
"Ternyata kalian di sini ... Ayo makan dulu." Kana mengajak Renan dan Mey masuk.
"Hmm ...Mama masak apa? Sepertinya enak." Renan melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Berbeda dengan Renan, Mey sepertinya tidak berminat dengan makanan di depannya.
"Mey, cicipi makanan Mama ... Mama belajar memasak sejak tinggal di sini."
Lalu mereka bertiga duduk mengitari meja makan. Kana memperhatikan bagaimana Renan memperlakukan Mey. Dia masih terheran-heran dengan perubahan sikapnya. Tetapi Kana bahagia melihatnya.
Mey baru akan memasukkan makanan ke mulutnya lalu tiba-tiba dia merasa mual. Mey segera berlari ke wastafel di dapur yang letaknya paling dekat. Dan Renan pun berlari menyusul Mey.
"Kamu muntah lagi?" tanya Renan sambil memijit tengkuk Mey. "Kamu belum minum obat anti mual tadi."
"Meylan kenapa Ren?" Kana menyusul di belakang mereka.
"Nggak apa-apa Ma," jawab Renan sambil terus memijit tengkuk Mey.
"Apa mungkin masuk angin? Di sini udaranya dingin. Mama ambilkan minyak angin." Kana pergi untuk mengambil minyak angin tanpa menunggu penjelasan dari Renan ataupun Mey.
"Ini kamu oleskan ke tubuh Mey agar dia merasa hangat." Kana kembali dan menyodorkan minyak angin ke Renan.
"Maaf ya Ma ... aku merusak acara makan malam kita. Aku akan ke kamar. Kalian bisa melanjutkan makan."
"Perlu aku temani?" tanya Renan.
"Tidak aku sendiri saja."
"Nanti biar pembantu mengantarkan makanan ke kamarmu Mey."
Mey berjalan menuju kamarnya. Kamar yang dulu dia tempati jika di liburan di rumah ini.
"Mey, kamu mau kemana? Kamarmu di sebelah sana," ucap Kana sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan dituju Mey.
Mey tampak bingung.
"Kamu kan sekarang tidur di kamar Renan. Bukan di kamarmu yang dulu. Kamu lupa kalian sudah menikah?"
"Oh ... Iya Ma. Mey lupa." Mey berbalik dan berjalan menuju kamar yang dimaksud Kana, kamar Renan. Berarti selama dua malam dia akan tidur sekamar dengan Renan.
Ekspresi wajah Renan berubah setelah Mey tidak terlihat. Hilang sudah sikap hangat yang tadi dia perlihatkan di depan Mey. Barulah Kana sadar, Renan belum sepenuhnya berubah.
Selama makan Renan terus diam. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara, berbeda dengan tadi saat ada Mey di sampingnya.
"Apa Mey baik-baik saja?"
"Dia sedang hamil Ma," jawab Renan datar.
"Benarkah??? Kamu serius Ren???" Tidak ada jawaban dari Renan.
Kana terlihat sangat bahagia. "Mama mau jadi Oma."
"Kemarin dia sempat masuk rumah sakit karena gejala depresi. Jadi sekarang sebisa mungkin tidak ada yang menggangu pikirannya."
"Oh ... Begitukah? Kenapa kamu tidak memberitahu mama?"
"Aku sudah selesai. Aku ingin melihat Mey dulu." Renan berdiri dan pergi tanpa menjawab Kana. Ini adalah salah satu sifat menyebalkan dari Renan yang masih tersisa.
__ADS_1
"Ren ... Apa kamu masih marah sama Mama?" tanya Kana sebelum Renan melangkahkan kakinya.
"Akh seperti mengenal mama. Sampai aku tahu apa yang mama coba sembunyikan, aku akan tetap seperti ini!"
Renan berlalu menyusul Mey masuk ke dalam kamar.
"Kamu ingin makan apa?" Renan mendekati Mey yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Aku tidak ingin makan apa-apa. Kepalaku pusing."
"Tapi kamu harus makan Mey."
"Aku ingin minum susu hangat saja."
"Baiklah." Renan bergegas ke dapur dan membuatkan susu hangat untuk Mey.
"Biar saya saja Tuan," sela salah seorang pembantu di rumah itu.
Renan hanya mengibaskan tangannya pertanda dia tidak ingin di ganggu. Setelah itu Renan kembali ke kamar.
"Ini minum susunya."
Mey bangkit lalu meminum susu yang diberikan Renan.
"Terimakasih," ucap Mey setelah menghabiskan susu itu.
Setelah itu Renan mengganti bajunya dengan baju tidur lalu duduk di tempat tidur.
"Ren, kamu tidur di sini?" tanya Mey gugup.
"Tentu saja Mey. Ini kamarku."
"Tapi apa? Kamu istriku."
"Aku tidur di sofa saja." Mey hendak bangun dan pindah ke sofa. Tetapi kepalanya terasa sangat pusing saat dia akan bangun.
"Ah ... " Mey memegangi kepalanya.
"Tidurlah di sini. Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu!" tutur Renan lembut. Mey kembali berbaring diikuti Renan yang berbaring di sampingnya.
Mey memejamkan matanya. Mey bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Renan karena jarak mereka sangat dekat.
Aroma tubuh Renan membuat Mey merasa nyaman hingga tanpa sadar dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Renan. Renan memiringkan tubuhnya menghadap Mey.
Mey yang memejamkan matanya tidak sadar jika sejak tadi Renan memandanginya.
"Mey bolehkah aku mengelus-elus perutmu? Aku ingin berkenalan dengan anakku." Renan tahu Mey tidak tidur. Ini kesempatannya untuk mendekati Mey.
Mey mengangguk pelan.
Segera tangan Renan masuk ke bawah selimut dan mengelus perut Mey yang masih rata. Mey merasa sangat nyaman ditambah aroma tubuh Renan yang menenangkan membuat Mey akhirnya dia terlelap.
Renan terus memandangi wajah Mey. Dia mengecup bibir Mey pelan lalu tidur sambil memeluknya.
Pagi harinya Renan terbangun lebih dulu. Dia melihat Mey masih tertidur pulas dan tidak ingin membangunkannya. Renan segera mandi.
__ADS_1
Selesai mandi Renan melihat Mey sudah bangun.
"Mandi dulu Mey, setelah itu sarapan. Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan setelah itu."
Mey segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dia tampak semangat mendengar kata-kata Renan. Berkeliling tempat ini berarti dia akan menggali masa kecilnya selama tinggal di sini.
Selesai mandi keduanya langsung sarapan.
"Mey sayang ... Mama bahagia sekali mendengar kamu hamil. Selamat ya nak ... " Kana yang baru muncul langsung meluk Mey.
"Eh ... Iya ... Terima kasih Ma ... "
"Kalian mau pergi?" Kana melihat Renan dan Mey sudah berpakaian rapi.
"Iya Ma ... kami akan berkeliling perkebunan," Mey kembali menjawab sementara Renan tetap diam. "Mama mau ikut?"
"Tidak, Mama tiap hari di sini. Mama sudah hafal tempat ini. Tapi kamu harus makan dulu. Dari tadi malam kamu belum makan kan?"
Mey mengangguk. Pagi ini tidak ada drama mual dan muntah. Mungkin efek semalam Mey tidur dengan nyenyak. Sejak bangun tidur tubuhnya terasa segar dan sama sekali tidak merasakan pusing.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Renan setelah Mey menyelesaikan makannya.
Mey mengangguk. Sebelumnya Renan memastikan Mey sudah memakai pakaian hangat agar nanti tidak kedinginan karena mereka akan berkeliling menggunakan mobil Jeep.
"Ren, aku ingat ada kebun strawberry di sekitar sini. Apa kamu tahu tempatnya?" tanya Mey di dalam perjalanan.
"Aku tidak tahu. Memangnya kamu pernah ke kebun itu?"
"Tidak, dulu aku hanya melihatnya saat akan menuju ke villa. Kamu tahu kan Mama melarang aku keluar dari villa."
"Kamu ingin pergi ke kebun itu?"
"Iya."
"Baiklah ... Kita bisa bertanya kepada seseorang kalau begitu."
Renan menepikan mobilnya lalu berhenti.
"Aku akan bertanya kepada orang itu. Kamu tunggu di mobil saja."
"Aku ingin ikut."
"Baiklah ... " Renan membantu Mey turun dari mobil.
Lalu mereka berdua mendekati seorang wanita yang sudah cukup berumur yang sedang memetik daun teh.
"Permisi Nek ... " sapa Mey ramah. Dia tidak membiarkan Renan bicara karena tahu bagaimana sikap Renan. "Apa nenek tahu kebun strawberry di sekitar sini?"
Wanita itu mendongak dan menatap Mey. Untuk sesaat dia terus memandangi wajah Mey hingga lupa untuk menjawab pertanyaannya.
"Nek ... Apa nenek mendengarku?"
"Oh ... Kebun strawberry itu masih jauh." Lalu wanita itu menjelaskan jalan untuk menuju kebun Strawberry yang Mey maksud.
"Terimakasih Nek ... Permisi." Mey hendak pergi.
__ADS_1
"Tunggu anak cantik ... Apa kamu putri dari Nyonya Sarah?"
Mey menghentikan langkahnya. "Nenek kenal ibuku?"