
Ardi merasa kangen dengan Arjuna
karena sudah satu bulan Winda tidak mau mengajak Arjuna ke rumahnya ataupun
rumah kakaknya lagi. Karena Winda tidak mau mengajak Arjuna ke rumahnya lagi,
Ardi memutuskan untuk pergi ketemu dengan Arjuna di rumah Winda.
Ardi mengumpulkan keberaniannya
untuk pergi ke rumah Winda. Akan tetapi sampai satu minggu berselang Ardi belum
menemukan keberaniannya untuk pergi ke rumah Winda.
Ardi juga kangen dengan Bimo.
Walaupun Bimo bukan anak kandungnya, tetapi selama ini dia lebih dekat dengan
Bimo daripada Arjuna. Tetapi untuk ketemu dengan Bimo dia sudah tidak bisa lagi
karena hubungannya dengan Mina sudah berakhir.
....................................
Mina yang sudah bercerai dengan Ardi
menjadi gembira karena dia berpikir bisa menikah dengan Jaya. Akan tetapi
setelah proses perceraiannya berakhir, Jaya semakin sulit dihubungi. Awalnya
Jaya beralasan pergi ke luar kota karena pekerjaannya kemudian lama-lama tidak
bisa dihubungi.
Mina yang geram dengan kelakuan Jaya
mulai mencari keberadaan Jaya. Dan berkat media sosial, dia bisa tahu di mana
keberadaan Jaya. Ternyata Jaya tidak sedang di luar kota, tetapi masih di kota
S, bekerja seperti biasa.
Amarah Mina memuncak, dia terus
mengirimi Jaya pesan supaya Jaya merasa terganggu dan mau bertemu dengannya.
Mina merasa dikhianati karena sudah meninggalkan Ardi demi Jaya, orang yang
dicintainya dan Ayah dari Bimo, anaknya.
.....................................
Jaya yang mendapat pesan terus
menerus dari Mina merasa terganggu. Dia bingung mau ketemu Mina atau mengganti
no telponnya saja. Karena nomor teleponnya untuk bekerja, Jaya tidak bisa
menggantinya. Dia sudah memblokir nomor Mina, akan tetapi Mina masih bisa
mengirim pesan lewat SMS.
Jaya yang sedang bingung hanya bisa
termenung dan menenangkan dirinya sambil minum kopi di kantin dekat kantornya. Rara,
rekan sekantor Jaya mendekati Jaya dan menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa? Kok termenung sendirian di
sini?” tanya Rara kepada Jaya.
Jaya tersenyum melihat Rara dan
menyesap kopinya sambil melihat Rara.
“Aku bingung Ra” jawab Jaya.
“Bingung? Bingung kenapa? Apa
terjadi sesuatu?” tanya Rara lagi.
Jaya tersenyum dan memegang tangan
Rara,
“Maafkan aku ya Ra” kata Jaya.
Rara menatap Jaya dengan bingung.
“Ada apa sebenarnya Mas? Jangan buat
aku bingung” kata Rara.
__ADS_1
“Sebenarnya aku ketemu Mina lagi dan
anaknya. Kamu masih ingat Mina kan?”
Rara menjawab dengan anggukan
kepala. Kemudian Jaya meneruskan ceritanya.
“Aku ketemu Mina lagi.... Niat
pertamaku waktu itu adalah untuk balas dendam karena dia sudah berselingkuh
dariku sampai akhirnya dia hamil...”
Jaya menatap Rara untuk melihat
responnya, Jaya melihat Rara memperhatikannya kemudian dia melanjutkan.
“Mina memintaku untuk
bertanggungjawab atas kehamilannya. Tapi... karena aku merasa sakit hati karena
telah dihianati, dan aku tidak yakin bayi yang dikandung Mina adalah anakku,
maka aku tidak mau bertanggungjawab dan pergi meninggalkannya. Dan sekarang....
saat ini Mina berharap aku kembali bersama dia setelah dia bercerai dengan
suaminya” kata Jaya menjelaskan.
“Maksudmu..... Mina bercerai karena
ingin kembali bersamamu Mas?” tanya Rara untuk menyamakan persepsi yang dia
terima.
Jaya menjawab dengan mengangguk.
“Trus anaknya bagaimana? Ikut Mina
atau Ayahnya?” tanya Rara lagi.
“Anak itu.... anak itu ternyata
anakku Ra.....”
Rara yang mendengar hal itu kaget.
“Kamu tes DNA anaknya Mina?”
asuh, Mina melakukan tes DNA supaya mantan suami Mina tidak mengganggu dia dan
anaknya lagi” Jaya melihat reaksi Rara sebelum melanjutkan ceritanya lagi.
Rara menunduk, menahan air matanya
yang hendak pecah.
“Maaf Ra... bukan maksudku seperti
ini. Aku tidak tahu keadaannya menjadi seperti ini. Waktu aku ketemu Mina di
Mall, rasa benciku kepada Mina muncul dan aku berniat untuk balas dendam... dan
ternyata malah Bimo.... adalah anakku” Jaya menunduk dan masih memegang tangan
Rara.
Jaya sangat mencintai Rara, oleh
karena itu dia menjelaskan keadaannya kepada Rara sambil memegang tangan Rara
supaya Rara tidak pergi menjauh.
“Bimo.... Bimo itu anakmu Mas?”
tanya Rara membuka suara lagi.
“Iya” Jaya menjawab sambil
mengangguk.
Rara terdiam tidak tahu harus
berbuat apa.
“Maafin ya Ra” kata Jaya mencoba
menenangkan Rara.
Rara berusaha tegar mendengar hal
itu walaupun hatinya merasa sakit.
__ADS_1
“Terus, kamu maunya gimana Mas?”
tanya Rara kepada Jaya.
“Aku nggak tahu Ra... Aku bingung
harus gimana” jawab Jaya lesu.
“Apakah aku harus pergi dan
membatalkan pertunangan kita?” kata Rara.
“Aku nggak mau kehilanganmu Ra...
aku sangat mencintaimu” jawab Jaya.
“Kalau kamu mencintaiku Mas, kenapa
kamu balas dendam kepada Mina? Benci dan cinta bedanya tipis Mas... Kadang kamu
nggak bisa membedakan apakah kamu benci atau malah cinta kepada Mina” Rara
sudah tidak bisa menahan air matanya, dia berkata sambil meneteskan air mata
yang membuat suaranya menjadi serak.
Orang yang berada di kantin memperhatikan
Jaya dan Rara karena Rara ngobrol dengan Jaya sambil menangis. Tetapi Jaya dan
Rara seperti sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar dan tetap melanjutkan
ngobrol.
“Aku nggak bermaksud untuk balikan
sama Mina Ra... Aku hanya cinta sama kamu... Aku nggak mau kehilanganmu Ra”
jawab Jaya.
“Tapi Mas, bagaimana dengan nasib
anakmu dan Mina? Kamu nggak mikirin bagaimana nasib anakmu nanti?” kata Rara.
“Aku nggak mau berpisah sama kamu
Ra... apalagi sebentar lagi kita akan menikah. Semua sudah dipersiapkan
sedemikian rupa. Aku nggak mungkin meninggalkanmu Ra. Aku nggak mau gagal
menikah untuk yang kedua kalinya. Aku akan bicara dengan Mina” kata Jaya
berusaha meyakinkan Rara supaya Rara tidak meninggalkannya.
“Trus bagaimana dengan keluargaku
kalau mereka tahu kamu sudah punya anak Mas?” kata Rara takut kalau
pernikahannya akan menyakiti keluarganya suatu hari nanti.
“Aku nggak tahu Bimo ternyata anakku
Ra... Tahu sekarang atau nanti itu tidak merubah keadaan Ra.... Kamu akan menikah
denganku, dan fakta bahwa Bimo adalah anakku tidak bisa aku pungkiri” kata
Jaya.
“Tapi Mas.... aku ragu, cintamu
kepada Mina masih sama seperti yang dulu... Beri aku waktu untuk memikirkan
lagi masalah ini ya. Sampai aku sudah siap dengan semuanya, kita akan bicara
kepada orangtua kita. Entah kita jadi menikah atau tidak, nanti kita akan
bicarakan dengan orangtua kita... karena aku tidak bisa memutuskan bagaimana
baiknya” kata Rara.
Jaya tertunduk lesu dan melepaskan
tangan Rara. Rara pergi, meninggalkan Jaya sendirian. Jaya menceritakan semua
yang terjadi antara Mina dan dirinya kepada Rara dengan tujuan supaya semua
jelas diawal daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika
rahasia tentang dirinya dan Mina terungkap.
Jaya membulatkan tekad, memantapkan
hatinya untuk pergi menemui Mina untuk membicarakan tentang dia, Mina dan Bimo.
__ADS_1
Jaya mengirimkan pesan kepada Mina,
‘Temui aku di Mall H besok pukul 17.00’