
Ardi yang melihat sikap Mitha yang
tiba-tiba impulsif menjadi kaget. Tidak pernah Mitha sampai berteriak apalagi
membanting pintu seperti sekarang ini. Tapi yang membuat Ardi sangat penasaran
adalah ucapan Mitha bahwa foto bayi yang ada di dalam Hpnya itu adalah anaknya.
Tapi, Ardi tidak percaya pada omongan Mitha. Nggak mungkinlah, pikir Ardi.
Ardi pulang karena Mitha tidak mau
keluar kamar walaupun sudah dibujuk. Ardi menyerah kemudian pulang dan
menghubungi kakaknya.
“Kak, Mitha jadi aneh deh. Kakak
kapan pulang kerja?” tanya Ardi kepada kakaknya.
“Nggak tahu ni. Kakak masih ada rapat. Kenapa
memangnya?”
“Tadi Mitha marah-marah sama aku trus
membanting pintu kamarnya”
“Masa sih? Mitha teriak aja nggak pernah.
Apalagi sampai banting pintu”, kata kakak Ardi tak percaya atas kelakuan
anaknya.
“Iya Kak, tadi udah ku bujuk keluar kamar
nggak mau. Dia masih di kamar. Ini aku baru aja pulang dari rumah kakak”
“Kok malah pulang? Ke rumah kakak lagi gih,
liatin Mitha! Takutnya kenapa-napa. Bentar lagi kakak pulang, rapatnya kakak
undur aja”
Ardi menutup sambungan telepon dengan
kakaknya, kemudian dia pergi ke rumah Mitha.
“Mit.... Mit.... apa kamu tidur?” panggil
Ardi dari luar kamar.
“Mit, Mas Ardi udah telepon Bundamu lho.
Bentar lagi Bundamu datang. Keluar ya” kata Ardi lagi berusaha membujuk Mitha.
Mitha yang mendengar Bundanya akan datang
menjadi takut. Takut bila dimarahi dan apa yang akan disampaikannya nanti akan
menimbulkan kekacauan yang besar dalam
keluarganya.
Mitha keluar dalam diam. Dia menunduk dan
terlihat matanya yang sembab karena menangis. Ardi yang melihat hal itu merasa
heran, kasihan dan banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Mitha.
“Bundamu sebentar lagi datang, kamu cuci muka
dulu sana biar nggak kelihatan sembab gitu!”
Setelah cuci muka, Mitha mendekati Ardi,
“Mas Ardi, Mitha minta maaf ya karena sudah
teriak sama Mas Ardi sambil banting pintu” kata Mitha. Suaranya masih serak
karena menangis tadi.
“Iya, nggak apa-apa Mit. Tapi jangan diulangi
lagi ya, nggak sopan” kata Ardi.
“Lagipula, kenapa kamu sampai teriak-teriak
gitu sih Mit? Nggak biasanya deh, apalagi kamu sampai banting pintu segala”
lanjut Ardi.
Mitha hanya terdiam menunduk. Bingung mau
cerita darimana. Lagipula sebentar lagi Bundanya datang, Mitha berencana
__ADS_1
menunggu Bundanya dan menjelaskan semuanya.
“Kamu ada masalah sama cowok kamu ya Mit
sampai terbawa emosi gitu?” kata Ardi penasaran.
Mitha yang mendengar hal itu menjadi jengkel
karena Ardi masih saja belum mempercayai omongannya tentang Arjuna. Mitha diam
saja tidak menjawab Ardi.
Karena sudah menunggu lama tetapi Kakaknya
belum pulang juga, maka Ardi menelpon kakaknya lagi.
“Kak, kok belum pulang sih?”
“Gimana keadaan Mitha?”
“Kakak pulang aja dulu” kata Ardi kemudian
menutup telepon. Ardi agak kesal dengan
kakaknya karena merasa kakaknya lebih mementingkan kerjaan daripada Mitha,
anaknya.
Sekitar setengah jam kemudian kakak Ardi
sampai di rumah, dia langsung menghampiri Mitha dan bertanya,
“Ada apa Nak? Katanya tadi kamu marah-marah
sama Mas Ardi sampai banting pintu juga ya? Ada masalah apa? Kalau ada apa-apa
cerita ke Bunda” kata Bunda Mitha kepada Mitha.
Mitha kemudian menyalakn Hpnya dan
menunjukkan foto Arjuna kepada Bundanya. Bundanya Mitha melihat foto bayi di Hp
Mitha kemudian bertanya,
“Foto siapa ini Nak?” tanya Bundanya Mitha
heran. Bundanya Mitha menjadi cemas, jangan-jangan Mitha hamil atau bagaimana.
“Ini foto Arjuna, anaknya Mas Ardi” kata
Mitha.
di ruangan itu menjadi kaget.
“Maksudmu gimana Nak?” tanya Bunda.
“Itu Arjuna Bun. Arjuna anaknya Mas Ardi”
“Iya Bunda dengar, tapi maksudnya dia itu,
bayi itu bayi Ardi dengan siapa? Jangan bercanda Mitha. Kalau mau bercanda
bukan begini caranya!” kata Bunda Mitha galak.
Mitha menjadi takut dan mulai terisak,
Bundanya Mitha melihat hal itu menjadi melunak.
“Coba kamu ceritakan dulu dari awal, jangan
asal ngomong gitu ah” kata Bundanya Mitha lagi.
“Dulu kan aku ke tempat Mbak Winda, trus di
sana ada bayi. Bayinya ya Arjuna itu. Itu anak Mbak Winda dengan Mas Ardi” kata
Mitha menjelaskan.
Bagai terkena petir di siang bolong muka Ardi
menjadi merah padam
“Mit, kalau mau bercanda jangan keterlaluan
dong!” kata Ardi.
Ayah Mitha yang mendengar Ardi menyentak
anaknya kemudian berdiri dan menyuruh Ardi pulang dulu supaya dia bisa
berbicara dengan Mitha.
Ardi pulang dengan bersungut-sungut.
“Mitha, ini bukan bercanda kan?” kata Bunda
__ADS_1
Mitha lagi.
“Apa Winda mengangkat anak menjadi anaknya
dan kamu pikir itu adalah anak Mbak Winda?” tanya Bundanya Mitha.
“Bukan Bun, Mith awalnya juga mengira begitu.
Tapi Arjuna disusui ASI nya Mbak Winda”
Bundanya Mitha terdiam, kemudian Mitha
melanjutnya ceritanya,
“Waktu aku ke sana, Mbak Winda cerita pas
pergi dari rumah sini trus pulang ke rumah orangtuanya Mbak Winda hamil 5 bulan
Bun” kata Mitha sambil sesenggukan.
Mata Bundanya Mitha berkaca-kaca kemudian
meneteslah air mata yang tak bisa dia kendalikan. Dia bingung mau bagaimana.
Ini semua gara-gara Ardi yang nakal, rutuknya dalam hati.
Ayah Mitha hanya diam mendengar hal itu
sambil menenangkan Mitha dan Bundanya.
“Sekarang bukan waktunya nangis Bun, tapi
bagaimana kita menyampaikan hal ini ke Ardi. Ardi berhak tahu kalau dia punya
anak dengan Winda” kata Ayahnya Mitha.
Mereka bertiga terdiam, sesekali terdengar
sesenggukan Mitha dan Bundanya. Kemudian mereka memutuskan untuk mandi dulu supaya
pikiran menjadi jernih.
Setelah mandi, Bundanya Mitha mulai
menghubungi keluarga untuk berkumpul di rumahnya untuk membahas hal ini.
Setelah malam, semua keluarga sudah berkumpul
kecuali Ardi.
“Ada apa Kak?” tanya Birawa kakak laki-laki
Ardi.
“Gini, tadi Mitha cerita ke kakak....”
Bundanya Mitha cerita semua hal yang sudah diceritakan Mitha tadi sore perihal
Arjuna.
Birawa dan keluarga yang lain kaget bukan
kepalang mendengar cerita Bundanya Mitha, dia bingung kenapa keadaan semakin
bertambah rumit gara-gara ulah Ardi.
“Apa nggak baiknya Ardi disuruh ke sini aja
Kak?” tanya Birawa.
“Biar dia berpikir bagaimana baiknya
sekarang. Karena dia sudah punya istri lagi, dan Winda sudah tidak menjadi
istrinya. Kalau disuruh balikan lagi... belum tentu Winda mau. Karena dia pergi
setelah dia tahu dia hamil 5 bulan. Berarti dia lebih memilih hidup sendiri
daripada hidup sama Ardi dan istrinya sekarang ini” lanjut Birawa lagi.
Semua keluarga terdiam, kemudian mereka
memutuskan untuk memanggil Ardi terlebih dahulu.
Mitha mulai menelpon Ardi, tetapi yang bicara
Bundanya
“Ardi, ke rumah bentar ya. Ada yang mau kita
omongin. Semua keluarga juga udah kumpul” kata Bundanya Mitha.
“Ada apa kak?” tanya Ardi heran.
Jangan-jangan masalah Mitha tadi siang, pikirnya.
__ADS_1
“OK Kak, bentar ya” jawab Ardi sambil menutup
telpon.