
Sudah tiga hari Mey mengurung diri di dalam kamarnya. Hari ini Mey memaksakan dirinya bangun. Dia akan menemui Kana untuk meminta maaf padanya. Sebenarnya dia merasa tidak enak karena sudah meninggalkan pekerjaannya di perusahaan, tetapi Mey seperti kehilangan rasa percaya dirinya setelah kejadian malam itu.
Mey sudah selesai mandi dan sekarang berdiri di depan cermin. Meskipun dia sudah mandi berkali-kali, tetap saja dia merasa tubuhnya kotor. Masih ada bekas cakaran Renan di dadanya saat pria itu menarik bra nya dengan paksa. Perbuatan Renan benar-benar sudah menghancurkan harga dirinya.
Mey sudah akan keluar ketika tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
"Meylan sayang ... Boleh mama masuk?" Suara Kana lembut dari balik pintu.
Mey kaget, tidak menyangka Kana mengunjunginya. Lalu Mey membukakan pintu untuk Kana.
"Masuk Ma," ucap Mey setelah dia mencium pipi mertuanya. Kana langsung masuk dan duduk di sofa di dalam kamar Mey.
"Bi Susi bilang kamu nggak enak badan. Jadi Mama ingin lihat keadaan kamu. Apa yang kamu rasakan? Apa perlu Mama panggilkan dokter?"
"Nggak usah Ma ... Aku nggak apa-apa, sudah baikan kok," jawab Mey buru-buru.
"Kamu kenapa sayang? Mama kan sudah bilang, kalau ada masalah kamu bisa cerita sama Mama atau papa."
Mey hanya menunduk. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang sudah Renan lakukan padanya. Itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Renan tidak salah, sudah menjadi haknya untuk menikmati tubuh Mey, hanya caranya yang salah.
"Mama tahu, hubunganmu dan Renan tidak berjalan baik. Mama bisa mengerti itu. Mama tidak akan menyalahkan kamu." Kana mengetahui Renan dan Mey tidur terpisah, tetapi dia tidak ingin membahasnya. Kana sadar dengan sifat Renan yang seperti itu, tidak mungkin mereka bisa dekat dalam waktu yang singkat.
"Aku ingin minta maaf sama Mama. Maafkan aku belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mama dan papa." Mey semakin menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat tidak enak hati dengan Kana.
"Aku sudah tidak kuat Ma ... Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi bersama kak Renan." Mey mulai terisak. "Mama boleh memintaku melakukan apa saja asal jangan memaksa aku tinggal lebih lama lagi bersama kakak." Mey turun dari duduknya dan bersimpuh depan Kana. Dia merasa bersalah karena telah gagal menjadi anak sekaligus menantu yang baik.
"Mungkin mama akan menyebutku sebagai anak yang tidak tahu balas budi, tetapi aku benar-benar sudah tidak kuat menghadapi sikap kakak. Aku mohon maafkan aku Ma ..."
Kana menarik tubuh Mey kembali ke sofa. Dia tidak tega melihat Mey yang sepertinya sangat terluka. Meskipun Kana tidak merawat Mey secara langsung tetapi dia tahu anak asuhnya ini bukan gadis cengeng dan lemah.
__ADS_1
Kana juga paham betul bagaimana sifat Renan sekarang. Dia sangat kasar dan tidak peduli perasaan orang. Jadi Kana menduga kalau Mey sampai seperti ini, pasti yang Renan lakukan kepadanya sudah kelewat batas.
"Mama yang seharusnya minta maaf padamu. Maafkan Mama sudah memaksamu untuk menikah dengan Renan. Mama minta maaf atas apa yang sudah dia lakukan padamu, apapun itu." Mey semakin merasa bersalah. Kana sangat baik, dia bahkan meminta maaf atas sikap Renan padanya.
"Kamu boleh meminta apa saja dari Mama, tetapi jangan minta untuk berpisah dari Renan. Mama tidak bisa mengabulkan itu. Renan dulu anak baik, kamu juga mengenalnya. Mama yakin dia bisa seperti dulu lagi. Tolong beri dia kesempatan."
Mey tidak bisa berkata-kata. Dia mengusap air matanya.
"Untuk sementara aku ingin kembali tinggal di apartemen Ma, aku ingin memikirkan lagi semua ini."
Dengan berat hati Kana mengangguk. "Mama ijinkan ... Mungkin kamu hanya butuh waktu untuk sendiri. Tetapi Mama tidak rela kalau sampai kamu ingin berpisah dari Renan. Kamu satu-satunya harapan mama agar dia bisa kembali seperti dulu."
Sebenarnya Mey masih memendam pertanyaan dalam hatinya, kenapa harus dia yang menjadi harapan mereka, tetapi dia tidak berani menanyakannya.
Mungkin yang dikatakan Kana ada benarnya, Mey hanya butuh waktu sendiri untuk mengatur perasaan dan pikirannya.
"Sepertinya nggak perlu Ma ... kakak nggak akan peduli aku tinggal dimana."
"Mama tetap harus memberitahu dia," balas Kana sambil membelai rambut panjang Mey.
*
Kana berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Renan. Sejak bertemu Mey tadi dia sangat geram kepada anak satu-satunya itu. Kana yang terkenal ramah itu bahkan sampai tidak membalas sapaan dari Dito dan pegawai lainnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Ren?!" ucap Kana begitu masuk ke ruangan Renan.
Renan kaget melihat mamanya tiba-tiba muncul tetapi tetap bersikap dingin seperti biasanya.
"Apa maksud Mama?" tanya Renan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan sampai dia tidak ingin tinggal bersamamu lagi? Dia bilang dia akan tinggal di apartemennya. Kenapa dia terlihat sangat trauma denganmu?"
Renan tertegun mendengar kata-kata Kana. Memang setelah kejadian malam itu dia belum melihat wajah Mey lagi.
"Memangnya apa yang mama harapkan? Aku memperlakukan dia seperti ratu?" Renan berdecih. "Perempuan yang menikah karena harta!"
Sebenarnya Renan sudah mulai merasa bersalah sejak mengetahui jika dia adalah laki-laki pertama yang menyentuh Mey, tetapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Apa kamu sudah benar-benar buta? Apa hatimu tidak bisa membedakan mana perempuan baik-baik mana perempuan murahan seperti yang sering kamu sebutkan?! Kenapa pikiranmu jadi sempit seperti ini?!" Kana terlihat sangat emosi.
Renan masih enggan menatap wajah sang mama. Dia lebih memilih fokus dengan pekerjaannya dan membiarkan Kana menghakiminya.
"Mama dan papamu memilih dia untuk jadi istrimu pasti ada alasannya! Kami sudah memikirkan semuanya!"
"Oh ya ... ?" Renan berdiri dan menatap Kana. Dia seperti sedang menantang mamanya itu. "Kenapa mama terus membela dia? Sebenarnya anak mama itu aku atau dia???
"Kalau sekarang mama disuruh memilih kamu atau Mey, pasti mama akan memilih Mey untuk menjadi anak mama! Mama tidak pernah melahirkan laki-laki tidak berperasaan seperti kamu!"
"Apa yang sudah perempuan murahan lakukan sehingga kalian memilih dia???!"
"Plakkk !!!" Kana menampar Renan tetapi dia hanya tersenyum.
"Lihat yang mama lakukan! Mama menampar anak mama sendiri demi membela perempuan murahan itu!" Kana mundur beberapa langkah setelah sadar dia baru saja menampar Renan.
"Berhenti menyebut dia perempuan murahan! Kamu tidak tahu apa-apa soal Meylan, jadi jangan bicara sembarangan! Kamu mau tahu siapa perempuan murahan di sini?! Mama lah perempuan murahan itu!!!" Kana seperti tidak sadar apa yang baru dia katakan.
"Apa maksud mama?"
"Bukan apa-apa ... Lupakan!" Kana segera pergi tanpa menjawab rasa penasaran Renan.
__ADS_1