Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
Episode 6 LUKA


__ADS_3

Hari Jum’at Mitha datang ke rumah


Winda. Sesampainya di sana, orang yang ditemui pertama kali adalah Rahma.


“Assalamu’alaikum, Mbak Windanya


ada?” tanya Mitha kepada Rahma.


“Ada Mbak. Silahkan duduk


sebentar ya Mbak, saya panggilkan Mbak Winda”, Rahma mempersilahkan duduk Mitha


di toko tempat barang-barang online shopnya Winda dijual.


Rahma masuk ke rumah kemudian


mencari Winda di kamar.


“Mbak Winda, ada yang nyari”


“Siapa Ma?”


“Nggak tahu Mbak, lupa nanya


namanya Mbak”.


“Ya, suruh tunggu sebentar ya”


kata Winda.


Setelah beberapa saat Winda


keluar menuju tokonya.


“Ya ampun Mitha, udah dateng ya.


Kok nggak ngabari dulu?” tanya Winda.


“Nggak Mbak, maksudnya sih mau


bikin surprise. Hehe”.


“Halah, surprise-surprise an


segala. Naik apa Mit ke sininya?”


“Naik motor Mbak”


“Tadi dah pamit?”


“Udah”


“Bilang pergi ke mana?”


“Ke rumah Mbak Winda. Aku nggak


berani bohong Mbak, nanti nggak berkah”


“Iya-iya. Tapi apa yang terjadi


di sini yang rahasia jangan dikasih tahu keluargamu lho”’


“Iya Mbak, tenang aja. Paling


nanti Bunda kalau tanya tak jawab Mbak inda baik-baik aja, nggak usah khawatir.


Gitu kan Mbak?”


“Iya”


Kemudian terdengar tangisan bayi


dari kamar.


“Dedeknya siapa Mbak yang


nangis?” tanya Mitha ke Winda.


“Dedeknya Mbak Winda” jawab


Winda.


“Bohong” Mitha tetap nggak


percaya.


“Ayo ke kamar Mbak Winda,


dedeknya mau minum susu tuh”.


Mitha berpikir kalau Mbak Winda


ngangkat anak atau mungkin ponakannya Mbak Winda.


Tapi setelah sampai kamar dan


Mbak Winda mulai menyusui bayi, Mitha jadi bingung. Kenapa Mbak Winda punya


anak padahal kan sudah cerai dengan Mas Ardi.


“Mbak Winda sudah punya suami

__ADS_1


lagi?”


“Belum. Kenapa Mit?”


“Anaknya umur berapa Mbak,


kayaknya umurnya sama kaya Bimo ya?”


“ Umurnya 5 bulan Mit. Bimo tu


anaknya Mas Ardi ya? Jadi cowok ya? Kalau iya umurnya udah 6 bulan. Beda 1


bulan dengan Arjuna anak Mbak Winda”


“Oooo, dedeknya namanya Arjuna ya


Mbak? Ganteng ya” puji Mitha.


“Iya, alkhamdulillah”


Jari-jari Mitha digerak-gerakkan


seperti menghitung sesuatu sambil mulutnya komat kamit. Kemudian berbicara


“Mbak Winda, pas keluar dari


rumah itu udah sekitar 9 bulanan yang lalu ya?”


Winda hanya bisa mengangguk


sambil tersenyum.


“Berarti..... berarti ini adeknya


anaknya Mas Ardi dong?”


“Iya Mithaaaa...” Winda menjawab


sambil tersenyum.


“Kok Mbak Winda nggak ngomong ke


keluarga?”


“Mau ngomong gimana? Mbak Winda


juga nggak tahu kalau Mbak Winda hamil. Kalau dihitung-hitung pas Mas Ardi


ngajak ceweknya ke rumah kan umur kandungannya sudah 3 bulan, sedangkan Mbak


Winda umur kandungannya baru 2 bulan. Karena Mbak Winda banyak pikiran, jadi


Mbak Winda nggak tahu kalau sedang hamil. Mbak Winda tahu kalau sedang hamil


sakit juga Mbak Winda nggak akan periksa ke Dokter Mit” dengan tersenyum Winda


menjelaskan keadaannya kepada Mitha.


“Lalu, habis dari Dokter kenapa


Mbak Winda nggak ngomong sama keluarga?” tanya Mitha agak sedikit kesal karena


merasa dikhianati orang kepercayaannya.


“Mbak Winda pergi ke Dokter Umum,


trus sama Dokter Umum disuruh ke Dokter Kandungan. Itu Mbak winda naik ojek


online nggak ada yang nganter. Semua kan sudah sibuk dengan urusan


masing-masing, termasuk Mas Ardi dia sudah sibuk ngurusi istri barunya dan


selama Mbak Mina di sana Mas Ardi nggak pernah ngobrol sama Mbak Winda sama


sekali. Akhirnya Mbak Winda memutuskan untuk pulang ke rumah orangtua Mbak


Winda, dimana banyak orang yang akan memperhatikan dan merawat Mbak Winda”


Winda menceritakan semua kepada Mitha karena umur Mitha sudah 19 tahun, jadi


paling tidak dia akan mengerti. Selain itu, dengan menceritakan semuanya pada


Mitha, Winda merasa lega karena sudah menceritakan alasan dia pergi


meninggalkan Ardi sewaktu hamil kepada keluarga Ardi.


Mitha hanya terdiam kemudian


berkata


“Apa aku boleh cerita ke Bunda


Mbak?” tanyanya.


“Mbak Winda maunya jangan Mit,


karena Mbak Winda nggak mau Mas Ardi tahu kalau dia punya anak dari Mbak Winda.


Terus terang, walaupun rasa sakit ini sudah terobati dengan datangnya Arjuna,


tapi di dalam hati Mbak Winda yang paling dalam masih ada luka yang membekas”

__ADS_1


jawab Winda.


Mereka berdua terdiam, Winda


berpikir apapun keputusan Mitha, entah cerita atau tidak ke keluarganya tentang


keberadaan Arjuna, Winda hanya bisa pasrah.


“Ini Kak Mitha dek Arjuna, salam


kenal ya” Mitha akhirnya membuka pembicaraan kembali dengan berbicara dengan


Arjuna. Arjuna menoleh kepada Mitha untuk mencari sumber suara yang menyapanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul


16.49, karena jarak rumah Winda dengan Mitha jauh, maka Mitha segera berpamitan


kepada Winda dan orangtua Winda. Walaupun ada perasaan sedikit kesal, karena


keluarga Ardi datang, orangtua Winda tetap menyambut tamu sebagaimana mestinya.


Setelah Mitha pulang, orangtua


Winda bertanya kepada Winda


“Ada apa Mitha datang kemari?”


dengan rasa curiga Ayah Winda bertanya untuk memastikan maksud kedatangan Mitha


ke rumahnya.


“ Nggak ada apa-apa kok Pak, cuma


silaturahmi aja kok. Bapak nggak usah cemas”.


“Bapak nggak cemas Nak, Cuma


heran kan kita sudah nggak ada hubungannya dengan keluarga mereka. Kenapa


mereka masih kemari juga”


“Terus bagaimana dengan


keberadaan Arjuna? Katanya kamu mau merahasiakan keberadaan Arjuna?” Ibu Winda


ikut menimpali perkataan Ayahnya.


Mitha menarik nafas panjang dan


berkata


“Bapak, Ibu.... lebih baik kita


memikirkan keluarga kita saja. Mereka sudah bukan keluarga kita, jadi tidak


usah terlalu dipermasalahkan mereka kemari atau tidak. Masa Winda melarang


orang yang menjalin silaturahmi dengan kita. Iya kan Pak, Bu?”


Orangtua Winda cuma terdiam dan


mendengus kesal.


“Lagipula, Arjuna kan masih


saudara mereka juga. Kita mungkin sudah tidak ada hubungan dengan mereka. Tapi


Arjuna tidak Pak, Bu” kata Winda dengan bijak.


“Ya Bapak Ibu sih tahu, cuma ya


kesal aja sedikit” kata Ibunya winda.


“Hehe... Ayo Bu memandikan Arjuna


biar cucu Ibu semakin ganteng” kata Winda berusaha mengalihkan perhatian.


“Cucu Bapak juga kali Nak.


Hehehe” kata Ayah Mitha menimpali, tidak amu kalah dengan istrinya.


Ya, kehadiran Arjuna bagaikan


mata air di tengah gurun pasir bagi pasutri itu. Di saat-saat terpuruknya


mereka, ketika Putri sematang wayangnya disakiti oleh menantu yang amat sangat


dicintai dan dipercaya, mereka menjadi terpuruk. Akan tetapi berkat keberadaan


Arjuna, rasa sakit itu pulih dengan sendirinya. Walaupun Arjuna adalah anak


orang yang menyakiti putri mereka, keberadaan Arjuna di tengah-tengah mereka


menjadi penyemangat hidup mereka.


Keluarga itu menjadi ceria lagi


setelah Winda melahirkan Arjuna, rasa sakit yang ditimbukan oleh perceraian


Winda, omongan tetangga ketika Winda bercerai dengan suaminya, semua itu sirna

__ADS_1


ketika Arjuna lahir ke dunia.


Mereka kuat karena Arjuna.


__ADS_2