
Renan memutuskan kembali ke kota karena Kana tidak ada di villa. Dia sampai di rumah saat fajar. Renan menempuh perjalanan semalaman agar bisa kembai ke kota secepatnya. Dia sangat ingin segera bertemu Meylan dan mengelus-elus perutnya. Kemarin dia tidak sempat menghubungi Mey karena sibuk mencari informasi mengenai Sarah, ibunya Mey tetapi sampai sekarang belum ada hasilnya.
Satpam segera membukakan gerbang begitu mendengar Renan membunyikan klakson mobilnya. Renan masuk ke dalam rumah dan menemukan Bi Susi sedang melakukan pekerjaannya di dapur.
"Buatkan aku kopi, antar ke kamarku." Suara Renan membuat bi Susi tersentak.
"Tuan sudah pulang?" Renan tidak menjawab. Dia langsung berjalan ke lantai atas tetapi bukan ke kamarnya. Renan ingin melihat Mey terlebih dahulu jadi dia menuju kamar Mey.
Perlahan Renan membuka pintu kamar Mey. Dia melihat gadis itu masih terlelap. Renan berjalan mendekat. Dia memperhatikan wajah Mey dengan seksama kemudian Renan melihat kemejanya ada di dalam pelukan Mey.
Buat apa bajuku ada di sini? batin Renan heran.
Dia berusaha menarik kemeja itu dari tangan Mey dan membuat Mey menggeliat. Renan mengurungkan niatnya mengambil baju itu karena takut Mey terbangun.
Setelah puas memandangi wajah Mey, Renan bergegas ke kamarnya. Tak berselang lama bi Susi datang membawakan kopi yang tadi Renan minta.
"Ini kopinya Tuan." Bi Susi meletakkan kopi di meja.
"Kenapa Mey membawa bajuku tidur bersamanya?" Renan menanyakannya kepada bi Susi.
"Oh ... Kurang tahu Tuan. Tadi malam saya menemukan Non Meylan di ruang laundry, terus minta dicarikan bajunya Tuan Renan yang sudah dipakai tetapi belum di cuci. Saya juga bingung dengarnya."
"Dia bilang untuk apa?"
"Nggak bilang mau buat apa Tuan. Tetapi pas saya kasih kemeja Tuan Renan yang belum di cuci Non Meylan kelihatan senang banget. Kemejanya langsung di cium-cium. Bibi pikir mungkin itu bawaan bayi, ngidam pingin menghirup aroma keringat papanya."
Renan tersenyum mendengar cerita bi Susi. "Terus apa lagi bi?"
Lalu bi Susi menceritakan bahwa Mey mengajak dia ngobrol karena ingin tahu lebih banyak mengenai Renan.
Renan sangat antusias mendengar cerita bi Susi dan ingin mendengarkan lebih banyak. Rasa lelah sehabis perjalanan jauh menguap setelah mendengar cerita bi Susi secara keseluruhan.
Selesai bi Susi bercerita Renan terlihat senyum-senyum sendiri. Aura dingin yang tadi dia perlihatkan sewaktu memasuki rumah hilang berganti dengan senyum tidak jelas yang terlihat konyol.
"Jangan katakan padanya kalau aku sudah pulang. Aku ingin memberi dia kejutan."
__ADS_1
"Meskipun bibi tidak bilang, Non Mey kan bisa lihat mobil Tuan ada di carport."
"Oh ... Iya ya?" Bahkan Renan terlihat bodoh sekarang.
"Ya sudah ... Terimakasih Bi, bibi boleh melanjutkan pekerjaan bibi." Bi Susi meninggalkan kamar Renan dengan wajah terheran-heran. Tidak biasanya majikannya itu tersenyum di depannya.
Renan merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia melupakan kopinya dan justru mengkhayal Mey menjadi miliknya seutuhnya hingga akhirnya dia tertidur.
*
"Sepulang kerja Non Meylan minta diantar ke taman kota Tuan."
Renan sedang meminta laporan kegiatan Mey selama dia pergi. Padahal dia hanya pergi sehari tetapi dia minta laporan seperti sudah berbulan-bulan menghilang. Renan bahkan meminta pak sopir menceritakan apa saja yang Mey lakukan seharian di perusahaan.
"Ada lagi?"
"Anu ... itu ... "
"Katakan!"
"Laki-laki?" Rahang Renan mengeras.
"Sepertinya mereka tidak sengaja bertemu." Pak sopir berbicara dengan takut-takut.
"Apa yang mereka lakukan?" Renan sudah mengepalkan tangannya.
"Mereka hanya ngobrol sebentar, setelah itu Non Meylan segera saya ajak pulang."
Renan mengibaskan tangannya meminta sopirnya untuk pergi. Berbeda dengan cerita bu Susi, Renan tidak ingin mendengar lebih banyak lagi soal ini. Tanpa diberitahu siapa, Renan yakin laki-laki itu pasti Ivan.
Renan kesal, dia merasa sedang dipermainkan. Tadi perasaannya melayang mendengar cerita dari bi Susi. Tetapi sekarang dia merasa seperti dihempaskan.
Renan kembali ke kamarnya. Dia memilih untuk kembali tidur untuk memulihkan tenaganya. Niatnya untuk menyusul Mey ke perusahaan dia urungkan karena perasaannya sedang kacau.
Sesampainya di kamar Renan tidak bisa memejamkan matanya. Dia justru semakin teringat dengan Mey.
__ADS_1
Tadinya dia akan melepaskan Mey jika dia bahagia bersama Ivan, tetapi baru mendengar mereka bertemu saja hati Renan sudah sekacau ini. Renan tidak bisa membayangkan jika Mey benar-benar kembali kepada Ivan. Dia tidak bisa terima.
Saat makan malam Renan sangat dingin dan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia tidak memberikan perhatian kepada Mey seperti biasanya.
Tetapi Mey sedang tidak ada waktu untuk memikirkan perubahan sikap Renan. Dia sedang sangat lelah karena tadi banyak sekali pekerjaan di perusahaan. Mey bahkan tidak sempat makan siang karena kesibukannya. Saat ini Mey hanya ingin makan dan segera tidur karena dia sudah merasa pusing dan kelelahan.
"Aku sudah selesai makan. Aku ingin ke kamar duluan. Permisi."
Renan tidak merespon kata-kata Mey, dia bahkan tidak ingin menatap Mey.
Meylan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan. Tetapi belum sampai menaiki anak tangga kepala Mey terasa sangat pusing. Mey mencari pegangan agar dia tidak terjatuh.
"Non ... Non Meylan kenapa?" Bi Susi melihat Mey berjalan sempoyongan.
"Nggak tahu Bi, ini pusing banget."
"Saya panggilkan Tuan Muda." Bi Susi ingin berlari ke ruang makan tetapi Meylan mencegahnya.
"Tidak usah Bi, dia capek habis perjalanan jauh."
"Tapi bibi tidak bisa kalau harus menggendong Non Meylan menaiki tangga."
"Saya bisa jalan sendiri kok Bi."
Tiba-tiba Renan muncul karena suara Mey dan bi Susi terdengar sampai ke ruang makan. Tanpa berkata apa-apa dia langsung menggotong tubuh Mey menaiki tangga. Mey hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya karena dia benar-benar merasa pusing.
"Kenapa tadi tidak makan siang?" tanya Renan sambil meletakkan tubuh Mey di tempat tidur. Dia mendapat laporan dari asistennya.
"Aku tidak ada waktu, tadi banyak pekerjaan," balas Mey tanpa membuka matanya.
"Aku tahu kamu tidak menginginkan anak ini, tetapi setidaknya bisakah kamu menjaga kesehatanmu sampai dia lahir?! Aku tidak ingin dia terlahir cacat karena keteledoran kamu!" ketus Renan setelah itu dia pergi meninggalkan Mey.
Sebenarnya Renan tidak ingin berkata demikian. Tetapi mengingat Mey kemarin bertemu dengan kekasihnya membuat dia merasa kesal.
Mey membuka matanya. Rasa pusingnya tiba-tiba hilang setelah mendengar kata-kata Renan berganti dengan rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
Setelah akhir-akhir ini sikap Renan sangat manis padanya, Mey tidak menyangka Renan akan berkata demikian. Air mata Mey menetes. Sakit sekali perasaannya sekarang. Ternyata benar, Renan hanya menginginkan anaknya, bukan dia.