Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Pusing


__ADS_3

Meylan kembali duduk di kursinya. Dia masih gemetar meski Renan sudah tidak ada di depannya.


"Kamu tidak boleh lemah!" gumam Mey.


Disaat yang bersamaan Mey mendapat telepon dari sekretaris Renan yang memintanya menemui sang bos untuk memberikan laporan keuangan.


Mey berdiri dan menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa ke ruangan Renan. Sampai di depan ruangan Renan, Mey berdiri cukup lama. Dia mengambil nafas dalam-dalam untuk membuang rasa gugupnya.


Mey mengetuk pintu kemudian masuk. "Selamat pagi Tuan," sapa Mey berusaha senormal mungkin.


Renan tidak menjawab. Dia hanya diam dan menatap Mey. Tetapi ada yang berbeda dengan tatapan Renan. Dia sudah tidak menunjukkan kebencian seperti sebelumnya.


Mey mendekat ke meja Renan lalu meletakkan berkas yang dia bawa.


"Ini laporan keuangan selama seminggu." Tanpa diminta Mey segera menjelaskan rinciannya. Renan tidak bisa fokus dengan laporan itu. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke wajah Mey.


Dia cantik dan pintar, kenapa aku baru menyadarinya? batin Renan.


"Ada yang ingin Tuan tanyakan?" Mey menutup laporannya.


Renan menggelengkan kepalanya. Mey pun pergi dari ruangan Renan karena dia anggap laporannya sudah beres.


Mey langsung meneteskan air mata begitu masuk ke dalam ruangannya. Setidaknya dia ingin Renan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan tetapi pria itu diam saja. Ini bukan hal sepele bagi Mey.


Mey menghapus air matanya lalu kembali bekerja. Hingga makan siang pun dia tidak keluar dari ruangannya. Dia memilih memesan makanan daripada harus keluar dari zona nyamannya saat ini. Selain itu, ini adalah salah cara agar dia bisa menghindari Renan karena saat ini dia sangat membencinya.


Sementara itu Renan melamun di ruangannya setelah kepergian Mey. Dia bingung bagaimana bersikap di depan Mey. Sebenarnya dia ingin minta maaf tetapi sulit sekali kata itu keluar dari bibirnya. Dia yang terbiasa bersikap seenaknya merasa gengsi kalau harus minta maaf meskipun dia yang salah.


......................


Dua minggu sudah Meylan tinggal di apartemen. Pagi ini dia merasa sangat malas dan kepalanya juga terasa pusing. Mey ingin sekali absen tetapi dia ingat hari ini ada laporan penting yang harus dia kerjakan. Mey memaksakan dirinya bangun lalu ke kamar mandi. Sampai kamar mandi Mey merasa mual dan ingin muntah.

__ADS_1


Setelah selesai mandi Mey bersiap-siap. Dia melihat ke depan cermin dan merasa wajahnya sedikit pucat. Mey mulai merasa khawatir. Lalu dia mengingat-ingat kapan terkahir dia datang bulan. Mey sadar yang dia rasakan sekarang seperti tanda-tanda kehamilan. Wajah Mey semakin pucat setelah dia melihat kalender. Ternyata dia sudah telat.


Mey berusaha berpikir jernih. Mungkin dia stress memikirkan yang sudah terjadi dan itu berpengaruh terhadap siklus bulanannya. Mey segera berangkat ke kantor agar tidak terus memikirkan hal itu.


Sampai di kantor Mey langsung disibukkan dengan pekerjaannya seperti biasa hingga tidak terasa sudah jam makan siang.


"Ayo makan dulu Mey," Dito menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Mey mendongak, mengalihkan perhatiannya dari komputer dan menatap Dito.


"Duluan aja, aku akan makan di sini. Aku sudah pesan makanan." Dito masuk ke ruangan Mey dan mengurungkan niatnya untuk makan siang di luar.


"Pesankan aku makanan juga. Aku akan menemanimu makan di sini." Dito duduk di kursi depan meja Meylan.


Alis Mey mengkerut. "Kamu tidak makan siang bersama bos mu?"


Ada yang aneh dari cara Mey menyebut Renan. Biasanya dia menyebutnya kakak, bukan bos. Dari sini Dito sudah mulai curiga.


Mata Mey kembali ke layar komputer setelah mendengar jawaban dari Dito.


"Kamu kenapa Mey? Kita tidak pernah makan siang bareng lagi. Kamu lebih sering mengurung diri di ruanganmu ini. Ngap tau?" Dito mencoba berbasa-basi.


"Tidak apa-apa, aku harus mengejar deadline. Kamu tahu kan aku cukup lama absen?"


"Kamu tidak perlu bohong padaku Mey. Apa Renan melakukan sesuatu padamu? Apa dia mengancam mu?"


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa. Tidak perlu mengkhawatirkan aku." Mey tidak bisa menceritakan kepada Dito apa yang sudah terjadi.


"Terserah kamu Mey. Kalau kamu punya masalah sebaiknya kamu cerita kepada seseorang. Tidak harus aku, kamu bisa cerita kepada orang yang kamu percaya. Jangan dipendam sendiri."


Dito tahu Mey adalah pribadi yang tertutup. Dari luar dia terlihat baik-baik saja dan tetap terlihat ceria, tetapi soal hati dia bisa menyembunyikannya rapat-rapat.

__ADS_1


Makanan datang. Mey dan Dito langsung melahap makanan yang sudah mereka pesan. Dito memperhatikan Mey yang sudah berubah. Biasanya saat makan begini, Mey lebih banyak bicara. Tetapi sekarang dia lebih banyak diam dan cenderung murung.


Di sela-sela makan, tiba-tiba Mey kembali merasa mual dan ingin muntah. Dia langsung berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Tak lama Mey kembali lagi ke ruangannya dengan wajah pucat dan keringat yang bercucuran.


"Kamu tidak apa-apa Mey?" Dito terlihat khawatir. Dia segera membersihkan meja sampah bekas makanan mereka.


"Aku tidak apa-apa, mungkin masuk angin. Kalau kamu sudah selesai makan kamu boleh pergi. Aku ingin istirahat sebentar," jawab Mey yang terlihat lemas.


"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu sakit Mey. Wajahmu pucat begitu. Biar aku panggilkan Renan."


Mey tersenyum sinis mendengar Dito menyebut nama Renan. "Apa gunanya memanggil dia? Pergilah Aku ingin memejamkan mata sebentar. Mumpung masih jam istirahat."


Dito membiarkan Mey sendiri. Dia akan memberi tahu Renan nanti jika dia sudah kembali.


Renan kembali ke kantornya saat jam kantor selesai dan pegawai-pegawainya mau pulang. Dia berjalan menuju ke ruangannya tapi di tengah jalan berpapasan dengan Dito.


"Ke ruanganku! Aku ada perlu denganmu," ucap Renan sambil terus berjalan.


"Sebentar, aku mau melihat Mey dulu." Renan mengernyit mendengar jawaban Dito tetapi dia memutuskan terus berjalan ke ruangannya. Ada pekerjaan mendesak yang harus dia kerjakan.


Tak berapa lama Dito menyusul ke ruangannya. "Sepertinya Mey sakit, kamu tidak ingin melihatnya?"


"Jangan bicarakan dia! Bantu aku menyelesaikan pekerjaan ini kalau kamu ingin cepat pulang!" ucap Renan dingin.


"Astaga!!! Kamu suaminya Ren!!! Kalau kamu tidak menganggap dia sebagai istrimu setidaknya kamu menolongnya atas dasar kasihan ke pegawaimu!" Dito terlihat emosi. "Apa kamu juga sudah kehilangan rasa kemanusiaanmu?!"


Renan sedang tidak ingin berdebat. Dia mengambil handphone lalu menghubungi sopirnya.


"Sopir akan mengantarkan dia pulang. Sudah puas?!" ucap Renan setelah menutup teleponnya. "Sekarang bisakah kamu fokus ke pekerjaan?!"


Dito hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Renan. Kadang dia memang bertingkah sangat menyebalkan dan seperti orang yang tidak punya perasaan.

__ADS_1


__ADS_2