Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Tersiksa


__ADS_3

Renan mengangguk, mengijinkan Bi Susi membawa makanan itu pergi.


Mungkin benar kata Dito, Mey sedang membalas dendam kepadanya. Entah dia memang merasa mual mencium aroma makanan itu atau itu hanya alasan agar dia bisa membalas apa yang dulu Renan lakukan kepadanya.


"Lalu Non Meylan mau makan apa?"


"Buatkan aku susu hangat saja Bi, aku tidak ingin makan takut nanti muntah lagi."


"Tapi Non Mey harus makan, nanti bisa lemes kalau nggak makan."


Mey menggeleng. "Ini aku lagi ngerasa sehat banget Bi. Nanti kalau makan terus muntah aku malah nggak bisa ngapa-ngapain seharian."


Bi Susi mengangguk lalu pergi ke dapur. Dia kembali sambil membawa segelas susu. Mey segera minum susu itu sampai habis.


"Kita berangkat sekarang." Mey langsung berdiri tanpa menunggu Renan yang belum selesai makan.


"Kamu harus makan!"


"Aku akan makan kalau aku lapar!"


"Kasihan bayimu kalau kamu tidak makan."


"Aku tidak peduli!"


"Mey ... " Renan menghembuskan nafasnya menahan emosi. Pagi-pagi Mey sudah menguji kesabarannya.


"Aku tidak menginginkan bayi ini! Aku pasti sangat bahagia seandainya saja ini bukan darah dagingmu!"


Renan tidak bisa berkata-kata. Ucapan Mey sangat menyakitkan baginya. I


Renan heran melihat sikap Mey yang berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini. Dia menjadi cuek, dingin dan seenaknya. Sangat berbeda dengan Mey yang dulu penurut dan ramah. Tetapi Renan sadar itu semua terjadi juga karena salahnya.


Seandainya kamu tahu Mey, aku menyesali semua yang telah aku lakukan padamu.


Renan segera berdiri dan mengikuti Mey. Di luar sudah ada pak sopir yang menunggu.


*


Di perusahaan ...


Entah kenapa hari ini Mey merasa tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Dia tidak merasa lemas, mual, pusing seperti biasanya. Dengan begini dia bisa mengerjakan pekerjaannya dengan lancar hingga waktunya makan siang.


Mey bergegas ke ruangan Dito. Dia ingin mengajak laki-laki itu makan siang. Tetapi sampai di sana Dito sudah tidak ada, sepertinya Dito sudah pergi ke restoran tempat biasa mereka makan.

__ADS_1


Mey langsung menyusul ke restoran. Mey benar, sampai di sana dia melihat Dito dan Renan sedang makan bersama. Mey menghampiri mereka berdua.


"Mey ...? Aku pikir kamu masih ingin mengurung diri di ruanganmu makanya aku tidak mengajakmu," ucap Dito begitu Mey duduk di antara mereka.


"Aku bosan jadi ingin makan di luar."


"Kamu ingin makan apa biar aku pesankan?"


Mey mengabaikan pertanyaan Renan. Dito melotot melihat Renan mau bicara dengan Mey, apalagi nada bicaranya terbilang halus.


Apa tidak salah? batin Dito.


Mey terus membaca buku menu di tangannya. Sepertinya dia belum menemukan sesuatu yang menggugah selera makannya.


"Apa kamu ingin makan bakso lagi?" Renan kembali bertanya. "Aku bisa membelikannya." Dan lagi-lagi Mey mengabaikannya.


Akhirnya Mey menemukan menu yang dia suka lalu memesannya. Tidak berapa lama makan pesanan Mey datang. Seperti biasa, Mey terlihat ragu-ragu sebelum makan.


"Tidak apa-apa, makanlah." Renan sudah mulai hafal kebiasaan Mey.


Entah kenapa setiap Renan mengucapkan kalimat itu Mey merasa nyaman. Dia merasa ada yang menjaganya dan tidak takut apa yang akan terjadi setelah makan nanti. Mey langsung makan tanpa ragu lagi.


"Kamu ingin aku pesankan jus?" Sekali lagi Mey mengacuhkan Renan, bahkan menatapnya saja tidak.


Sebenarnya Renan kesal. Mey terang-terangan mengabaikan dia di depan orang. Belum pernah ada yang melakukan ini kepadanya sebelumnya. Tetapi Renan tidak bisa berbuat apa-apa karena bayi di dalam perut Mey.


Renan terus memandangi selama dia makan. Rasa kesal yang tadi dia rasakan berubah menjadi senyuman kecil saat melihat Mey dengan lahap.


Selama makan Mey hanya diam padahal biasanya ada saja topik yang dia bicarakan bersama Dito. Mey benar-benar berubah.


"Aku sudah selesai ... Dito aku duluan, kamu bayar ya," ucap Mey sambil meletakkan sendoknya. Padahal dia baru makan setengah dari makanannya. Mey lalu berdiri dan meninggalkan Dito dan Renan tanpa berkata apa-apa lagi.


Dito hanya melongo.


"Kalian ini bertukar kepribadian atau bagaimana sih?" tanya Dito setelah Mey tidak terlihat.


"Apa maksudmu?"


"Kamu jadi banyak bicara. Dan lihat, sikap Mey tadi. Sikapnya sama persis seperti sikapmu. Dingin dan seenaknya."


"Apa aku seperti itu?"


Dito tertawa. "Tadi itu tidak ada apa-apanya. Kamu jauh lebih menyebalkan asal kamu tahu."

__ADS_1


"Benarkah?"


Dito menganggukkan kepalanya. "Kamu sangat menyebalkan Ren, tetapi kamu tidak menyadarinya."


Renan terdiam mendengar kata-kata Dito. Padahal dia sudah sering dibuat kesal dengan sikap Mey tetapi ternyata itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sikapnya selama ini.


"Kenapa dia berubah? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?"


"Sebenarnya ... " Renan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kamu mau ngomong apa?"


"Tidak ada, lupakan."


Mey kembali ke kantor, tetapi tidak ke ruangannya. Dia langsung menuju toilet karena dia merasa mual. Benar saja, sampai di toilet dia langsung mengeluarkan isi perutnya. Kondisi tubuh Mey sangat tidak bisa ditebak. Kadang dia merasa baik-baik saja tetapi tiba-tiba bisa langsung berubah sebaliknya.


Mey terduduk lemas di lantai toilet dengan keringat membasahi tubuhnya. Tiba-tiba Mey menangis. Dia merasa tersiksa karena kehamilannya ini. Dia sama sekali tidak bahagia dengan keadaannya sekarang.


Sebenarnya Mey ingin sekali menggugurkan janin ini tetapi dia tidak tega. Dia sadar hanya Renan yang harusnya dia benci, bukan janin ini.


Mey terdiam cukup lama sambil menunggu tenaganya pulih. Setelah itu dia keluar dari toilet dan berjalan dengan tegak seolah dia tidak apa-apa.


Sore harinya...


Sudah waktunya pulang. Renan segera membereskan mejanya lalu bergegas menuju ruangan Mey. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Renan terkejut menemukan Mey tergeletak di lantai dengan wajah pucat. Dia segera mengangkat tubuh Mey dan membawanya ke mobil.


Renan yang sedang membopong tubuh Mey menjadi pusat perhatian karena ini jam pulang para karyawan. Mereka terus memperhatikan Renan hingga sampai di parkiran. Mereka pikir Bos yang terkenal dingin itu ternyata sangat sweet.


Pak sopir langsung membukakan pintu mobil begitu melihat Renan datang.


"Non Mey kenapa Tuan?" tanya pak sopir yang ikut panik.


Renan tidak menjawab. "Langsung ke rumah sakit!"


"Baik Tuan."


Selama perjalanan Renan terlihat gelisah. Dia terus memandangi Mey, gadis itu belum bangun juga.


"Bisa lebih cepat?" Renan tidak sabar.


"Sebentar lagi sampai Tuan."

__ADS_1


Renan kembali diam. Dia sangat khawatir melihat kondisi Mey yang pucat dan lemah. Renan bingung harus bagaimana. Mungkin Mey jadi seperti ini karena dia tidak menginginkan bayinya. Jika kondisi Mey terus-terusan seperti ini mungkin bayinya tidak akan selamat.


__ADS_2