Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB 19


__ADS_3

                        Ardi pergi ke rumah


kakaknya dengan penuh tanda tanya. Sampai di tempat kakaknya ternyata sudah


ramai karena kakak-kakaknya yang lain juga ada di sana. Sampai di rumah


kakaknya Ardi langsung duduk. Dia melihat semua keluarga yang ada di sana


berwajah murung. Kemudian kakak Ardi buka suara,


            “Ardi, kita di sini mau bahas


tentang anak kamu yang dibicarakan Mitha tadi siang” kata kakaknya.


            Ardi bingung dengan kata-kata


kakaknya, tapi untuk bertanya dia seperti sudah tidak punya kekuatan untuk


membuka suara. Ardi hanya diam, kemudian kakaknya melanjutkan bicaranya.


            “Sekitar 3 bulan yang lalu Mitha


pergi ke rumah Winda, di sana ada bayi yang bernama Arjuna. Ternyata itu adalah


anakmu Di. Ketika Winda pergi dari rumah ini dia sedang hamil 5 bulan” kata


kakaknya Ardi memberikan penjelasan singkat kepada Ardi.


            Ardi kaget mendengar hal itu, tapi


dia merasa tidak punya kekuatan untuk sekedar menanggapi pembicaraan kakaknya.


            “Anak itu anak kamu Ardi” kata kakak


Ardi lagi ketika melihat tak ada tanggapan dari Ardi.


            “Bagaimanapun dia adalah darah


dagingmu” lanjutnya.


Ardi  masih terdiam tak bisa berkata-kata. Semua kakaknya juga bingung mau


berbuat apa.


“Sebenarnya kakak mau ke rumah Winda untuk


menanyakan hal itu, tapi setelah dipikir-pikir kakak sungkan dengan orangtua


Winda. Sekarang ini, kakak berpikir untuk memanggil Winda kemari. Besok kakak


akan telepon Winda dan memintanya kemari. Bagaimana menurut pendapatmu Di? Kakak


butuh pendapatmu”


Ardi hanya terdiam tak bisa berkata-kata.


“Kamu ingin bertemu dengan anakmu tidak?”


kata kakak Ardi lagi.


“Aku sudah punya Bimo kak” kata Ardi akhirnya


bicara.


“Iya, tapi Arjuna juga anakmu!” kata kakaknya


lagi agak marah.


“Ya sudah kalau kamu tidak ingin ketemu


Arjuna, tapi kakak ingin ketemu ponakannya kakak! Terserah kamu kalau kamu


nggak ingin ketemu anakmu!” kata kakak Ardi mulai kesal dengan tanggapan Ardi.


Setelah sudah larut malam, Ardi pulang dengan


pikiran kalut. Bagaimana bisa, dulu saat sungguh-sungguh menginginkan anak,


belum satupun anak yang datang kepadanya. Tapi kenapa sekarang dia langsung


punya 2 anak, pikirnya bingung.


Semalam suntuk Ardi tak bisa tidur. Dia


memikirkan Bimo, juga berpikir apakah dia akan ketemu dengan Arjuna.


Pagi sudah beranjak siang, Ardi tidak punya


keberanian untuk menanyakan kepada kakaknya kapan Winda mau pergi ke rumah


kakaknya. Ardi seperti orang linglung sehingga para karyawannya ikut resah.


Apakah Ardi sudah memutuskan siapa yang mau kena PHK.


............................................


Tririring...

__ADS_1


Hp Winda berbunyi, dia mengangkat telepon


yang tak lain dari Bundanya Mitha, kakak Ardi.


“Ya, Halo Kak” kata Winda.


“Ya Halo Win” kata kakak Ardi


“Ada apa Kak?”


“Gini Win, kakak sudah dengar cerita kamu dan


Arjuna dari Mitha...”


Winda yang mendengar hal itu wajahnya


memerah, dia cemas dan kalut. Apa yang akan terjadi nanti...


“Win?” kata kakak Ardi yang tak mendengar


sahutan dari Winda.


“Iya Kak”


“Sebenarnya kakak ingin ke tempatmu, mau


lihat Arjuna. Tapi kakak nggak enak sama orangtuamu”


“Iya Kak” kata Winda bingung mau menjawab


apa.


“Gini, kakak minta kamu ke rumah kakak bawa


Arjuna bisa?” tanya kakak Rdi lagi.


“Maksud kakak?”


“Ya.... walau bagaimanapun Arjuna kan darah


daging Ardi... seenggaknya Arjuna kenal dengan keluarga dari pihak Ardi bukan?”


kata kakak Ardi lagi.


Winda bingung mau meng iyakan atau tidak.


“Gimana Win? Soalnya kalau kakak dan keluarga


yang ke sana nggak enak sama ortumu”


“Kalau bisa, besok bagaimana? Besok kan hari


Minggu semua keluarga libur”


“Iya kak” kata Winda akhirnya menyetujui


keinginan Kakak Ardi untuk pergi ke rumahnya.


.....................................


“Ayah... Ibu.... Winda ke rumah kakaknya Ardi


dulu ya” pamit Winda pada kedua orangtuanya.


“Apa harus kamu ke sana Win?” tanya Ibunya


tak setuju kalau Winda pergi ke rumah itu lagi.


“Iya Bu” kata Winda.


“Habis itu langsung pulang lho!” kata Ayah


Winda tidak rela anaknya pergi ke rumah keluarga Ardi.


“Iya Ayah”


“Winda pegi dulu ya”


Setelah itu Winda pergi ke rumah kakak Ardi


dengan menyetir sendirian bersama Arjuna. Dia dan Arjuna sudah sering pergi


berdua karena Arjuna juga ikut ketika Winda belanja untuk tokonya.


Winda sampai di rumah kakak Ardi sekitar


pukul  sembilan pagi. Winda berpikir


kalau dia sampai di sana pagi nanti siang sudah bisa pulang ke rumah lagi.


Winda mengambil Arjuna di kursi bayi


belakang, kemudian dia mengambil barang-barang Arjuna dan berjalan menuju pintu


rumah kakak Ardi.


Ting tong...

__ADS_1


Mitha membukakan pintu kemudian berteriak


“Buuun, kak Winda sudah datang!” teriaknya


memanggil Bundanya.


Winda masuk ke dalam bersama Arjuna. Bundanya


Mitha langsung menggendong Arjuna dan menangis sesenggukan.


“Mit, telpon Om Birawa suruh ke sini sekarang


ya. Bilang Arjun asudah datang” kata Bundanya Mitha.


Mitha segere menelpon Birawa. Dan tak lama


kemudian Birawa dan anak-anaknya beserta istrinya sudah sampai ke rumah Mitha.


Mereka bergantian menggendong Arjuna. Mata mereka semua berkaca-kaca hingga


menetes air mata. Tanpa kata-kata yang terdengar hanyalah sesenggukan dari para


perempuan yang ada di sana.


Ardi memang sengaja tak disuruh datang karena


kakaknya merasa marah kepada Ardi karena tanggapan Ardi tadi malam seperti


tidak peduli kepada Arjuna.


Karena hari Minggu, toko Ardi tutup, dia


melihat banyak mobil Birawa di tempat kakaknya. Pada ngumpul ni, pikirnya.


Kemudian Ardi pergi ke rumah kakaknya, dan


ternyata di sana dia melihat Winda dan Arjuna. Melihat hal itu, Ardi diam tak


bergeming. Dia bingung mau bagaimana. Kemudian kakak Ardi menyuruh Winda bicara


dengan Ardi di rumah Ardi.


Winda dan Ardi pergi ke rumah Ardi. Sesampainya


di sana, mereka berdua hanya terdiam tak berkata-kata. Winda bingung mau bicara


apa, begitu pula Ardi.


“Mina ke mana Mas?” Winda akhirnya membuka


suara.


“Pulang ke rumah orangtuanya. Dia kangen sama


orangtuanya” jawab Ardi.


Kemudian mereka terdiam lagi canggung. Ardi


tampak berkaca-kaca, bagaimanapun Winda sudah lama menjadi istrinya dan anak


yang mereka nantikan akhirnya datang juga.


Ardi memeluk Winda kemudian berkata,


“Maafkan aku”


Winda hanya terdiam tak berkata apa-apa. Dia


bingung harus bagaimana. Akhirnya dia melepaskan diri dari pelukan Ardi.


“Apa Mas Ardi nggak pengen gendong Arjuna?”


kata Winda.


“Aku takuuut”


“Apa yang Mas Ardi takutkan? Aku nggak minta


Mas Ardi tanggungjawab kok. Tenang aja Mas, aku bisa ngurusi Arjuna sendirian”


kat Winda lagi.


“Aku merasa bersalah terhadapmu dan Arjuna. Jadi


aku bingung harus bagaimana.


Mereka terdiam lagi sampai semua keluarga


pindah ngumpulnya ke rumah Ardi.


“Win, kayaknya Arjuna butuh minum” kata


Bundanya Mitha.


Winda bingung mau disusui di mana. Kemudian Ardi


membawa Winda ke kamar Bimo untu menyusui di sana.

__ADS_1


__ADS_2