Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
Episode 5 KERINDUAN


__ADS_3

Setelah lebih dari 9 bulan


berpisah dengan Winda, Ardi terkadang bertanya-tanya bagaimana keadaan Winda,


apakah dia menikah lagi, dan berbagai macam pertanyaan berkecamuk di


pikirannya. Ada rasa rindu di hatinya kepada Winda. Dia ingin tahu bagaimana


keadaan Winda di sana, tapi untuk bertanya lewat chat dia merasa sungkan. Di


Hpnya pun Cuma ada barang dagangan saja status yang Winda buat.


Walaupun disisinya sudah ada


Mina, bahkan juga ada Bimo, tidak membuat Ardi melupakan Winda. Bahkan rasa


rindunya semakin dalam, tatkala Ardi membayangkan apabila winda menikah lagi.


Ada perasaan tidak rela di hatinya apabila kekasih pujaan hatinya menikah lagi


dengan lelaki lain. Ingin rasanya Ardi pergi ke rumah Winda dan melihat


bagaimana keadaan Winda dan meminta Winda untuk kembali padanya.


Sambil menatap layar komputer


yang ada fotonya bersama Winda, yang sengaja ditaruh Winda di sana pada saat


mereka masih bersama untuk mengenang kebersamaan mereka berdua tanpa tahu


akhirnya mereka berpisah karena Bimo yang tergoda dengan wanita lain.


Tok tok tok, pintu kantor Ardi


ada yang mengetuk.


“Mas, kok tumben dikunci?” suara


Mina terdengar dari luar.


Buru-buru Ardi menutup foto


dirinya bersama Winda di komputer. Lalu Ardi berjalan ke pintu untuk membuka


pintu yang dia kunci agar Mina bisa masuk ke dalam.


“Ada apa?” tanya Ardi ke Mina


sambil membuka pintu.


“Idih, kenapa kok tumben pintunya


dikunci? Nggak biasanya. Aku jadi curiga. Chat dengan cewek lain ya?” tanya


Mina kepada Ardi dengan pandangan penuh curiga.


“Nggaklah. Aku mau fokus ngerjain


laporan bulanan. Soalnya aku bingung, ini penjualan kita semakin menurun dan


aku juga bingung barang-barang ini tempat belinya di mana yang harganya murah.


Soalnya ini dapat harga mahal, customer pada complain” jawab Ardi ngeles.


“Lah kok bingung? Ya beli di


tempat kamu dulu kulakan di mana. Atau mungkin harganya memang sudah naik?”


“Nggak di toko online lain


harganya masih murah kok. Malah ada yang harganya murah banget lebih murah dari


tempat kulakan kita”.


“Coba aja tanya ke toko


langgananmu, apa harganya sudah naik atau belum. Kalau naik kenap naiknya


banyak banget”.


“Bukan gitu, dulu yang kulakan


Winda. Aku nggak tahu kulakannya di mana biar dapat harga murah. Ini aku


kulakan di daerah biasanya aku kulakan tapi aku nggak tahu Winda kulakannya di


toko apa” jawar Ardi hati-hati takut menyinggung perasaan istrinya kala nama


Winda disebut.

__ADS_1


Mina terdiam sambil menatap lurus


ke depan.


“Semua Winda. Dari kamu,


karyawanmu, saudara-saudaramu semua menyebut Winda Winda Winda. Seolah aku


nggak ada dan nggak ada gunanya sama sekali!” Mina marah-marah kemudian keluar


menuju ke kamar dan menangis di situ.


Ardi bingung mau bicara apa


dengan Mina. Oleh karena itu Ardi memutuskan untuk tetap di ruang kerjanya


sambil duduk dan menatap kosong tembok yang ada beberapa gambar dan quotes yang


dipasang oleh Winda.


...............................


Winda menyibukkan diri dengan


mengurus Arjuna, dia merasa bersyukur dan bahagia karena ada Arjuna di sisinya.


Arjuna yang membuat dia kuat dan bertahan serta membuatnya tidak lagi


memikirkan Ardi dan Mina.


Suatu ketika Ayah Winda bertanya


kepadanya


“Nak, apa kamu tidak kepikiran


untuk menikah lagi?” tanya Bapak


“Nggak tahu Pak, mungkin nggak.


Soalnya sudah ada Arjuna. Dan aku juga sudah bisa cari uang sendiri. Dan


alkhamdulillah usahaku tambah rame Pak” jawab Winda.


“Alkhamdulillah Nak. Tapi apa


kamu nggak ingin nanti masa tuamu ada yang menemani selain Arjuna? Apalagi


Bapak lagi.


“Insya Allah nggak Pak. Aku sudah


bersyukur Allah memberiku Arjuna untuk menemaniku di masa-masa sulit. Apalagi


ada keluarga yang lain juga Pak. Aku ingin menikmati hidupku yang sekarang ini


tanpa harus terbebani dengan kehadiran suami”.


“Jangan gitu Nak. Suami itu bukan


beban lho. Kamu nggak boleh ngomong begitu”.


“Iya Pak” Winda mengiyakan


Bapaknya supaya pembicaraan tentang suami baru terhenti sampai di sini.


Bapak Winda hanya bisa geleng-geleng


kepala dan mengelus dada sambil menghirup nafas panjang karena jawaban dari


anaknya tidak memuaskan hatinya. Sebenarnya sudah banyak orang yang menanyakan


apakah Winda akan menikah lagi kepada Bapaknya, itu yang membuat Ayah Winda


lama-lama ingin Winda menikah lagi. Apalagi ada beberapa lelaki yang menanyakan


perihal Winda kepada keluarga atau Bapaknya langsung. Karena Ayah Winda merasa


kalau Winda bisa bahagia apabila Winda menikah lagi, dia hanya ingin Winda


bahagia dengan menikah dengan lelaki lain.


Di lain pihak, Winda tidak begitu


memikirkan perkataan Ayahnya karena Winda merasa sudah cukup bahagia dengan


adanya Arjuna dan keluarga yang menemaninya. Apalagi usahanya juga sudah


terbilang maju, dan bisa mencukupi kebutuhan Winda sehari-hari bahkan Winda

__ADS_1


bisa menyisihkan uangnya untuk ditabung bahkan untuk membantu orang lain. Bagi


Winda itu sudah lebih dari cukup, dan dia sudah merasa sangat bahagia. Baginya


saat ini, lelaki hanya akan menjadi penghalang antara anak dan usahanya. Dia


seperti merasa sudah nyaman dengan keadaannya saat ini.


Kling....


HP Winda berbunyi, ada chat masuk


yang segera dibuka Winda. Ternyata chat itu dari ponakannya Ardi.


‘Mbak, apa kabar? Kangen nih.


Ketemuan yuk? Udah lama nggak ketemu, pengen ngobrol’ bunyi chat dari Mitha,


ponakan Ardi.


Mitha bingung mau jawab gimana,


kangen juga sih sama Mitha. Tapi, bagaimana dia bisa ketemuan dengan


meninggalkan Arjuna di rumah? Nggak tega, apalagi Arjuna masih menyusui dan


Winda sama sekali belum pernah meninggalkan Arjuna karena Arjuna dibawa


kemanapun Winda pergi. Tapi, kalau bawa Arjuna nanti Mitha bakal tahu kalau dia


punya anak. Winda belum mau Ardi dan keluarganya tahu bahwa dia punya anak, dan


itu anaknya Ardi.


Agak lama Winda belum jawab chat


Mita...


Kling....


HP Mitha bunyi lagi. Dibukanya


Hpnya, ternyata chat dari Mitha lagi.


‘Udah lupa ama kita-kita ya


Mbak?’ bunyi chatnya disertai ikon menangis.


‘Nggak Mit, Mbak Winda ini lagi


sibuk. Maaf ya nggak langsung balas chat kamu. O ya, Mbak Mitha belum bisa


ketemuan sama kamu karena Mbak Mitha ini lagi sibuk. Mbak Mitha kan sekarang


kerja sendiri juga’.


‘Trus kapan dong Mbak bisa


ketemunya? Udah hampir setahun lho nggak ketemu. Apa boleh aku nyamperin Mbak


Winda aja? Emangnya Mbak Winda kerja apa sekarang dan di mana kerjanya?’.


Mitha terus saja mendesak Winda


agar bisa ketemuan dengannya, Winda bingung mau alesan apalagi. Masa misal


Mitha mau main ke rumahnya nggak diperbolehkan. Nanti dikira mengusir tamu yang


datang.


‘OK Mit, kamu tahu kan rumahnya


Mbak Winda? Datang langsung ke sini aja ya. Tapi jangan ada yang tahu kalau


kamu ketemu Mbak Winda ya. Dan janji dulu kamu nggak bakalan cerita sama


siapapun tentang keadaan Mbak Winda ya’.


‘Iya-iya ribet amat sih Cuma mau


ketemuan aja.hehe’ balas Mitha agak sedikit kesal dengan aturan yang dibuat


Winda.


‘OK. Mbak Winda tunggu ya. Mbak


Winda di rumah setiap saat’


‘Yeee katanya kerja’

__ADS_1


Winda tersenyum mendapat balasan


dari Mitha. Akhirnya Mitha memutuskan akan datang ke rumah Winda 3 hari lagi.


__ADS_2