
Winda menunggu kabar dari Resti tentang
kerjasamanya dengan Luhur Shop. Sudah 1
minggu lebih Winda menunggu tapi belum ada chat dari Resti. Akhirnya Winda
menyerah menunggu dan fokus pada usahanya.
Lamunan Winda dibuyarkan dengan panggilan
Rahma,
“Mbak...” kata Rahma hati hati karena melihat
Winda sedang termenung.
“Ya?”
“Anu Mbak.....” jawab Rahma ragu.
“Ada apa Ma?”
Rahma masih terdiam, dia ragu untuk
mengutarakan maksudnya. Winda yang melihat hal itu jadi berpikir apa mungkin
Rahma mau pindah kerja ke tempat lain atau minta kenaikan gaji.
“Rahma, bilang aja nggak apa-apa. Nggak usah
ragu atau takut” kata Winda hati-hati supaya Rahma mau mengutarakan maksudnya.
“Gini Mbak, kerjaan di Purple Shop bertambah
banyak, aku nggak bisa ngurusin sendirian. Kalau... misal tambah pegawai gimana
Mbak?” kata Rahma memberanikan diri.
Winda merasa lega mendengar hal itu. Rahma
bukan minta keluar tapi minta tambahan pegawai untuk membantunya. Memang akhir-akhir
ini Purple Shop orderannya bertambah banyak, dari online shop sampai yang
datang ke toko. Rahma yang melayani semua ketika Winda sibuk mengurusi Arjuna.
Winda sadar akan hal itu.
“Iya, benar juga ya. Kamu kerepotan kerja
sendirian. Kamu pengennya orang yang kerja nanti kamu minta bantuan di bagian mana?
Atau kerjaannya sama kaya kamu?” tanya Winda mengajak berdiskusi dengan Rahma.
Karena bagi Winda, berdiskusi untuk meminta pendapat para karyawan itu akan
mendapatkan second opinion supaya bisa bekerja lebih baik.
“ Anu Mbak... Saya mintanya yang untuk
packing barang sama membantu melayani pembeli kalau pas lagi rame tokonya. Tapi
kalau mau nambah admin lagi nggak apa-apa sih Mbak. Soalnya saya juga kerepotan”
jawab Resti.
“Berarti kamu pengennya 1 orang atau tambah 2
orang?”
“1 orang saja kayaknya cukup Mbak”
“Yakin kamu nggak kerepotan? Kalau misal
tambah yang packing berarti orderan kita semakin banyak dong. Belum lagi untuk
cek barang juga kan?”
“Iya juga ya Mbak. Hehe” Rahma baru menyadari
kalau Cuma tambah 1 orang dia masih akan kerepotan dengan upload barang dan
lain-lain.
“Apa tambah 2 orang? Yang 1 admin kaya kamu,
dia bisa juga melayani orang yang datang ke toko, trus yang 1 khusus packing
barang sama bantuin bersih-bersih?”
__ADS_1
“Iya Mbak. Aku setuju. Tapi... Mbak Winda
kerepotan nggak soal gaji....” kata Rahma merasa kasihan kalau Winda keberatan
kalau harus menggaji 3 orang sekaligus.
“Insya Allah nggak apa-apa Rahma, kan
kesehatan juga harus dijaga. Kerja dengan baik itu harus tapi jangan terlalu
capek kalau kerja” kata Winda bijak.
Akhirnya Rahma memutuskan mencari karyawan
baru melalui sosial media dan dan menyebar info dari mulut ke mulut.
“Rahma, nanti kalau ada yang daftar kamu juga
ikut seleksi pegawai ya. Jangan sampai ada pegawai baru kamu malah nggak betah
gara-gara nggak cocok” kata Winda.
“OK Mbak. Beres” kata Rahma sambil
mengacungkan jempolnya.
...............................................
Resti bingung bagaimana harus bicara kepada
Winda tentang pembatalan kerjasama Luhur Shop dengan Purple Shop. Sampai suatu
ketika dia melihat statusnya Winda sedang mencari pegawai baru. Resti tertarik
ingin kerja dengan Winda, tapi takut juga kalau ditolak karena mungkin Winda
tidak mau menerimanya karena takut dibilang merebut karyawan orang.
Kemudian Resti memberanikan diri untuk
mengirim pesan kepada Winda kalau Luhur Shop ternyata tidak jadi bekerjasama
dengan Purple Shop.
‘Selamat siang Mbak’ isi pesan Resti kepada
Winda, dan ternyata Winda langsung membalas pesan dari Resti.
‘Terkait kerjasama yang ditawarkan Mas Ardi
kemarin.... Maaf ya Mbak, ternyata Mas Ardi nggak jadi ngajak Mbak Winda kerjasama
karena Mas Ardi takut menyinggung perasaannya Mbak Winda’
Winda lama termenung melihat pesan dari
Resti. Hatinya mencelos, dia merasa cemburu karena Ardi memperhatikan perasaan
Mina. Kemudian Winda menyalahkan dirinya karena belum bisa melupakan Ardi.
Kemudian Winda membalas pesan Resti dengan
sedih. Tapi dia menguatkan hatinya dengan terus menerus menyalahkan perasaannya
yang belum bisa melupakan Ardi.
‘Iya Res, nggak apa-apa kok’ balas Winda.
‘Apa Mbak Winda baru cari pegawai?’ tanya
Resti membalas pesan Winda.
‘Iya Res’ Winda menjawab tanpa mau bertanya
kenapa Resti menanyakan hal itu. Winda takut bila Resti ingin kerja dengannya
dan keluar dari tempat Ardi. Winda tidak mau menimbulkan kesalahpahaman
diantara Winda dan Ardi.
Resti melihat jawaban dari Winda yang singkat
itu berpikir kalau Winda kecewa karena tidak jadi kerjasama dengan Luhur Shop.
Resti merasa tidak enak kepada Winda karena waktu itu yang menemui Winda untuk
bekerjasama dengan Luhur Shop adalah Resti.
Resti berpikir bagaimana baiknya supaya Winda
__ADS_1
tidak marah karena kecewa kepada Resti. Lama termenung kemudian Resti
memutuskan untuk menelepon Winda.
“Assalamu’alaikum Mbak” sapa Resti ketika
teleponnya diangkat.
“Wa’alaikumsalam Res. Ada apa ya?” tanya
Winda.
“Mbak Winda..... Mbak Winda marah ya karena
tidak jadi kerjasama dengan Luhur Shop?”
Winda kaget mendengar pertanyaan itu,
“Nggak Res. Memangnya ada apa ya kok kamu
bisa tanya begitu?”
“Ini Mbak.... tadi pas aku kirim pesan ke
Mbak Winda, Mbak Winda balesnya singkat. Jadi aku pikir Mbak Winda marah sama
aku. Aku jadi nggak enak hati”.
Winda yang kaget mendengar jawaban Resti
menjawab sambil tersenyum,
“Nggak kok Res, tenang aja. Ini aku lagi ada
tamu. Ada yang daftar jadi karyawan tokoku”
“Gitu ya Mbak. Syukur deh kalau Mbak Winda
nggak marah. Kapan-kapan aku ke tempat Mbak Winda ya. Aku pengen ketemu Arjuna
juga”
“Iya, main aja. Tempatku selalu terbuka
untukmu Res” jawab Winda. Kemudian mereka mengakhiri obrolan mereka.
Sekitar dua mingguan akhirnya Winda
mendapatkan 2 karyawan baru yang ikut membantu usahanya.
Dan disaat itu pula, Ayah Winda mencoba
memperkenalkan Winda kepada laki-laki yang dipikirnya cocok untuk mendampingi
Winda.
“Nak, sini Bapak mau bicara” kata Bapak
memanggil Winda ke ruang tamu.
“Ya Pak, ada apa?” tanya Winda
“Ini, Bapak mau ngomong. Besok sore ada yang
mau main ke sini. Mau ketemu sama kamu”
“Siapa Pak?” tanya Winda curiga dan was-was.
Winda belum punya keinginan untuk berkenalan dengan laki-laki dahulu.
“Namanya Bowo, dia Pegawai Bank di daerah
sini. Umurnya sudah 43 tahun, tapi dia belum pernah menikah. Dia menanyakan
kamu ke teman Bapak. Dia lihat kamu waktu kamu ke Bank. Trus dia tanya-tanya
tentang kamu” kata Bapak Winda.
Winda hanya terdiam bingung mau menjawab apa.
“Dah, temui dia dulu. Siapa tahu cocok. Kalau
nggak cocok ya nggak apa-apa. Kan Cuma kenalan, tambah saudara. Menjalin tali
silaturahmi, tambah rejeki” kata Bapaknya lagi.
Winda hanya bisa menunduk. Persaan Winda
campur aduk, antara marah dan merasa sedih karena dia belum mau kenalan atau
__ADS_1
menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.