Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Berangkat Bekerja


__ADS_3

Renan termenung setelah kepergian Kana. Kedatangan Kana membuat dirinya semakin merasa bersalah. Sebenarnya dia ingin melihat Mey tetapi rasa gengsi menghalanginya. Setiap pagi Renan masuk ke ruangan Mey untuk melihat apakah dia berangkat kerja atau tidak. Renan mulai mengkhawatirkan gadis itu tetapi dia tidak ingin menunjukkannya.


Dia sadar yang dia lakukan malam itu sangat kasar dan mungkin juga menyakitkan baik secara fisik maupun psikis. Untuk seseorang yang baru pertama kali melakukan hubungan badan, mungkin yang dilakukan Renan bisa meninggalkan trauma mendalam. Sekarang Renan sadar, dia telah salah menilai Mey. Dia terlalu dibutakan oleh pengalaman pahitnya dikhianati.


Renan sendiri terlalu malu untuk bertanya kepada Bi Susi mengenai keadaan Mey, mengingat selama ini Bi Susi menjadi saksi bagaimana sikapnya kepada Mey.


Renan keluar dari ruangannya dan mencari Dito untuk mengajaknya makan siang.


"Gadis itu masih belum berangkat bekerja," gumam Renan sambil mengunyah makan siangnya.


Dito melihat sekelilingnya. "Gadis yang mana? Kamu dikelilingi banyak gadis, yang mana maksudmu?" Dito berusaha memancing Renan.


"Jangan memancingku. Kamu tahu siapa yang aku maksud!"


"Memangnya siapa yang kamu maksud?" Dito masih berpura-pura tidak tahu untuk menggoda Renan.


"Meylan, siapa lagi?!" Renan geram.


"Nah, kamu bisa menyebut namanya kan? Kamu terbiasa menyebut dia dengan sebutan perempuan murahan sampai lidahmu terasa kelu untuk menyebutkan namanya." Dito bicara sambil fokus ke makanannya.


"Kamu apakan dia sampai lama absen begini? Ini bukan dia banget. Biasanya sakit pun dia tetap memaksakan dirinya berangkat."


Renan tidak menjawab. Dia terus teringat rintihan kesakitan Mey saat dia menghajarnya di atas ranjang tanpa ampun. Dia ingat bagaimana tatapan memohon Mey agar dia tidak melanjutkan aksinya tetapi Renan tidak mempedulikan itu. Dia benar-benar seperti monster yang tidak berperasaan seperti yang Mey sebutkan.


Tiba-tiba leher Renan terasa kaku. Dia merasa sulit sekali menelan makanannya karena teringat akan hal itu. Renan melemparkan sendoknya lalu melonggarkan dasinya.


Renan benar-benar merasa tersiksa karena bayangan kekejamannya terus berkelebat di pikirannya. Dia telah memper*osa gadis tidak berdosa, meski gadis itu adalah istrinya.


"Kamu kenapa sih Ren?" Dito heran melihat tingkah bos-nya. "Malam itu kamu terlihat sangat marah. Aku khawatir kamu menghukum dia secara berlebihan."


"Kenapa kamu tidak telfon saja dan tanyakan keadaannya?" jawab Renan seolah tidak peduli.


"Aku sudah menelepon dia, tetapi dia tidak menjawab teleponku. Aku kirim pesan juga tidak di balas." Jawaban Dito membuat perasaan Renan semakin tidak enak.

__ADS_1


Renan tidak melanjutkan makannya, dia sudah kehilangan selera.


"Sebaiknya kamu hati-hati Ren ... "


Renan mengangkat alisnya. Dia tidak mengetahui maksud perkataan Dito.


"Jangan terlalu kejam pada Mey ... Ingat, setiap kamu jatuh cinta kamu menjadi bucin dan bodoh, karena itu kamu gampang ditipu sama mantan-mantanmu. Dan kalau kamu sampai jatuh cinta pada Mey, dia pasti akan membalasmu habis-habisan."


Renan tersenyum sinis.


"Sudah aku bilang padamu dia berbeda. Dia tidak gila harta dan dia juga gadis pintar. Dan gadis pintar biasanya menyimpan dendam."


Muncul seringai di wajah Renan setelah mendengarkan kata-kata Dito. Sepertinya yang ada di dalam benak Renan berbeda dengan yang dimaksudkan Dito. Renan membayangkan Mey membalasnya di tempat tidur sama seperti yang dia lakukan malam itu, liar dan brutal. Tentu dengan senang hati dia akan menerima pembalasan dari Mey.


Diam-diam Dito memperhatikan perubahan ekspresi wajah Renan. "Hmmm ... Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta."


Renan segera mengembalikan ekspresi wajahnya ke mode dingin seperti biasanya setelah mendengar kalimat Dito.


"Jangan bicara sembarangan! Aku tidak akan jatuh cinta dengan perempuan mu ... " Renan tidak melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa Renan sulit sekali mengucapakan kata itu sekarang.


"Sudahlah!!! Lupakan!!!" balas Renan kesal. Sejak tadi Dito terus menggodanya.


Renan kembali ke ruangannya setelah selesai makam siang dengan Dito. Pikirannya masih tidak bisa fokus. Dia terus teringat dengan Mey dan jadi kepikiran apa yang sedang dilakukan gadis itu.


Renan berusaha meyakinkan dirinya jika dia tidak sedang jatuh cinta dengan Mey. Dia teringat pada Mey hanya karena rasa bersalah bukan karena cinta.


Renan langsung pulang begitu dia selesai dengan pekerjaannya. Dia sudah tidak pernah keluar malam, apalagi meminta dicarikan perempuan untuk menemaninya sejak kejadian itu.


Sampai di rumah Renan langsung menemui Bi Susi.


"Apa dia masih tidak keluar kamar?"


"Iya Tuan, tetapi tadi nyonya datang menjenguk. Sepertinya Non Mey sudah sembuh."

__ADS_1


"Bibi memberi tahu mama?"


"Maaf Tuan, saya hanya kasihan sama Non Mey. Tidak biasanya dia seperti ini."


"Sekarang dia ada di kamarnya?"


Bi Susi tampak bingung.


"Non Mey kan pergi Tuan? Katanya mau tinggal di apartemen, sudah ijin sama nyonya sama tuan juga."


Renan lupa jika tadi Kana sudah memberitahunya.


"Dia bawa banyak barang?"


"Hanya satu koper kecil Tuan, mungkin cuma sebentar tinggal di apartemennya."


Renan mengangguk kemudian berlalu. Bi Susi heran melihat tingkah Renan yang sudah berubah. Ini adalah percakapan terlama yang dia lakukan dengan sang majikan.


Sebenarnya Bi Susi adalah saksi kunci atas apa yang terjadi malam itu. Meski tidak melihatnya secara langsung, tetapi Bi Susi mengetahui malam harinya Renan memaksa Mey masuk ke kamarnya. Setelah itu pagi harinya bi Susi menemukan bercak darah di sprei Renan lalu menggantinya dengan sprei baru. Tetapi Bi Susi memilih diam. Untuk yang satu ini bi Susi tidak ingin melaporkannya kepada Kana.


......................


Mey menjadi lebih tenang setelah dia tinggal di apartemen. Dia sudah kembali menata hatinya. Hari ini dia akan mulai berangkat bekerja setelah seminggu lebih dia absen.


Mey berangkat pagi sekali karena dia tahu pasti banyak pekerjaan yang menunggunya. Dia langsung masuk ke ruangannya begitu tiba di perusahaan. Mey langsung disibukkan dengan pekerjaannya.


Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan. Mey terkejut, Renan berdiri di depan pintu. Reaksi Renan tidak kalah terkejut dibandingkan Mey. Dia tidak menyangka Mey sudah mulai berangkat bekerja.


Untuk sesaat mereka sama-sama mematung dan hanya saling tatap. Mey sangat gugup hingga tubuhnya gemetar. Rasa marah sekaligus takut menguasai dirinya tetapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Mey datar.


Renan tidak menjawab pertanyaan Mey bahkan langsung menutup pintunya. Dia tidak tega melihat wajah Mey, dan justru membuatnya semakin merasa bersalah. Tetapi akhirnya dia lega karena Mey tidak apa-apa.

__ADS_1


Renan berjalan ke ruangannya dengan senyum yang di tahan. Entah kenapa dia merasa senang. Sampai di dalam ruangannya barulah Renan tersenyum lepas.


__ADS_2