
"Jika ada kesempatan kamu bisa kembali padanya, apa kamu akan kembali bersamanya?"
Mey terdiam.
Pertanyaan itu membuat Mey berpikir jika sampai saat ini ternyata Renan masih tidak menginginkan dirinya.
"Apa itu mungkin?" Ingin sekali Mey menjawab kalau dia sangat menginginkannya, tetapi tidak bisa.
Giliran Renan terdiam. Sejujurnya dia sendiri tidak mengerti kenapa dia menanyakan itu.
"Apa kamu masih membenciku?"
"Aku ingin beli air minum." Mey tidak ingin menjawab pertanyaan Renan.
"Kamu duduk di sini saja biar aku yang beli." Renan meminta Mey tidak kemana-mana, setelah itu dia pergi membeli minum untuk Mey.
Renan kembali membawa sebotol air mineral dengan nafas ngos-ngosan.
"Kamu kenapa Ren?" Mey heran.
"Aku takut kamu keburu muntah makanya aku berlari," jawab Renan sambil mengatur nafasnya.
Meylan tertawa. Itu lucu menurutnya karena dia merasa baik-baik saja tapi Renan takut dia akan muntah. "Aku sedang tidak ingin muntah, jangan khawatir."
Semakin hari Mey menyadari jika Renan sudah banyak berubah. Mey juga sadar ternyata aslinya Renan sangat perhatian.
"Bagaimanapun juga aku ingin menjadi suami siaga Mey." Renan berlagak kecewa padahal dalam hatinya dia senang akhirnya dia melihat Mey tertawa.
Renan duduk di samping Mey sambil menyerahkan botol air mineral yang tadi dia beli.
Setelah malam mulai larut dan taman sudah mulai sepi Renan mengajak Mey pulang. Malam ini Mey hubungan Renan dan Mey sudah mengalami kemajuan. Mey sudah mau ngobrol cukup banyak dengan Renan.
Sampai di rumah mereka langsung menuju kamar masing-masing. Renan masih belum berani meminta Mey untuk tidur satu kamar dengannya.
Dia hanya ingin Mey bahagia. Kalau nanti pada akhirnya dia memilih untuk bersama Ivan maka dia akan merelakannya kerena mungkin kebahagiaan Mey ada pada laki-laki itu.
Tetapi sebelum itu semua terjadi Renan akan berjuang untuk mendapatkan cinta Mey.
*
__ADS_1
"Mey, nanti kita akan ke rumah Mama. Aku ingin memberi mama kejutan. Dia pasti sangat senang melihatmu." Renan sudah menemukan cara untuk mendekati Mey. Dia tidak akan menolak apapun yang berhubungan dengan orang tuanya.
"Baiklah ... Apa kita akan menginap?"
"Kita menginap, mungkin dua malam nanti malam sama besok sore."
"Terus bagiamana pekerjaanku?"
"Ini akhir pekan Mey. Jangan pikirkan soal pekerjaan terus. Lagi pula kamu itu istri seorang CEO."
"Baiklah Tuan CEO." Mey sudah bisa diajak bercanda. " Nanti aku siapkan barang-barang yang akan aku bawa."
Kana tinggal di sebuah villa di pinggiran kota yang jaraknya cukup jauh dari tempat Renan dan Mey tinggal. Sementara Kusuma tinggal di luar kota karena mengurus perusahaannya yang lain.
Sebenarnya mereka juga punya rumah lain di pusat kota, tetapi beberapa tahun terkahir Kana lebih suka tinggal dan menyendiri villa.
"Tidak, Bi Susi yang akan melakukannya. Aku sudah minta tolong padanya." Renan benar-benar tidak mengijinkan Mey melakukan apapun. Bahkan kalau bisa dia juga ingin agar Mey berhenti bekerja, tetapi Mey menolak.
Siang harinya mereka berangkat menuju rumah Kana. Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama hingga Mey tertidur selama di perjalanan. Sebenarnya Renan ingin memegang tangan Mey tetapi dia takut itu akan membuatnya terbangun.
Renan membangunkan Mey ketika mereka sudah hampir sampai.
Mey mengerjapkan matanya. Lalu dia menoleh ke luar dan melihat kebun teh sejauh mata memandang. Kebun teh ini juga milik keluarga Kusuma.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari," ucap Mey.
"Aku juga. Dulu kita kemari hanya waktu liburan."
Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik.
Kana segera berlari begitu melihat Mey dan Renan turun dari mobil.
"Kalian ingin membuat mama serangan jantung apa gimana? Kenapa tidak memberitahu mama kalau mau datang?" sambut Kana. Lalu dia memeluk Mey.
"Apa kabarmu sayang? Sudah lebih baik?"
"Aku sudah sehat Ma," jawab Mey. "Mama apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, mama baik dan semakin baik melihat kamu ada di sini."
__ADS_1
"Ehm ... Ehm ... " Renan berdehem. "Sepertinya aku tidak dianggap di sini." Mode iri Renan keluar.
"Kamu kenapa sih Ren? Biasanya juga nggak mau mama peluk?" Kana heran melihat perubahan sikap Renan meski sebelumnya Bi Susi sudah memberitahunya. Ini sangat berbeda dengan Renan yang biasanya.
"Tetapi aku tetap anakmu Ma ... " Renan merajuk. Tawa Mey semakin lebar melihat tingkah Renan.
Kana menghampiri Renan lalu memeluknya. "Apa yang sudah terjadi dengan anak laki-lakiku, kenapa dia jadi seperti ini?" gumam Kana.
"Yuk kita masuk. Di luar dingin. Nanti kamu bisa sakit lagi sayang." Kana langsung menggandeng tangan Mey setelah melepaskan pelukannya dari Renan.
Mey hendak membawa tas yang berisi pakaiannya masuk. Tapi Kana mencegahnya. "Nanti biar dibereskan pembantu sayang."
Renan diam dan mengikuti di belakang mereka. Dia memperhatikan bagaimana sikap Mama nya kepada Mey. Dia memperhatikan setiap perhatian kecil yang Kana berikan kepada Mey. Renan curiga ada sesuatu yang Kana sembunyikan.
"Kalian pasti belum makan. Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk kalian." Kana berjalan menuju dapur meninggalkan Renan dan Mey.
Sementara Mey berkeliling untuk melihat rumah yang dulu pernah mengisi masa kecilnya. Renan pun mengikuti di belakangnya. Dia tidak membiarkan Mey sendirian.
"Ren, ini aku. Kamu ingat ini?" Mey melihat foto yang tertempel di dinding. "Itu ada kamu juga. Kalau tidak salah ini liburan kelulusanku mau masuk SMP."
"Iya, itu liburan pertamaku setelah tinggal di luar negeri." Baik Renan maupun Mey menggali kenangan masa kecil mereka.
"Aku ingin menghirup udara segar di luar." Mey berjalan menuju halaman.
"Tunggu Mey, aku ambilkan baju hangatmu." Renan berlari untuk ngambil baju hangat setelah itu dia kembali dan memakaikannya di tubuh Mey.
"Di sini udaranya dingin, tidak seperti di kota," ucap Renan sambil mengancingkan jaket Mey. Tidak lupa Renan juga memakaikan Mey penutup kepala.dan Mey hanya diam saja.
"Ren, kita hanya di puncak, bukan di kutub!" Mey tidak terima.
"Tidak apa-apa, agar kamu tidak masuk angin."
Mey melangkahkan kakinya keluar. Malam-malam begini tidak ada yang bisa dilihat selain bintang dan lampu yang kerlap kerlip di kejauhan.
"Pantas mama lebih suka tinggal di sini. Tempat ini tenang, hampir tidak terdengar suara bising mobil dan motor. Tempat yang sempurna untuk bersembunyi dan menenangkan diri," ucap Mey.
Dia jadi berpikir kenapa mamanya mau tinggal di tempat yang sepi seperti ini padahal dulu dia sangat suka keramaian. Dia suka pamer dan berkumpul dengan teman-temannya. Sangat tidak cocok jika dia tinggal di tempat seperti ini.
Renan tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tetapi mungkin mama nya memang sedang menghindari sesuatu atau bersembunyi dari sesuatu.
__ADS_1
Lama Renan dan Mey mengobrol di halaman hingga Kana mencari-cari mereka.