
Sudah dua minggu lebih Mey dan Renan menikah. Hari ini, pagi-pagi sekali mertuanya, Kana sudah datang ke kediaman mereka. Beruntung Renan sudah berangkat kerja sehingga Kana tidak melihat bagaimana anak laki-lakinya itu memperlakukan Mey.
"Renan mana sayang?" tanya Kana kepada menantunya.
"Sudah berangkat Mah, dia ada meeting penting pagi ini," jawab Mey gelagapan. Dia tidak menyangka Kana akan datang ke rumahnya.
"Gimana sayang? Renan bersikap baik padamu kan?" Kana langsung bertanya demikian karena sudah hafal bagaimana karakter Renan sekarang.
"Iya Ma ... Kakak baik," Mey sangat gugup karena dia berbohong. "Mama sudah sarapan?"
"Sudah, Mama sudah makan tadi di rumah sama Papa mu."
"Apa Mama ada acara atau mau pergi suatu tempat?"
"Tidak Sayang, Mama memang sengaja datang kemari untuk melihat keadaan kalian."
Mey melihat jam di tangannya. Sudah waktunya dia berangkat kalau tidak dia bisa terlambat. Tetapi dia tidak enak jika harus meninggalkan mertuanya yang baru datang. Kana bisa melihat kegelisahan Mey.
"Kamu boleh pergi Mey, nanti kamu terlambat. Mama tidak apa-apa. Jangan khawatir."
Mey tersenyum. "Terima kasih Ma, sampai jumpa."
Mey meraih tasnya lalu menghampiri Kana dan mencium pipinya lalu pergi.
"Sampai jumpa Sayang, hati-hati."
Setelah kepergian Mey, Kana mencari Bi Susi. Dia ingin bertanya apa yang sudah terjadi di rumah itu. Meski Bi Susi sudah diperingatkan oleh Renan, dia tetap tidak bisa berbohong kepadaku Nyonya besarnya. Dia memberitahu Kana apa yang sudah terjadi di rumah itu, termasuk Renan yang tidur terpisah dengan Mey.
Kana tampak sedih mendengar laporan dari Bi Susi. Membuat Renan kembali seperti dulu tidaklah mudah.
*
Di perusahaan....
Dito sedang menemani bosnya makan di ruangannya. Karena tadi meeting cukup lama mereka tidak sempat makan siang.
"Ceritakan tentang perempuan itu," ucap Renan sambil mengunyah makanannya.
Dia mulai penasaran dengan Mey tetapi bukan karena dia mulai suka. Dia ingin mencari tahu apa sebenarnya rencana Mey. Dia masih berpikir jika Mey menikah dengannya karena dia punya rencana jahat yaitu mengambil semua harta keluarganya.
__ADS_1
"Meylan?" Renan mengangguk.
"Astaga Ren ... Bukankah kamu juga mengenal dia? Kamu bahkan mengetahui dia sejak dia masih kecil. Sedangkan aku mengenalnya baru beberapa tahun. Seharusnya kamu tahu lebih banyak dari aku."
"Dia masih anak-anak waktu itu. Sekarang berbeda, uang bisa mengubah karakter seseorang," jawab Renan dingin.
"Yang berubah itu kamu Ren. Sampai kapan kamu akan seperti ini?"
"Tidak usah banyak bicara. Ceritakan saja apa yang kamu tahu tentang dia!"
"Dia gadis yang baik, ramah, pintar, cantik ... "
"Stop ... stop ...! Aku meminta mu menceritakan tentang dia bukan memujinya."
Dito menghela nafas. "Aku pasti dengan senang hati dinikahkan dengan Mey. Jangan samakan dia dengan wanita-wanita yang pernah kamu tiduri!"
Renan berdecih. "Apa bedanya? Dengan uang semua wanita terlihat sama di mataku. Mereka akan langsung menanggalkan pakaiannya jika sudah melihat uang."
"Apa kamu sudah melakukan itu pada Mey?"
"Apa maksudmu? Aku tidak sudi menyentuh dia. Mereka tidak munafik. Mereka jelas menjual diri karena uang. Tetapi gadis-gadis seperti dia, berkedok gadis baik-baik tetapi sebenarnya mereka lebih buruk."
Dito hanya geleng-geleng mendengar penjelasan Renan.
"Yang aku maksud, apakah kamu sudah mencoba menawarkan Mey uang?"
Renan tidak menjawab.
"Dia tidak mau kan? Aku tahu itu. Mey adalah wanita yang menjaga kehormatannya. Harus berapa kali aku katakan padamu, jangan berpikir semua wanita itu sama."
"Bertanya padamu tidak ada gunanya!" Renan melemparkan sendoknya kesal. Tetapi Dito tidak ambil pusing dengan sikap Renan.
"Bukankah kamu bertanya apa yang aku tahu tentang dia? Ya itu yang aku tahu tentang Mey, dia gadis baik-baik."
"Aku tidak habis pikir kenapa kalian membelanya. Kalian semua pasti sudah tertipu oleh wajah polosnya. Apa dia punya kekasih?"
"Aku tidak tahu soal itu. Dia sangat tertutup tentang kehidupan pribadinya. Tetapi aku pernah dengar dia dekat dengan seorang laki-laki. Bahkan setahuku dia masih dekat dengan laki-laki itu sebelum kalian menikah." Dito tidak sadar jika apa yang baru saja dia katakan telah menyulut emosi di hati Renan
"Jadi dia punya kekasih sebelum menikah denganku?!" Tangan Renan mengepal. Dia kembali teringat dengan mantan kekasihnya yang ternyata sudah memiliki kekasih sebelum berhubungan dengannya. Yang akhirnya kabur bersama kekasihnya setelah menguras uangnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu tepatnya apa hubungan mereka, yang jelas Mey dekat dengan seseorang. Kenapa kamu mulai menanyakan kehidupan pribadinya? Apa kamu sudah mulai menyukainya?"
"Tidak akan!" Rahang Renan mulai mengeras. Rasa bencinya kepada Mey semakin memuncak mendengar cerita dari Dito. Dia yakin Mey akan kabur dengan kekasihnya setelah dia mendapatkan semuanya.
"Jadi itu rencanamu?" gumam Renan.
*
Sore harinya...
Meylan sudah pulang ke rumah.
"Apa Mama sudah masih di sini?" tanya Mei kepada Bi Susi, orang yang pertama kali dia jumpai di rumah.
"Nyonya langsung pulang setelah Non Mey pergi."
"Mama bertanya sesuatu tentang aku, atau tentang kakak?"
"Ng ... Nggak Non."
"Ya sudah, makasih Bi." Meylan berlalu ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Mey kembali membuka matanya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya Mey keluar dari kamar mandi, hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
Di saat yang bersamaan Renan membuka pintu kamar Mey, yang membuat Mey kaget. Dia tidak menyangka Renan akan masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mey memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya karena dia terbawa kebiasaan saat masih tinggal sendiri di apartemen. Tidak akan ada yang masuk ke kamarnya meski dia tidak mengunci pintunya. Tetapi Mey lupa sekarang dia tinggal bersama Renan.
"Kak ... Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Mey gugup. Dia bukannya takut pada Renan, tetapi dia malu Renan melihat tubuhnya yang hanya ditutup handuk.
Renan berjalan mendekati Mey dengan tatapan tajam. Sudah sejak tadi dia menahan emosinya, saat dia mengetahui Mey ternyata mempunyai kedekatan dengan seorang laki-laki.
Renan langsung mencengkeram wajah Mey dan mengunci matanya.
"Apa yang kamu inginkan perempuan murahan? Cepat katakan akan ku berikan, lalu pergilah dari hidupku!"
"Apa maksud Kakak?" tanya Mey sambil memegangi handuknya agar tidak melorot.
"Jangan bersikap munafik di depanku. Aku tidak akan termakan dengan sikapmu yang pura-pura polos! Berapa lama kekasihmu akan menunggu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan? Hah ...?" Kamu akan kabur bersamanya setelah mendapatkan semuanya kan?" Renan terus mencengkeram wajah Mey sambil terus menatap dengan tajam.
"Kak ... lepaskan tanganmu." Dengan segera Renan melepaskan tangannya dari wajah Mey. Tangan Renan sampai meninggalkan bekas merah di pipi Mey.
__ADS_1
Renan tersenyum mengejek saat melihat Mey terus memegangi handuknya.
"Kenapa kamu terus memegangi itu?" Renan menunjuk handuk yang Mey pakai. "Bukankah biasanya kamu membukanya dengan suka rela di depan laki-laki?" Renan terus memandangi Mey. Tatapannya seperti menelanjangi Mey dan membuat Mey semakin merasa malu.