
Hari Jum’at Mitha datang ke rumah
Winda. Sesampainya di sana, orang yang ditemui pertama kali adalah Rahma.
“Assalamu’alaikum, Mbak Windanya
ada?” tanya Mitha kepada Rahma.
“Ada Mbak. Silahkan duduk
sebentar ya Mbak, saya panggilkan Mbak Winda”, Rahma mempersilahkan duduk Mitha
di toko tempat barang-barang online shopnya Winda dijual.
Rahma masuk ke rumah kemudian
mencari Winda di kamar.
“Mbak Winda, ada yang nyari”
“Siapa Ma?”
“Nggak tahu Mbak, lupa nanya
namanya Mbak”.
“Ya, suruh tunggu sebentar ya”
kata Winda.
Setelah beberapa saat Winda
keluar menuju tokonya.
“Ya ampun Mitha, udah dateng ya.
Kok nggak ngabari dulu?” tanya Winda.
“Nggak Mbak, maksudnya sih mau
bikin surprise. Hehe”.
“Halah, surprise-surprise an
segala. Naik apa Mit ke sininya?”
“Naik motor Mbak”
“Tadi dah pamit?”
“Udah”
“Bilang pergi ke mana?”
“Ke rumah Mbak Winda. Aku nggak
berani bohong Mbak, nanti nggak berkah”
“Iya-iya. Tapi apa yang terjadi
di sini yang rahasia jangan dikasih tahu keluargamu lho”’
“Iya Mbak, tenang aja. Paling
nanti Bunda kalau tanya tak jawab Mbak inda baik-baik aja, nggak usah khawatir.
Gitu kan Mbak?”
“Iya”
Kemudian terdengar tangisan bayi
dari kamar.
“Dedeknya siapa Mbak yang
nangis?” tanya Mitha ke Winda.
“Dedeknya Mbak Winda” jawab
Winda.
“Bohong” Mitha tetap nggak
percaya.
“Ayo ke kamar Mbak Winda,
dedeknya mau minum susu tuh”.
Mitha berpikir kalau Mbak Winda
ngangkat anak atau mungkin ponakannya Mbak Winda.
Tapi setelah sampai kamar dan
Mbak Winda mulai menyusui bayi, Mitha jadi bingung. Kenapa Mbak Winda punya
anak padahal kan sudah cerai dengan Mas Ardi.
“Mbak Winda sudah punya suami
__ADS_1
lagi?”
“Belum. Kenapa Mit?”
“Anaknya umur berapa Mbak,
kayaknya umurnya sama kaya Bimo ya?”
“ Umurnya 5 bulan Mit. Bimo tu
anaknya Mas Ardi ya? Jadi cowok ya? Kalau iya umurnya udah 6 bulan. Beda 1
bulan dengan Arjuna anak Mbak Winda”
“Oooo, dedeknya namanya Arjuna ya
Mbak? Ganteng ya” puji Mitha.
“Iya, alkhamdulillah”
Jari-jari Mitha digerak-gerakkan
seperti menghitung sesuatu sambil mulutnya komat kamit. Kemudian berbicara
“Mbak Winda, pas keluar dari
rumah itu udah sekitar 9 bulanan yang lalu ya?”
Winda hanya bisa mengangguk
sambil tersenyum.
“Berarti..... berarti ini adeknya
anaknya Mas Ardi dong?”
“Iya Mithaaaa...” Winda menjawab
sambil tersenyum.
“Kok Mbak Winda nggak ngomong ke
keluarga?”
“Mau ngomong gimana? Mbak Winda
juga nggak tahu kalau Mbak Winda hamil. Kalau dihitung-hitung pas Mas Ardi
ngajak ceweknya ke rumah kan umur kandungannya sudah 3 bulan, sedangkan Mbak
Winda umur kandungannya baru 2 bulan. Karena Mbak Winda banyak pikiran, jadi
Mbak Winda nggak tahu kalau sedang hamil. Mbak Winda tahu kalau sedang hamil
sakit juga Mbak Winda nggak akan periksa ke Dokter Mit” dengan tersenyum Winda
menjelaskan keadaannya kepada Mitha.
“Lalu, habis dari Dokter kenapa
Mbak Winda nggak ngomong sama keluarga?” tanya Mitha agak sedikit kesal karena
merasa dikhianati orang kepercayaannya.
“Mbak Winda pergi ke Dokter Umum,
trus sama Dokter Umum disuruh ke Dokter Kandungan. Itu Mbak winda naik ojek
online nggak ada yang nganter. Semua kan sudah sibuk dengan urusan
masing-masing, termasuk Mas Ardi dia sudah sibuk ngurusi istri barunya dan
selama Mbak Mina di sana Mas Ardi nggak pernah ngobrol sama Mbak Winda sama
sekali. Akhirnya Mbak Winda memutuskan untuk pulang ke rumah orangtua Mbak
Winda, dimana banyak orang yang akan memperhatikan dan merawat Mbak Winda”
Winda menceritakan semua kepada Mitha karena umur Mitha sudah 19 tahun, jadi
paling tidak dia akan mengerti. Selain itu, dengan menceritakan semuanya pada
Mitha, Winda merasa lega karena sudah menceritakan alasan dia pergi
meninggalkan Ardi sewaktu hamil kepada keluarga Ardi.
Mitha hanya terdiam kemudian
berkata
“Apa aku boleh cerita ke Bunda
Mbak?” tanyanya.
“Mbak Winda maunya jangan Mit,
karena Mbak Winda nggak mau Mas Ardi tahu kalau dia punya anak dari Mbak Winda.
Terus terang, walaupun rasa sakit ini sudah terobati dengan datangnya Arjuna,
tapi di dalam hati Mbak Winda yang paling dalam masih ada luka yang membekas”
__ADS_1
jawab Winda.
Mereka berdua terdiam, Winda
berpikir apapun keputusan Mitha, entah cerita atau tidak ke keluarganya tentang
keberadaan Arjuna, Winda hanya bisa pasrah.
“Ini Kak Mitha dek Arjuna, salam
kenal ya” Mitha akhirnya membuka pembicaraan kembali dengan berbicara dengan
Arjuna. Arjuna menoleh kepada Mitha untuk mencari sumber suara yang menyapanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul
16.49, karena jarak rumah Winda dengan Mitha jauh, maka Mitha segera berpamitan
kepada Winda dan orangtua Winda. Walaupun ada perasaan sedikit kesal, karena
keluarga Ardi datang, orangtua Winda tetap menyambut tamu sebagaimana mestinya.
Setelah Mitha pulang, orangtua
Winda bertanya kepada Winda
“Ada apa Mitha datang kemari?”
dengan rasa curiga Ayah Winda bertanya untuk memastikan maksud kedatangan Mitha
ke rumahnya.
“ Nggak ada apa-apa kok Pak, cuma
silaturahmi aja kok. Bapak nggak usah cemas”.
“Bapak nggak cemas Nak, Cuma
heran kan kita sudah nggak ada hubungannya dengan keluarga mereka. Kenapa
mereka masih kemari juga”
“Terus bagaimana dengan
keberadaan Arjuna? Katanya kamu mau merahasiakan keberadaan Arjuna?” Ibu Winda
ikut menimpali perkataan Ayahnya.
Mitha menarik nafas panjang dan
berkata
“Bapak, Ibu.... lebih baik kita
memikirkan keluarga kita saja. Mereka sudah bukan keluarga kita, jadi tidak
usah terlalu dipermasalahkan mereka kemari atau tidak. Masa Winda melarang
orang yang menjalin silaturahmi dengan kita. Iya kan Pak, Bu?”
Orangtua Winda cuma terdiam dan
mendengus kesal.
“Lagipula, Arjuna kan masih
saudara mereka juga. Kita mungkin sudah tidak ada hubungan dengan mereka. Tapi
Arjuna tidak Pak, Bu” kata Winda dengan bijak.
“Ya Bapak Ibu sih tahu, cuma ya
kesal aja sedikit” kata Ibunya winda.
“Hehe... Ayo Bu memandikan Arjuna
biar cucu Ibu semakin ganteng” kata Winda berusaha mengalihkan perhatian.
“Cucu Bapak juga kali Nak.
Hehehe” kata Ayah Mitha menimpali, tidak amu kalah dengan istrinya.
Ya, kehadiran Arjuna bagaikan
mata air di tengah gurun pasir bagi pasutri itu. Di saat-saat terpuruknya
mereka, ketika Putri sematang wayangnya disakiti oleh menantu yang amat sangat
dicintai dan dipercaya, mereka menjadi terpuruk. Akan tetapi berkat keberadaan
Arjuna, rasa sakit itu pulih dengan sendirinya. Walaupun Arjuna adalah anak
orang yang menyakiti putri mereka, keberadaan Arjuna di tengah-tengah mereka
menjadi penyemangat hidup mereka.
Keluarga itu menjadi ceria lagi
setelah Winda melahirkan Arjuna, rasa sakit yang ditimbukan oleh perceraian
Winda, omongan tetangga ketika Winda bercerai dengan suaminya, semua itu sirna
__ADS_1
ketika Arjuna lahir ke dunia.
Mereka kuat karena Arjuna.