Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Periksa


__ADS_3

Pagi harinya Mey terbangun dengan rasa heran karena tidak merasakan pusing dan malas seperti sebelumnya. Mungkin karena dia minum susu hamil semalam. Mey sengaja memilih yang bisa membantu mengurangi rasa mual.


Mey langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tetapi dia terkejut melihat Renan sudah duduk di ruang tamunya dengan pakaian rapi dan siap berangkat kerja.


Mey berjalan melewati Renan tanpa menyapanya. Mey tidak bertanya kenapa sepagi ini Renan sudah ada di apartemennya, apa semalam dia menginap atau dia sengaja datang sejak subuh tadi Mey tidak peduli.


Mey langsung membuka kulkas dan menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak. Pagi ini Mey ingin makan makanan kesukaannya, pasta.


Selesai masak Mey lanjut mandi setelah itu baru ke meja makan untuk sarapan. Mey menyantap sendiri makanan yang dia masak tanpa menawarkannya pada Renan. Mey benar-benar tidak menganggap Renan ada di sana.


Sementara Renan hanya bisa menahan dirinya. Tidak ada yang pernah mengacuhkan dia seperti ini. Kalau bukan karena rasa penasarannya soal susu hamil itu Renan enggan menunggu di sini.


Renan menyusul Mey ke ruang makan karena sudah tidak tahan lagi.


"Apa benar kamu hamil?" tanya Renan tanpa basa basi. Mey tidak menjawab. Dia justru sangat menikmati makanannya karena dari kemarin dia selalu mual ditengah-tengah makan.


"Jawab aku! Apa benar kamu hamil?" Mey tetap diam sampai di suapan terakhir hingga dia mengelap bibirnya dengan tisu lalu berjalan meninggalkan Renan.


Renan yang sudah kehabisan kesabaran mengejar Mey dan mencegatnya hingga mereka berhadapan.


"Jawab aku!!!"


"Apa pedulimu? Urus saja urusanmu sendiri!" jawab Mey sambil tersenyum sinis. Lalu dia mendorong tubuh Renan menjauh. Renan heran melihat tingkah Mey, ini sangat berbeda dengan Mey yang biasanya.


Mey pergi ke kamarnya untuk mengambil tas dan keperluan yang akan dibawa ke kantor. Setelah itu keluar dan melihat Renan masih berdiri di tempat yang sama.


"Kita berangkat bersama. Mobilmu masih ada di kantor!" ucap Renan datar.


Sebenarnya Mey bisa pesan taksi online tetapi itu akan memakan waktu, jadi dia mengikuti Renan.


Selama perjalanan baik Renan maupun Mey sama-sama diam. Sebenarnya Renan ingin mengatakan betapa dia merasa bersalah atas kejadian malam itu, dia juga ingin minta maaf. Tetapi yang terlihat dari luar hanyalah sikap Renan yang dingin dan terlihat acuh. Renan kesulitan mengungkapkan perasaannya.


Sampai di kantor mereka berjalan sendiri-sendiri dan langsung menuju ruangan masing-masing.


Belum sempat masuk ke ruangannya Renan sudah di hadang Dito, sang asisten sekaligus sahabatnya.


"Aku lihat kalian datang bersama. Kamu menginap di apartemen Mey?"

__ADS_1


"Urus saja pekerjaanmu!"


"Baiklah ... " Dito mengerti sepertinya mood Renan sedang tidak bagus. "Nanti sore ada klien ingin mengajak kita ngopi. Bukan acara formal, tapi dia ingin kita datang."


Renan berpikir sejenak. "Aku tidak bisa ikut, kamu saja. Aku sudah ada janji sore ini."


"Dengan Mey?"


"Bukan urusanmu!" Bukan Renan namanya kalau tidak menyebalkan. Renan ingin membawa Mey ke rumah sakit untuk periksa sore ini, tetapi dia tidak ingin memberitahu Mey.


Sore harinya Dito kembali menghampiri Renan di ruangannya.


"Benar kamu tidak ingin ikut?"


Renan menggelengkan kepalanya.


"Siapa tahu klien kita sudah menyiapkan artis atau model untuk menemani kamu."


"Untukmu saja kalau kamu mau. Sudah, pergi saja sana!"


Renan melihat jam di tangannya lalu berjalan menuju ruangan Mey. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Renan menemukan Mey sedang meletakkan kepalanya dia atas meja dan wajahnya terlihat pucat.


"Sudah waktunya pulang," ucap Renan datar.


Mey segera mengemasi barang-barangnya, mengabaikan pusing yang sedang dia rasakan. Mey lalu keluar dari ruangannya tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Renan. Mey berjalan menuju tempat parkir, tetapi bukan ke arah mobil Renan. Dia mencari mobilnya karena dia ingat kemarin meninggalkan mobilnya di parkiran perusahaan.


Mey berjalan kesana kemari mencari mobilnya tapi tidak ketemu dan Renan hanya diam melihatnya. Hingga akhirnya Mey menyerah karena lelah dan keringatnya mulai bercucuran.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Renan setelah melihat kondisi Mey yang lemas.


Mey tidak melawan. Dia menurut dan langsung masuk ke mobil. Sebenarnya Renan sudah menyuruh sopirnya membawa pulang mobil Mey tanpa sepengetahuan Mey.


Selama di perjalanan pulang Mey terus menutup matanya karena merasa pusing hingga dia tidak sadar jika Renan tidak mengarahkan mobilnya ke apartemen.


Mey membuka matanya ketika mobil sudah berhenti.


"Dimana kita?" tanya Mey dengan ekspresi bingung. Dia melihat ke sekeliling dan sadar dia sedang berada di parkiran basemen tapi bukan tempat parkir apartemennya.

__ADS_1


Renan sudah membuka sabuk pengamannya. "Ayo turun!"


"Dimana kita?!" Renan tidak menjawab.


"Aku tidak akan turun sebelum kamu menjawab!" balas Mey tegas.


Renan turun dari mobil lebih dulu dan terpaksa membukakan pintu untuk Mey karena gadis itu bersikeras tidak mau turun dari mobil.


"Kenapa takut? Aku tidak akan memper*osa mu, aku sudah pernah melakukannya!" ucap Renan dingin. Dia sudah mulai kesal dengan sikap Mey.


Perlahan Mey turun dari mobil. Dia masih melihat sekeliling dan menduga-duga sedang berada dimana. Wajahnya mulai terlihat lega setelah dia melihat ambulans terparkir dan pintu bertuliskan UGD.


"Kita akan memeriksakan kondisimu."


Renan berjalan lebih dulu dan Mey mengikutinya. Renan bertanya kepada perawat jaga letak ruang dokter kandungan lalu berjalan sesuai petunjuk yang diberikan oleh perawat.


*


Mey duduk sambil menunggu Renan menebus vitamin dan obat anti mual untuknya. Sudah cukup lama tetapi Renan belum selesai. Di depan Mey duduk, ada sepasang suami istri yang juga sedang memeriksakan kandungan. Mereka terlihat mesra dan laki-lakinya terlihat sangat memperhatikan istrinya.


Tanpa terasa Mey menitikkan air mata. Dia iri melihat wanita itu sangat diperhatikan oleh suaminya, sedangkan dia? Renan mau menerima bayinya saja dia sudah sangat bersyukur.


Buru-buru Mey menghapus air matanya sebelum ada yang melihat. Dia terus memperhatikan pasangan itu sampai tidak sadar jika sejak tadi Renan memperhatikannya.


Mey tidak tahu betapa bahagianya Renan mengetahui jika Mey sedang hamil. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya hingga sejak tadi dia terus tersenyum. Tetapi Mey tidak memperhatikan itu karena Mey tidak sudi menatap Renan.


Senyum Renan hilang ketika dia melihat Mey meneteskan air mata. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Mey mengenai kehamilannya ini.


Bergegas Renan menghampiri Mey.


"Kita pulang sekarang," ucap Renan datar. Dia masih kesulitan untuk berbicara dengan lembut kepada Mey.


Mey langsung berdiri dan berjalan menuju tempat parkir tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kamu lapar? Ingin makan sesuatu?"


Mey tetap diam, dan Renan pun ikut diam. Dia tidak terbiasa merayu perempuan jadi tidak tahu harus bagaimana membujuk Mey agar mau bicara. Biasanya perempuan yang merayunya.

__ADS_1


__ADS_2