Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XIII MANTAN


__ADS_3

            Ardi menuju ke rumahnya, sambil


menghela nafas panjang dia memikirkan para karyawannya. Dia tidak tahu apa yang


menjadi perbincangan mereka. Sebelumnya, Ardi selalu tahu apa yang dibicarakan


para karyawannya, keluhan maupun pembicaraan tentang orang atau apapun yang


mereka bicarakan di belakang Ardi, karena mereka akan bicara atau mengadu


kepada Winda kemudian Winda yang akan menyampaikannya kepada Ardi. Sekarang,


sumber informasi Ardi tentang karyawan sudah tidak ada lagi. Mina juga tidak


dekat dengan mereka, seolah ada dinding pemisah diantara mereka. Mina juga


tidak mau dekat dengan para karyawan selayaknya teman, begitu juga sebaliknya.


            Ardi menghempaskan tubuhnya ke sofa


sambil mendengus dengan keras sehingga orang yang mendengarnya akan mengira


kalau Ardi lagi marah.


            Mina yang melihat hal itu malas bertanya


apa yang terjadi. Dia masih bermain dengan Hpnya. Mina merasa sudah jenuh


dengan tingkah Ardi belakangan ini. Mina merasa bahwa Ardi selalu marah-marah


tidak jelas, tapi tiba-tiba baik kemudian marah-marah lagi dan itu membuatnya


menjadi semakin jengkel kepada Ardi. Dia pernah meminta orangtuanya untuk


menjemputnya, akan tetapi orangtuanya tidak mau menjemputnya karena takut kalau


Mina di rumah tambah stress karena tetangga masih membicarakan perihal Mina


menjadi perempuan yang merebut suami orang lain, sikap tetangga juga terkadang


sinis terutama tatapannya. Akan tetapi tetangga Mina di depan Mina dan


orangtuanya terlihat baik karena mereka cukup terpandang di daerah mereka


karena termasuk orang yang sukses dan kaya.


            Ardi melirik Mina, dan tiba-tiba


merasa jengkel karena merasa Mina adalah sumber semua masalah, tetapi Mina


dilihatnya tidak peduli akan masalah yang dihadapinya sekarang ini. Tetapi Ardi


menekan amarahnya karena Ardi takut Mina pulang ke rumahnya karena dulu ketika


mereka bertengkar Mina langsung minta dijemput oleh orangtuanya. Beda sekali


dengan Winda, pikirnya. Ketika bertengkar dan sikap Ardi kepada Winda sangatlah


jahat, Winda tidak pernah meminta orangtuanya untuk menjemputnya.


            “Yang” kata Ardi memanggil Mina,


berharap Mina meletakkan Hpnya kemudian menenangkan dia. Ardi ingin


bermanja-manja dengan Mina. Tapi Mina hanya menoleh kemudian melihat Hpnya


lagi.


            “Ada apa Yang?” jawab Mina dengan


santai sambil bermain Hp.


            “Diletakkan Hpnya dulu dong, aku


pengen ngobrol nih. Banyak masalah di toko. Aku pengen kamu temenin aku ngobrol”


            Mina menoleh lagi tetapi tetap masih


bermain HP,


            “ Apa sih Yang manja banget. Aku


capek ngurusin Bimo, pergi belanja ke supermarket. Jangan nambahin pikiran aku


lagi dong. Aku kan juga pengen santai”, jawab Mina sambil cemberut.


            Ardi yang mendengar itu seketika


marah, akan tetapi ditahannya amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun.


            “Ke supermarket? Ngapain?” tanya

__ADS_1


Ardi terdengar agak ketus.


            “Ya belanjalah masa tiduran” jawab


Mina jengkel.


            Ardi yang mendengar hal itu berusaha


keras untuk menahan amarahnya supaya tidak terjadi pertengkaran hebat. Ardi berpikir


semakin jelas perbedaan Winda dengan Mina. Mina selalu berani menjawab


perkataannya, akan tetapi Winda masih menjaga atau bahkan tidak menjawab dengan


nada yang akan membuatnya tambah marah. Kenapa dengan Winda dulu aku kasar


tetapi dengan Mina aku terlalu lembut, apakah memang dulu cintanya kepada Winda


nggak sebesar cintanya kepada Mina?


            Ardi menghembuskan nafas panjang


kemudian,


            “Aku pergi sebentar ke tempat Mitha


ya Yang”, kata Ardi. Ardi berpikir untuk meredakan amarahnya di tempat Mitha.


            ........................................


            Sampai di tempat Mitha, seperti


biasa Ardi melihat Mitha yang bermain dengan Hpnya.


            “Bundamu ke mana Mit?”, tanya Ardi


ke Mitha supaya tidak ditanya kenapa dia datang ke rumah Mitha.


            “Kerja dong Mas” jawab Mitha masih


melihat Hpnya.


            “Mit, masih nyimpen foto bayi yang


lucu kemarin nggak?” tanya Ardi tiba-tiba teringat foto bayi yang diperlihatkan


Mitha dulu, yang nggak lain adalah Arjuna.


            “Masih dong Mas. Ih kangen ya sama


            “Apaan sih Mit”


            Mitha tidak segera memberikan Hpnya


kepada Ardi, Ardi tidak sabar menunggu


            “Lama amat Mit”


            “Bentar ah kan nyari dulu. Ini dah


tak kirim ke Hpnya Mas Ardi” kata Mitha.


            “Mas Ardi nggak bawa HP Mit. Lagian


ngapain dikirim ke Mas Ardi. Mas Ardi kan Cuma pengen lihat aja”


            “Udah ah, biar Mas Ardi puas kalo


kangen sama dedek bayi tinggal lihat Hp” jawab Mitha.


            Ardi menyerah berdebat dengan Mitha,


kemudian dia melihat TV yang menyala sampai tertidur pulas.


            “Ardi bangun, udah sore. Pulang sana!”


            Tiba-tiba ada suara yang


membangunkan Ardi. Perlahan-lahan Ardi membuka mata dan dilihatnya kakaknya


duduk di sampingnya dan berusaha membangunkan Ardi supaya pulang ke rumahnya


karena hari sudah mulai malam.


            “Bangun Di. Udah malah” kata


kakaknya yang tak lain adalah Bundanya Mitha.


            “Hm” jawab Ardi.


            Begitu terbangun, Ardi langsung

__ADS_1


duduk dan menatap keluar. Sudah malam rupanya, batin Ardi.


            “Ada apa? Ada masalah sama Mina?”


tanya kakaknya ingin tahu, karena setelah menikah dengan Mina Ardi jarang ke


rumahnya dan tidur sampai larut malam begini.


            “Nggak ada apa-apa Mbak. Tadi Cuma ketiduran


aja pas main ke sini”


            “Kata Mitha kamu nyariin kakak ya?”


            “Nggak Kak, Cuma basa basi aja. Hehe.


Aku langsung pulang ya Kak. Kasihan Mina sendirian di rumah” kata Ardi yang


langsung beranjak dari duduknya kemudian pulang.


            Sesampainya di rumah dilihatnya Mbok


Inem pembantunya sedang mengasuh Arjuna.


            “Mina di mana Mbok?” tanya Ardi


kepada Mbok Inem.


            “Di kamar Mas” jawab Mbok Inem.


            Ardi menuju kamar dan dilihatnya


Mina sedang bermain Hp. Ardi yang amarahnya sudah mereda kini dibuat jengkel


kembali oleh tingkah Mina.


            “Yang, kok di kamar?” tanya Ardi.


            Mina hanya menoleh dan masih asyik


bermain Hp.


            “Nggak ngasuh Bimo? Kasihan Mbok


Inem udah kerja seharian” kata Ardi lagi berusaha bersabar.


            “Aku juga capek Mas. Apalagi Mas Ardi


marah-marah terus tanpa tahu salahku apa” kata Mina jengkel.


            “Iya, maaf ya. Soalnya akhir-akhir


banyak pikiran di toko”


            “Ya jangan dibawa-bawa pulang dong


jengkelnya. Apalagi malah marah-marah di depanku. Aku kan capek, masih harus


denger orang marah-marah lagi”.


            “Iya maafin ya Yang. Yuk keluar,


kasihan Mbok Inem biar dia istirahat. Aku yang jagain Bimo. Kamu main Hp di


luar aja ya” bujuk Ardi lagi.


            “Mas, kayaknya kemarin kamu juga dah


minta maaf tapi diulangin lagi deh. Kali ini aku maafin tapi jangan diulangin


lagi ya. Aku udah capek” kata Mina merajuk.


            “Iya sayang. Yuk keluar”


            Mina dan Bimo keluar dari kamar dan


menyuruh Mbok Inem menyiapkan makan malam. Setelah makan malam Mina menidurkan


Bimo.


            Tlililing..... Hp Mina berbunyi,


tanda ada pesan masuk.


            Mina membuka Hpnya. Dilihatnya pesan


yang masuk dan ternyata itu adalah pesan dari mantannya, Jaya. Pesan itu


berbunyi


            ‘Apa kabar?’

__ADS_1


            Hati Mina berkecamuk, ada perasaan


aneh di hatinya. Antara suka, benci bercampur jadi satu.


__ADS_2