Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Renan berjalan dengan gontai menuju ruangan Mey di rawat. Dia baru saja dari ruangan dokter yang memeriksa Mey. Dokter mengatakan jika Mey kekurangan cairan karena sering muntah dan kurangnya nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya.


Dia juga mengalami hipertensi. Itu mungkin disebabkan karena stress atau mungkin sedang banyak pikiran. Jika itu terus berlanjut maka akan membahayakan janinnya.


Renan tidak tahu apa yang sebenarnya mengganggu pikiran Mey. Dia sudah bersikap baik padanya. Dia juga sudah berusaha menunjukkan kepeduliannya tetapi Mey masih belum bisa menerimanya.


Renan duduk di samping tempat tidur dan memandangi Mey yang sedang terlelap. Renan ingat bagaimana dia dulu sangat membenci Mey dan bagaimana dia memperlakukannya.


"Maafkan aku," gumam Renan.


Perlahan Mey membuka matanya. Melihat Renan duduk di sampingnya, Mey langsung memalingkan wajahnya.


"Bisa kita bicara?" tanya Renan dengan halus.


Mey terus memalingkan wajahnya, sementara Renan sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.


"Aku tahu selama ini aku sikapku kepadamu selama ini sangatlah buruk. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya?"


Bulir bening mulai menetes di pipi Meylan. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan atau dia inginkan. Dia hanya ingin menangis tanpa tahu alasannya.


"Soal malam itu ... " Rasanya berat bagi Renan untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku ... aku benar-benar minta maaf."


Tubuh Mey bergetar, air matanya mengalir semakin deras mendengar Renan meminta maaf padanya. Ini yang sejak dulu dia harapkan, tetapi setelah Renan meminta maaf ternyata tidak membuat perasaannya lega. Masih ada luka yang menganga di hatinya tanpa dia ketahui apa sebabnya.


"Maafkan aku ... Aku menyesal ... "


Mey tetap diam.


"Aku telah salah menilaimu. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi."


Mey terus saja diam sehingga Renan seolah-olah sedang bicara sendirian.


"Jawab aku Mey ... Apa kamu masih membenciku?"


"Aku tidak menginginkan anak ini! Aku tidak pernah menginginkan uangmu atau perusahaan atau semua yang pernah kamu sebutkan. Aku tidak pernah peduli dengan hal itu. Aku hanya ingin hidupku kembali." Mey terisak.


Lama Renan terdiam. Dulu dia yang berkata seperti itu. Dulu dia ingin segera berpisah dari Mey. Tapi sekarang justru kebalikannya.


"Kalau kamu benar-benar tidak mau bersamaku aku akan mengabulkan keinginanmu. Kita akan berpisah setelah anak itu lahir. Kamu bisa melanjutkan hidupmu dan aku akan melanjutkan hidupku." Suara Renan mulai tercekat.


"Kamu bilang kamu tidak menginginkan anak itu kan ...? Jadi aku yang akan merawatnya. Kamu tidak usah khawatir."


"Katakan sesuatu Mey ... "

__ADS_1


"Pergi!" Hanya itu yang keluar dari bibir Mey.


Renan mengalah. Dia pergi meninggalkan Mey di dalam kamar sendirian.


*


Hari berikutnya ....


Mey terus mengingat kata-kata Renan kemarin. Dia hanya menginginkan bayi itu, bukan dirinya, begitu menurut Mey.


Mungkin Mey akan sangat bahagia jika itu terjadi sebelum dia hamil karena dia bisa kembali kepada cintanya, Ivan. Tetapi sekarang apa Ivan masih mau menerimanya jika kondisinya seperti ini?


Pikiran-pikiran seperti ini membuat kondisi Mey semakin buruk. Dia merasakan kecemasan yang luar biasa. Dan itu membuatnya tidak ingin makan ataupun bicara.


Renan semakin khawatir. Dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk membujuk Mey agar mau makan.


Renan tidak tahu apa-apa soal Mey, siapa saja sahabatnya Renan juga tidak tahu. Tidak mungkin dia memberi kedua orang tua mereka karena jelas dia akan semakin di salahkan.


"Tolong temani dia Bi, ajak dia bicara dan bujuk dia agar mau makan." Renan terlihat putus asa. Dia meminta Bi Susi menemani Mey di rumah sakit karena ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.


"Baik Tuan."


Renan terus memandangi Mey dari balik pintu sebelum dia pergi.


"Apa tidak sebaiknya memberitahu Tuan dan Nyonya? Kalau sampai ada apa-apa sama Non Meylan nanti Tuan Renan yang disalahkan."


Bi Susi menatap kepergian Renan. Dia merasa majikannya sudah mulai berubah. Renan sudah lebih banyak bicara.


Bi Susi masuk ke ruangan Mey di rawat.


"Makan dulu ya Non, bibi suapi."


Mey menggeleng lemah. "Dia pergi?" tanya Mey.


Bi Susi mengangguk. Meski tidak menyebutkan nama bi Susi tahu yang Mey maksud pastilah Renan.


"Tuan memang seperti itu Non, dari luar sepertinya acuh. Tetapi sebenarnya dia sangat peduli sama Non Mey."


"Dia tidak peduli padaku Bi, dia hanya peduli pada bayiku. Dia memperhatikan aku juga karena ada anaknya dalam perutku. Kalau tidak pasti dia tidak sudi berurusan denganku."


"Non Mey salah sangka. Tuan Renan sering murung setelah kepergian Non Mey dari rumah. Dia juga sudah tidak pernah keluar malam lagi. Pulang kerja selalu mengurung diri di kamar. Tuan sudah tidak seperti dulu Non."


Mey terdiam. Dia ingin percaya yang dikatakan Bi Susi tetapi mengingat semua yang sudah Renan lakukan kepadanya rasanya itu tidak mungkin.

__ADS_1


"Tuan sudah mulai berubah Non. Dan itu semua berkat Non Meylan."


"Apa bibi sungguh-sungguh? Bibi tidak sedang menghiburku kan?"


Bi Susi menggeleng. "Pada dasarnya Tuan muda itu orang yang baik. Saya mengenal tuan Renan sejak dia kecil. Non Mey juga tahu sendiri dulu Tuan muda seperti apa sifatnya."


Mey mengingat dulu ketika liburan dia pulang ke rumah keluarga Kusuma. Renan sangat baik dan sayang padanya.


"Karena pengalaman yang menyakitkan yang merubahnya menjadi seperti yang Non Mey kenal sekarang."


*


Renan tampak murung. Selama meeting berlangsung dia lebih banyak melamun sehingga Dito yang mengambil alih pekerjaannya.


"Ren, kamu nggak fokus lagi. Dari kemarin kamu seperti orang linglung."


Renan masih terlihat murung. Dia mengabaikan Dito yang sedang berbicara kepadanya.


"Kamu ada masalah apa sih? Nggak biasanya sampai seperti ini?"


"Mey hamil," jawab Renan datar.


"Apa??? Aku tidak salah dengar??? Berarti kalian sudah ... ???"


Renan mengangguk. "Sekarang dia di rumah sakit."


"Dia sakit? Memang akhir-akhir ini dia terlihat tidak sehat. Tetapi bukannya normal perempuan hamil terlihat pucat dan sering muntah? Maksudku itu bukan sesuatu yang gawat kan?"


"Sepertinya dia juga mengalami depresi."


Dito mendesah. "Aku sudah curiga sebelumnya. Aku sempat bertanya kepadanya, kalau dia ada masalah sebaiknya dia cerita, tetapi dia bilang tidak dia apa-apa."


"Aku senang sekali waktu tahu dia hamil. Tetapi dia justru sebaliknya. Dia bilang dia tidak menginginkan anak ini."


"Itu pasti ada sebabnya kan?"


"Karena itu anakku. Dia sangat membenciku sekarang."


"Kenapa?!"


"Kamu tahu kan bagaimana aku memperlakukan dia selama ini? Mungkin karena itu. Selain itu, aku juga memaksa dia melayaniku malam itu."


"Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sudah memperingatkan kamu berulang kali. Mey tidak seperti gadis-gadis lainnya. Tapi kamu ngeyel dan lihat sekarang hasilnya."

__ADS_1


"Mungkin kamu benar ... Mey menyimpan dendam kepadaku. Kalau dia terus-terusan seperti ini aku bisa kehilangan anakku." Renan terlihat sangat murung.


"Aku sangat menginginkan anak itu. Kamu bisa bayangkan, aku yang sudah tidak percaya dengan wanita dan tidak ingin menikah ini tiba-tiba tahu akan menjadi ayah?"


__ADS_2