
Ardi pergi ke rumah
kakaknya dengan penuh tanda tanya. Sampai di tempat kakaknya ternyata sudah
ramai karena kakak-kakaknya yang lain juga ada di sana. Sampai di rumah
kakaknya Ardi langsung duduk. Dia melihat semua keluarga yang ada di sana
berwajah murung. Kemudian kakak Ardi buka suara,
“Ardi, kita di sini mau bahas
tentang anak kamu yang dibicarakan Mitha tadi siang” kata kakaknya.
Ardi bingung dengan kata-kata
kakaknya, tapi untuk bertanya dia seperti sudah tidak punya kekuatan untuk
membuka suara. Ardi hanya diam, kemudian kakaknya melanjutkan bicaranya.
“Sekitar 3 bulan yang lalu Mitha
pergi ke rumah Winda, di sana ada bayi yang bernama Arjuna. Ternyata itu adalah
anakmu Di. Ketika Winda pergi dari rumah ini dia sedang hamil 5 bulan” kata
kakaknya Ardi memberikan penjelasan singkat kepada Ardi.
Ardi kaget mendengar hal itu, tapi
dia merasa tidak punya kekuatan untuk sekedar menanggapi pembicaraan kakaknya.
“Anak itu anak kamu Ardi” kata kakak
Ardi lagi ketika melihat tak ada tanggapan dari Ardi.
“Bagaimanapun dia adalah darah
dagingmu” lanjutnya.
Ardi masih terdiam tak bisa berkata-kata. Semua kakaknya juga bingung mau
berbuat apa.
“Sebenarnya kakak mau ke rumah Winda untuk
menanyakan hal itu, tapi setelah dipikir-pikir kakak sungkan dengan orangtua
Winda. Sekarang ini, kakak berpikir untuk memanggil Winda kemari. Besok kakak
akan telepon Winda dan memintanya kemari. Bagaimana menurut pendapatmu Di? Kakak
butuh pendapatmu”
Ardi hanya terdiam tak bisa berkata-kata.
“Kamu ingin bertemu dengan anakmu tidak?”
kata kakak Ardi lagi.
“Aku sudah punya Bimo kak” kata Ardi akhirnya
bicara.
“Iya, tapi Arjuna juga anakmu!” kata kakaknya
lagi agak marah.
“Ya sudah kalau kamu tidak ingin ketemu
Arjuna, tapi kakak ingin ketemu ponakannya kakak! Terserah kamu kalau kamu
nggak ingin ketemu anakmu!” kata kakak Ardi mulai kesal dengan tanggapan Ardi.
Setelah sudah larut malam, Ardi pulang dengan
pikiran kalut. Bagaimana bisa, dulu saat sungguh-sungguh menginginkan anak,
belum satupun anak yang datang kepadanya. Tapi kenapa sekarang dia langsung
punya 2 anak, pikirnya bingung.
Semalam suntuk Ardi tak bisa tidur. Dia
memikirkan Bimo, juga berpikir apakah dia akan ketemu dengan Arjuna.
Pagi sudah beranjak siang, Ardi tidak punya
keberanian untuk menanyakan kepada kakaknya kapan Winda mau pergi ke rumah
kakaknya. Ardi seperti orang linglung sehingga para karyawannya ikut resah.
Apakah Ardi sudah memutuskan siapa yang mau kena PHK.
............................................
Tririring...
__ADS_1
Hp Winda berbunyi, dia mengangkat telepon
yang tak lain dari Bundanya Mitha, kakak Ardi.
“Ya, Halo Kak” kata Winda.
“Ya Halo Win” kata kakak Ardi
“Ada apa Kak?”
“Gini Win, kakak sudah dengar cerita kamu dan
Arjuna dari Mitha...”
Winda yang mendengar hal itu wajahnya
memerah, dia cemas dan kalut. Apa yang akan terjadi nanti...
“Win?” kata kakak Ardi yang tak mendengar
sahutan dari Winda.
“Iya Kak”
“Sebenarnya kakak ingin ke tempatmu, mau
lihat Arjuna. Tapi kakak nggak enak sama orangtuamu”
“Iya Kak” kata Winda bingung mau menjawab
apa.
“Gini, kakak minta kamu ke rumah kakak bawa
Arjuna bisa?” tanya kakak Rdi lagi.
“Maksud kakak?”
“Ya.... walau bagaimanapun Arjuna kan darah
daging Ardi... seenggaknya Arjuna kenal dengan keluarga dari pihak Ardi bukan?”
kata kakak Ardi lagi.
Winda bingung mau meng iyakan atau tidak.
“Gimana Win? Soalnya kalau kakak dan keluarga
yang ke sana nggak enak sama ortumu”
“Kalau bisa, besok bagaimana? Besok kan hari
Minggu semua keluarga libur”
“Iya kak” kata Winda akhirnya menyetujui
keinginan Kakak Ardi untuk pergi ke rumahnya.
.....................................
“Ayah... Ibu.... Winda ke rumah kakaknya Ardi
dulu ya” pamit Winda pada kedua orangtuanya.
“Apa harus kamu ke sana Win?” tanya Ibunya
tak setuju kalau Winda pergi ke rumah itu lagi.
“Iya Bu” kata Winda.
“Habis itu langsung pulang lho!” kata Ayah
Winda tidak rela anaknya pergi ke rumah keluarga Ardi.
“Iya Ayah”
“Winda pegi dulu ya”
Setelah itu Winda pergi ke rumah kakak Ardi
dengan menyetir sendirian bersama Arjuna. Dia dan Arjuna sudah sering pergi
berdua karena Arjuna juga ikut ketika Winda belanja untuk tokonya.
Winda sampai di rumah kakak Ardi sekitar
pukul sembilan pagi. Winda berpikir
kalau dia sampai di sana pagi nanti siang sudah bisa pulang ke rumah lagi.
Winda mengambil Arjuna di kursi bayi
belakang, kemudian dia mengambil barang-barang Arjuna dan berjalan menuju pintu
rumah kakak Ardi.
Ting tong...
__ADS_1
Mitha membukakan pintu kemudian berteriak
“Buuun, kak Winda sudah datang!” teriaknya
memanggil Bundanya.
Winda masuk ke dalam bersama Arjuna. Bundanya
Mitha langsung menggendong Arjuna dan menangis sesenggukan.
“Mit, telpon Om Birawa suruh ke sini sekarang
ya. Bilang Arjun asudah datang” kata Bundanya Mitha.
Mitha segere menelpon Birawa. Dan tak lama
kemudian Birawa dan anak-anaknya beserta istrinya sudah sampai ke rumah Mitha.
Mereka bergantian menggendong Arjuna. Mata mereka semua berkaca-kaca hingga
menetes air mata. Tanpa kata-kata yang terdengar hanyalah sesenggukan dari para
perempuan yang ada di sana.
Ardi memang sengaja tak disuruh datang karena
kakaknya merasa marah kepada Ardi karena tanggapan Ardi tadi malam seperti
tidak peduli kepada Arjuna.
Karena hari Minggu, toko Ardi tutup, dia
melihat banyak mobil Birawa di tempat kakaknya. Pada ngumpul ni, pikirnya.
Kemudian Ardi pergi ke rumah kakaknya, dan
ternyata di sana dia melihat Winda dan Arjuna. Melihat hal itu, Ardi diam tak
bergeming. Dia bingung mau bagaimana. Kemudian kakak Ardi menyuruh Winda bicara
dengan Ardi di rumah Ardi.
Winda dan Ardi pergi ke rumah Ardi. Sesampainya
di sana, mereka berdua hanya terdiam tak berkata-kata. Winda bingung mau bicara
apa, begitu pula Ardi.
“Mina ke mana Mas?” Winda akhirnya membuka
suara.
“Pulang ke rumah orangtuanya. Dia kangen sama
orangtuanya” jawab Ardi.
Kemudian mereka terdiam lagi canggung. Ardi
tampak berkaca-kaca, bagaimanapun Winda sudah lama menjadi istrinya dan anak
yang mereka nantikan akhirnya datang juga.
Ardi memeluk Winda kemudian berkata,
“Maafkan aku”
Winda hanya terdiam tak berkata apa-apa. Dia
bingung harus bagaimana. Akhirnya dia melepaskan diri dari pelukan Ardi.
“Apa Mas Ardi nggak pengen gendong Arjuna?”
kata Winda.
“Aku takuuut”
“Apa yang Mas Ardi takutkan? Aku nggak minta
Mas Ardi tanggungjawab kok. Tenang aja Mas, aku bisa ngurusi Arjuna sendirian”
kat Winda lagi.
“Aku merasa bersalah terhadapmu dan Arjuna. Jadi
aku bingung harus bagaimana.
Mereka terdiam lagi sampai semua keluarga
pindah ngumpulnya ke rumah Ardi.
“Win, kayaknya Arjuna butuh minum” kata
Bundanya Mitha.
Winda bingung mau disusui di mana. Kemudian Ardi
membawa Winda ke kamar Bimo untu menyusui di sana.
__ADS_1