Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XXIX


__ADS_3

            Ardi merasa kangen dengan Arjuna


karena sudah satu bulan Winda tidak mau mengajak Arjuna ke rumahnya ataupun


rumah kakaknya lagi. Karena Winda tidak mau mengajak Arjuna ke rumahnya lagi,


Ardi memutuskan untuk pergi ketemu dengan Arjuna di rumah Winda.


            Ardi mengumpulkan keberaniannya


untuk pergi ke rumah Winda. Akan tetapi sampai satu minggu berselang Ardi belum


menemukan keberaniannya untuk pergi ke rumah Winda.


            Ardi juga kangen dengan Bimo.


Walaupun Bimo bukan anak kandungnya, tetapi selama ini dia lebih dekat dengan


Bimo daripada Arjuna. Tetapi untuk ketemu dengan Bimo dia sudah tidak bisa lagi


karena hubungannya dengan Mina sudah berakhir.


            ....................................


            Mina yang sudah bercerai dengan Ardi


menjadi gembira karena dia berpikir bisa menikah dengan Jaya. Akan tetapi


setelah proses perceraiannya berakhir, Jaya semakin sulit dihubungi. Awalnya


Jaya beralasan pergi ke luar kota karena pekerjaannya kemudian lama-lama tidak


bisa dihubungi.


            Mina yang geram dengan kelakuan Jaya


mulai mencari keberadaan Jaya. Dan berkat media sosial, dia bisa tahu di mana


keberadaan Jaya. Ternyata Jaya tidak sedang di luar kota, tetapi masih di kota


S, bekerja seperti biasa.


            Amarah Mina memuncak, dia terus


mengirimi Jaya pesan supaya Jaya merasa terganggu dan mau bertemu dengannya.


Mina merasa dikhianati karena sudah meninggalkan Ardi demi Jaya, orang yang


dicintainya dan Ayah dari Bimo, anaknya.


            .....................................


            Jaya yang mendapat pesan terus


menerus dari Mina merasa terganggu. Dia bingung mau ketemu Mina atau mengganti


no telponnya saja. Karena nomor teleponnya untuk bekerja, Jaya tidak bisa


menggantinya. Dia sudah memblokir nomor Mina, akan tetapi Mina masih bisa


mengirim pesan lewat SMS.


            Jaya yang sedang bingung hanya bisa


termenung dan menenangkan dirinya sambil minum kopi di kantin dekat kantornya. Rara,


rekan sekantor Jaya mendekati Jaya dan menanyakan apa yang terjadi.


            “Ada apa? Kok termenung sendirian di


sini?” tanya Rara kepada Jaya.


            Jaya tersenyum melihat Rara dan


menyesap kopinya sambil melihat Rara.


            “Aku bingung Ra” jawab Jaya.


            “Bingung? Bingung kenapa? Apa


terjadi sesuatu?” tanya Rara lagi.


            Jaya tersenyum dan memegang tangan


Rara,


            “Maafkan aku ya Ra” kata Jaya.


            Rara menatap Jaya dengan bingung.


            “Ada apa sebenarnya Mas? Jangan buat


aku bingung” kata Rara.

__ADS_1


            “Sebenarnya aku ketemu Mina lagi dan


anaknya. Kamu masih ingat Mina kan?”


            Rara menjawab dengan anggukan


kepala. Kemudian Jaya meneruskan ceritanya.


            “Aku ketemu Mina lagi.... Niat


pertamaku waktu itu adalah untuk balas dendam karena dia sudah berselingkuh


dariku sampai akhirnya dia hamil...”


            Jaya menatap Rara untuk melihat


responnya, Jaya melihat Rara memperhatikannya kemudian dia melanjutkan.


            “Mina memintaku untuk


bertanggungjawab atas kehamilannya. Tapi... karena aku merasa sakit hati karena


telah dihianati, dan aku tidak yakin bayi yang dikandung Mina adalah anakku,


maka aku tidak mau bertanggungjawab dan pergi meninggalkannya. Dan sekarang....


saat ini Mina berharap aku kembali bersama dia setelah dia bercerai dengan


suaminya” kata Jaya menjelaskan.


            “Maksudmu..... Mina bercerai karena


ingin kembali bersamamu Mas?” tanya Rara untuk menyamakan persepsi yang dia


terima.


            Jaya menjawab dengan mengangguk.


            “Trus anaknya bagaimana? Ikut Mina


atau Ayahnya?” tanya Rara lagi.


            “Anak itu.... anak itu ternyata


anakku Ra.....”


            Rara yang mendengar hal itu kaget.


            “Kamu tes DNA anaknya Mina?”


asuh, Mina melakukan tes DNA supaya mantan suami Mina tidak mengganggu dia dan


anaknya lagi” Jaya melihat reaksi Rara sebelum melanjutkan ceritanya lagi.


            Rara menunduk, menahan air matanya


yang hendak pecah.


            “Maaf Ra... bukan maksudku seperti


ini. Aku tidak tahu keadaannya menjadi seperti ini. Waktu aku ketemu Mina di


Mall, rasa benciku kepada Mina muncul dan aku berniat untuk balas dendam... dan


ternyata malah Bimo.... adalah anakku” Jaya menunduk dan masih memegang tangan


Rara.


            Jaya sangat mencintai Rara, oleh


karena itu dia menjelaskan keadaannya kepada Rara sambil memegang tangan Rara


supaya Rara tidak pergi menjauh.


            “Bimo.... Bimo itu anakmu Mas?”


tanya Rara membuka suara lagi.


            “Iya” Jaya menjawab sambil


mengangguk.


            Rara terdiam tidak tahu harus


berbuat apa.


            “Maafin ya Ra” kata Jaya mencoba


menenangkan Rara.


            Rara berusaha tegar mendengar hal


itu walaupun hatinya merasa sakit.

__ADS_1


            “Terus, kamu maunya gimana Mas?”


tanya Rara kepada Jaya.


            “Aku nggak tahu Ra... Aku bingung


harus gimana” jawab Jaya lesu.


            “Apakah aku harus pergi dan


membatalkan pertunangan kita?” kata Rara.


            “Aku nggak mau kehilanganmu Ra...


aku sangat mencintaimu” jawab Jaya.


            “Kalau kamu mencintaiku Mas, kenapa


kamu balas dendam kepada Mina? Benci dan cinta bedanya tipis Mas... Kadang kamu


nggak bisa membedakan apakah kamu benci atau malah cinta kepada Mina” Rara


sudah tidak bisa menahan air matanya, dia berkata sambil meneteskan air mata


yang membuat suaranya menjadi serak.


            Orang yang berada di kantin memperhatikan


Jaya dan Rara karena Rara ngobrol dengan Jaya sambil menangis. Tetapi Jaya dan


Rara seperti sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar dan tetap melanjutkan


ngobrol.


            “Aku nggak bermaksud untuk balikan


sama Mina Ra... Aku hanya cinta sama kamu... Aku nggak mau kehilanganmu Ra”


jawab Jaya.


            “Tapi Mas, bagaimana dengan nasib


anakmu dan Mina? Kamu nggak mikirin bagaimana nasib anakmu nanti?” kata Rara.


            “Aku nggak mau berpisah sama kamu


Ra... apalagi sebentar lagi kita akan menikah. Semua sudah dipersiapkan


sedemikian rupa. Aku nggak mungkin meninggalkanmu Ra. Aku nggak mau gagal


menikah untuk yang kedua kalinya. Aku akan bicara dengan Mina” kata Jaya


berusaha meyakinkan Rara supaya Rara tidak meninggalkannya.


            “Trus bagaimana dengan keluargaku


kalau mereka tahu kamu sudah punya anak Mas?” kata Rara takut kalau


pernikahannya akan menyakiti keluarganya suatu hari nanti.


            “Aku nggak tahu Bimo ternyata anakku


Ra... Tahu sekarang atau nanti itu tidak merubah keadaan Ra.... Kamu akan menikah


denganku, dan fakta bahwa Bimo adalah anakku tidak bisa aku pungkiri” kata


Jaya.


            “Tapi Mas.... aku ragu, cintamu


kepada Mina masih sama seperti yang dulu... Beri aku waktu untuk memikirkan


lagi masalah ini ya. Sampai aku sudah siap dengan semuanya, kita akan bicara


kepada orangtua kita. Entah kita jadi menikah atau tidak, nanti kita akan


bicarakan dengan orangtua kita... karena aku tidak bisa memutuskan bagaimana


baiknya” kata Rara.


            Jaya tertunduk lesu dan melepaskan


tangan Rara. Rara pergi, meninggalkan Jaya sendirian. Jaya menceritakan semua


yang terjadi antara Mina dan dirinya kepada Rara dengan tujuan supaya semua


jelas diawal daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika


rahasia tentang dirinya dan Mina terungkap.


            Jaya membulatkan tekad, memantapkan


hatinya untuk pergi menemui Mina untuk membicarakan tentang dia, Mina dan Bimo.

__ADS_1


Jaya  mengirimkan pesan kepada Mina,


‘Temui aku di Mall H besok pukul 17.00’


__ADS_2