


Mey yang melihat kedatangan Renan menjadi salah tingkah.


"Maaf Kak ... Aku pikir Kakak tidak akan makan di rumah. Biasanya Kakak tidak mau sarapan di rumah," ucap Mey polos.


Renan tidak menggubris kata-kata Mey. Dia langsung duduk tanpa bicara kepada Mey ataupun menatapnya. Mey benar-benar dianggap tidak ada oleh Renan.


Mey ingin mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Renan, tetapi Renan mengambil piringnya lebih dulu.


"Diam di tempatmu perempuan murahan, tidak perlu mengurusi aku!"


Renan kembali mengacuhkan setelah mengeluarkan ultimatum. Akhirnya Mey pun menyerah dan meneruskan makannya dalam kebisuan.


Renan hanya fokus pada makanannya. Dia tidak ingin menatap Mey karena setiap melihatnya dia teringat dengan tubuh polos Mey.


Renan makan dengan cepat dan setelah selesai makan dia langsung kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar Renan terus memaki dirinya sendiri. Kenapa dia sampai tidak bisa melupakan bayangan tubuh Mey. Padahal dia sudah sering kencan satu malam dengan model ataupun artis tetapi ada yang beda dengan Mey.


"Seperti amatiran saja kamu Ren! Melihat tubuh perempuan murahan seperti itu saja langsung meleyot!" gerutu Renan.


Renan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia merasa sangat tersiksa hingga meminta Dito untuk mencarikan seorang model untuk menemaninya malam ini.


"Sial!!! Aku harus cari pelampiasan gara-gara dia!!!" Renan membanting handphone-nya setelah selesai menghubungi Dito.


*


Malam harinya...

__ADS_1


Dito sudah tiba di rumah Renan. Dia menunggu di ruang tamu sementara Bi Susi memanggil sang majikan.


"Kapan sih kamu sadar? Kamu sudah menikah Ren!" sambut Dito begitu melihat sahabat sekaligus atasannya itu turun.


"Diam kamu! Tugasmu hanya melakukan perintahku, bukan menceramahi aku!"


"Apa kamu tidak merasa bersalah dengan Mey? Aku yang bukan suaminya saja merasa nggak enak."


"Apa kamu juga memanggil model untukmu sendiri? Aku sudah menyuruhmu memilih yang kamu suka, nanti aku yang akan mentransfer dia." Renan mengalihkan pembicaraan Dito.


"Aku jomblo terhormat Ren, jangan samakan aku denganmu!" jawab Dito sewot. Renan tahu jika Dito tidak mau melakukan itu sebelum menikah dan Renan sengaja melakukan itu untuk menggodanya.


"Dasar perjaka tua!" Renan terkekeh sambil berjalan keluar rumah diikuti Dito yang memasang wajah masam di sampingnya.


"Kamu tidak pamit dulu kepada istrimu?"


"Bagaimana aku berpamitan? Sayang, aku akan keluar untuk bersenang-senang dengan seorang perempuan, mungkin aku akan menginap di hotel bersamanya. Seperti itu?!"


Gantian Dito yang terkekeh. "Ya kali aja!" Dito sudah duduk di belakang kemudi. "Kita ke klub dulu kan?"


Renan mengangguk.


Di tempat lain Meylan sedang menikmati malam. Dia sedang duduk sendirian di bangku taman yang kebetulan menghadap ke jalan raya. Di tempat inilah biasanya dia bertemu dengan Ivan.


Mey memejamkannya matanya, menghirup dalam-dalam udara taman sambil menikmati kebebasannya. Hanya di tempat ini dia merasa bebas, tidak ada Renan. Setelah puas Mey kembali membuka matanya. Mey tidak menyangka ada seorang laki-laki yang berdiri di depannya ketika dia membuka mata.


Mey tidak bisa berkata-kata. Dia hanya memandangi laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya dan laki-laki itupun balas memandangnya. Hidung Mey kembang kempis dan perlahan matanya mulai berkaca-kaca. Ingin sekali dia berlari dan memeluknya.


"Apa kabar cantikku?" ucap laki-laki itu dengan suara bergetar.


Mey berusaha tersenyum meski hatinya sakit sekali karena seharusnya laki-laki inilah yang menjadi suaminya.


Ivan langsung duduk di samping Mey dan memberikan jarak diantara mereka karena sekarang Mey adalah istri orang.


"Kenapa kamu kemari?" tanya Mey tanpa menatap wajah Ivan karena setiap melihat laki-laki itu dia merasa sedih. Dia tidak menyangka akan bertemu Ivan di tempat ini.


"Aku ingat seseorang." Lalu keduanya terdiam. " Aku sudah berusaha melupakannya tetapi tidak bisa. Mata bulatnya, senyum cerianya, bahkan wajahnya saat marah pun tidak bisa aku lupakan," lanjut Ivan dengan tatapan lurus ke depan.


Mey tahu dialah orang yang Ivan maksud.


"Aku masih mencintai gadis itu meski dia sudah menjadi milik orang lain."

__ADS_1


__ADS_2