Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Penyelidikan 1


__ADS_3

Selama makan malam Renan terlihat murung. Mey bisa melihat jika Renan sedang memikirkan sesuatu.


"Mey ... Aku besok akan ke luar kota," ujar Renan sambil menikmati makan malamnya.


Mey tidak menjawab. Dalam hatinya dia merasa keberatan Renan akan pergi.


"Berapa lama?"


"Mungkin dua hari."


"Oh ... " hanya itu yang keluar dari bibir Mey.


"Aku berangkat besok pagi. Kamu pulang pergi ke kantor diantar sopir nanti."


"Aku ingin bawa mobil sendiri saja."


"Tidak! Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kamu pusing atau muntah?" Renan mode overprotektif.


"Baiklah," Mey tidak ingin berdebat.


Sebenarnya Renan akan kembali ke penginapan untuk menemui wanita tua yang kemarin mereka temui. Renan penasaran dengan cerita wanita tua itu. Selain itu Renan juga ingin berbicara empat mata dengan Kana.


Sampai sekarang dia belum menemukan jawaban kenapa mereka memilih Mey menjadi istrinya. Kenapa orang tuanya juga terlihat sangat menyayangi Mey, bahkan melebihi dirinya yang anak kandung mereka sendiri. Dan cerita wanita tua itu membuat Renan berpikir jika ada hubungan antara ibunya Mey dengan keluarganya.


"Aku akan ke kamar. Aku ingin istirahat." Mey pamit setelah keduanya selesai makan.


Renan mengangguk.


Di dalam kamar Mey tidak tahu ingin berbuat apa. Sebenarnya dia belum ngantuk, dia hanya ingin mendekam di dalam kamarnya.


Mey memainkan ponselnya hingga dia bosan kemudian dia membaca novel kesukaannya agar segera mengantuk tetapi tidak ada hasilnya. Mata Mey sulit untuk dipejamkan. Rasa gelisah selalu muncul setiap dia ingat cerita nenek tua di perkebunan itu. Mey sangat ingin mendengar cerita tentang ibunya.


Hampir jam dua malam Mey belum juga bisa tidur. Tidak ada pilihan lain, dia pergi ke kamar Renan. Sepertinya hanya pria itu yang bisa menolongnya.


Mey mengetuk pintu kamar Renan dengan ragu-ragu. Setelah beberapa saat Renan tidak juga membuka pintu. Mey sadar ini sudah hampir pagi dan Renan pasti tengah larut dalam mimpi. Apalagi tadi sore Renan terlihat sangat kecapekan.


Mey mengetuk sekali lagi jika setelah ini Renan tidak membukakan pintu maka dia akan kembali ke kamarnya dan mungkin tidak akan tidur sampai besok pagi.

__ADS_1


"Ada apa Mey? Kamu sakit tidak enak badan?" Renan panik saat membuka pintu dan melihat Mey berdiri di depannya.


"Aku tidak bisa tidur," balas Mey dengan wajah memelas.


"Masuklah ... "


Mey terlihat ragu. Dia melihat Renan hanya mengenakan celana pendek dan tanpa mengenakan kaos sehingga tubuh bagian atasnya terekspos sempurna.


"Tidak apa-apa. Aku tidak akan melakukan itu lagi." Renan meyakinkan Mey. Barulah Mey mau masuk.


"Ini jam berapa?" Renan melihat jam di nakas. "Ya Tuhan ... Sudah hampir pagi. Kenapa kamu tidak menyusulku sejak tadi?"


"Aku malu, nanti kamu pikir aku perempuan murahan dan kegatelan karena mendatangi kamar laki-laki," balas Mey datar. Sebenarnya dia malu karena mendatangi Renan ke kamarnya.


Renan tidak bisa berkata-kata.


Mey masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur Renan dan memejamkan matanya sambil tersenyum.


Renan heran melihat tingkah Mey. Dia terlihat sangat nyaman seperti sudah seminggu dia tidak bertemu kasur. Renan ikut berbaring di tempat tidur dan memiringkan tubuh menghadap Mey.


Mey meringkuk di dada bidang Renan dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya sepuasnya. Di tambah Renan tidak menggunakan atasan membuat hidung Mey bisa bersentuhan langsung dengan kulit Renan. Mey terbuai di buatnya. Dan dalam hitungan menit dia sudah terlelap.


*


Renan sedang menemani Mey sarapan.


"Nanti kalau kamu ingin makan telfon aku, biar aku temani." Renan sudah hapal kebiasaan Mey yang makan harus dia temani.


Dia mengenakan baju santai karena dia tidak akan berangkat ke perusahaan. Dia akan langsung ke luar kota seperti yang dia katakan kepada Mey. Padahal sebenarnya dia hanya akan pergi ke perkebunan.


Sebelumnya tidak lupa dia meminta ijin untuk mengelus-elus perut Mey karena dia akan meninggalkannya.


"Papa akan pergi sebentar, jangan nakal ya ... jaga Mama " ucap Renan sambil mengelus perut Mey.


Mey merasa risih karena ada Bi Susi dan pak sopir yang memperhatikan mereka tetapi Renan tidak peduli.


Renan memastikan Mey berangkat ke kantor setelah itu baru dia akan pergi.

__ADS_1


*


Renan sudah tiba di perkebunan. Sebelumnya Renan sudah meminta orang untuk mencari informasi tentang wanita tua itu. Dia sudah mengantongi nama dan alamat wanita tua itu dan sekarang dalam perjalanan menuju rumahnya.


Sampailah Renan di depan rumah kecil dan sederhana. Renan segera mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka.


"Selamat siang wan ... " Renan tidak melanjutkan kalimatnya karena teringat kata-kata Mey. "Selamat siang nek."


"Anak Muda, kamu anaknya tuan Kusuma yang waktu itu kan?" Ingatan nenek ini benar-benar tajam. Renan jadi yakin jika nenek ini belum pikun.


"Bisa bicara sebentar nek?" tanya Renan tanpa basa-basi.


"Duduklah tuan muda." Nenek itu mempersilahkan Renan duduk di teras rumahnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan? Dimana adikmu?"


"Langsung saja Nek, aku ingin bertanya tentang Sarah. Apa yang nenek ketahui tentang dia?" Renan mengeluarkan aura dinginnya.


"Bukankah dia ibumu nak? Kamu tidak tahu tentang ibumu?"


"Bukan, ibuku bernama Kana."


Wanita tua itu tertegun. "Kana sahabat nyonya Sarah?"


"Giliran Renan tertegun. "Nenek juga kenal ibuku?"


"Tentu saja, Kana adalah sahabatnya nyonya Sarah.


"Ceritakan lebih banyak lagi."


"Dulu Waktu nenek bekerja di villa, tempat itu ditinggali oleh Tuan Kusuma dan Nyonya Sarah. Mereka pengantin baru dan pasangan yang sangat serasi. Ibumu, Kana juga sering mengunjungi mereka."


"Nenek bekerja di sana tidak lama. Mungkin cuma sekitar enam bulan karena setelah itu baik nyonya sarah maupun tuan Kusuma lebih banyak di kota. Banyak pembantu yang diberhentikan termasuk nenek karena villa sudah tidak lagi ditinggali. Setelah itu nenek tidak tahu kabar mereka lagi."


Hanya sebatas itu informasi yang Renan dapat dari wanita tua itu. Tetapi itu berhasil membuat rasa penasaran yang lebih jauh lagi di benak Renan.


Apakah mamanya istri pertama Kusuma lalu sarah adalah istri ke-dua nya? Jika Sarah dan papanya menikah lebih dulu lalu kenapa umurnya lebih tua dari Mey. Jangan-jangan dia dan Mey adalah saudara seayah tapi beda ibu? Tetapi itu tidak mungkin.


Tidak mungkin orang tuanya memaksanya menikah dengan adiknya sendiri. Pasti ada jawaban lain. Jika villa itu milik Sarah lalu kenapa sekarang mamanya yang menempatinya? Begitu banyak tanya bermunculan di benak Renan. Dia harus segera ke villa dan menemui Kana untuk mencari tahu jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2