
Mey melahap sampai bersih baksonya hingga tidak meninggalkan sisa. Sepertinya dia sangat kelaparan.
"Kamu mau lagi?" Renan sejak tadi hanya memperhatikan Mey makan.
"Tidak, aku sudah kenyang."
"Kamu ingin makan apa lagi?"
"Aku ingin buah rambutan."
"Buah rambutan? Malam-malam begini?" Renan tidak percaya.
Mey mengangguk yakin. Sebenarnya Mey tidak begitu menginginkan buah itu. Lagi pula ini sedang tidak musim rambutan, mau mencari kemana pun dia Renan tidak akan menemukannya. Mey hanya mencari-cari cara agar Renan tidak ingat dengan pertemuan mereka dengan Ivan barusan.
"Baiklah, kita cari buah rambutan."
Renan dan Mey segera berangkat untuk mencari buah yang Mey inginkan. Setelah cukup lama berputar-putar mereka tidak juga menemukan buah itu.
"Kita cari besok lagi ya Mey, sekarang sudah malam."
Mey mengangguk. "Ya sudah, tidak apa-apa."
Sebenarnya Renan tidak ingin melihat Mey kecewa, tetapi dia sudah menyerah.
"Aku janji besok akan aku carikan ... sekarang di tahan dulu," ucap Renan sambil mengelus-elus perut Mey. "Kita pulang ya?"
Mey kembali mengangguk.
Akhirnya mereka berdua kembali ke rumah. Tiba di rumah sudah hampir jam sebelas dan keduanya sudah sama-sama lelah. Renan sampai lupa untuk menemui Kana karena masalah rambutan ini.
"Kita tidur di kamarku atau kamarmu?" tanya Renan dengan nada menggoda.
"Aku ingin tidur di kamarku."
"Baiklah, nanti aku akan menyusul ke kamarmu. Aku akan mengganti pakaianku dulu." Lalu mereka pergi ke kamar masing-masing.
Selesai mengganti pakaiannya, Renan menyusul Mey ke kamarnya. Tidak lupa Renan membawakan susu hangat untuk Mey.
"Minum dulu susunya Mey, biar bayi kita sehat." Mey segera minum susu yang diberikan oleh Renan sampai habis. "Kamu sudah minum vitamin?"
__ADS_1
"Sudah."
Renan segera menggandeng Mey menuju tempat tidur. Tanpa basa-basi dia langsung menciumi bibir Mey. Mey tidak siap dan berusaha mendorong tubuh Renan.
"Kenapa Mey?" Renan melepaskan ciumannya.
"Kita sudah melakukan itu kemarin." Mey tahu Renan tidak sekedar menginginkan ciuman, dia menginginkan lebih.
"Tapi aku ingin lagi, tubuhmu membuatku kecanduan," bisik Renan. Tanpa menunggu jawaban dari Mey, Renan kembali melanjutkan ciumannya. Semakin panas dan semakin ke bawah.
"Aku mencintaimu Mey, aku tidak ingin kehilangan kamu," ucap rumah di sela nafasnya yang memburu.
*
Mey sudah terlelap karena Renan membuatnya kelelahan. Renan menatap wajah Mey dengan senyum kepuasan. Dia menutup tubuh polos Mey menggunakan selimut.
Renan mengenakan kembali celananya, dia ingin turun ke bawah ini mengambil air minum. Pergumulannya dengan Mey membuatnya mengeluarkan banyak keringat hingga sekarang dia merasa kehausan.
Renan langsung menuju dapur. Dia tidak menyangka akan menemukan mamanya di sana. Kana sedangkan duduk sendirian sambil memegang cangkir teh di tangannya.
"Ren, kamu belum tidur?" sapa Kana. Mereka belum sempat bertemu sejak Kana tiba di rumah ini.
"Mama tidak bisa tidur. Kata pelayan di rumah, waktu itu kamu datang ke perkebunan untuk mencari mama? Ada apa Ren? Kamu kan bisa menelepon mama."
"Oh ... Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa mama kenal Sarah?" tanya Renan masih dengan wajah datarnya.
Kana tertegun mendengar pertanyaan Renan. "Sarah siapa?"
"Sarah ibunya Mey? Memangnya ada Sarah lain yang mama kenal?"
"Mama tidak tahu, mama tidak kenal."
"Mama tidak mau mengaku padaku? Bukankah mama sudah merebut suaminya?" Kana tidak berkutik mendengar pertanyaan Renan.
"Bicara apa kamu Ren? Jangan kurang ajar sama Mama!"
"Sudahlah Ma, tidak usah berpura-pura. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya dan aku juga punya buktinya. Mama tidak akan bisa menyangkal."
Nada bicara Renan masih datar seperti sebelumnya. Bahkan wajahnya juga tidak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali. Sementara Kana masih belum bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Tetapi aku tidak ingin tahu soal itu. Aku hanya ingin tahu apa alasan Mama memilih Mey menjadi istriku padahal mama sudah menghancurkan hidup ibunya?"
"Itu kamu harus bertanya kepada papamu," jawab Kana putus asa. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan ini lagi dari Renan.
"Aku ingin jawaban Mama sekarang juga!"
Kana tidak punya pilihan. Akhirnya dengan mata berkaca-kaca dia menceritakan semuanya kepada Renan.
"Mama dan Sarah adalah sahabat, kami sangat dekat. Mama menyukai papa mu lebih dulu, tetapi Mama malu dan memilih untuk menyembunyikan perasaan Mama. Ternyata Sarah juga menyukai papamu, dan dia berani menyatakan perasaannya."
"Papa mu menerima cinta Sarah dan aku menjadi bayang-bayang mereka. Lalu papamu dan Sarah menikah dan saat itulah Mama merasa cemburu. Diam-diam Mama menunjukkan rasa suka mama kepada papamu hingga akhirnya kami melakukan kesalahan dan Sarah mengetahuinya. Dia langsung meminta cerai."
"Setelah papamu bercerai dari Sarah, kami segera menikah. Kami tidak tahu apa yang waktu itu kami pikirkan hingga tidak memikirkan perasaan Sarah. Kami sangat bahagia sampai kami mendengar kabar soal kehidupan Sarah."
"Papa dan mama dihantui rasa bersalah. Kami terus mengikuti kehidupan Sarah setelah itu dan kami tahu dia tidak baik-baik saja karena kami. Saat dia mulai perawatan kami berusaha ini membantu tapi dia selalu menolak. Dia sangat membenci mama dan papamu."
Renan diam mendengarkan cerita dari Kana.
"Lalu kami dengar dia meninggal. Kami memutuskan untuk mengasuh Mey. Tadinya kami tidak berniat untuk menjodohkan kalian berdua. Mama menganggap Mey seperti anak sendiri untuk menebus rasa bersalah kami."
"Tetapi kemudian mama dan papamu mendengar kamu beberapa kali dikhianati kekasihmu. Kami pikir itu adalah karma atas perbuatan kami. Jadi kami membuat keputusan agar kamu menikah dengan Mey. Mungkin itu akan menebus semuanya."
"Seperti itulah ceritanya, mungkin memang sudah waktunya kamu mengetahui semuanya. Mama minta maaf, kamu yang harus menanggung akibat dari perbuatan mama dan papa."
"Mama tinggal di perkebunan untuk menghukum diri mama sendiri. Villa itu adalah tempat tinggal Sarah waktu dia dan Kusuma baru menikah. Aku sengaja tinggal di sana agar aku bisa mengingat dosa yang sudah aku lakukan."
"Sudah? Itu saja? Kalian berdua berdua menjijikan!" ucap Renan setelah mendengar semuanya.
Dia lalu berdiri dan hendak pergi meninggalkan Kana. Tetapi baru saja Renan melangkahkan kakinya dia melihat Mey berdiri mematung di balik dinding dapur.
Wajahnya pucat dan matanya basah oleh air mata. Renan segera menghampirinya.
"Mey, kamu sedang apa di sini?" tanya Renan gelagapan.
"Apa benar semua yang baru saja aku dengar?" tanya Mey lirih sambil berusaha menghapus air matanya.
"Tidak Mey, jangan pikirkan itu. Mama cuma mengarang cerita." Renan berusaha meraih tubuh Mey ke dalam pelukannya tetapi tangan Mey menepis tangan Renan.
"Aku dengar semuanya Kak! Jangan anggap aku orang bodoh!"
__ADS_1
"Mey, sayang ... Kamu cuma salah paham." Renan masih berusaha menenangkan Mey.