
Renan kebingungan setelah sampai di rumah dia tidak dapat menemukan Mey. Dia sudah bertanya kepada bi Susi tetapi bi Susi tidak melihat Mey keluar dari kamar. Sementara Kana juga sudah pergi entah kemana.
Renan sudah berusaha menghubungi ponsel Mey tetapi sudah tidak terhubung. Renan melihat barang-barang Mey masih utuh dan berpikir mungkin Mey hanya ingin keluar rumah untuk menghirup udara segar. Renan berusaha berpikir positif.
Renan berinisiatif untuk mencari Mey ke taman, tempat favorit Mey. Dia bergegas pergi menuju taman. Setelah sampai di taman Renan langsung mencari Mey. Renan mencari kesana kemari selama beberapa saat tetapi tidak menemukan Mey di sana.
Akhirnya Renan menyerah dan memutuskan kembali ke rumahnya. Hari sudah malam dan Mey masih belum ada kabar. Renan semakin khawatir. Dia kembali ke rumah dan berharap Mey sudah pulang.
"Apa dia sudah pulang Bi?"
"Belum Tuan."
"Apa tadi pagi dia tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Non Mey sama sekali tidak keluar dari kamarnya selama bibi di rumah. Tetapi setelah itu bibi keluar untuk belanja jadi mungkin Non Mey pergi keluar saat bibi pergi. Bibi minta maaf Tuan."
Renan tidak mengindahkan kata-kata bi Susi dan berjalan ke kamar Mey. Renan menatap nanar kamar Mey, mencari sesuatu yang mungkin bisa membantunya menemukan istrinya. Dia juga membayar orang untuk mencari ke seluruh pelosok kota tetapi sampai sekarang Renan belum mendapatkan kabar apapun dari mereka.
Lama Renan mematung di kamar Mey tetapi dia tidak mendapatkan petunjuk.
Apa dia kembali kepada laki-laki itu?
Renan teringat Ivan dan segera menyuruh orang untuk mengawasi rumah Ivan, mungkin saja Mey pergi ke sana.
Renan sangat frustasi. Dia baru saja merasakan kebahagiaan sebagai pasangan suami istri bersama Mey tetapi semuanya hilang dalam sekejap.
Tiba-tiba Renan meneteskan air matanya. Dia sangat takut kehilangan Mey juga anaknya. Dia bertekad untuk menemukan Mey apapun caranya.
*
Di perkebunan...
Mey duduk di kursi sederhana di ruang tamu nenek itu.
"Nenek tinggal sendiri?"
"Iya, anak nenek merantau ke luar kota. Kadang-kadang dia pulang bersama istri dan anaknya nya tetapi jarang. Sebentar ya, nenek buatkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot Nek." Mey merasa tidak enak.
"Tidak, aku tidak keberatan melayani putri dari majikanku dulu."
__ADS_1
Setelah beberapa saat nenek itu kembali sambil membawa secangkir teh untuk Mey.
"Terimakasih, maaf nama nenek siapa? Aku belum mengetahui nama Nenek."
"Minah, panggil saja nenek Minah."
Mey mengangguk.
"Kamu bilang ingin bertanya sesuatu pada nenek? Apa yang ingin kamu tanyakan gadis cantik?"
"Nenek kenal ibuku. Aku ingin mendengar cerita tentang ibu."
Nenek Minah tersenyum dan mulai menceritakan pengalamannya selama bekerja dengan Sarah. Mey mendengarkan dengan seksama sambil sesekali tersenyum mendengar bagaimana nenek Minah memuji ibunya. Mey merasa seperti mengenal ibunya dari cerita nenek Minah.
"Apa ibuku sebaik itu Nek?" tanya Mey setelah Nek Minah selesai bercerita.
"Nyonya Sarah sangat baik dan juga ramah. Dan kamu mewarisi semuanya. Wajahmu, matamu bahkan ketika kmu tersenyum kamu terlihat seperti kembarannya.
Tiba-tiba Mey merasa sakit. Dia tidak bisa mengingat ibunya tersenyum kepadanya. Dan sekarang dia tahu sebabnya, Kana dan Kusuma. Mey tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Maaf, kalau nenek boleh tahu kenapa ibumu meninggal? Dia masih sangat muda."
"Nenek tidak tahu soal itu. Tetapi kamu bisa menanyakannya kepada sahabat ibumu, Kana atau Tuan Kusuma dia pasti mengetahuinya."
Omongan nenek Minah benar, tetapi dua orang itu adalah orang yang paling ingin Mey hindari saat ini.
"Sudah malam Nek, sebaiknya aku pergi."
"Kamu mau pergi kemana? Ini sudah malam, tidak ada kendaraan umum kalau malam hari."
"Tetapi aku harus pergi Nek." Mey khawatir Renan akan mencarinya ke perkebunan.
"Menginap lah di sini kalau kamu mau. Kamu bisa pergi besok pagi. Kamu harus istirahat, lihat wajahmu pucat seperti itu."
Mey ingat tadi dia merasa nyeri di perutnya tetapi sekarang sudah hilang tanpa dia sadari. Mey terlalu bersemangat mengetahui cerita tentang ibunya hingga dia lupa akan rasa sakitnya.
"Apa nenek tidak keberatan jika aku menginap di sini?" tanya Mey ragu.
"Nenek malah senang ada yang menemani."
Akhirnya Mey menuruti saran nenek Minah untuk menginap di rumahnya. Lagi pula Mey belum memiliki tujuan hendak pergi kemana.
__ADS_1
"Apa aku boleh menggunakan kamar mandi Nek? Aku ingin membersihkan diri."
"Tentu saja, kamar mandinya ada di sana." Nenek Minah menunjuk arah belakang.
Sementara Mey mandi, nek minah masak makan malam. Dia merasa senang ada yang menemani dan langsung menganggap Mey seperti cucunya sendiri.
Setelah selesai mandi Mey menghampiri nek Minah di dapur.
"Nenek sedang memasak? Ada yang bisa aku bantu?"
"Tidak usah, ini hampir selesai. Kamu belum makan kan? Semoga kamu suka masakan nenek."
Mey melihat Nek Minah memasak tumis kangkung dan menggoreng ikan asin. Masakan sederhana tetapi aromanya bisa menggugah nafsu makan Mey.
Setelah semuanya matang Nek Minah dan Mey makan malam bersama.
"Ayo di makan."
"Baik Nek ... " Mey sudah mengambil nasi dan lauk di piringnya tetapi dia ragu untuk memakannya. Dia teringat Renan yang selalu menemaninya makan dan mengatakan "Tidak apa-apa, makanlah ... tidak akan muntah." Kata-kata Renan terus terngiang-ngiang di telinga Mey.
Mey menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Lalu dia merasa sangat mual. Dia berusaha mengunyah makanannya dan menahan agar tidak muntah. Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Mey bisa menelan suapan pertamanya.
Saat akan memasukkan makanan untuk yang ke-dua kalinya Mey sudah tidak bisa tahan lagi.
"Hoek ...!!!" Mey ingin muntah tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Dia lupa tidak membawa obat anti mualnya.
"Apa kamu tidak suka masakan nenek?"
"Maaf Nek, jangan salah sangka. Bukannya aku tidak suka masakan nenek, tetapi aku sedang hamil dan sering mual saat makan." Mey menjelaskan kondisinya takut Minah salah paham.
"Kamu sedang hamil?"
"Iya nek, maaf nenek jangan tersinggung karena aku ingin muntah."
"Tentu saja tidak. Aku tidak menyangka kamu sudah menikah karena kamu terlihat masih sangat muda. Lalu dimana suamimu? Kenapa dia membiarkan kamu pergi sendirian seperti ini?"
"Dia sedang bekerja Nek, dia tidak masalah aku pergi seperti ini." Mey berbohong.
"Ya sudah, nenek akan membuatkan kamu minuman hangat untuk mengurangi rasa mual. Tunggu sebentar." Lalu Nenek Minah kembali ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Mey.
Tak berapa lama Minah kembali sambil membawa jahe hangat untuk Mey. "Minumlah, mungkin ini bisa membuatmu merasa lebih baik. Minah memberikan jahe hangat itu kepada Mey.
__ADS_1