Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Kisah Cinta Meylan


__ADS_3

Renan berbaring di tempat tidurnya setelah selesai mandi. Dia bingung dengan hubungannya dan Mey saat ini. Dia tahu Mey masih mencintai laki-laki itu.


Saat makan malam Mey tidak keluar dari kamarnya. Itu membuat Renan khawatir.


"Bi, siapkan makan malam buat Mey. Aku yang akan mengantar ke kamarnya."


"Baik Tuan." Bi Susi segera menyiapkan yang Renan minta.


Setelah itu Renan membawanya ke kamar Mey. Kali ini Renan mengetuk pintu terlebih dahulu, meskipun tanpa menunggu jawaban dari Mey dia langsung masuk.


"Aku bawakan makan malam untukmu," ucap Renan sambil meletakkan nampan di atas meja.


Mey yang sejak tadi meringkuk di tempat tidur langsung duduk dan mengusap matanya.


Renan duduk di sofa. "Makanlah dulu."


Mey pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu Mey ikut duduk di sofa. Tidak peduli seberapa keras usahanya, dia tetap tidak bisa menghilangkan bengkak di matanya.


Mey diam dan hanya memandangi makanan yang tadi Renan bawa. Dia sama sekali tidak berminat untuk memakannya.


"Kamu ingin makanan yang lain?" tanya Renan.


Mey menggeleng. "Ini saja tidak apa-apa."


Renan kasihan melihat Mey. Dulu dia tidak pernah menunjukkan kesediaannya di depan orang, tetapi sekarang Mey terlihat rapuh.


Baru makan dua suap Mey sudah meletakkan kembali sendoknya.


"Kamu tidak suka?"


"Aku sudah kenyang."


Renan berpikir keras bagaimana caranya Mey bisa kembali seperti dulu.


"Kamu mau jalan-jalan?"

__ADS_1


Mey terlihat berpikir.


"Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau." Renan ingin membuat Mey melupakan kesedihannya.


*


Di sini akhirnya. Mey meminta Renan mengantarkan dia kembali ke taman kota. Tempat yang sangat istimewa bagi Mey. Dia sudah menyunggingkan senyum begitu tiba di tempat ini. Mereka berdua langsung turun dari mobil.


"Kamu tidak bosan? Tadi sore sudah kesini sekarang kesini lagi?"


Mey mengedarkan pandangannya tanpa mempedulikan Renan.


"Kamu mencari siapa?" Mey tidak menjawab. Mendengarkan Mey mengeluarkan suara adalah hal yang sulit bagi Renan.


Renan sudah khawatir karena sebelumnya Mey bertemu kekasihnya di tempat ini. Setelah itu tadi sore dia juga bertemu dengan ibu dari mantan kekasihnya. Renan curiga Mey akan bertemu salah satu dari dua orang itu.


Senyum Mey merekah begitu dia melihat pedagang kaki lima yang berjajar di tepi taman. Mey terus berjalan menyusuri trotoar, dia tampak bingung ingin membeli apa. Renan hanya diam dan mengikuti kemanapun Mey berjalan. Hingga akhirnya berhenti di depan penjual cireng.


"Kamu mau?" tanya Mey.


Lalu mereka berdua mencari tempat kosong untuk duduk. Mey berjalan sambil menikmati cireng di tangannya.


"Makanan apa itu Mey?" Renan penasaran karena melihat Mey begitu menikmatinya.


"Ini cireng. Pasti kamu tidak tahu. Cobalah Ren, ini enak."


"Tidak." Sebenarnya Renan merasa aneh mendengar Mey memanggil namanya langsung. Dia lebih suka Mey memanggilnya kakak seperti dulu.


"Ya sudah."


"Jangan sering makan-makan seperti itu. Tidak sehat."


"Aku sering memakannya dan aku baik-baik saja selama ini." Mey ngeyel.


Lalu mereka berdua duduk di salah satu kursi taman yang kosong.

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat menyukai tempat ini?" Renan memulai mengajak Mey ngobrol.


"Aku bertemu Ivan di sini," jawab Mey langsung.


"Waktu itu dia berjualan cilok untuk menambah biaya kuliahnya. Malam itu aku membeli cilok dan aku langsung memakannya. Tetapi saat akan membayar, aku baru sadar ternyata aku tidak membawa dompet jadi aku hutang. Hari berikutnya aku kembali ke sini untuk membayar hutangku tetapi dia tidak jualan. Lalu aku bertanya kepada pedagang lain dan akhirnya aku tahu namanya."


"Kamu mencintainya?" Meskipun Renan tidak tahu Ivan tetapi dia yakin Ivan adalah laki-laki yang malam itu Mey temui.


Mey tersenyum. "Kisah cintaku sederhana Ren ... Kami hanya menjalani yang kami rasakan. Tidak ada keinginan untuk menguasai harta, atau menguras atm seperti kisah cintamu yang rumit itu." Kata-kata Mey seperti sindiran telak bagi Renan.


"Kami bahagia hanya dengan makan di taman seperti ini. Dia tidak pernah mengajakku makan di restoran kelas atas. Atau membelikan barang-barang mahal untukku. Kalau aku ingin sesuatu aku membelinya dengan uangku sendiri." Mey tersenyum getir.


"Meskipun aku tidak mendapatkan seperti yang gadis-gadis lain dapatkan dari kekasihnya, aku merasa bahagia. Ivan sangat baik dan tulus. Tutur katanya halus meski dia dari kalangan biasa. Dia menghormati aku, dia tidak melakukan hal yang tidak sepantasnya meskipun aku kekasihnya. Dia tidak punya apa-apa, dia bilang aku lah hartanya, jadi dia tidak ingin merusaknya." Suara Mey terdengar semakin berat.


Renan terdiam. Sejak tadi dia merasa tersindir dengan kata-kata Mey meski Mey tidak berniat untuk menyindirnya. Mey murni sedang menceritakan kisah cintanya tanpa bermaksud apa-apa.


"Dan wanita yang tadi sore tidak sengaja aku temui, dia adalah Tante Dewi. Dia dulu bekerja di kantin asrama dan kebetulan dia adalah ibunya Ivan. Dulu dia sangat baik padaku. Aku tidak punya banyak teman di asrama, dan Tante Dewi yang biasanya menemaniku makan."


"Aku bahagia saat bersama mereka. Aku seperti memiliki keluarga seutuhnya saat bersama mereka. Aku pulang ke rumah keluarga Kusuma saat liburan. Tetapi aku jarang bertemu kalian. Mama dan papa sibuk dengan pekerjaan mereka. Kamu juga sibuk dengan teman-temanmu, kita hanya bertemu sesekali saat makan malam. Aku merasa sendirian, dan di rumah Ivan aku merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya." Air mata Mey menetes.


"Bukannya aku tidak bahagia menjadi bagian dari keluarga Kusuma. Aku sangat bahagia mama dan papa sudah menganggap aku seperti anak mereka, kamu bahkan sampai iri kepadaku. Aku sangat berterima kasih kepada mereka. Karena itu aku bersedia ketika mereka memintaku untuk menikah denganmu."


"Aku meninggalkan Ivan ... Aku menikah denganmu bukan karena harta, tetapi karena aku ingin membalas budi kepada mama dan papa. Lagi pula kepada siapa aku akan berbakti jika bukan kepada mereka?"


Renan membuang wajahnya dari Mey. Gadis ini akhirnya mau bercerita tetapi Renan justru ingin menangis setelah mendengar ceritanya. Betapa dia sudah salah menilai Mey selama ini. Seandainya saja ada obrolan seperti ini sebelum mereka menikah, tentu semua tidak akan seperti sekarang.


"Aku tidak mencintaimu Ren, tetapi aku berusaha menerimamu sejak awal. Aku tidak peduli kebiasaan burukmu mabuk dan kencan satu malam dengan perempuan di luaran. Waktu itu keinginanku hanya satu, aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu." Mey menyeka air matanya.


"Maafkan aku Mey," ucap Renan lirih.


"Semuanya sudah terjadi."


"Jika ada kesempatan kamu bisa kembali padanya, apa kamu ingin kembali bersamanya?"


Mey terdiam.

__ADS_1


__ADS_2