Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Pulang


__ADS_3

"Sssttt ... Tidak usah kamu pikirkan kata-kata wanita tua itu. Dia hanya asal bicara."


"Aku tidak begitu mengenal ibu Ren. Yang aku ingat, ibu sering keluar masuk rumah sakit. Ibu juga meninggal di rumah sakit. Lalu papa Kusuma dan Mama Kana datang dan membawaku pergi." Mey terisak.


"Selebihnya aku tidak ingat apa-apa." Baik Renan maupun Mey tidak tahu jika Kana tahu semua tentang ibu Mey.


Perlahan Renan mengusap punggung Mey. Dia tidak terlihat seperti biasanya. Renan melihat wanita di depannya ini begitu rapuh.


"Bagaimana dengan ayahmu?" tanya Renan pelan.


"Aku tidak mengenal ayahku. Dia meninggalkan aku dan ibu ketika aku masih kecil."


Mey mendongak dan menatap Renan. Mata mereka bertemu.


"Ren ... Apakah besok kamu mau mengantarkan aku menemui nenek tadi? Aku ingin mendengar cerita tentang ibu lebih banyak lagi." Mey menatap mata Renan penuh harap. Air matanya yang menggenang membuat Renan tidak tega untuk melihatnya.


"Bukannya aku tidak mau Mey, tetapi besok kita harus kembali ke kota. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Sebenarnya bukan itu alasannya. Renan takut kenyataan yang ada di balik cerita nenek tadi. Renan ingin menyelidikinya lebih dahulu sebelum mengajak Mey menemui nenek itu lagi.


Mey kecewa lalu memutar tubuhnya memunggungi Renan.


"Bukankah kamu CEO? Kamu bisa tidak masuk kerja sesuka hatimu kan?"


Renan bingung harus menjawab bagaimana.


"Nggak gitu juga Mey ... Besok aku ada meeting penting. Aku janji, lain kali aku kan mengajakmu menemui wanita tua itu. Tapi tidak sekarang." Renan memeluk tubuh Mey dari belakang. "Kamu harus percaya padaku. Kita akan menemui wanita tua itu nanti."


Mey terdiam. Lalu dia kembali memutar tubuhnya menghadap Renan. "Kamu janji?"


"Iya aku janji, tapi jangan nangis lagi. Kita akan temui wanita tua itu nanti," ucap Renan sambil menghapus pipi Mey dari sisa air mata.


"Tapi jangan sebut dia wanita tua Ren. Sebut saja nenek," gerutu Mey.


"Nggak mau, dia kan bukan nenekku!"


"Ren!!!"


"Iya ... Iya ... nanti aku panggil Oma sekalian."


"Renan!!!" Mey yang tadinya sedih menjadi kesal dengan tingkah Renan. Wajahnya yang tadinya sendu berubah menjadi cemberut.


Renan tertawa melihat Mey merajuk. Dia senang Mey sudah mulai menunjukan sifat manja kepadanya. Tidak sia-sia dia mengajak Mey ke perkebunan ini.

__ADS_1


"Kamu ingin aku peluk kan? Sini mendekat padaku." Renan merengkuh tubuh Mey ke dalam pelukannya hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka.


Mey menghirup dalam-dalam aroma tubuh Renan yang sekarang terasa seperti obat bius baginya.


"Ren ... jangan salah sangka. Aku seperti ini karena mungkin anakmu yang menginginkannya," bisik Mey dengan mata terpejam. "Aku tidak biasa minta peluk ke sembarang laki-laki."


Terserah apa alasanmu Mey. Yang penting aku bisa memelukmu dan menyentuh perutmu!


"Aku bukan sembarang laki-laki. Aku suamimu Mey. Kamu yang menginginkannya pun aku tidak apa-apa, kamu minta lebih dari sekedar di peluk pun aku mau."


Mey mendengus kesal.


*


Pagi-pagi sekali bahkan matahari belum terlihat, Renan dan Mey sudah siap-siap untuk kembali ke kota. Kana mengantar mereka di halaman.


"Jaga kesehatanmu sayang, jaga cucu mama," ujar Kana sambil memeluk Mey.


Mey mengangguk. "Sampai jumpa Ma ... "


"Kamu kesini kapanpun kamu mau. Dan Mama akan mengunjungi kalian kalau mama ada waktu."


"Kita berangkat sekarang Mey." Renan meminta Mey untuk segera masuk ke dalam mobil. Dia sama sekali tidak mengucapkan perpisahan kepada Kana.


"Kamu bisa tidur dulu Mey. Nanti aku bangunkan jika kita sudah hampir sampai rumah."


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka berdua sampai di rumah. Keduanya langsung bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan.


Tidak lupa Renan meminta bi Susi menyiapkan bekal karena mereka tidak sempat sarapan di rumah.


Di perusahaan...


Sudah waktunya makan siang. Tetapi Renan belum selesai meeting. Sebenarnya Mey sudah lapar karena sejak pagi belum makan. Bekal yang tadi dia bawa belum tersentuh karena begitu datang langsung disibukkan oleh pekerjaan. Tetapi dia ingin menunggu Renan. Dia mengharapkan kehadiran pria itu untuk menemaninya makan.


Beberapa hari terakhir dia terbiasa makan ditemani Renan sehingga sekarang dia seperti merasa ketergantungan akan kehadiran Renan.


Setelah lewat jam makan siang Renan tak juga muncul. Akhirnya Mey membuka kotak makan yang harusnya menjadi sarapannya.


Baru mencium aroma makanannya saja Mey langsung merasakan mual yang luar biasa disertai pusing di kepalanya. Dia menutup kembali kotak makannya dan mengurungkan niatnya untuk makan.


Mey hanya meminum air putih untuk mengganjal perutnya lalu melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian Renan muncul di hadapan Mey seperti biasa, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Begitu masuk aroma maskulin Renan yang langsung memenuhi ruangan membuat Mey langsung merasakan ketenangan.


"Kamu sudah makan?"

__ADS_1


Mey yang kaget tidak bisa menjawab dan hanya melotot pada Renan.


Renan menghampiri kotak makan yang ada di meja Mey. Dia mengangkatnya dan terasa masih berat.


" Kamu belum memakan bekalmu. Kamu ingin makan makanan yang lain? Ayo ... Aku temani kamu makan."


"Tidak usah. Aku akan memakannya nanti."


"Kamu harus makan sekarang. Sejak pagi kamu belum makan." Renan segera membuka kotak makan itu dan reflek Mey menutup hidungnya.


"Tidak apa-apa Mey, kamu tidak akan muntah." Kalimat ini yang sejak tadi ditunggu Mey.


"Aku suapi ya?"


Mey mengangguk. "Kamu tidak makan?" Mey balik bertanya.


"Aku sudah makan tadi bersama klien." Renan duduk di meja dan dengan telaten menyuapi Mey.


Mey heran dia tidak mual sama sekali sekarang, padahal tadi baru mencium aromanya saja dia sudah ingin muntah.


"Aku sudah kenyang."


"Ini baru sedikit Mey, habiskan dulu." Renan seperti sedang membujuk anak kecil agar mau makan.


"Sudah Ren, aku sudah kenyang. Daripada nanti aku muntah dan keluar lagi semua yang sudah aku makan."


Renan mengalah. "Baiklah."


Tepat setelah Renan selesai menyuapi Mey, Dito mengetuk pintu.


"Ren, sudah ditunggu klien. Kita akan segera melanjutkan meeting." Renan dan Mey menoleh ke arah Dito.


"Oke. Aku segera ke sana." Dito segera pergi setelah mendengar jawaban dari Renan.


"Kamu belum selesai meeting?" tanya Mey.


"Aku ingin melihatmu sebentar. Kamu pasti tidak mau makan kalau tidak ditunggui."


Mey tersentuh mendengar kata-kata Renan. Dia rela meluangkan waktu di sela-sela meeting untuk melihatnya.


"Aku harus pergi sekarang." Renan bergegas pergi.


"Ren ... " Mey memanggil Renan tetapi dia sudah pergi.

__ADS_1


Sebenarnya memeluk Renan sebentar. Dia ingin mencium aroma tubuh Renan lebih lama lagi tetapi dia tidak berani mengatakannya. Bawaan bayi ini membuat Mey malu karena dia selalu ingin dipeluk Renan.


__ADS_2