
Ibunya Winda terdiam dan merasa
kasihan kepada Ardi. Walau bagaimanapun, Ardi adalah Ayah dari cucunya. Kalau
sampai nanti terjadi sesuatu dengan Ardi, kasihan Arjuna karena sampai kapanpun
kisah Ayah Arjuna akan membekas di pikiran Arjuna.
Ibunya Winda menatap suaminya meminta
jawaban. Ayah Winda melihat istrinya yang sedang menatapnya kemudian berkata,
“Sebenarnya Ayah nggak apa-apa Win,
kamu mengajak Arjuna untuk ketemu Ayahnya. Walau bagaimanapun tidak ada yang
namanya mantan anak. Walaupun kamu sudah berpisah dengan Ardi, tetapi hubungan
Arjuna tidak akan terputus sampai kapanpun”
Akhirnya Ayah Winda mengijinkan
Winda, akan tetapi Ibunya Winda masih terdiam. Melihat Ibunya yang tidak
memberikan komentar lagi, Winda berkata kepada Ibunya,
“Kalau Ibu tidak mengijinkan, saya
tidak akan membawa Arjuna bertemu dengan Ardi Bu. Jadi Ibu tidak usah kuatir
lagi” kata Winda takut Ibunya menjadi sedih.
Winda tahu Ibunya masih sakit hati karena
Ardi menikah dengan orang lain dan menyakiti perasaan Winda.
Ibunya Winda menghela nafas panjang
kemudian berkata,
“Ya sudah... Ibu tidak apa-apa Win.
Bawa saja Arjuna bertemu Ayahnya. Seperti kata Ayah kamu, hubungan mereka akan
tetap sama walaupun tidak pernah bertemu. Ibu takut kalau Arjuna jadi anak yang
durhaka apabila dia membenci Ayahnya. Apalagi.... apalagi kalau sampai Ardi
menjadi gila.... mungkin kalau keadaannya semakin memburuk. Arjuna akan dikatai
anak orang gila”
Ibu Winda terdiam, Winda mulai
meneteskan air mata.
“Ibu ikhlas.... bawa saja Arjuna
bertemu Ayahnya” lanjut Ibu Winda.
“Terimakasih Ayah Ibu” kata Winda
.....................................
Setelah keesokan harinya, Winda
siap-siap membawa Arjuna ke tempat Ardi. Winda mempersiapkan banyak barang jikalau
nanti Arjuna harus menginap di rumah Ayahnya.
Arjuna yang sudah bisa jalan tidak
bisa diam, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk berkemas menjadi lebih lama.
Kemudian ada telepon dari Lela,
“Halo Winda” kata Lela
“Iya Kak”
“Kamu jadi kan ke rumah kakak hari
ini?” tanya Lela.
“Iya kak. Memangnya ada pa ya Kak?”
Winda balik bertanya.
“Nggak ada apa-apa. Cuma memastikan
saja. Jam berapa kamu mau ke sini?”
“ini sudah mau jalan Kak”
“O ya udah. Soalnya kakak harus
kerja. Nitip Ardi ya Win”
“Iya Kak. O ya Kak, nanti
Psikolognya ke rumah atau aku yang anter ke tempat Psikolognya ya?” tanya
__ADS_1
Winda.
“Nanti kamu tolong anterin ya Win”
“Iya Kak” jawab Winda kemudian
mengakhiri pembicaraan mereka ditelepon.
.......................
Winda sudah sampai di rumah Ardi, di
sana ada Mitha yang jagain Ardi.
Setelah emosi Ardi sering tak
terkendali, dia selalu dijaga keluarganya bergantian. Sampai mereka harus ijin
kerja atau kuliah. Karena itu mereka meminta tolong kepada Winda supaya membawa
Arjuna ketemu dengan Ardi sehingga Ardi mau terapi ke Psikolog.
“Masuk Kak” kata Mitha kepada Winda.
Winda langsung masuk ke rumah Ardi sambil
menggendong Arjuna. Setelah melihat Ardi, Winda menurunkan Arjuna dan
menuntunnya untuk mendekati Ardi.
Ardi menangis melihat Arjuna, dia
merasa senang juga merasa bersalah. Emosinya campur aduk dan tak bisa
dikendalikan.
Ardi berusaha memeluk Arjuna, akan
tetapi karena Arjuna merasa tidak mengenal Ardi, dia malah menangis tidak mau mendekati
Ardi.
Melihat hal itu Ardi menjadi sedih
dan merasa bersalah. Dia merasa telah menyia-nyiakan waktunya karena tidak bisa
bersama Arjuna.
Winda mendekati Ardi dan berkata,
“Arjuna butuh waktu Mas. Nanti
kecewa dan merasa sedih karena Arjuna tidak mau dipeluk dan digendong Ardi.
Arjuna kemudian berlarian dan
bermain bersama Mitha. Sementara itu, Winda membujuk Ardi agar mau dibawa ke
Psikolog.
“Mas, ayo aku antar ke Psikolog” kata
Winda.
“Aku nggak mau, aku nggak gila Win”
jawab Ardi.
“Siapa yang bilang Mas Ardi gila? Kita
ke Psikolog supaya Mas Ardi menjadi tenang” jawab Winda.
“Aku tenang kok. Lihat aja, aku
nggak ngamuk-ngamuk kan” kata Ardi tetap nggak mau pergi.
“Apalagi ada Arjuna di sini. Aku
sudah bahagia” kata Ardi lagi.
“Bukan kayak gitu Mas.... Mas Ardi
tetap harus ke Psikolog supaya pikiran Mas Ardi tetap tenang dan nggak tantrum
kaya kemarin-kemarin” bujuk Winda.
“Nggak Win.... jangan maksa dong”
“Mas, aku bawa Arjuna ke sini supaya Mas Ardi
mau dibawa ke Psikolog”
“Aku bilang nggak ya nggak!” kata Ardi dengan
agak keras.
Mitha dan Arjuna kaget kemudian Arjuna
menangis. Melihat Arjuna menangis, Mitha mendekati Arjuna dan menenangkan
Arjuna sampai Arjuna berhenti menangis.
__ADS_1
Setelah Arjuna berhenti menangis, Winda
mendekati Ardi lagi kemudian berkata,
“Aku bukannya mau nyalahin kamu ya Mas, tapi
kalau Mas Ardi nggak bisa mengontrol
emosi kayak gini, aku nggak bisa bawa Arjuna ketemu Mas Ardi lagi. Tahu
kenapa?! Karena kalau Mas Ardi nggak bisa mengontrol emosi, Arjuna akan kena
dampaknya!” kata Winda agak keras kepada Ardi.
Ardi hanya terdiam, dia tidak tahu
harus bagaimana.
“Aku bingung Win” kata Ardi
“Aku anter ke Psikolog sekarang ya Mas.
Kita masuk dan terapi sama-sama. Aku kamu dan Arjuna” kata Winda.
“Kamu mau ikut masuk?” tanya Ardi.
“Kalau itu diperlukan aku akan ikut
masuk” jawab Winda.
“Apalagi kamu sudah menjadi seorang
Ayah Mas, kamu seharusnya bisa melindungi Arjuna dengan bisa mengontrol emosimu”
kata Winda lagi.
Ardi hanya mengangguk kemudian
bertanya,
“Apa yang kuperlukan untuk ke
Psikolog?”
“Mas Ardi mandi dan ganti baju. Itu
aja yang diperlukan Mas. Yang lainnya biar aku yang ngurus. Sekarang Mas Ardi
segera mandi ya. Aku tunggu” kata Winda tegas.
Ardi menurut, dia mandi lalu
berangkat dengan Winda ke Psikolog bersama Arjuna dan Mitha.
“Kamu sekarang sudah bisa nyetir
sendiri ya Win?” tanya Ardi membuka pembicaraan.
“Iya Mas, aku belajar dari Ayah”
jawab Winda.
Ardi takjub melihat Winda menyetir
mobil, karena ini kali pertamanya dia melihat Winda menyetir sendiri. Ardi yang
duduk disamping Winda melihat Winda dari samping dan merasa menyesal telah
meninggalkan Winda untuk wanita yang ternyata telah membohonginya.
Karena Ardi terdiam, Winda menjadi
khawatir dan menoleh. Pipi Winda menjadi memerah karena dia melihat Ardi yang
sedang menatapnya. Dia berusaha menata hatinya lagi supaya tidak terbawa
perasaan.
“Mas, kalau mau tidur, tidur aja. Aku
tahu Mas Ardi nggak bisa tidur dari Mbak Lela” kata Winda.
“Iya” jawab Ardi singkat.
Winda yang mendengar jawaban yang
singkat dari Ardi agak kecewa. Dia masih ingin bercakap-cakap dengan Ardi. Tapi
Winda juga tahu diri, karena Winda berpikir bahwa Ardi masih mencintai Mina.
Selama perjalanan, Ardi terdiam dan
berusaha untuk tidur. Akan tetapi dia hanya bisa memejamkan matanya tapi tidak
bisa tidur.
Ardi memikirkan apakah Winda mau
bersamanya lagi, akan tetapi pikiran itu tidak berani dia bicarakan dengan
Winda.
__ADS_1