Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XVI PENDEKATAN


__ADS_3

            Malam itu, sekitar pukul 19.49, setelah


menidurkan Arjuna Winda keluar dari kamar menuju ke ruang tamu karena malam itu


ada yang mau bertamu dan ketemu dengan Winda. Tamu itu adalah laki-laki yang


ingin diperkenalkan Ayah Winda kepada Winda.


Sebenarnya, Winda sangat tidak ingin ketemu


dengan lelaki lain untuk menggantikan posisi Ardi sebagai suaminya. Selain


Winda sudah nyaman dengan kehidupannya saat ini, dia juga masih belum bisa


melupakan Ardi. Terkadang ada harapan untuk kembali kepada Ardi, akan tetapi keadaan


tidak memungkinkan. Winda merasa sedih, ingin rasanya dia menolak permintaan


Ayahnya untuk ketemu dengan Bowo, lelaki yang ingin diperkenalkan kepada Winda


malam ini. Tapi Winda tidak ingin menyakiti perasaan orangtuanya dengan menolak


permintaan orangtuanya. Winda masih merasa bersalah karena rumah tangganya


tidak bisa dia pertahankan karena ada pihak ke tiga.


Setelah keluar kamar Winda melihat ada sosok


laki-laki yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Laki-laki itu cukup tinggi,


dan layaknya laki-laki setengah baya, laki-laki itu mempunyai perut yang buncit


walaupun tidak bisa dikatakan gemuk, karena sebenarnya perawakannya tinggi


besar.


Winda menyapa tamunya dengan menganggukkan


kepala sambil tersenyum kemudian duduk dekat dengan ayah dan Ibunya.


Bowo yang melihat hal itu jadi gamang karena


sebenarnya dia sudah mau mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Winda


sambil memperkenalkan diri. Akan tetapi perasaan kaget dan sedih ditepisnya,


kemudian sambil menyunggingkan senyum dia duduk. Ditatapnya Winda yang Cuma menunduk.


Tapi lamunannya tentang Winda  buyar saat


Ayah Winda bicara,


“Nak, ini anak Bapak yang namanya Winda.


Winda kenalkan ini yang namanya Mas Bowo yang Bapak ceritakan tadi siang” kata


Ayah Winda memulai pembicaraan. Bapak ingin Winda menjabat tangan Bowo untuk


simbol perkenalan.


Ibu Winda menyentuh tangan Winda sebagai


tanda Ibunya menyuruh Winda untuk menjabat tangan Bowo. Winda hanya diam tak


bergeming. Dia hanya tersenyum saja, kemudian dia menangkupkan kedua tangannya


di dada sebagai pengganti salaman karena dia tidak ingin membuat orangtuanya


malu.


“Saya Winda Pak, salam kenal”, kata Winda


sambil tersenyum menghargai tamu yang datang berkunjung. Dalam hati Winda malas


untuk bicara apalagi tersenyum, walaupun begitu dia masih menjaga perasaan


orangtua dan tamunya.


“Saya Bowo Mbak”, kata Bowo memperkenalkan


diri sambil menangkupkan kedua tangannya agak ke depan.


Winda tersenyum kemudian dia menunduk lagi.

__ADS_1


Orangtua Winda bingung dibuatnya, mereka


merasa tidak enak kepada tamunya karena sikap Winda yang acuh tak acuh. Untuk


mengatasi situasi yang canggung, Ayah Winda mulai mengajak Bowo mengobrol,


“O ya Nak Bowo, Nak Bowo rumahnya daerah


mana?” tanya Ayah Winda basa basi.


“Saya asalnya sebenarnya daerah S Pak, tapi


saya dapat tugas dari kantor di daerah sini sudah empat tahun ini”, kata Bowo.


“Bapak Ibu masih ada Nak?”


“Iya Pak, mereka masih ada semua”


“Oooo ya”


Kemudian suasana menjadi canggung kembali.


Akhirnya Bowo membuka suara lagi.


“Mereka semua ada di daerah S Pak karena


rumah kami memang di sana. Yang ada di sini cuma saya”


“Berarti Nak Bowo sendirian ya? Sekarang


tinggalnya di mana Nak?”


“Saya tinggal di tempat Pak Warso Pak. Saya


ngontrak rumah di sana” kata Bowo lagi.


Winda hanya diam dan berharap tamunya segera


pulang. Tapi apa daya dia tidak berani bilang kepada Ayahnya. Ayah Winda merasa


tidak enak kepada Bowo kemudian berkata,


“O ya Nak Bowo, ini saya tinggal sebentar


sama Ibu ya. Ini tadi mau beli vitamin ke Apotek belum jadi” kata Ayah Winda


“Win, Ayah ke Apotek bentar ya. Temani Pak


Bowo dulu ya. Ayah sama Ibu Cuma sebentar beli vitaminnya” kata Ayah Winda


sambil memberi kode kepada Ibu Winda dan Winda.


Winda yang melihat hal itu merasa jengah dan


marah, akan tetapi dia tidak bisa menolak. Setelah Ayah Winda pergi, Winda


masih tertunduk dan bingung mau mulai pembicaraan dari mana.


Bowo yang menjadi tambah canggung kemudian


memulai pembicaraan,


“Maaf ya Mbak, kalau kedatangan saya


mengganggu Mbak Winda” kata Bowo.


Winda yang mendengar hal itu menjadi tidak


enak hati, kemudian dia menjawab,


“Tidak apa-apa kok Pak”, kata Winda, padahal


di dalam hatinya berkata sebaliknya.


“Nama anaknya Dik Winda siapa ya?”


‘Dik? Dik? Dia manggil aku Dik?’ Winda merasa


terganggu dengan panggilan Bowo yang tiba-tiba berubah. Mungkin kalau dari awal


Bowo memanggilnya Dik tidak akan mengganggu pikirannya. Winda yang merasa


terganggu dengan kedatangan Bowo, apapun yang dilakukan Bowo dia tidak suka. Karena

__ADS_1


mungkin dia belum siap membangun hubungan dengan lelaki lain sekarang ini.


“Arjuna Pak” jawab Winda.


“Dik, kalau panggilnya Mas saja gimana?


Soalnya saya merasa canggung kalau dipanggil Pak”, kata Bowo memberanikan diri.


Winda yang mendengar hal itu Cuma berusaha mengendalikan


senyum di wajahnya yang berusaha hilang dari wajahnya diganti dengan ekspresi


cemberut.


“Iya Mas” kata Winda akhirnya.


“Tapi gantian saya yang merasa canggung” kata


Winda lagi.


“Kalau lama-lama bakal terbiasa kok Dek”


‘Lama-lama?’ batin Winda. Karena Winda


berpikir untuk bertemu dengan Bowo untuk pertama dan terakhir kalinya. Pertemuan


ini hanya untuk menjaga perasaan Ayah dan Ibu Winda.


“Iya Mas” jawab Winda akhirnya untuk


menghormati tamu.


Mereka mengobrol dengan canggung sampai


orangtua Winda datang. Winda merasa lega karena orangtuanya datang. Akhirnya


Bowo ngobrol dengan kedua orangtua Winda lagi dan sesekali Winda ikut bicara


ketika Ibu Winda menyentuh Winda sebagai bentuk kode agar Winda ikut menimpali


pembicaraan.


Setelah sekitar dua jam berlalu, Bowo pamit


untuk pulang dan berjanji untu ke rumah Winda lagi untuk bertamu dan menjaga


tali silaturahmi.


Setelah Bowo pergi, Winda langsung masuk


kamar dan tidur di samping Arjuna.


Sedangkan Bowo pulang dengan masih berharap


dia bisa ketemu lagi dengan Winda, karena dia tidak ingin membujang terlalu


lama. Apalagi dia sudah dijuluki Bujang Lapuk oleh kedua orangtuanya karena


tidak kunjung menikah.


Bowo melihat Winda pertama kali ketika Winda


pergi ke Bank tenpat dia bekerja untuk menabung. Setelah selesai menabung Winda


ngobrol dengan teman Sdnya yang tak lain adalah anak buah Bowo. Setelah Winda


berlalu, dia tanya kepada Danu teman Winda perihal Winda. Danu bercerita semua


yang dia ketahui tentang winda. Dan tanpa sadar sejak saat itu dia memikirkan


Winda kemudian jatuh hati kepada Winda. Kemudian dia memberanikan diri untuk


menemui Winda dengan minta tolong kepada Danu untuk menyampaikannya kepada


Winda. Akan tetapi oleh Winda tidak pernah ditanggapi.


Setelah itu Bowo mengubah strategi untuk


menemui kedua orangtua Winda serta Winda di rumah Winda, sehingga Winda tidak


bisa menolak lagi. Bowo bertekad untuk mendekati Winda. Bowo percaya diri kalau


wanita apalagi sudah janda tidak akan menolaknya karena dia punya kerjaan yang

__ADS_1


bagus, paras yang lumayan dan badan yang cukup bagus walaupun perutnya sedikit


menonjol karena tidak sempat berolahraga.


__ADS_2