Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB 33 RASA YANG TERTINGGAL


__ADS_3

            Ibunya Winda terdiam dan merasa


kasihan kepada Ardi. Walau bagaimanapun, Ardi adalah Ayah dari cucunya. Kalau


sampai nanti terjadi sesuatu dengan Ardi, kasihan Arjuna karena sampai kapanpun


kisah Ayah Arjuna akan membekas di pikiran Arjuna.


Ibunya Winda menatap suaminya meminta


jawaban. Ayah Winda melihat istrinya yang sedang menatapnya kemudian berkata,


            “Sebenarnya Ayah nggak apa-apa Win,


kamu mengajak Arjuna untuk ketemu Ayahnya. Walau bagaimanapun tidak ada yang


namanya mantan anak. Walaupun kamu sudah berpisah dengan Ardi, tetapi hubungan


Arjuna tidak akan terputus sampai kapanpun”


            Akhirnya Ayah Winda mengijinkan


Winda, akan tetapi Ibunya Winda masih terdiam. Melihat Ibunya yang tidak


memberikan komentar lagi, Winda berkata kepada Ibunya,


            “Kalau Ibu tidak mengijinkan, saya


tidak akan membawa Arjuna bertemu dengan Ardi Bu. Jadi Ibu tidak usah kuatir


lagi” kata Winda takut Ibunya menjadi sedih.


            Winda tahu Ibunya masih sakit hati karena


Ardi menikah dengan orang lain dan menyakiti perasaan Winda.


            Ibunya Winda menghela nafas panjang


kemudian berkata,


            “Ya sudah... Ibu tidak apa-apa Win.


Bawa saja Arjuna bertemu Ayahnya. Seperti kata Ayah kamu, hubungan mereka akan


tetap sama walaupun tidak pernah bertemu. Ibu takut kalau Arjuna jadi anak yang


durhaka apabila dia membenci Ayahnya. Apalagi.... apalagi kalau sampai Ardi


menjadi gila.... mungkin kalau keadaannya semakin memburuk. Arjuna akan dikatai


anak orang gila”


            Ibu Winda terdiam, Winda mulai


meneteskan air mata.


            “Ibu ikhlas.... bawa saja Arjuna


bertemu Ayahnya” lanjut Ibu Winda.


            “Terimakasih Ayah Ibu” kata Winda


            .....................................


            Setelah keesokan harinya, Winda


siap-siap membawa Arjuna ke tempat Ardi. Winda mempersiapkan banyak barang jikalau


nanti Arjuna harus menginap di rumah Ayahnya.


            Arjuna yang sudah bisa jalan tidak


bisa diam, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk berkemas menjadi lebih lama.


Kemudian ada telepon dari Lela,


            “Halo Winda” kata Lela


            “Iya Kak”


            “Kamu jadi kan ke rumah kakak hari


ini?” tanya Lela.


            “Iya kak. Memangnya ada pa ya Kak?”


Winda balik bertanya.


            “Nggak ada apa-apa. Cuma memastikan


saja. Jam berapa kamu mau ke sini?”


            “ini sudah mau jalan Kak”


            “O ya udah. Soalnya kakak harus


kerja. Nitip Ardi ya Win”


            “Iya Kak. O ya Kak, nanti


Psikolognya ke rumah atau aku yang anter ke tempat Psikolognya ya?” tanya

__ADS_1


Winda.


            “Nanti kamu tolong anterin ya Win”


            “Iya Kak” jawab Winda kemudian


mengakhiri pembicaraan mereka ditelepon.


            .......................


            Winda sudah sampai di rumah Ardi, di


sana ada Mitha yang jagain Ardi.


            Setelah emosi Ardi sering tak


terkendali, dia selalu dijaga keluarganya bergantian. Sampai mereka harus ijin


kerja atau kuliah. Karena itu mereka meminta tolong kepada Winda supaya membawa


Arjuna ketemu dengan Ardi sehingga Ardi mau terapi ke Psikolog.


            “Masuk Kak” kata Mitha kepada Winda.


            Winda langsung masuk ke rumah Ardi sambil


menggendong Arjuna. Setelah melihat Ardi, Winda menurunkan Arjuna dan


menuntunnya untuk mendekati Ardi.


            Ardi menangis melihat Arjuna, dia


merasa senang juga merasa bersalah. Emosinya campur aduk dan tak bisa


dikendalikan.


            Ardi berusaha memeluk Arjuna, akan


tetapi karena Arjuna merasa tidak mengenal Ardi, dia malah menangis tidak mau mendekati


Ardi.


            Melihat hal itu Ardi menjadi sedih


dan merasa bersalah. Dia merasa telah menyia-nyiakan waktunya karena tidak bisa


bersama Arjuna.


            Winda mendekati Ardi dan berkata,


            “Arjuna butuh waktu Mas. Nanti


kecewa dan merasa sedih karena Arjuna tidak mau dipeluk dan digendong Ardi.


            Arjuna kemudian berlarian dan


bermain bersama Mitha. Sementara itu, Winda membujuk Ardi agar mau dibawa ke


Psikolog.


            “Mas, ayo aku antar ke Psikolog” kata


Winda.


            “Aku nggak mau, aku nggak gila Win”


jawab Ardi.


            “Siapa yang bilang Mas Ardi gila? Kita


ke Psikolog supaya Mas Ardi menjadi tenang” jawab Winda.


            “Aku tenang kok. Lihat aja, aku


nggak ngamuk-ngamuk kan” kata Ardi tetap nggak mau pergi.


            “Apalagi ada Arjuna di sini. Aku


sudah bahagia” kata Ardi lagi.


            “Bukan kayak gitu Mas.... Mas Ardi


tetap harus ke Psikolog supaya pikiran Mas Ardi tetap tenang dan nggak tantrum


kaya kemarin-kemarin” bujuk Winda.


            “Nggak Win.... jangan maksa dong”


“Mas, aku bawa Arjuna ke sini supaya Mas Ardi


mau dibawa ke Psikolog”


“Aku bilang nggak ya nggak!” kata Ardi dengan


agak keras.


Mitha dan Arjuna kaget kemudian Arjuna


menangis. Melihat Arjuna menangis, Mitha mendekati Arjuna dan menenangkan


Arjuna sampai Arjuna berhenti menangis.

__ADS_1


Setelah Arjuna berhenti menangis, Winda


mendekati Ardi lagi kemudian berkata,


“Aku bukannya mau nyalahin kamu ya Mas, tapi


kalau Mas Ardi nggak bisa  mengontrol


emosi kayak gini, aku nggak bisa bawa Arjuna ketemu Mas Ardi lagi. Tahu


kenapa?! Karena kalau Mas Ardi nggak bisa mengontrol emosi, Arjuna akan kena


dampaknya!” kata Winda agak keras kepada Ardi.


            Ardi hanya terdiam, dia tidak tahu


harus bagaimana.


            “Aku bingung Win” kata Ardi


            “Aku anter ke Psikolog sekarang ya Mas.


Kita masuk dan terapi sama-sama. Aku kamu dan Arjuna” kata Winda.


            “Kamu mau ikut masuk?” tanya Ardi.


            “Kalau itu diperlukan aku akan ikut


masuk” jawab Winda.


            “Apalagi kamu sudah menjadi seorang


Ayah Mas, kamu seharusnya bisa melindungi Arjuna dengan bisa mengontrol emosimu”


kata Winda lagi.


            Ardi hanya mengangguk kemudian


bertanya,


            “Apa yang kuperlukan untuk ke


Psikolog?”


            “Mas Ardi mandi dan ganti baju. Itu


aja yang diperlukan Mas. Yang lainnya biar aku yang ngurus. Sekarang Mas Ardi


segera mandi ya. Aku tunggu” kata Winda tegas.


            Ardi menurut, dia mandi lalu


berangkat dengan Winda ke Psikolog bersama Arjuna dan Mitha.


            “Kamu sekarang sudah bisa nyetir


sendiri ya Win?” tanya Ardi membuka pembicaraan.


            “Iya Mas, aku belajar dari Ayah”


jawab Winda.


            Ardi takjub melihat Winda menyetir


mobil, karena ini kali pertamanya dia melihat Winda menyetir sendiri. Ardi yang


duduk disamping Winda melihat Winda dari samping dan merasa menyesal telah


meninggalkan Winda untuk wanita yang ternyata telah membohonginya.


            Karena Ardi terdiam, Winda menjadi


khawatir dan menoleh. Pipi Winda menjadi memerah karena dia melihat Ardi yang


sedang menatapnya. Dia berusaha menata hatinya lagi supaya tidak terbawa


perasaan.


            “Mas, kalau mau tidur, tidur aja. Aku


tahu Mas Ardi nggak bisa tidur dari Mbak Lela” kata Winda.


            “Iya” jawab Ardi singkat.


            Winda yang mendengar jawaban yang


singkat dari Ardi agak kecewa. Dia masih ingin bercakap-cakap dengan Ardi. Tapi


Winda juga tahu diri, karena Winda berpikir bahwa Ardi masih mencintai Mina.


            Selama perjalanan, Ardi terdiam dan


berusaha untuk tidur. Akan tetapi dia hanya bisa memejamkan matanya tapi tidak


bisa tidur.


            Ardi memikirkan apakah Winda mau


bersamanya lagi, akan tetapi pikiran itu tidak berani dia bicarakan dengan


Winda.

__ADS_1


__ADS_2