Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB 32 KISAH YANG MELEKAT


__ADS_3

            Pagi harinya Ayah Mina bangun


kesiangan karena tidak bisa tidur memikirkan Mina. Setelah bangun tidur, hal


pertam yang dia lakukan adalah menelepon Pak Bejo.


            “Halo” suara di seberang sana


terdengar agak jengkel menerima telepon.


            “Halo” jawab Ayah Mina.


            “Ada apa Pak telpon pagi-pagi?!” tanya


Pak Bejo agak jengkel.


            “Maaf Pak, bisakah kita bertemu?”


jawab Ayah Mina.


            “Maaf Pak, untuk apa lagi kita


bertemu?! Bukankah urusan keluarga kita sudah selesai?!” kata Pak Bejo tidak


ramah.


            Ayah Mina ragu untuk melanjutkan,


akan tetapi demi Mina dia harus membuang harga dirinya jauh-jauh.


            “Maaf Pak... Tapi ada yang harus


kita bicarakan” kata Ayah Mina berusaha sabar dan menahan emosinya.


            Pak Bejo biasanya sopan dan segan


kepada Ayah Mina, akan tetapi setelah pertunangan Mina dengan Jaya batal


gara-gara Mina selingkuh, Pak Bejo merasa marah dan kesal dengan keluarga Mina


karena anaknya, Jaya sudah dikhianati oleh Mina.


            “Tidak usah ketemu! Silahkan saja


berbicara lewat telpon!” kata Pak Bejo enggan.


            “Begini Pak, sebenarnya... anak yang


dikandung dan dilahirkan Mina adalah anak Jaya” kata Ayah Mina.


            “Ya nggak mungkinlah! Kalau Mina


memang mengandung anaknya Jaya kenapa dia malah menikah dengan oranglain!”


jawab Pak Bejo tak percaya.


            “Iya Pak, dulu ada kesalahpahaman


antara Jaya dan Mina. Kalau Bapak tak percaya, silahkan bicara dengan Jaya”


            “Maksud Bapak sebenarnya apa?! Mina


sudah menikah dengan orang lain, entah itu anak Jaya atau bukan, bukannya itu


sudah urusannya anak Bapak dengan suaminya!” jawab Pak Bejo dengan nada tinggi


karena merasa dipermainkan oleh Mina dan keluarganya.


            “Bapak silahkan tanya Jaya Pak...


Walau bagaimanapun anak Mina a


dalah


cucu Bapak”


            Bagaimana bisa disebut cucu! Ketemu saja


tidak pernah! Lagipula Mina menghianati Jaya kemudian menikah dengan oranglain


dan mempermalukan keluarga kami!”


            Kemudia karena sangat marah, Pak


Bejo menutup telepon Ayahnya Mina tanpa berpamitan.


            Ayah Mina yang kaget karena Pak Tejo


tiba-tiba menutup telponnya menjadi geram kepada Pak Bejo.


            ‘Dasar! Dulu aja menatap mataku aja


nggak berani! Sekarang udah nglunjak!’ rutuk Ayah Mina dalam hati.


            Ibu Mina yang baru masuk kamar dan


melihat ekspresi suaminya yang marah kemudian mendekati suaminya,

__ADS_1


            “Ada apa Pi? Kok kelihatan marah


gitu?” tanya Ibu Mina.


            Kemudian Ayah Mina menjelaskan


pembicaraannya tadi dengan Pak Bejo. Ibu Mina yang mendengar hal itu menghela


nafas.


            “Kenapa keluarga kita jadi begini ya


Pi” kata Ibu Mina sambil menangis di samping suaminya.


            Ayah Mina yang melihat istrinya


menangis bertambah sedih. Ayah Mina hanya duduk terkulai sambil melihat istrinya


menangis di sampingnya tanpa tahu harus berbuat apa-apa.


            Mina yang ada di kamarnya tidak tahu


keadaan orangtuanya, dia masih meratapi kesedihannya.


            .........................................


            Keadaan Ardi belum membaik karena


dia merasa hidupnya kacau. Ardi bingung mau mempersalahkan siapa. Dia merasa


kacau dan sering tantrum.


            Mbok Inem yang mulai takut karena


melihat Ardi yang sering tantrum, mulai mengundurkan diri dan pulang ke


kampungnya. Mbok Inem berpamitan kepada Lela, kakaknya Ardi.


            “Bu... maaf saya ingin pulang


kampung” kata Mbok Inem.


            “Lha ada apa Mbok?” tanya Lela.


            “Anak saya nyuruh pulang Bu” jawan


Mbok Inem bohong untuk menjaga perasaan Lela.


            “Apa nggak kasihan sama Ardi Mbok?”


sudah berkaca-kaca. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Ardi sendirian dan


tidak ada yang mengurusi. Tapi Mbok Inem juga tidak betah karena takut sewaktu


Ardi sedang tantrum.


            “Saya pulang hari ini Bu” kata Mbok


Inem tanpa menjawab pertanyaan Lela.


            “Nggak dipikir lagi Mbok?” tanya


Lela lagi.


            “Anak saya sudah di perjalanan


menjemput saya Bu” jawab Mbok Inem.


            Lela menyerahdan mengikhlaskan Mbok


Inem untuk pulang ke rumahnya.


            “Kamu sudah bicara dengan Ardi Mbok?”


tanya Lela.


            “Sudah Bu, tadi pagi” jawab Mbok


Inem.


            “Trus Mas Ardi gimana?”


            “Ya nggak apa-apa Bu... Mas Ardi


maklum karena anak saya menyuruh saya pulang karena saya sudah tua” jawab Mbok


Inem.


            “Ya sudah Mbok. Maaf ya Mbok, kalau


kami ada salah. Dan terimakasih selama ini sudah membantu Ardi dan keluarga”


kata Lela.


            “Iya Bu. Saya pamit ya Bu.... Anak


saya segera sampai” kata Mbok Inem kemudian pulang ke rumah Ardi untuk

__ADS_1


mengambil barang dan menunggu anaknya datang.


            Ardi merasa sedih melihat Mbok Inem


pulang. Tapi mau bagaimana lagi. Dia merasa semua orang sudah tidak peduli


padanya dan mulai meninggalkan dia. Ardi termenung sendirian di rumah. Marah kemudian


tantrum dan menangis mengenang perbuatan Mina, mengenang perbuatannya pada


Winda, kangen pada Bimo dan memikirkan Arjuna. Ardi seperti orang bingung


sehingga membuat Lela tambah khawatir dengan Ardi.


            Lela membujuk Winda agar mau membawa


Arjuna bertemu dengan Ardi di rumahnya karena Ardi belum mempunyai keberanian


datang ke rumah Winda. Ardi belum berani datang ke rumah Winda karena merasa


sungkan dan merasa bersalah kepada kedua orangtua Winda.


            “Win... tolong ya” kata Lela di


telepon saat dia meminta bantuan kepada Winda.


            Winda bingung mau menjawab apa.


            “Saya diskusi dengan orangtua saya


dulu ya Mbak. Soalnya saya menjaga perasaan orangtua saya juga. Mohon


pengertiannya ya Mbak. Nanti kalau orangtua saya mengijinkan, saya akan


mengabari Mbak Lela” jawab Winda.


            “Tolong ya Win”


            “Maaf Mbak, apa nggak sebaiknya Mas Ardi


dibawa ke Psikolog saja? Karena sepertinya sudah parah”


            “Aku nggak kepikiran sampai segitu


Win. Kamu tahu kan aku juga sibuk kerja. Semua di rumah sibuk kerja, jadi aku


belum bisa ngurusin Ardi” jawab Lela karena dia memang tidak bisa mengurusi


Ardi karena sibuk bekerja dan harus mengurusi suami dan anak-anaknya juga.


            Winda merasa kasihan kepada Ardi


karena bagaimanapun Ardi adalah Ayah dari anaknya. Dia tidak ingin penyakit


mental Ardi gara-gara masalah ini menyebabkan Ardi mengalami gangguan kejiwaab


yang lebih parah.


            ..............................................


            Winda menjelaskan tentang keadaan


Ardi kepada kedua orangtuanya. Mereka masih merasa marah kepada Ardi sekaligus


merasa kasihan karena keadaan Ardi yang labil.


            “Gima Ayah, Ibu?” tanya Winda kepada


kedua orangtuanya ketika dia meminta ijin untuk mengajak Arjuna menemui Ardi.


            “Ayah dan Ibu sebenarnya masih marah


sama Ardi, tapi Ayah juga merasa kasihan dengan Ardi karena keadaannya menjadi


seperti itu” kata Ayah Winda.


            “Ibu juga.... Sebenarnya Ibu marah


dengan Ardi, tapi merasa kasihan juga. Ibu bingung Win” kata Ibu Winda.


            Ibu Winda merasa takut jikalau


anaknya kembali lagi dengan Ardi. Dia masih merasa marah kepada Ardi karena


perlakuan Ardi kepada Winda membuat Winda sedih dan juga mempermalukan


keluarga.


            “Kalau Ayah dan Ibu tidak mengijinkan,


Winda juga tidak akan pergi menemui Ardi dan mengajak Arjuna”


            “Apakah Ardi separah itu?” tanya Ibu


Winda.


            Winda hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2