
"Aku seperti mempunyai tujuan hidup lagi. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik demi anakku nanti. Aku ingin berubah."
Dito kasihan melihat sahabatnya seperti ini. Bahkan dulu ketika dia mengetahui kekasihnya berkhianat dan kabur dengan lelaki lain dia tidak sedih seperti ini. Waktu itu dia hanya terlihat marah dan dendam di wajah Renan.
"Tetapi Mey tidak menginginkan anak itu hanya karena dia darah dagingku. Apa aku seburuk itu?"
"Kamu sedang menuai apa yang kamu tanam Ren."
Renan terdiam.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"
"Tidak ada."
"Aku akan menjenguk dia setelah ini. Tidak masalah kan?"
Renan mengangguk. "Siapa tahu dia mau bicara denganmu."
"Aku tidak yakin itu. Kamu tahu dia sangat tertutup."
"Apa dia selalu seperti itu? Dia tidak punya teman atau seseorang yang biasa dia ajak bicara?"
Dito hanya mengangkat bahunya. "Tidak ada yang tahu kehidupan pribadi Mey. Dia jarang pergi keluar, selesai kerja dia langsung pulang. Dia juga jarang ikut bergabung jika ada acara di kantor. Dia memang ramah, tetapi dia seperti memiliki tembok agar orang tidak mendekatinya."
"Laki-laki itu pasti sangat istimewa sampai bisa menjadi kekasihnya," gumam Renan.
*
Renan sudah kembali ke rumah sakit beserta Dito yang mengekor di belakangnya. Mereka langsung menuju ruangan Mey di rawat.
Bi Susi dan Mey menoleh bersamaan ketika Renan dan Dito masuk ke dalam ruangan.
"Hai Mey ... " sapa Dito sambil berjalan mendekati tempat Mey berbaring. Mey tidak menjawab.
"Bi Susi boleh pulang," ucap Renan kepada Bi Susi.
"Permisi Tuan." Bi Susi berjalan meninggalkan ruangan.
"Kamu tunggu di sini, aku ada perlu sebentar," ucap Renan kepada Dito. Renan pergi mengejar Bi Susi.
"Tunggu Bi ... Aku ingin bicara dengan bibi." Renan mengajak Bi Susi duduk di kursi panjang di koridor rumah sakit.
"Ada apa Tuan?"
"Apa yang bibi ketahui tentang Mey? Keluarganya atau masa kecilnya?"
Bi Susi terlihat salah tingkah. " Tanya sama Nyonya aja Tuan. Kan nyonya yang lebih tahu siapa Non Mey.
"Katakan yang bibi ketahui saja."
"Oh ... Setahu bibi, sebelumnya Non Meylan punya ibu tetapi maaf ... sepertinya ibu Non Meylan tinggal di rumah sakit jiwa hingga akhirnya meninggal. Kalau soal ayahnya bibi tidak tahu."
Renan tertegun mendengar cerita bi Susi. Dia tidak pernah tahu soal hal ini. Yang dia ingat, mamanya sering mengajak pulang seorang gadis kecil saat liburan sekolah. Renan tidak pernah menanyakan siapa gadis kecil itu dan langsung menganggapnya sebagai adik.
"Mungkin karena itu juga Non Mey sangat tertutup orangnya."
__ADS_1
"Begitu ya ... Apa bibi tahu yang lainnya?"
"Tidak Tuan. Kalau mau tahu lebih banyak sebaiknya tuan bertanya langsung saja sama Nyonya."
"Nanti aku akan bertanya sama mama, tunggu waktunya tepat. Apa tadi dia mau makan?" Renan mengalihkan pembicaraan.
"Mau, tetapi cuma sedikit Tuan."
"Apa dia juga mau bicara?"
Bi Susi mengangguk.
"Apa dia membicarakan aku?"
"Tadi Non Mey sempat bilang kalau dia kecewa karena Tuan Renan menginginkan anaknya, tetapi tidak menginginkan Non Meylan."
"Begitu? Ya sudah, terimakasih." Renan hendak kembali ke kamar Mey.
"Sama satu lagi Tuan ... "
Renan menghentikan langkahnya. "Apa Bi?"
"Tadi Non Mey minta konsultasi sama psikolog."
Renan mengangguk. "Terimakasih." Dia berbalik lalu menyunggingkan senyum kecil di wajahnya.
Mey menemui psikolog berarti dia sadar ada yang salah dengan dirinya, berarti masih ada keinginan untuk sembuh.
Renan melanjutkan langkahnya.
Sampai di kamar Renan melihat Mey sedang bicara dengan Dito dan melihat sesekali Mey tersenyum.
Aku juga menginginkan kamu Mey, bukan hanya anakmu! batin Renan.
Setelah dua hari menginap di rumah sakit akhirnya Mey diijinkan pulang.
"Kamu istirahatlah. Jangan memikirkan macam-macam," ucap Renan. "Kalau kamu ingin sesuatu bilang kepadaku, tidak usah ragu-ragu."
Mey mengangguk.
Setelah berkonsultasi kepada psikolog Mey merasa lebih baik. Dia sudah bisa mengatur emosinya dan mengurangi pikiran-pikiran negatif yang bisa memicu kecemasannya.
Selama di rumah sakit Mey bisa melihat betapa Renan tulus memperhatikan dia. Dia selalu menemaninya sepulang kerja, bahkan Mey sudah mengacuhkannya pun dia tetap bertahan. Dan itu membuat mulai simpati.
"Kamu ingin makan apa untuk makan malam nanti?" tanya Renan dengan lembut.
Mey hanya mengangkat bahunya.
"Baiklah."
Renan senang akhirnya Mey mau membalas kata-katanya meski hanya melalui bahasa isyarat seperti mengangguk atau menggeleng. Itu sudah lebih baik daripada dia tidak merespon sama sekali.
*
Pagi harinya Mey sudah siap di meja makan dengan pakaian rapi.
__ADS_1
"Kamu akan pergi bekerja?" tanya Renan.
Mey mengangguk.
"Bukannya aku melarangmu Mey, tetapi aku tidak ingin kamu kelelahan."
"Aku baik-baik saja."
Renan memperhatikan Mey yang memang terlihat sudah segar seperti biasanya. Wajahnya sudah tidak pucat dan dia juga sudah terlihat sehat.
"Ya sudah, tetapi jangan kecapekan. Kalau sudah merasa pusing langsung istirahat." Renan sudah mulai posesif.
Dalam hati Mey tersenyum. Dia senang melihat perhatian Renan kepadanya.
Saat akan menyantap makanannya Mey melihat Renan terlebih dahulu. Pria itu mengangguk " Tidak apa-apa, tidak akan muntah... Makanlah."
Barulah Mey mulai makan. Sekarang itu seperti sebuah kebiasaan. Mey tidak berani makan jika Renan belum berkata demikian.
Baru beberapa suap Mey sudah berhenti makan.
"Kenapa tidak dihabiskan?"
"Sudah ... Aku sudah kenyang." Mey lalu meminum susu hamil yang sudah disiapkan bi Susi.
"Ya sudah ... " Renan tidak memaksa. "Jangan lupa minum vitamin mu," ucap Renan lagi. "Bi tolong ambilkan vitaminnya."
"Baik Tuan."
Perhatian-perhatian kecil dari Renan ini perlahan membuat hati Mey tersentuh. Benar yang dikatakan Bi Susi. Renan sudah berubah. Dia jadi lebih banyak bicara dan juga lebih hangat.
Tak lama Bi Susi datang membawa vitamin yang Renan minta. Mey segera meminum vitaminnya.
"Kita berangkat sekarang," ucap Mey setelah selesai minum.
"Setiap hari kita akan berangkat dan pulang bersama."
Mey mengangguk.
"Kalau kamu ingin sesuatu atau ingin pergi ke suatu tempat katakan saja."
"Kamu sudah mengatakan itu ratusan kali," balas Mey datar.
Renan tersenyum. Ini pertama kalinya Mey melihat Renan tersenyum dan Mey menatapnya tanpa berkedip.
"Apa ada yang salah?" Renan salah tingkah. Dia sadar sudah lama sekali dia tidak tersenyum di depan orang.
Mey yang juga salah tingkah lalu mengalihkan perhatiannya.
"Sebentar Non ... "
Bi Susi berlari ke dapur lalu kembali sambil membawa kotak makanan.
"Ini saya sudah siapkan bekal untuk Non Meylan." Mey mengernyit. Tidak biasanya dia pergi bekerja membawa bekal.
"Tadi Tuan yang minta," imbuh bi Susi.
__ADS_1
Mey menoleh ke arah Renan.
"Kamu harus makan makanan yang sehat dan bergizi," terangnya.