Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Bertemu Lagi


__ADS_3

Mey menuruti perkataan Renan untuk tidak pergi bekerja. Dia dan Renan baru saja memperbaiki hubungan mereka jadi Mey tidak ingin membuat masalah dengan Renan.


Sementara Renan ijin kepada Mey untuk pergi ke perusahaan sebentar karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


"Kakak nanti pulang jam berapa?"


"Aku hanya sebentar. Aku usahakan pulang sebelum jam dua belas agar kita bisa makan siang bersama."


Mey mengangguk.


"Kamu ingin sesuatu?"


"Ini waktunya memeriksakan kandunganku. Sudah masuk bulan ketiga," ucap Mey pelan.


"Benarkah? Aku sampai lupa." Lalu Renan menelpon sekretarisnya dan meminta untuk dibuatkan jadwal periksa ke rumah sakit.


"Sudah, nanti aku kabari. Aku berangkat dulu."


"Hati-hati kak." Renan mengangguk lalu mengecup kening Mey dan membuat hatinya berdesir. Mereka benar-benar seperti pasangan suami istri sekarang.


Mey kembali ke kamarnya setelah kepergian Renan. Belum beberapa lama Mey di kamarnya sudah ada yang mengetuk pintu.


"Mey ... " Terdengar suara Kana memanggil dari balik pintu.


Mey bergegas membukakan pintu kamarnya. Rupanya Kana datang mengunjunginya.


"Kapan Mama datang?"


"Baru saja. Kita ngobrol di bawah? Mama ingin sekalian minum teh."


Lalu Mey dan Kana pergi ke ruang keluarga, di susul bi Susi yang datang membawakan teh untuk Kana dan jus untuk Mey.


"Tadi waktu mama tiba, bi Susi memberitahu kalau kamu tidak berangkat kerja. Apa kamu sedang tidak enak badan?"


"Oh ... Kak Renan yang tidak mengijinkan aku berangkat. Kakak tidak ingin aku kelelahan."


"Itu anak kalau sudah jatuh cinta bisa manis banget Mey sikapnya. Tadi mama mencari kamu ke kamar Renan, ternyata kamu di kamarmu sendiri. Kamu kan sudah hamil Mey, kenapa masih tidur terpisah?"


"Mey tidak nyaman tidur di kamar kakak. Kamarnya monoton banget, cuma hitam dan abu-abu." Mey mencari alasan.


"Nanti mama beritahu Renan agar mendesain ulang kamarnya." Kana menyeruput tehnya. "Mey, apa kamu tahu kenapa Renan mencari mama ke perkebunan? Jarang-jarang dia mencari mama."


"Kakak ke perkebunan? Kapan? Kok aku nggak tahu?" Mey tampak berpikir karena seingatnya Renan pamit ke luar kota, bukan ke perkebunan.


"Dua atau tiga hari yang lalu. Mama juga nggak tahu, cuma di kasih tahu pelayan di rumah."


"Nanti mama tanya orangnya sendiri saja. Aku nggak tahu."

__ADS_1


Lama Mey dan Kana ngobrol hingga akhirnya keduanya lelah dan ingin istirahat.


*


Renan sudah pulang dari perusahaan. Dia langsung mencari Mey di kamarnya. Renan langsung masuk karena tahu kebiasaan Mey tidak mengunci kamarnya.


"Nanti malam kita periksakan kandunganmu. Sekretarisku sudah buat janji dengan dokter kandungan."


Mey hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi. Renan mendekat lalu mengecup kening Mey.


Mey tidak menghindar. Dia mulai menikmati kebiasaan baru Renan ini. Lalu Renan duduk bersama Mey di sofa.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah, tadi bareng mama"


"Mama datang?"


Mey mengangguk.


"Lalu dimana mama sekarang? Kenapa aku tidak melihat mobil mama di depan?"


"Mama bilang ingin pergi ke rumah temannya. Tadi mama bilang kakak mencarinya ke perkebunan. Kapan kakak ke sana? Bukankah kakak pergi ke luar kota?"


"Oh ... Aku mampir waktu itu," jawab Renan kikuk.


"Apa masih mual?" Renan mengalihkan pembicaraan.


"Sedikit. Jam berapa kita ke rumah sakit?"


"Jam tujuh," balas Renan sambil mengelus-elus perut Mey. Benar yang Kana katakan tadi, sikap Renan sangat manis karena dia sedang jatuh cinta kepada Mey.


*


Renan dan Mey sedang berjalan di parkiran rumah sakit setelah mereka selesai periksa. Wajah Renan terlihat sangat bahagia karena tadi dia bisa melihat anaknya yang masih di dalam perut Mey.


"Kamu lihat kan tadi Mey? Aku sudah tidak sabar menantikan kelahirannya." Renan sangat antusias. Tetapi Mey tidak mendengarkan kata-kata Renan, dia sedang tidak konsentrasi.


Mey terus melihat laki-laki muda yang menggandeng wanita paruh baya di depannya. Itu Ivan dan ibunya. Sepertinya Ivan sedang mengantarkan ibunya kontrol rutin.


"Ivan?" gumam Mey.


"Ada apa Mey?" Renan tidak begitu memperhatikan karena sejak tadi dia terus memandangi foto hasil usg di tangannya. Renan tidak begitu mendengar yang dikatakan Mey. Lalu dia menoleh kepada Mey. "Kamu tadi bilang apa?"


"Tante Dewi, apa kabar?" Mey menyapa dengan sopan. Dia bahkan mengacuhkan Renan yang sejak tadi berbicara kepadanya.


"Beruntung ibu tidak jadi mempunyai menantu seperti dia! Wanita yang memilih uang di atas segalanya sudah pasti bukan wanita baik-baik!" Dewi langsung menyindir Mey begitu tatapan mereka bertemu.

__ADS_1


"Ibu bicara apa? Jangan bicara sembarangan!" Ivan menahan ibunya. "Mey kamu disini juga?" Ivan terus memandangi Mey. Tidak bisa dipungkiri, dia masih menyimpan perasaan kepada Mey. "Apa kamu sakit?"


"Bukan urusanmu!" jawab Renan dingin. Matanya langsung memancarkan amarah begitu melihat Ivan. "Ayo kita pulang Mey." Renan menarik tangan Mey tetapi sepertinya Mey masih ingin melihat Ivan.


"Kak ... " Meylan menahan Renan agar tidak emosi. Terakhir kali dia bertemu Ivan dia langsung memukulinya.


"Sudahlah Ivan, kamu tidak usah berurusan dengan perempuan itu lagi. Masih banyak perempuan di luar sana yang mau menerimamu apa adanya. Perempuan yang tidak menjual cintanya demi uang!" Dewi terus menyindir Mey.


"Ayo kita pergi!" Dewi berusaha menarik tangan Ivan menjauh tetapi pandangan Ivan tidak bisa terlepas dari Mey.


"Jaga matamu! Dia istriku!"


"Pantas mereka berjodoh. Laki-lakinya arogan dan perempuannya murahan," sindir Dewi lagi.


"Bu ... " Ivan mencegah Dewi untuk berbicara lagi. Bahkan Ivan pun tidak bisa terima mendengar kata-kata ibunya.


Mata Mey berkaca-kaca. Bukan karena kata-kata Dewi, tetapi karena perubahan sikapnya. Dia tidak menyangka Dewi bisa sangat membencinya padahal dulu dia sangat baik padanya.


"Jaga mulut anda nyonya!" bentak Renan.


"Maaf, maafkan kata-kata ibuku. Mey, maafkan ibu. Kamu kenal ibu, dia tidak serius dengan kata-katanya."


Mey mengangguk lalu pergi, demikian juga Ivan dan ibunya.


Di dalam mobil Renan terlihat sangat gusar. Dia tahu Mey belum bisa melupakan kekasihnya itu. Keduanya sama-sama diam larut dengan pikiran masing-masing.


"Kak ... "


"Hmmm ... "


"Kamu marah?"


"Tidak!"


"Aku ... "


"Katakan Mey, kamu ingin bicara apa?!" Renan tidak sabar. Dia melirik Mey dari sudut matanya dan melihat wajah Mey pucat. Renan pikir itu karena Mey takut dia memukuli laki-laki itu lagi.


"Aku lapar."


Renan baru ingat mereka belum makan malam. Tadi mereka berangkat ke rumah sakit sebelum sebelum jam tujuh dan sekarang sudah jam sembilan malam.


"Astaga ....!!! Kamu baik-baik saja? Tahan sebentar ya, kita cari restoran terdekat." Hilang rasa gusar Renan berganti dengan rasa khawatir.


"Aku ingin makan bakso."


"Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2