Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Menyatu


__ADS_3

"Sudah waktunya makan siang," ucap Renan datar.


"Aku tahu ini waktunya makan siang!" jawab Mey ketus. Dia masih marah atas sikap Renan kepadanya. Mey masih belum bisa memahami perubahan sikap Renan kepadanya. Sebentar hangat dan perhatian, tetapi hari berikutnya dia dingin dan acuh.


"Kita makan siang dulu." Renan meralat kalimatnya dengan ekspresi wajah yang masih sama.


"Makanlah sendiri!"


Renan sadar sikap Mey seperti ini karena sikapnya sejak kemarin malam dan Renan tahu Mey tipikal orang yang sulit memaafkan.


Renan mendekat dan memasang mimik wajah yang lebih ramah.


"Maafkan aku, maafkan sikapku kemarin malam dan pagi tadi."


"Mudah sekali kamu minta maaf?!"


"Aku ... " Renan tidak tahu harus berkata apa. Inilah yang dimaksud diam salah, minta maaf juga salah.


"Pergilah, ini di perusahaan! Jangan sampai pegawaimu menganggap kita tidak profesional karena membawa urusan pribadi ke kantor!" usir Mey.


Renan mengalah. "Nanti sore kita pulang bersama. Mobilmu biar di bawa sopir. Dan jangan lupa makan!" Setelah itu Renan keluar dari ruangan Mey dan menyusul Dito ke restoran tempat mereka biasa makan.


"Dimana Mey?" tanya Dito begitu melihat Renan datang sendiri.


"Dia marah padaku."


"Memangnya kamu berbuat apa kepadanya?"


Renan mengangkat bahunya, malas untuk bicara.


"Sebaiknya kamu lebih sabar menghadapi Mey. Dia sedang hamil, perasannya sensitif. Kalau sikapmu masih dingin dan menyebalkan seperti itu aku yakin Mey tidak akan tahan bersamamu."


Renan terdiam. Sebenarnya dia hanya kesulitan mengungkapkan perasaannya, Renan merasa dirinya sudah tidak menyebalkan.


"Dan ingat satu hal lagi, Mey tipe wanita yang tidak bisa disogok menggunakan uang."


Renan yang sudah pusing memikirkan hubungan rumit antara orang tuanya dan ibunya Mey, semakin pusing mendengar nasehat Dito.


"Sebaiknya kamu diam dan makan saja makananmu!"


Renan kehilangan selera makannya. Dia terus memikirkan Mey. Lalu berinisiatif untuk membawakan Mey makan siang.

__ADS_1


*


Makan malam terasa hambar bagi Renan. Mey masih marah dan tidak ingin berbicara dengan Renan. Bahkan tadi di kantor Mey tidak menyentuh makan siang yang Renan bawakan.


"Makanlah yang banyak Mey, tadi siang kamu tidak makan kan? Kasihan bayimu."


"Aku makan dengan baik siang tadi. Sekarang pun aku akan makan dengan baik. Anakmu baik-baik saja jika itu yang kamu khawatirkan!" balas Mey dingin.


"Mey ... "


"Aku sudah berusaha menjaga kesehatanku. Jika aku pusing atau tidak nafsu makan itu bukan keinginanku. Kamu orang berpendidikan, harusnya kamu tahu itu!" Mey bicara sambil terus memasukkan makanan ke mulutnya. Dia tahan rasa mualnya di depan Renan untuk membuktikan jika ucapan Renan salah.


"Aku memang abai dengan kehamilanku tetapi bukan berarti aku tidak peduli. Aku tidak menginginkan anak ini tetapi aku masih punya hati karena kalau tidak pasti aku sudah menggugurkannya saat aku mengetahui aku hamil!" Mey menyelesaikan makannya lalu menenggak susunya sampai habis setelah itu pergi meninggalkan Renan.


Renan menyusul Mey ke kamarnya. Renan ingin langsung masuk seperti biasanya tetapi kali ini Mey mengunci pintu kamarnya.


"Mey ... Bisa kita bicara?" Renan mengetuk pintu kamar Mey.


"Mey ... " Renan kembali memanggil Mey tetapi Mey tidak menjawab. Dia sedang tidak ingin meladeni Renan.


Renan pergi untuk mengambil kunci duplikat dan setelah itu kembali ke kamar Mey. Tanpa permisi dia langsung membuka pintu kamar dan masuk.


Renan menghampiri Mey yang sedang meringkuk di tempat tidur. Melihat dari tubuhnya yang bergetar Renan yakin Mey sedang menangis.


"Aku tahu aku salah. Aku asal menuduhmu tanpa alasan. Aku hanya takut kamu kembali kepada laki-laki itu. Aku takut kehilangan kamu dan anakku. Aku takut kehilangan kalian berdua." Mey mengusap air matanya. Sungguh dia benci dirinya yang menjadi cengeng.


"Aku jatuh cinta padamu Mey. Aku mencintaimu dan aku ingin kamu tetap menjadi istriku." Tiba-tiba jantung Mey berhenti berdetak. Dia tidak percaya Renan menyatakan perasaannya.


Mey tidak bisa berkata-kata. Dia senang mendengarnya tetapi dia juga merasa ragu. Apa Renan benar-benar jatuh cinta padanya atau itu hanya karena anak di dalam perutnya.


"Mey ... Katakanlah sesuatu. Apa kamu juga mencintai aku?" Mey tetap diam.


Renan ikut berbaring di tempat tidur lalu memeluk Mey dari belakang, Mey tidak menghindar.


"Jawab aku, apa kamu juga mencintaiku?"


"Aku tidak tahu," jawab Mey jujur.


Dia memang masih bingung dengan perasaannya. Dia masih mencintai Ivan tetapi dia merasa nyaman ketika Renan memeluknya seperti sekarang ini. Dia merasa tenang saat ada Renan di sisinya dan tidak ingin dia pergi. Tetapi itu cinta atau bukan Mey masih ragu, Mey takut itu hanya pengaruh hormon kehamilannya atau mungkin bawaan bayi seperti yang orang-orang katakan.


Tetapi tidak masalah bagi Renan. Dia akan berusaha mendapatkan perhatian dan cinta Mey agar menjadi miliknya seutuhnya.

__ADS_1


"Mey ... maukah kamu memanggilku kakak seperti dulu?" bisik Renan.


Mey mengangguk.


"Apa sekarang kita baikan?" goda Renan.


"Aku ingin tidur." Mey berkilah. Renan tersenyum melihat Mey salah tingkah.


"Kamu ingin aku mengelus perutmu?"


Mey kembali mengangguk.


Tangan Renan menyusup ke balik pakaian Mey dan mulai mengelus-elus perutnya. Renan mengelus perut Mey dengan pelan dan lembut. Mey merasa sangat nyaman hingga tanpa Mey sadari tangan Renan sudah semakin ke bawah.


"Kak ... Tanganmu ... " Mey hendak menahan tangan Renan yang sudah tidak pada tempatnya.


"Mey ... Sudah lama aku menahannya. Boleh kan?"


"Tapi kak ... "


"Aku suamimu Mey, aku berhak." Renan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Renan ingin menyatukan tubuhnya dan tubuh Mey lagi agar hubungan mereka semakin kuat.


"Tapi ... " Renan mulai mencium bibir Mey dengan lembut.


*


Renan tersenyum saat membuka matanya. Dia melihat Mey terlelap di sampingnya tanpa sehelai benang di tubuhnya.


Renan mengecup bibir Mey dan segera bangun dari tempat tidur. Moodnya sangat baik karena semalam dia menghabiskan waktu istimewa bersama Mey.


"Kakak sudah bangun?" Mengerjapkan matanya.


"Maaf, membuatmu bangun. Tidurlah ... Tidak usah berangkat kerja jika badanmu terasa tidak enak."


"Aku tidak apa-apa." Mey bangun sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Dia merasa baik-baik saja karena semalam Renan melakukannya dengan lembut.


"Tetapi aku tidak mengijinkan kamu bekerja. Aku ingin istirahat di rumah." Renan kembali mengecup bibir Mey dan membuat wajah Mey memerah.


"Tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku."


"Aku mohon Mey, sehari saja kamu istirahat di rumah. Aku tidak ingin kamu kelelahan karena semalam sudah terjaga karena aku." Wajah Mey semakin merona.

__ADS_1


"Aku akan ke kamarku untuk mandi. Apa kamu mau ikut?"


"Tidak." Mey menggeleng cepat.


__ADS_2