Suamiku Bukan Pria Pilihanku

Suamiku Bukan Pria Pilihanku
Di Perkebunan 2


__ADS_3

"Tunggu nak ... Apa kamu anak dari Nyonya Sarah?"


Mey menghentikan langkahnya. "Nenek kenal ibuku?"


Wanita tua itu mengangguk sambil menunjuk arah villa yang sekarang Kana tempati. "Nyonya Sarah yang tinggal di villa itu kan?"


"Sepertinya, nenek salah orang. Ibuku benar bernama Sarah, tetapi ibu tidak tinggal di villa itu. Yang tinggal di sana ibu angkatku, Nyonya Kana."


"Tidak, nenek tidak salah orang. Nenek pernah bekerja pada Nyonya Sarah di villa itu. Aku ingat persis wajahnya. Dan wajahmu yang cantik ini, sangat mirip dengannya."


"Apa nenek yakin?"


Wanita itu mengangguk yakin. "Villa itu milik tuan Kusuma bukan?"


Mey mengangguk. "Benar Nek."


"Aku tidak tahu jika Tuan Kusuma dan Nyonya Sarah punya anak perempuan secantik ini," ucap wanita itu lagi.


Renan mengernyit mendengar penjelasan nenek ini. Perasaannya mulai tidak enak karena yang dibicarakan wanita ini sebagain benar tetapi sebagian lagi salah. Renan merangkai cerita dari nenek itu di dalam benaknya dan muncullah pikiran yang tidak-tidak tentang keluarganya dan keluarga Mey.


"Tetapi jelas kamu hanya mewarisi wajah cantik ibumu, karena kamu sama sekali tidak mirip Ayahmu."


"Kita pergi sekarang Mey." Renan menarik tangan Mey paksa. Dia tidak ingin Mey mendengar lebih banyak lagi cerita dari wanita tua itu.


"Tunggu Ren, aku ingin mendengar cerita nenek ini. Dia kenal ibuku dan juga kenal Papa."


"Dan anak muda ini sangat mirip dengan tuan Kusuma." Wanita tua itu mengalihkan tatapannya kepada Renan yang sejak tadi diam. "Apa dia kakakmu? Pas sekali, anak laki-lakinya mirip ayahnya sementara anak perempuan mirip sekali dengan ibunya."


"Jangan bicara sembarangan kalau tidak tahu apa-apa!" hardik Renan tanpa sopan santun kepada orang tua.


"Ren ... jangan kasar gitu sama orang tua!"


Renan menarik tangan Mey menjauh dari wanita tua itu. "Dia pasti sudah pikun Mey, jangan dengarkan," bisik Renan.


Meylan pun mengikuti kata-kata Renan meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

__ADS_1


Renan mengendarai mobilnya menjauh dari tempat itu. "Apa kamu masih ingat kita harus ke arah mana setelah ini? tanya Renan untuk mengalihkan perhatian Mey. Setelah bertemu wanita tua tadi wajah Mey menjadi murung.


"Mey ... " Renan memanggil Mey karena sepertinya dia melamun.


"Eh ... Apa Ren?"


"Kita harus ke arah mana ini?" Renan mengulang pertanyaannya.


"Nenek tadi bilang kita harus ambil kiri di perempatan."


Renan mengangguk. "Jangan pikirkan kata-kata wanita tua tadi. Dia pasti asal bicara."


"Tetapi dia tahu nama ibuku Sarah, dan nama Papamu Kusuma."


"Hanya itu saja kan yang benar dari seluruh ceritanya? Selain itu semuanya salah. Sudahlah ... jangan kamu pikirkan." Renan mulai gusar tetapi dia berusaha menyembunyikannya.


Mey kembali diam. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di kebun strawberry yang Mey sebutkan.


"Kita sudah sampai."


Renan dan Mey segera turun dari mobil. Senyum Mey merekah begitu melihat kebun strawberry terhampar di hadapannya. Pemandangan yang tidak akan dia temukan di kota. Mey sudah tidak sabar ingin memetik buah strawberry yang terlihat ranum-ranum di depan matanya.


"Mey ... Apa kamu tidak keberatan menceritakan tentang ibumu?" tanya Renan dengan hati-hati.


"Tidak banyak yang ku ingat tentang ibuku. Jadi tidak banyak yang bisa aku ceritakan," jawab Mey acuh. Renan tahu ini artinya Mey tidak ingin membicarakan ibunya.


Renan ingat sedikit cerita dari Bi Susi yang mengatakan ibu Mey meninggal di rumah sakit jiwa. Mungkin Mey malu dan tidak ingin membicarakannya.


"Petik sebanyak yang kamu mau Mey. Aku sudah membayar semuanya."


Mey melongo. "Bukankah kita hanya membayar tiket masuk dan buah yang kita petik saja?"


"Ya, tapi aku membayar semuanya. Sehingga pengunjung yang lain tidak bisa memetiknya. Bahkan sudah tidak ada pengunjung yang boleh masuk." Renan menunjuk portal di pintu masuk kebun yang sudah di turunkan.


"Apa kamu tidak berlebihan? Aku hanya ingin memetik beberapa buah saja. Tidak sekalian kamu beli kebun strawberry ini?"

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu mau, anggap saja sebagai hadiah kehamilanmu," jawab Renan dengan wajah datarnya.


"Ren ... Aku tidak serius!"


Renan tertawa. "Aku juga tidak serius. Kebun teh saja sudah terbengkalai karena tidak ada yang mengurus, mau ditambahin kebun strawberry."


"Kamu mengerjai aku Ren," Mey kesal lalu menghentakkan kakinya. Renan berlari mendekati Mey dan langsung memegang perutnya.


"Jangan lakukan itu lagi. Kasihan anakku."


Mey memutar bola matanya kesal. "Jangan lebay," ucapnya sambil melepaskan tangan Renan dari perutnya.


"Tapi kalau kamu memang menginginkan kebun ini aku akan membelikannya untukmu!"


"Tidak!"


Mey berjalan meninggalkan Renan yang terlihat cengengesan. Ini sangat tidak biasa. Jujur Mey senang dengan perlakuan Renan kepadanya. Dia juga senang melihat Renan sekarang yang sikapnya lembut kepadanya. Tetapi Mey terus mengingatkan dirinya agar tidak terlena. Renan bersikap seperti itu hanya karena anak di dalam perutnya.


"Kita pulang sekarang Mey, nanti kamu kecapekan."


Sebenarnya Mey belum puas, tetapi yang Renan katakan benar. Nanti kalau dia kecapekan dia akan merasa pusing dan lemas. Dia sendiri juga yang akan merasa tersiksa.


Sampai di rumah hari sudah hampir malam. Mey segera ke kamar untuk membersihkan badannya. Tidak lupa dia meminta pembantu untuk membuatkan jus dari buah strawberry yang tadi dia petik.


Setelah makan malam Mey langsung ke kamarnya. Dia ingin segera tidur. Renan pun mengikuti Mey. Sebenarnya Renan belum mengantuk, tetapi dia tidak ingin membiarkan Mey sendirian di kamar jadi Renan duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


Mey sudah berbaring di atas tempat tidur dia sudah memejamkan matanya tetapi dia tidak juga tertidur. Mey tampak gelisah. Beberapa kali di memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tetapi tidak ada hasilnya. Matanya tetap sulit dipejamkan padahal tubuhnya merasa sangat lelah.


Renan yang menyadari itu langsung menghampiri Mey di tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Mey.


"Apa kamu ingin aku mengelus perutmu seperti tadi malam?" tanya Renan dengan lembut. Mey mengangguk.


"Apa kamu akan mengatai aku sebagai perempuan murahan jika aku ingin kamu memelukku?" tanya Mey dengan mata yang hampir menangis.


Renan segera memeluk Mey. "Maafkan aku ... " ucap Renan sambil mengecup kening Mey. "Aku menyesal telah berkata seperti itu kepadamu." Renan mengeratkan pelukannya di tubuh Mey.

__ADS_1


"Aku ingat ibu. Kata-kata nenek tadi terus mengingatkan aku dengan ibu." Air mata Mey menetes dalam pelukan Renan.


"Sssttt ... Tidak usah kamu pikirkan kata-kata wanita tua itu. Dia hanya asal bicara."


__ADS_2