
Pagi harinya Ayah Mina bangun
kesiangan karena tidak bisa tidur memikirkan Mina. Setelah bangun tidur, hal
pertam yang dia lakukan adalah menelepon Pak Bejo.
“Halo” suara di seberang sana
terdengar agak jengkel menerima telepon.
“Halo” jawab Ayah Mina.
“Ada apa Pak telpon pagi-pagi?!” tanya
Pak Bejo agak jengkel.
“Maaf Pak, bisakah kita bertemu?”
jawab Ayah Mina.
“Maaf Pak, untuk apa lagi kita
bertemu?! Bukankah urusan keluarga kita sudah selesai?!” kata Pak Bejo tidak
ramah.
Ayah Mina ragu untuk melanjutkan,
akan tetapi demi Mina dia harus membuang harga dirinya jauh-jauh.
“Maaf Pak... Tapi ada yang harus
kita bicarakan” kata Ayah Mina berusaha sabar dan menahan emosinya.
Pak Bejo biasanya sopan dan segan
kepada Ayah Mina, akan tetapi setelah pertunangan Mina dengan Jaya batal
gara-gara Mina selingkuh, Pak Bejo merasa marah dan kesal dengan keluarga Mina
karena anaknya, Jaya sudah dikhianati oleh Mina.
“Tidak usah ketemu! Silahkan saja
berbicara lewat telpon!” kata Pak Bejo enggan.
“Begini Pak, sebenarnya... anak yang
dikandung dan dilahirkan Mina adalah anak Jaya” kata Ayah Mina.
“Ya nggak mungkinlah! Kalau Mina
memang mengandung anaknya Jaya kenapa dia malah menikah dengan oranglain!”
jawab Pak Bejo tak percaya.
“Iya Pak, dulu ada kesalahpahaman
antara Jaya dan Mina. Kalau Bapak tak percaya, silahkan bicara dengan Jaya”
“Maksud Bapak sebenarnya apa?! Mina
sudah menikah dengan orang lain, entah itu anak Jaya atau bukan, bukannya itu
sudah urusannya anak Bapak dengan suaminya!” jawab Pak Bejo dengan nada tinggi
karena merasa dipermainkan oleh Mina dan keluarganya.
“Bapak silahkan tanya Jaya Pak...
Walau bagaimanapun anak Mina a
dalah
cucu Bapak”
Bagaimana bisa disebut cucu! Ketemu saja
tidak pernah! Lagipula Mina menghianati Jaya kemudian menikah dengan oranglain
dan mempermalukan keluarga kami!”
Kemudia karena sangat marah, Pak
Bejo menutup telepon Ayahnya Mina tanpa berpamitan.
Ayah Mina yang kaget karena Pak Tejo
tiba-tiba menutup telponnya menjadi geram kepada Pak Bejo.
‘Dasar! Dulu aja menatap mataku aja
nggak berani! Sekarang udah nglunjak!’ rutuk Ayah Mina dalam hati.
Ibu Mina yang baru masuk kamar dan
melihat ekspresi suaminya yang marah kemudian mendekati suaminya,
__ADS_1
“Ada apa Pi? Kok kelihatan marah
gitu?” tanya Ibu Mina.
Kemudian Ayah Mina menjelaskan
pembicaraannya tadi dengan Pak Bejo. Ibu Mina yang mendengar hal itu menghela
nafas.
“Kenapa keluarga kita jadi begini ya
Pi” kata Ibu Mina sambil menangis di samping suaminya.
Ayah Mina yang melihat istrinya
menangis bertambah sedih. Ayah Mina hanya duduk terkulai sambil melihat istrinya
menangis di sampingnya tanpa tahu harus berbuat apa-apa.
Mina yang ada di kamarnya tidak tahu
keadaan orangtuanya, dia masih meratapi kesedihannya.
.........................................
Keadaan Ardi belum membaik karena
dia merasa hidupnya kacau. Ardi bingung mau mempersalahkan siapa. Dia merasa
kacau dan sering tantrum.
Mbok Inem yang mulai takut karena
melihat Ardi yang sering tantrum, mulai mengundurkan diri dan pulang ke
kampungnya. Mbok Inem berpamitan kepada Lela, kakaknya Ardi.
“Bu... maaf saya ingin pulang
kampung” kata Mbok Inem.
“Lha ada apa Mbok?” tanya Lela.
“Anak saya nyuruh pulang Bu” jawan
Mbok Inem bohong untuk menjaga perasaan Lela.
“Apa nggak kasihan sama Ardi Mbok?”
sudah berkaca-kaca. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Ardi sendirian dan
tidak ada yang mengurusi. Tapi Mbok Inem juga tidak betah karena takut sewaktu
Ardi sedang tantrum.
“Saya pulang hari ini Bu” kata Mbok
Inem tanpa menjawab pertanyaan Lela.
“Nggak dipikir lagi Mbok?” tanya
Lela lagi.
“Anak saya sudah di perjalanan
menjemput saya Bu” jawab Mbok Inem.
Lela menyerahdan mengikhlaskan Mbok
Inem untuk pulang ke rumahnya.
“Kamu sudah bicara dengan Ardi Mbok?”
tanya Lela.
“Sudah Bu, tadi pagi” jawab Mbok
Inem.
“Trus Mas Ardi gimana?”
“Ya nggak apa-apa Bu... Mas Ardi
maklum karena anak saya menyuruh saya pulang karena saya sudah tua” jawab Mbok
Inem.
“Ya sudah Mbok. Maaf ya Mbok, kalau
kami ada salah. Dan terimakasih selama ini sudah membantu Ardi dan keluarga”
kata Lela.
“Iya Bu. Saya pamit ya Bu.... Anak
saya segera sampai” kata Mbok Inem kemudian pulang ke rumah Ardi untuk
__ADS_1
mengambil barang dan menunggu anaknya datang.
Ardi merasa sedih melihat Mbok Inem
pulang. Tapi mau bagaimana lagi. Dia merasa semua orang sudah tidak peduli
padanya dan mulai meninggalkan dia. Ardi termenung sendirian di rumah. Marah kemudian
tantrum dan menangis mengenang perbuatan Mina, mengenang perbuatannya pada
Winda, kangen pada Bimo dan memikirkan Arjuna. Ardi seperti orang bingung
sehingga membuat Lela tambah khawatir dengan Ardi.
Lela membujuk Winda agar mau membawa
Arjuna bertemu dengan Ardi di rumahnya karena Ardi belum mempunyai keberanian
datang ke rumah Winda. Ardi belum berani datang ke rumah Winda karena merasa
sungkan dan merasa bersalah kepada kedua orangtua Winda.
“Win... tolong ya” kata Lela di
telepon saat dia meminta bantuan kepada Winda.
Winda bingung mau menjawab apa.
“Saya diskusi dengan orangtua saya
dulu ya Mbak. Soalnya saya menjaga perasaan orangtua saya juga. Mohon
pengertiannya ya Mbak. Nanti kalau orangtua saya mengijinkan, saya akan
mengabari Mbak Lela” jawab Winda.
“Tolong ya Win”
“Maaf Mbak, apa nggak sebaiknya Mas Ardi
dibawa ke Psikolog saja? Karena sepertinya sudah parah”
“Aku nggak kepikiran sampai segitu
Win. Kamu tahu kan aku juga sibuk kerja. Semua di rumah sibuk kerja, jadi aku
belum bisa ngurusin Ardi” jawab Lela karena dia memang tidak bisa mengurusi
Ardi karena sibuk bekerja dan harus mengurusi suami dan anak-anaknya juga.
Winda merasa kasihan kepada Ardi
karena bagaimanapun Ardi adalah Ayah dari anaknya. Dia tidak ingin penyakit
mental Ardi gara-gara masalah ini menyebabkan Ardi mengalami gangguan kejiwaab
yang lebih parah.
..............................................
Winda menjelaskan tentang keadaan
Ardi kepada kedua orangtuanya. Mereka masih merasa marah kepada Ardi sekaligus
merasa kasihan karena keadaan Ardi yang labil.
“Gima Ayah, Ibu?” tanya Winda kepada
kedua orangtuanya ketika dia meminta ijin untuk mengajak Arjuna menemui Ardi.
“Ayah dan Ibu sebenarnya masih marah
sama Ardi, tapi Ayah juga merasa kasihan dengan Ardi karena keadaannya menjadi
seperti itu” kata Ayah Winda.
“Ibu juga.... Sebenarnya Ibu marah
dengan Ardi, tapi merasa kasihan juga. Ibu bingung Win” kata Ibu Winda.
Ibu Winda merasa takut jikalau
anaknya kembali lagi dengan Ardi. Dia masih merasa marah kepada Ardi karena
perlakuan Ardi kepada Winda membuat Winda sedih dan juga mempermalukan
keluarga.
“Kalau Ayah dan Ibu tidak mengijinkan,
Winda juga tidak akan pergi menemui Ardi dan mengajak Arjuna”
“Apakah Ardi separah itu?” tanya Ibu
Winda.
Winda hanya mengangguk.
__ADS_1