
"Aku masih mencintai gadis itu meski dia sudah menjadi milik orang lain."
Sontak Mey menatap Ivan dan laki-laki itupun balik menatapnya. Air mata Mey meleleh mendengar kata-kata Ivan. Meski Mey tidak berkata sepatah katapun, Ivan mengerti gadis pujaannya itu tidak bahagia.
Tangan Ivan meraih pipi Mey lalu ibu jarinya mengusap air matanya dengan lembut. Sungguh perlakuan yang sangat diidamkan oleh seorang perempuan dari lelakinya.
Sementara itu di dalam sebuah mobil yang sedang berhenti, terdapat seorang pria yang terus memperhatikan gerak-gerik Mey dan Ivan.
"Bukankah dia perempuan murahan itu?" tanya Renan sambil terus menatap Mey dari kejauhan.
"Apa?" Dito tidak begitu memperhatikan karena dia terus memperhatikan jalan. Saat ini mobil mereka sedang berhenti di perempatan lampu merah di depan taman.
"Sepertinya iya," jawab Dito setelah dia mengikuti arah pandangan Renan.
"Dia bersama laki-laki," gumam Renan pelan. "Kamu kenal laki-laki itu?"
Dito mengangkat bahunya. "Mungkin orang asing yang sama-sama duduk di sana. Itu taman Ren ... tempat umum. Siapa saja bisa duduk di sana!"
Awalnya dia tidak tertarik karena dia melihat Mey dan laki-laki itu duduk berjauhan. Dia pikir benar yang dikatakan Dito, siapa saja bisa duduk di sana tanpa harus saling mengenal. Tetapi kemudian dia melihat laki-laki itu menyentuh pipi Mey dan membelainya. Sementara Mey terlihat tidak menghindar malah menikmatinya. Saat itulah rahang Renan mengeras.
"Dasar perempuan murahan!" ucap Ranan sambil mengepalkan tangannya.
"Apa laki-laki itu kekasihnya? Apa laki-laki itu yang kamu maksud dekat dengannya?!" Renan bertanya kepada Dito dengan nada yang sudah dipenuhi emosi.
"Apaan sih Ren? Aku nggak tahu yang mana laki-laki itu," jawab Dito cuek. Dia tidak tahu jika Renan melihat laki-laki itu membelai pipi Mey.
"Perempuan murahan itu harus dikasih pelajaran. Bisa-bisanya dia bertemu laki-laki lain saat sudah menjadi istriku!!!" Renan berusaha melepas sabuk pengamannya.
"Mau kemana Ren, lampunya sudah mau hijau ini!" teriak Dito. Sementara Renan sudah berlari menghampiri Mey.
Renan segera menarik tangan mey dengan kasar. "Dasar kamu perempuan murahan! Apa kamu sedang menjajakan dirimu?!" ucap Renan sambil menyeret tubuh Mey.
__ADS_1
"Hei ... Jangan kasar pada perempuan!" cegah Ivan.
Renan langsung melepaskan tangan Mey dan berjalan menghampiri Ivan.
"Memangnya kamu pikir kamu siapa? Kamu kekasihnya? Kalian sedang merencanakan cara untuk mengambil semuanya lalu kabur dariku?!"
"Apa yang kamu bicarakan? Kami tidak seperti itu!"
Tanpa banyak bicara Renan langsung melayangkan pukulan ke wajah Ivan. Mey hanya bisa berteriak.
"Kak, hentikan jangan pukul dia." Mey berlari lalu berdiri di depan Ivan untuk menghalangi Renan memukulnya lagi.
"Kamu menangis karena aku memukul laki-laki ini?!" bentak Renan. Dia melihat mata Mey yang basah, padahal sejak sebelum dia datang Mey sudah menangis.
"Aku mohon hentikan, jangan pukul dia."
"Mey, jangan rendahkan dirimu untuk laki-laki seperti dia. Kamu berharga, jangan memohon padanya!" Meski Ivan berusia lebih muda dia tidak takut untuk menghadapi Renan.
"Mey, kamu tidak apa-apa?" Ivan yang hampir berlari menolong Mey. Tetapi pukulan dari Renan mencegahnya.
Lutut Mey berdarah tetapi dia tidak merasakan itu. Dia langsung bangun untuk mencegah Renan dan Ivan berkelahi.
"Kak, aku mohon hentikan." Mey berusaha melerai dua laki-laki yang sedang berkelahi ini. Tetapi tenaganya tidak cukup kaut untuk memisahkan dua laki-laki yang sedang bergumul ini.
"Ren, hentikan!" Lalu datanglah Dito. Dia berhasil menarik tubuh Renan. Sementara Mey lebih memilih untuk menolong Ivan.
Renan kembali terpancing emosi saat dia melihat Mey menolong Ivan. Dia kembali menarik tangan Mey lalu menyeret gadis itu pergi.
"Dimana kamu parkir mobilnya?" Dito menunjuk mobil mereka yang sudah terparkir di tepi jalan.
Renan terus menarik tangan Mey sambil berjalan. Sampai di depan mobil dia langsung membuka pintu dan mendorong tubuh Mey masuk ke dalam mobil dengan kasar.
__ADS_1
"Kamu pulang naik taksi!" ucap Renan kepada Dito. Setelah itu Renan duduk di belakang kemudi.
Dito hanya diam melihat bosnya sudah sangat dikuasai emosi. Satu kata saja keluar dari mulutnya bisa membahayakan nyawa orang.
Selama di perjalanan pulang Renan sama sekali tidak bersuara. Dia terus mengemudi dengan kecepatan tinggi. Meylan pun tidak berani bersuara. Dia terus memejamkan matanya karena takut melihat cara mengemudi Renan yang ugal-ugalan. Hingga terdengar suaranya rem berdecit dan mobil berhenti barulah Mey berani membuka matanya.
Mereka sudah dampai rumah. Renan segera turun dan membuka pintu mobil. Dia kembali menarik tubuh Mey keluar dari mobil dan menyeretnya memasuki rumah. Renan terus menyeret tubuh Mey hingga mereka sampai di kamar Renan.
Renan membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Tatapannya kepada Mey seperti ingin memakan gadis itu hidup-hidup.
"Jadi dia kekasihmu? Berapa lama kalian merencanakan semua ini? Berani-beraninya kamu menemui laki-laki lain setelah kamu menjadi istriku?!" ucap Renan sambil mencengkram wajah Mey.
"Kakak juga berkencan dengan perempuan lain setelah menjadi suamiku. Apa bedanya?" Mey memberanikan diri untuk melawan Renan.
"Berani kamu menjawabku?! Kamu hanya perempuan murahan seperti perempuan-perempuan yang aku kencani!" Renan terus menatap Mey dengan tatapan penuh kebencian.
"Katakan, sudah berapa kali kamu tidur dengannya? Atau sudah berapa laki-laki yang tidur denganmu?! Apa saja yang sudah kamu dapatkan? Kamu tidak dapat apa-apa karena dia miskin? Karena itu kah kamu mau menikah denganku?!!"
"Apa kaka tidak bisa berpikiran positif tentang aku sedikit saja? Aku menikah denganmu karena papa dan mama yang memintaku. Aku ingin membalas budi atas semua yang telah mereka berikan kepadaku!" Renan semakin mengencangkan cengkeraman tangannya di wajah Mey karena gadis itu masih berani membalas kata-katanya.
"Balas budi hah ...?!! Apa yang sudah kamu lakukan sampai orang tuaku sangat menyukaimu? Apa yang kamu lakukan pada papa sampai dia mengancam akan mewariskan seluruh hartanya untukmu?!!"
Meylan tidak percaya apa yang di dengar. Dia tidak menyangka jika Tuan Kusuma sampai mengancam seperti itu agar Renan mau menikah dengannya.
"Apa kamu juga sudah tidur dengan papa?!" Dengan sekuat tenaga Mey mendorong tubuh Renan hingga akhirnya cengkeraman tangan Renan terlepas.
Kini gantian Mey yang menatap tajam mata Renan. Dia mendekati Renan lalu menampar pipi pria itu. Renan memegangi pipinya. Sebenarnya tamparan Mey tidak terasa buat Renan, tetapi itu membuatnya semakin marah.
"Jaga omonganmu tentang papa! Dia pria terhormat tidak seperti dirimu!" ucap Mey sambil mengacukan telunjuknya ke wajah Renan.
"Aku heran bagaimana mama dan papa yang sebaik itu bisa melahirkan monster tidak berperasaan seperti kamu!!!"
__ADS_1