Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XV PERJODOHAN


__ADS_3

Winda menunggu kabar dari Resti tentang


kerjasamanya dengan Luhur Shop. Sudah  1


minggu lebih Winda menunggu tapi belum ada chat dari Resti. Akhirnya Winda


menyerah menunggu dan fokus pada usahanya.


Lamunan Winda dibuyarkan dengan panggilan


Rahma,


“Mbak...” kata Rahma hati hati karena melihat


Winda sedang termenung.


“Ya?”


“Anu Mbak.....” jawab Rahma ragu.


“Ada apa Ma?”


Rahma masih terdiam, dia ragu untuk


mengutarakan maksudnya. Winda yang melihat hal itu jadi berpikir apa mungkin


Rahma mau pindah kerja ke tempat lain atau minta kenaikan gaji.


“Rahma, bilang aja nggak apa-apa. Nggak usah


ragu atau takut” kata Winda hati-hati supaya Rahma mau mengutarakan maksudnya.


“Gini Mbak, kerjaan di Purple Shop bertambah


banyak, aku nggak bisa ngurusin sendirian. Kalau... misal tambah pegawai gimana


Mbak?” kata Rahma memberanikan diri.


Winda merasa lega mendengar hal itu. Rahma


bukan minta keluar tapi minta tambahan pegawai untuk membantunya. Memang akhir-akhir


ini Purple Shop orderannya bertambah banyak, dari online shop sampai yang


datang ke toko. Rahma yang melayani semua ketika Winda sibuk mengurusi Arjuna.


Winda sadar akan hal itu.


“Iya, benar juga ya. Kamu kerepotan kerja


sendirian. Kamu pengennya orang yang kerja nanti kamu minta bantuan di bagian mana?


Atau kerjaannya sama kaya kamu?” tanya Winda mengajak berdiskusi dengan Rahma.


Karena bagi Winda, berdiskusi untuk meminta pendapat para karyawan itu akan


mendapatkan second opinion supaya bisa bekerja lebih baik.


“ Anu Mbak... Saya mintanya yang untuk


packing barang sama membantu melayani pembeli kalau pas lagi rame tokonya. Tapi


kalau mau nambah admin lagi nggak apa-apa sih Mbak. Soalnya saya juga kerepotan”


jawab  Resti.


“Berarti kamu pengennya 1 orang atau tambah 2


orang?”


“1 orang saja kayaknya cukup Mbak”


“Yakin kamu nggak kerepotan? Kalau misal


tambah yang packing berarti orderan kita semakin banyak dong. Belum lagi untuk


cek barang juga kan?”


“Iya juga ya Mbak. Hehe” Rahma baru menyadari


kalau Cuma tambah 1 orang dia masih akan kerepotan dengan upload barang dan


lain-lain.


“Apa tambah 2 orang? Yang 1 admin kaya kamu,


dia bisa juga melayani orang yang datang ke toko, trus yang 1 khusus packing


barang sama bantuin bersih-bersih?”

__ADS_1


“Iya Mbak. Aku setuju. Tapi... Mbak Winda


kerepotan nggak soal gaji....” kata Rahma merasa kasihan kalau Winda keberatan


kalau harus menggaji 3 orang sekaligus.


“Insya Allah nggak apa-apa Rahma, kan


kesehatan juga harus dijaga. Kerja dengan baik itu harus tapi jangan terlalu


capek kalau kerja” kata Winda bijak.


Akhirnya Rahma memutuskan mencari karyawan


baru melalui sosial media dan dan menyebar info dari mulut ke mulut.


“Rahma, nanti kalau ada yang daftar kamu juga


ikut seleksi pegawai ya. Jangan sampai ada pegawai baru kamu malah nggak betah


gara-gara nggak cocok” kata Winda.


“OK Mbak. Beres” kata Rahma sambil


mengacungkan jempolnya.


...............................................


Resti bingung bagaimana harus bicara kepada


Winda tentang pembatalan kerjasama Luhur Shop dengan Purple Shop. Sampai suatu


ketika dia melihat statusnya Winda sedang mencari pegawai baru. Resti tertarik


ingin kerja dengan Winda, tapi takut juga kalau ditolak karena mungkin Winda


tidak mau menerimanya karena takut dibilang merebut karyawan orang.


Kemudian Resti memberanikan diri untuk


mengirim pesan kepada Winda kalau Luhur Shop ternyata tidak jadi bekerjasama


dengan Purple Shop.


‘Selamat siang Mbak’ isi pesan Resti kepada


Winda, dan ternyata Winda langsung membalas pesan dari Resti.


‘Terkait kerjasama yang ditawarkan Mas Ardi


kemarin.... Maaf ya Mbak, ternyata Mas Ardi nggak jadi ngajak Mbak Winda kerjasama


karena Mas Ardi takut menyinggung perasaannya Mbak Winda’


Winda lama termenung melihat pesan dari


Resti. Hatinya mencelos, dia merasa cemburu karena Ardi memperhatikan perasaan


Mina. Kemudian Winda menyalahkan dirinya karena belum bisa melupakan Ardi.


Kemudian Winda membalas pesan Resti dengan


sedih. Tapi dia menguatkan hatinya dengan terus menerus menyalahkan perasaannya


yang belum bisa melupakan Ardi.


‘Iya Res, nggak apa-apa kok’ balas Winda.


‘Apa Mbak Winda baru cari pegawai?’ tanya


Resti membalas pesan Winda.


‘Iya Res’ Winda menjawab tanpa mau bertanya


kenapa Resti menanyakan hal itu. Winda takut bila Resti ingin kerja dengannya


dan keluar dari tempat Ardi. Winda tidak mau menimbulkan kesalahpahaman


diantara Winda dan Ardi.


Resti melihat jawaban dari Winda yang singkat


itu berpikir kalau Winda kecewa karena tidak jadi kerjasama dengan Luhur Shop.


Resti merasa tidak enak kepada Winda karena waktu itu yang menemui Winda untuk


bekerjasama dengan Luhur Shop adalah Resti.


Resti berpikir bagaimana baiknya supaya Winda

__ADS_1


tidak marah karena kecewa kepada Resti. Lama termenung kemudian Resti


memutuskan untuk menelepon Winda.


“Assalamu’alaikum Mbak” sapa Resti ketika


teleponnya diangkat.


“Wa’alaikumsalam Res. Ada apa ya?” tanya


Winda.


“Mbak Winda..... Mbak Winda marah ya karena


tidak jadi kerjasama dengan Luhur Shop?”


Winda kaget mendengar pertanyaan itu,


“Nggak Res. Memangnya ada apa ya kok kamu


bisa tanya begitu?”


“Ini Mbak.... tadi pas aku kirim pesan ke


Mbak Winda, Mbak Winda balesnya singkat. Jadi aku pikir Mbak Winda marah sama


aku. Aku jadi nggak enak hati”.


Winda yang kaget mendengar jawaban Resti


menjawab sambil tersenyum,


“Nggak kok Res, tenang aja. Ini aku lagi ada


tamu. Ada yang daftar jadi karyawan tokoku”


“Gitu ya Mbak. Syukur deh kalau Mbak Winda


nggak marah. Kapan-kapan aku ke tempat Mbak Winda ya. Aku pengen ketemu Arjuna


juga”


“Iya, main aja. Tempatku selalu terbuka


untukmu Res” jawab Winda. Kemudian mereka mengakhiri obrolan mereka.


Sekitar dua mingguan akhirnya Winda


mendapatkan 2 karyawan baru yang ikut membantu usahanya.


Dan disaat itu pula, Ayah Winda mencoba


memperkenalkan Winda kepada laki-laki yang dipikirnya cocok untuk mendampingi


Winda.


“Nak, sini Bapak mau bicara” kata Bapak


memanggil Winda ke ruang tamu.


“Ya Pak, ada apa?” tanya Winda


“Ini, Bapak mau ngomong. Besok sore ada yang


mau main ke sini. Mau ketemu sama kamu”


“Siapa Pak?” tanya Winda curiga dan was-was.


Winda belum punya keinginan untuk berkenalan dengan laki-laki dahulu.


“Namanya Bowo, dia Pegawai Bank di daerah


sini. Umurnya sudah 43 tahun, tapi dia belum pernah menikah. Dia menanyakan


kamu ke teman Bapak. Dia lihat kamu waktu kamu ke Bank. Trus dia tanya-tanya


tentang kamu” kata Bapak Winda.


Winda hanya terdiam bingung mau menjawab apa.


“Dah, temui dia dulu. Siapa tahu cocok. Kalau


nggak cocok ya nggak apa-apa. Kan Cuma kenalan, tambah saudara. Menjalin tali


silaturahmi, tambah rejeki” kata Bapaknya lagi.


Winda hanya bisa menunduk. Persaan Winda


campur aduk, antara marah dan merasa sedih karena dia belum mau kenalan atau

__ADS_1


menjalin hubungan dengan laki-laki manapun.


__ADS_2