Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Penyelidikan 2


__ADS_3

May tidak bisa tidur. Air matanya terus mengalir memikirkan kata-kata Renan tadi. Mey membenci dirinya sendiri karena selama hamil dia menjadi sensitif dan lemah.


Bukannya dia tidak menjaga kesehatannya, tetapi memang kehamilannya mempengaruhi kondisi tubuhnya. Dulu dia tidak makan seharian pun tidak akan merasa pusing. Bekerja dari pagi sampai malam pun dia tidak akan kelelahan.


Tetapi sekarang, kadang dia merasa pusing tanpa tahu sebabnya, lemas dan keringat dingin hanya karena berdiri terlalu lama dan banyak hal yang membuat Mey tidak menyukai masa kehamilannya. Dan Renan menganggap semua itu terjadi karena Mey tidak mau menjaga kesehatannya.


Sementara itu, Renan bukannya tidak mengerti kesulitan yang dirasakan Mey. Perubahan hormon akan membuat kondisi fisik dan psikis ibu hamil mengalami perubahan. Renan sudah mengetahui itu semua dari penjelasan dokter. Dia hanya sedang kesal karena Mey bertemu Ivan tetapi Renan tidak bisa mengungkapkan kekesalannya.


Kesalahpahaman membuat hubungan Renan dan Mey yang tadinya mulai dekat kembali menjauh.


Pagi harinya Mey merasa sudah lebih baik meski wajahnya masih pucat. Dia sudah siap-siap untuk pergi bekerja karena tidak ingin Renan beranggapan dia hanya bermalas-malasan.


"Non ... " Bi Susi mengetuk pintu kamar Mey.


"Ada apa bi?" Mey bergegas membuka pintu.


"Sarapan sudah siap. Non Meylan mau sarapan di bawah atau bibi antar makanannya ke kamar?"


"Aku makan di bawah saja Bi."


"Baiklah." Bi Susi melihat Mey sudah rapi. "Memangnya Non Meylan mau berangkat kerja? Itu wajahnya masih pucat."


"Aku sudah tidak apa-apa Bi, nanti bisa ditutup dengan make up."


"Nanti kalau tiba-tiba pusing lagi gimana Non?"


"Bibi tenang saja. Aku akan turun sebentar lagi." Mey tersenyum kepada Bi Susi lalu menutup pintu kamarnya.


Tidak berapa lama Mey turun ke ruang makan di susul Renan. Keduanya sama-sama diam. Selama makan pun tidak ada yang berbicara. Suasananya dingin sama seperti dulu di awal pernikahan mereka.


Setelah selesai makan Mey langsung mengambil kunci mobilnya dan akan berangkat ke perusahaan sendirian. Dia tidak ingin satu mobil dengan Renan karena masih sakit hati atas perkataannya semalam.


"Kamu ingin mengendarai mobil sendiri agar bisa lebih leluasa bertemu laki-laki itu?" hardik Renan.


"Apa maksudmu?" Mey sedang malas berdebat dengan Renan jadi dia terus berjalan melewati Renan.

__ADS_1


"Silahkan saja. Kamu boleh pergi dan kembali kepada laki-laki itu setelah melahirkan anakku. Aku tidak akan melarang!"


Mey menghentikan langkahnya. "Apa hanya itu yang ada di otakmu?! Apa aku seburuk itu di matamu?! Kamu hanya menginginkan anakmu bukan? Jadi aku akan pergi kemanapun kamu tidak akan peduli karena aku tidak ada artinya bagimu! Begitukah?!" Mey meninggalkan Renan dengan perasaan marah.


Renan tidak bisa berkata-kata. Dia ingin menyangkal semua yang dikatakan Mey tetapi rasa gengsi menghalanginya.


Akhirnya Mey dan Renan berangkat ke perusahaan dengan mobil sendiri-sendiri.


*


Sejak datang tadi Renan sudah uring-uringan. Semua yang dilakukan pegawainya terlihat salah di matanya.


"Permisi Tuan ... ada tamu ingin bertemu dengan Tuan Renan." Sekretaris Renan bicara dengan ragu. "Katanya penting, soal penyelidikan." Sekretaris Renan kembali masuk ke ruangan Renan.


Renan berpikir sejenak. "Suruh masuk!"


Malam itu karena Renan tidak bisa bertemu mamanya, maka dia meminta orang untuk menyelidiki hubungan Kana dan Sarah.


"Saya membawa hasil penyelidikan yang Tuan minta," ucap orang itu sambil meletakkan beberapa dokumen ke meja Renan.


"Kana dan Sarah adalah sahabat. Mereka sudah lama sekali berteman. Kemudian Sarah menikah dengan Kusuma. Tetapi baru beberapa bulan menikah Sarah mengetahui jika Kusuma dan Kana menjalin hubungan gelap." Orang itu memulai laporannya.


"Sarah sakit hati lalu menceraikan Kusuma. Setelah bercerai dari Sarah, Kusuma dan Kana menikah dan melahirkan seorang anak laki-laki. Anda tahu siapa anak laki-laki yang saya maksud." Renan tahu dialah anak laki-laki itu. Dia diam dan fokus mendengarkan.


"Sementara itu Sarah butuh waktu cukup lama untuk bisa melupakan pengkhianatan Kusuma dan Kana. Beberapa tahun kemudian Sarah baru menemukan pendamping. Tetapi hubungan Sarah dan suaminya tidak berjalan baik karena Sarah belum bisa melupakan pengkhianatan Kusuma dan Kana."


"Sarah mengalami depresi hingga dia sering keluar masuk rumah sakit jiwa. Suaminya lelah menghadapi Sarah yang masih belum bisa move on. Dia memilih pergi meninggalkan Sarah dan anak perempuannya."


"Itu ada beberapa foto masa lalu mereka. Ada foto Sarah dan Kana ketika mereka masih bersahabat. Kemudian ada foto pernikahan Sarah dan Kusuma, tentu saja itu sebelum papa anda menikah dengan mama Anda Tuan."


Renan terus memandangi foto-foto itu. Perasaannya semakin campur aduk. Sekarang Renan mengerti kenapa waktu itu Kana mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan murahan. Rupanya mamanya telah tega merebut suami sahabatnya sendiri.


"Bisa dibilang, orang tuaku adalah penyebab hancurnya hidup Sarah?"


"Maaf Tuan, tetapi sepertinya itu yang terjadi. Hari-hari terakhir Sarah di habiskan di rumah sakit jiwa hingga dia lupa dengan anak perempuannya."

__ADS_1


Meylan yang malang, Renan baru mengetahui kisah hidup Mey dan merasa bersalah karenanya.


"Kamu selidiki ayah Mey. Apa dia masih hidup, tinggal dimana semuanya tentang dia!"


Orang itu mengangguk. "Baik Tuan. Ada lagi?"


"Sudah. Kamu boleh pergi!"


"Permisi Tuan."


Berulang kali Renan membaca dokumen yang tadi dibawa oleh orang suruhannya, berharap itu semua salah. Tetapi foto-foto di tangannya membuktikan sebaliknya. Kusuma dan Sarah pernah menikah.


Renan sudah mengetahui asal-usul Mey, tetapi itu belum bisa menjawab kenapa orang tuanya memaksanya menikah dengan Mey jika merekalah yang menghancurkan hidup ibunya Mey.


Renan terus melihat foto-foto itu secara bergantian. Ada dua wanita muda, yang satu dia kenal dengan pasti, Kana mamanya. Sementara wanita yang satunya nampak familiar karena wajahnya sama persis dengan Mey, yaitu Sarah.


Renan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Meylan jika dia sampai mengetahui semua ini.


"Kenapa ngelamun?" Tiba-tiba Dito muncul di ruangan Renan.


Renan buru-buru menyembunyikan dokumen-dokumen dan foto yang sejak tadi dia pegang.


"Dokumen penting?" Dito bertanya karena melihat tingkah Renan begitu buru-buru.


"Bukan apa-apa."


"Ayo makan siang," ajak Dito.


"Kamu makan sendiri saja. Aku ingin makan bersama Mey," ketus Renan.


Tiba-tiba Renan ingin menghabiskan waktu bersama Mey. Setelah mendengar apa yang sudah dia lalui Renan merasa ingin berbuat baik kepadanya. Renan merasa bersalah atas sikapnya semalam dan juga pagi tadi. Dia ingin membuat Mey bahagia.


"Hati-hati Ren ... Awas bucin," ledek Dito.


"Sebaiknya kamu cari pasangan agar kamu tahu apa itu bucin!" balas Renan.

__ADS_1


__ADS_2