Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB X TAWARAN


__ADS_3

            Sekitar 1 jam kemudian Resti sudah tiba di Purple Shop. Setelah mengumpulkan keberanian


untuk bertanya kepada pemilik, dia masuk ke toko.


            “Pagi Mbak” sapanya kepada penjaga toko yang tak lain adalah Rahma.


            “Ya Mbak. Ada yang bisa dibantu?” sapa Rahma ramah.


            “Begini Mbak, sebenarnya saya dari ‘Luhur Shop’, saya di sini diutus oleh bos saya untuk bertemu dengan pemilik toko ini” kata Resti memberanikan diri. Resti berpikir lebih baik terus terang karena akan memalukan jika hanya melihat-lihat saja sambil bertanya.


            “O y Mbak, sebentar ya. Mbaknya namanya siapa ya? Akan saya sampaikan kepada pemiliknya supaya ke sini”


            “Nama saya Resti Mbak”


            Kemudian Rahma pergi ke kamar yang berada di belakang toko. Kamar itu milik Winda. Toko


itu menyatu dengan rumah orangtua Winda.


            “Mbak, ada yang nyari”


            “Siapa?” tanya Winda


            “Namanya Resti Mbak, katanya dia disuruh bosnya kemari”


            Deg-degan, itulah yang dirasakan Winda ketika Resti datang. Sebenarnya kemarin dia


berusaha untuk bersikap biasa apabila ada karyawan Ardi datang. Akan tetapi perasaannya tak bisa dibohongi. Tetap saja ada suatu perasaan yang tak biasa.


            “Iya, sebentar ya. Saya nidurin Arjuna dulu”.


            Setelah Arjuna tidur, Winda keluar menuju toko dan melihat Resti sedang melihat barang dagangannya.


            “Res”, kata Winda menyapa Resti.


    Resti kaget, dia terdiam saat dia menoleh dan tahu siapa yang memanggilnya. Ada suasana canggung di sana. Semua di toko itu terdiam untuk beberapa saat. Rahma yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan berbagai macam pertanyaan yang ada dibenaknya. Dia tidak berani memecah keheningan yang terjadi.


Winda sadar suasananya menjadi canggung. Kemudian dia berusaha memecah keheningan itu dengan memulai pembicaraan,


“Akhirnya kamu sampai sini juga ya” kata Winda sambil tersenyum.

__ADS_1


Resti yang masih canggung pelan-pelan berusaha tersenyum juga, kemudian menjabat tangan Winda.


“ Mbak Winda, aku kaget. Ternyata toko ini milik Mbak Winda? Aku nggak nyangka Mbak”


katanya sambil menteskan air mata.


“Aku kangen Mbak Winda”, lanjut Resti.


“Iya-iya, tapi jangan nangis dong. Nggak enak dilihat orang. Yuk duduk sini” kata Winda


sambil menenangkan Resti.


“Aku berpikir Mbak Winda terpuruk ketika Mas Ardi ninggalin Mbak Winda. Ternyata Mbak Winda malah punya toko yang lumayan sukses sekarang. Aku senang Mbak Winda bisa bangkit lagi, memulai toko ini, hiks” Resti berkata sambil tak hentinya mengeluarkan air mata.


Winda yang melihat hal itu menjadi trenyuh juga karena walau bagaimanapun mereka yang kerja dengan Ardi seperti saudara sendiri karena suka duka di toko ditanggung bersama. Mata Winda berkaca-kaca kemudian dia berkata,


“Sudah ya Res, nanti aku juga ikutan sedih lho. Ini kenalin dulu Rahma yang ikut kerja


bareng aku” sambil melambaikan tangan ke arah Rahma supaya Rahma mendekat.


Rahma mendekat kemudian berusaha tersenyum karena masih canggung akan situasi yang


“Perkenalkan Mbak, nama saya Rahma” katanya.


“Resti”, sambil menjabat tangan Rahma dan berusaha tersenyum lagi.


Kemudian Resti menceritakan maksud kedatangannya ke Purple Shop kepada Winda.


“Aku ke sini diutus Mas Ardi Mbak, karena toko semenjak nggak ada Mbak Winda perlahan-lahan


mulai sepi” kata Resti memulai pembicaraan tentang maksud kedatangannya ke Purple Shop.


“Sebagian harga yang dikasih Mas Ardi semakin mahal, Mas Ardi nggak tahu tempat kulakan Mbak Winda


dulu. Trus banyak barang-barang yang dibeli Mas Ardi untuk dijual lagi kurang diminati pembeli. Banyak pelanggan juga yang sudah tidak beli di Luhur Shop lagi Mbak. Ada pelanggan yang bilang kalau Purple Shop lebih murah dan


barangnya bagus-bagus” lanjut Resti.


Winda terdiam, kemudian berkata,

__ADS_1


“Maaf Res, aku nggak bermaksud mengambil langganan kalian. Tapi sebagian langganan kan ada


di Hp ku. Jadi mau nggak mau mereka melihat barang yang ku pasang di statusku atau di Igku. Tapi aku sama sekali nggak bermaksud mengambil langganan kalian. Karena aku jualan juga nggak dengan modal yang besar. Awalnya, aku hanya beli beberapa biji saja barang jualannya, karena kamu tahu sendiri kan aku nggak


pernah pegang uang pribadi. Semua uang yang dihasilkan Luhur Shop semuanya aku kasih ke sana. Aku hanya megang uang 1juta aja di rekeningku” kata Winda.


“Jadi aku memang nggak pakai uang dari sana. Aku Cuma bawa 1 juta yang di rekeningku itu. Itupun pas cerai aku nggak minta sama sekali uang dari Mas Ardi. Aku memulai usaha karena memang butuh uang Res. Aku bingung mau kerja di mana. Di usiaku yang sekarang ini, nggak ada yang mau nerima aku kerja”, kata Winda lagi. Dia


menceritakan keuangannya kepada Resti supaya tidak dicurigai membawa uang Luhur Shop.


Resti yang mendengar itu jadi tidak enak hati karena takut Winda salah paham dengan maksud kedatangannya ke Purple Shop. Karena pembukuan keuangan dia yang pegang. Jadi dia tahu betul kalau Winda tidak pernah mengambil uang kecuali untuk biaya makan karyawan dan rumah. Winda juga tidak pernah beli barang-barang seperti baju , tas, sepatu dan lain-lain. Beda dengan Mina yang jarang ikut kerja di toko tapi setiap bulan dapat jatah dari toko.


“Nggak Mbak Winda, bukan begitu. Mas Ardi ingin ngajak kerjasama kalau harganya cocok. Karena Mas Ardi nggak tahu tempat Mbak Winda kulakan dengan harga yang murah” kata Resti.


Winda berpikir, nggak mungkin rasanya bekerjasama dengan Ardi, akan tetapi tawaran itu cukup menggiurkan dikarenakan omset penjulannya akan bertambah banyak karena online shop yang dimiliki Ardi sudah cukup besar dengan beberapa karyawan di sana.


Dengan menghela nafas panjang yang berat, Winda berkata


“Sebenarnya tawarannya cukup menggiurkan. Akan tetapi bilang ke Ardi dulu bahwa ini toko milikku. Apa dia masih mau kerjasama denganku. Dan bila mau, aku mau kamu yang mengurusnya bukan Ardi. Aku ingin menjaga perasaan Mina yang menjadi istri Ardi sekarang ini. Aku nggak mau timbul salah paham....”.


‘Oek oek oek’


Terdengar suara bayi menangis, Winda yang mendengar itu tidak melanjutkan perkataannya dan refleks pergi ke kamar meninggalkan Resti dan mengambil Arjuna untuk menenangkannya. Kemudian karena Arjuna tidak mau tidur lagi, Winda membawanya keluar kamar menuju toko.


Resti yang meilhat itu menjadi bingung. Bayi siapa yang dibawa Winda, sebegitu frustasinyakah Winda ditinggalkan oleh Ardi sehingga dia mengadopsi anak. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Resti.


Winda duduk di samping Resti sambil menggendong Arjuna. Kemudian Winda berkata kepada Resti,


“Ini Arjuna Res, ini anakku”


Masih dalam keadaan bingung Resti berkata,


“Salam kenal Arjuna, aku Tante Resti” dan melihat bayi yang ada di gendongan Winda. Wajah bayi itu terasa familiar di benaknya. Mirip siapa ya bayinya? Pikirnya.


“Mbak Winda, ini beneran anaknya Mbak Winda? Mbak Winda udah nikah lagi?” kata Resti bingung.


Winda hanya tersenyum dan berkata,


“Jangan bilang Mas Ardi ya kalau aku punya anak” katanya.

__ADS_1


__ADS_2